Valencia

Valencia
Awal Mula



"Lo tidak bisa melakukan ini sendirian, "


"Gue harus bisa, gue harus menemukan pembunuh itu,"


"Seorang diri? "


"Kenapa? lo keberatan? " ia mengambil tas nya dan pergi begitu saja.


Dia adalah Retta Alexander seorang mahasiswa dari fakultas Hukum yang tengah menyelidiki kasus pembunuhan orang tua nya. Di tahun 2015 tercatat kasus pembunuhan sebanyak 52 orang tewas di lokasi kejadian, entah itu lansia, Anak-anak, orang tua maupun remaja.Tepat pada tahun 2016 orang tua Retta di nyatakan meninggal dunia saat sedang berada di rumah nya di karena kan anak mereka yang berusaha ikut campur tangan dalam masalah ini. Sedang ini sudah tahun keempat Retta tidak menemukan hasil apapun setelah semua nya ia selidiki dalam-dalam hingga beberapa kantor polisi bosan melihat nya terus datang ke kantor untuk memberikan bukti konyol.


"Ret.. Lo gak bisa selidiki kasus ini, orang tua lo juga pernah nyuruh lo untuk berhenti cari tau, " Iffi memberi pencerahan kepada Retta agar ia mau mendengarkan ucapan nya, namun semua itu gagal. Retta tetap pada pendirian nya untuk terus berusaha mencari dalang dari setiap pembunuhan.


"Fi.. Gue gak bisa diem aja, emang lo mau denger berita setiap bulan nya ada aja korban pembunuhan, its okay kalau itu cuma satu, ini enggak Fi bahkan itu lebih dari satu korban, " Iffi terdiam di tempat mendengar segala ucapan yang di utarakan Retta.


"Gue juga udah muak Ta, gue muak bahkan polisi juga udah nutup kasus nya, kita harus bagaimana, lo gak bosen apa di usir petugas keamanan saat lo berikan bukti yang udah lo cari? Hm? "Retta memalingkan wajah nya, ia sangat frustasi dengan kasus ini yang sangat sulit di pecah kan, ia hanya ingin nyawa kedua orang tua nya terbayar lunas.


" Gue gak tau lagi harus apa Fi, orang tua gue pasti gak bakalan tenang, bukan tapi semua orang yang menjadi korban gak akan tenang jika pelaku nya belum di tangkap, "Retta menangis histeris, ia tidak bisa memecahkan nya seorang diri. Bahkan Retta juga sudah mendapat ancaman agar tidak ikut campur dalam masalah ini, tetapi Retta menganggap nya angin lalu. Ia tidak pernah takut dengan ancaman itu.


" Ta, mending lo tenangin fikiran lo. Kali ini gue temenin lo di rumah, "Iffi merangkul teman nya kembali berjalan pulang, Iffi menyetop taksi yang melintasi caffe yang barusan mereka singgahi.


Iffi Bumantara, ia adalah sahabat akrab Retta sejak di bangku sekolah menengah pertama mereka sudah bersama hingga memasuki fakultas hukum, Iffi adalah anak tunggal dari keluarga Bumantara.Ia hanya memiliki orang tua tunggal yaitu Ibu nya yang merupakan pembisnis penting hingga lupa jalan untuk pulang,Iffi adalah korban dari perceraian kedua orang tua nya, lebih tepat nya Broken Home. Ayah Iffi sudah lama menikah dengan wanita pilihan nya tetapi ia tidak tau sekarang dimana keberadaan ayah nya itu. Retta yang sudah mengetahui seperti apa latar belakang Iffi pun sudah menganggap nya jauh dari saudara. Iffi juga terlalu sering menginap di rumah Retta, sampai tetangga kompleks yang dekat dengan rumah Iffi pun mengira rumah nya telah kosong tidak berpenghuni.


" Rett, "panggil Iffi yang melihat Retta sedang melamun di atas gazebo.Retta hanya melirik Iffi yang ikut duduk bersama dengan nya.


" Kenapa? "


"Satu bulan lagi kita wisuda, setelah ini tujuan lo mau kemana? " Retta menatap kearah Iffi yang baru saja melontarkan pertanyaan yang membuat nya di landa kebingungan.


"Gue mau jadi pengacara Firma Hukum Wesley, tapi gue ragu Fi, " Retta memandang langit malam dengan pandangan kosong.


"Sama gue juga...lo bisa kan wisuda tanpa kedua orang tua lo? " tanya Iffi mengundang Retta menoleh cepat kearah nya.


"Kenapa lo nanyak gue, lo sendiri gimana? Lo gak bilang ke Bokap lo kalau sebentar lagi wisuda? " tanya Retta, Iffi merebahkan tubuh nya di atas gazebo, Iffi hanya bisa tersenyum hambar.


"Gak usah fikirin gue Ta, gue punya orang tua tapi seperti yatim piatu. Bahkan gue gak punya rumah,baju gue lebih banyak tersimpan di lemari lo dari pada lemari gue yang ada di rumah, " Retta mendengus geli,itu adalah kebenaran yang tidak dapat di hindari, setiap saat mereka selalu sibuk mencari mana pakaian milik mereka sendiri.


"Lo masih punya gue kok Fi, "


"Lo juga masih punya gue Ta, "


***


Pagi pun tiba, dua pria itu sedang berjalan santai menuju kampus. Retta memasang earphone di telinga nya, sementara Iffi sibuk menyalin untuk membuat skripsi bulan depan.


"Woyyyy... Minggir rem sepeda gue blongggg!! " pekik seorang pengendara sepeda dari belakang mereka, Iffi yang langsung melihat kebelakang dan ternyata sepeda itu sudah sangat dekat dengan mereka.


Spontan Iffi mendorong Retta ke bahu jalan untuk menghindari sepeda itu. "Aaaaa!!! "


Bruakk


Suara tabrakan itu berhasil membuat seluruh pengguna jalan memperhatikan mereka, sepeda itu jatuh ke got dengan roda yang masih berputar sementara pemilik nya sedang tidur telungkup di atas aspal hitam.


Nasib Iffi dan Retta yang menjadi korban, tampak nya mereka baik-baik saja.


Iffi dan Retta menepuk-nepuk tubuh mereka dari debu yang menempel di pakaian. Retta mengintip perlahan pemilik sepeda itu tidak bergerak.


"Fi, dia cewek, "


"Terus mau diapain, gara-gara dia telapak tangan gue lecet, " kesal Iffi memanyun kan bibir nya.


"Mas, mbak nya di tolongin, " seru pengguna jalan yang melihat kejadian itu. Retta seperti enggan menolong wanita itu, tetapi karena ini tugas manusiawi yang harus saling menolong, Retta terpaksa harus membantu nya.


"Permisi, " Retta menoel-noel bahu wanita itu, tapi tak kunjung bangun.


"Fi, nanti mati, " terka Retta bingung.


"Emang udah ajal nya kali, " ketus Iffi juga mengintip wanita itu.


"Waaaa!!! "


"Aaaa!! " mereka berdua terkejut dengan kejutan yang di buat wanita itu.


Iffi dan Retta saling mengelus dada mereka sendiri. Wanita itu berdiri dan membersihkan kan debu yang menempel di tubuh nya.


Retta dan Iffi melihat wanita itu dari atas kebawah, wanita sederhana terlihat dari penampilan nya yang apa ada nya. Rambut coklat yang di kucir dua serta kaca mata bulat yang ia kenakan.


"Cantik sih, tapi kuno," gumam Iffi, Retta langsung menyikut nya dengan kuat.


"Arrgghhh, " erang nya memegangi perut.


"Kamu gak papa kan? " tanya wanita itu pada Retta. Retta menggeleng pelan, ia menganggukkan kepala nya sebagai tanda ia pergi dahulu . Iffi mengikuti langkah Retta dari belakang.


Wanita itu melihat handphone yang tergeletak di aspal, ia bingung itu milik siapa. Sementara wanita itu tidak memiliki ponsel. Ia kebingungan dan mengambil nya, ia melihat menu utama wallpaper nya seorang pria. Ia baru teringat..


"Aahhh... Masss!!! Eh bangggg!!!.. Eh anuuu. Siapa sih nama nya, " kesal wanita itu bergumam sendiri.


"Orang nya udah hilang juga,besok aku bakal kembaliin, " ujar nya mengantongi ponsel itu dan menuntun sepeda nya.


***


"Iffi, Kira-kira handphone gue jatuh di mana yaa? " Retta kebingungan mencari dimana ia terakhir kali meletakkan handphone nya.


"Udah di ambil orang Ta, lagian itu hilang saat lo jatuh di tabrak di pinggir jalan, " Iffi menenggak segelas Cappucino dingin.


"Udah pasti hilang Ta, gak bakal balik kalau hilang nya di pinggir jalan udah pasti banyak orang yang lewat, "


"Bukan itu Fi, gue udah nyalin skripsi nya, " Retta tampak panik dengan kehilangan handphone nya.


"Nanti kita buat bareng-bareng lagi, " seru Iffi tampak tenang. Tampak seorang wanita tengah memasuki caffe itu dan memesan sesuatu di meja kasir. Saat ia berbalik wanita itu bertatapan dengan Retta yang kebetulan juga menatap kearah nya.


Wanita itu melambaikan tangan nya, "Ehh.. Kamu laki-laki, " pekik nya tanpa tau malu.


"Astaga kenapa kita ketemu dia lagi Ta? " keluh Iffi tampak stress bila melihat wanita urakan itu.


"Emang ini bumi punya bapak lo, yaa suka-suka dia mau kemana, " jawab Retta ikut melambaikan tangan nya kepada wanita itu yang berlari menghampiri nya.


"HP kamu tadi jatuh, aku panggil kamu gak denger , mau di balikin aku gak tau rumah kamu. Jadi aku bawa aja, " seru nya memberikan ponsel Retta.


Dengan binar di mata, Retta langsung merebut ponsel itu dari wanita itu. "Udah kan? Lo boleh pergi sekarang, " usir Iffi tanpa perasaan.


"Fi.. Lo kok gitu sih, "sentak Retta tidak suka atas sikap yang di berikan Iffi.


" Nama kamu siapa? "tanya Retta, wanita itu tersenyum senang.


" Nama aku Lucy,"jawab nya sambil menjabat tangan Retta.


"Lucy, lo boleh gabung sama kita. Ngomong-ngomong thanks yaa lo udah temuin HP gue, "Iffi memutar bola mata nya, ia memilih membuka ponsel nya dari pada mendengar percakapan mereka.


" Sama-sama, kalau boleh tau nama kalian siapa? " tanya Lucy ramah.


"Gak punya nama!! " ketus Iffi tanpa mengalihkan pandangan nya.


"Kamu gak usah dengerin dia, dia lagi datang bulan, " celetuk Retta membuat Iffi menatap nya dengan cepat.


"Nama aku Retta Alexander, panggil aja Retta. Kalau dia Iffi, "


"Retta.. Iffi, " beo nya menunjuk mereka berdua.


"Benar, "


"Kamu masih sekolah? " tanya Retta basa basi dengan Lucy. Ia menggeleng sebagai jawaban.


"Umur kamu masih muda kenapa gak sekolah? "Lucy menyedot minuman yang di pesan nya.


" Aku harus kerja, aku hidup sendirian jadi tidak ada waktu untuk belajar, "seru nya lirih. Retta merasa bersalah telah menanyakan hal seperti itu.


" Aa.. Aku tidak tau soal itu, "


"Gak papa, aku senang kok kamu mau bertanya soal aku, "


"Jangan kepedean, " ketus Iffi lagi, membuat Retta mendecakkan lidah nya.


"Diem aja deh lo Fi, "


"Kalian temenan? Berapa lama? " tanya Lucy antusias. Retta mengangguk kan kepala nya.


"Sejak bangku SMP, "Lucy tampak ragu dan gelisah, ia sedang menahan sesuatu yang ingin ia keluarkan.


" Kenapa? "


"Boleh gak aku jadi temen kamu, "Retta mengubah mimik wajah nya setelah mendengar perkataan Lucy.


" Kita berdua cowok loh, kamu mau? "


"Aku hanya kesepian,"


.......


.......


.......