Valencia

Valencia
Perkara Jengkol



"Kalian mau bawa saya kemana? " tanya Vakenzo terheran, selepas dari restoran. Retta dan Iffi mengajak Vakenzo perg ke suatu tempat dengan mobil Retta.


"Vak, " Retta mengerutkan dahi nya ketika Iffi memanggil Vakenzo dengan sebutan aneh.


"Lo manggil siapa Fi? "


"Manggil dia lah, "


"Hei, nama saya itu Vakenzo, saya lebih tua loh dari kamu, " Vakenzo tampak tidak Terima dengan sebutan yang di berikan Iffi.


"Nama lo Vakenzo.. kepanjangan jadi gue panggil Vak aja, kan aesthetic gitu loh.Ya kan ,Ta, " celetuk Iffi cengingisan.


"Aesthetic kepala lo!!!, yang ada aneh iya, "


"Mana ada aneh.. Eh Vak lagian muka lo sama muka gue itu beda tipis jadi gk ada yang lebih tua di sini. Semua sama!!! " Retta meringis mendengar perkataan Iffi yang sangat ke PD an, bagaimana mana bisa Iffi memprediksi wajah nya beda tipis dengan Vakenzo.


"Eh Fi, muka lo sama muka Vakenzo tu beda jauh. perbedaan nya muka lo kaya kain lap, muka Vakenzo kaya merek gucci. Beda jauh mas brow, " seru Retta memberikan reaksi jijik.


"Beda jauh mas Brow, " beo Vakenzo mengikuti jalan Retta, ia pun langsung tertawa keras ketika Vakenzo mengikuti gaya bahasa nya yang terdengar menggelitik.


"Sadis amat lo jadi temen, Ta, " Iffi mencebik kan bibir nya, ia di tertawai Vakenzo yang duduk di kursi belakang.


"Bukan sadis, tapi Real nya emang begitu, "


Retta pun menghentikan mobil nya di bahu jalan, Vakenzo tampak kebingungan mereka membawa nya ke tempat pedagang kaki lima.


"Kita dimana? " tanya Vakenzo, Iffi dan Retta melepas sabuk pengaman lalu menatap Vakenzo yang kebingungan.


"Menurut lo dimana? "tanya Iffi membuat Vakenzo ingin berkata ragu.


" Tempat pembuangan sampah? "spontan mereka langsung melebarkan kedua mata nya.


" Kepala lo pembuangan sampah, "umpat Iffi kepada Vakenzo yang langsung memberikan respon berbeda.


" Kamu mengumpat kepada saya? "


"Vakenzo, ini tempat makan. Ayo turun, " ujar Retta menengahi mereka yang hampir berdebat.


"Kita makan, disini.. makan!! " Iffi menunjuk mulut nya yang terbuka lebar, seakan itu bahasa isyarat untuk Vakenzo.


"Makan? tapi saya sudah makan angin mobil kamu," celetuk nya membuat Retta tertawa sementara Iffi di buat tertekan oleh nya.


"Itu lo masuk angin bukan makan angin, "


"Udah ayo turun, "


Setelah perdebatan panjang, akhir nya Vakenzo menuruti keinginan dua pemuda itu. Ia bingung dengan banyak nya orang berlalu lalang, keluar masuk gerai makan kecil tetapi ramai pengunjung.


"Sini duduk, " pinta Iffi kepada Vakenzo yang masih celingak-celinguk.


"Buk, nasi nya tiga porsi. Sayur nya biasa, " pekik Retta memesan menu makanan kepada ibu penjual yang sudah kenal dengan nya.Vakenzo pun menjadi bahan tontonan pembeli, karena paras nya yang berbeda ia lah yang paling tampan di antara banyak nya pria Indonesia.


"Siap den, " jawab sang ibu kepada Retta.


"Buku menu nya mana? " tanya Vakenzo meminta buku menu.


"Gak pake buku menu, Jamal, " ujar Iffi geram hingga merubah nama Vakenzo. Vakenzo semakin kebingungan, menurut nya bagaimana ingin makan jika tidak ada buku menu untuk melihat makanan.


"Sejak kapan kamu di Indonesia? " tanya Retta kepada Vakenzo.


"Mungkin sekitar dua minggu, " jawab nya meragu.


"Pantes bahasa lo gak fasih waktu kita pertama ketemu, " sahut Iffi membuang wajah nya yang masam dengan jawaban Vakenzo.


"Saya belajar bahasa Indonesia dari film yang saya lihat, "


"Film apa yang lo lihat? " tanya Iffi membuat Vakenzo berfikir dengan memutar ingatan nya.


"Tak Kemal Maka Tak Sayang? "


"Bwuahahahah!!! " kelakar Iffi tertawa lepas, sedang Retta hanya terkikik geli.


"Vak, lo udah pernah makan jengkol belum? "tanya Iffi kepada Vakenzo yang sudah mengerutkan dahi nya, karena kalimat itu terdengar asing di telinga nya.


" Cheng Khol? "Iffi menggaruk kepala nya karena Vakenzo.


"Jing kol? "seru Vakenzo bersamaan dengan pesanan mereka yang sudah terhidang di atas meja yang di lapisi karpet plastik yang sudah terkoyak-koyak namun terjamin bersih.


" Nah itu nama nya jengkol yang di geprek, "


Daakkkk


Iffi memukul meja makan mereka, hingga membuat Vakenzo dan pembeli lain tersentak.


"Udah gila lo, Fi, " seru Retta menggeleng-gelengkan kepala nya melihat tingkah absurd sahabat nya itu.


"Hehh.. sorry, Ta, "


"Ge? ge-pe-rek? " Iffi memukul jidat nya, ternyata mengajarkan bahasa Indonesia tidak semuda memakan nasi.


"Baik lo makan aja tu nasi, " pinta Iffi akhir nya menyudahi pembelajaran perkara Jengkol.


"Kalian makan dengan tangan? " tanya Vakenzo saat melihat Retta dan Iffi memasukkan makanan mereka dengan tangan kanan.


"Sikeeelll, " celetuk Iffi sangat lelah.


"Cuci tangan kamu di mangkuk ini, habis itu makan, " pinta Retta memberikan semangkuk air bersih kepada Vakenzo.Vakenzo melepas Jaz hitam nya, hal itu membuat para pembeli terpelongo hebat. Vakenzo mengabaikan itu, ia mengangkat kedua tangan nya dan menggulung kemeja putih itu hingga batas ketiak.


"Heh... lu mau makan aja kaya mau ngoprasi mayat. Gak sekalian aja lu buka baju? " geram Iffi melihat Vakenzo yang memiliki gelar mafia tetapi bego.


"Boleh? "


"Yaaa enggak lah, " pekik Iffi dengan mulut penuh dengan nasi yang terkunyah. Retta tertawa renyah, ia memberikan tiga buah jengkol rendang dan Retta meminta Vakenzo untuk memakan nya.


Vakenzo kebingungan bagaimana cara memasukan nasi kedalam mulut nya melalui tangan, orang kaya memang berbeda.Asal masuk saja yang penting ia sudah memakan nya.


Vakenzo terdiam setelah memasukkan nasi yang sudah tercampur kuah rendang dan jengkol kedalam mulut nya. Retta dan Iffi menatap nya sangat dalam, mereka menunggu bagaimana penilaian sayur jengkol di lidah nya.


"Enak? " tanya Iffi, Vakenzo memejam kan mata nya ia seperti menikmati taburan rasa menyatu di dalam mulut nya.


"Saporito e delizioso, " gumam nya menggunakan bahasa Italia.


"Terjemahkan, " pinta Iffi, Retta pun juga ingin tau apa arti dari bahasa nya itu.


"Enak, rasa nya tu seperti gurih nya iga sapi, " Iffi membuang muka, lelah sekali ia menghadapi pria kuno satu ini.


"Ini jengkol Jamal, bukan iga sapi. Gimana bisa jengkol di samain dengan tekstur gurih nya daging sapi. Tidak senikmat itu Ferguso, " geram Iffi membuat para pelanggan yang mendengar nya pun tertawa ringan.


"Tapi saya pernah merasakan iga sapi yang seperti ini, " yakin Vakenzo dengan sungguh-sungguh.


"Terserah kau lah Jamal, "


"Saya boleh nambah lagi? " pinta nya menyodorkan piring makan nya kepada ibu penjual.


"Boleh, makan yang banyak. Biar tambah ganteng, " ramah Bu Imron pemilik gerai makan itu.


"Grazie, " Bu Imron hanya menanggapi nya dengan senyum ramah.


***


"Kenapa mulut saya jadi bau? " histeris nya mencium bau mulut dari uap yang ia keluarkan melalui telapak tangan nya.


"Itu karna lo makan jengkol, "


"Kenapa kamu tidak bilang kalau Jingkol itu belum di cuci, " Retta dan Iffi terkikik geli, sepolos itukah orang barat jika datang ke Indonesia.


"Mau lo cuci beribu-ribu kali pun tetep bau," ujar Iffi memegangi perut nya yang keram karena terlalu kenyang dan terlalu banyak tertawa.


"Saya punya pembersih mulut, kamu bisa pakai ini," tambah Retta memberikan pembersih mulut kepada Vakenzo, dan ia langsung memakai nya.


.......


.......


.......


...Bersambung.....