
Jam kampus pun telah berakhir, Retta dan Iffi sedang duduk berdua di depan gedung fakultas Hukum.
"Uukkggghhhh, "sendawa Iffi membuat Retta melirik sinis kearah nya.
" Jorok banget sih lu Fi, "
"Kekenyangan gue Ta, "
"Lu makan kaya gak makan lima tahun, rakus banget lu gue lihat, "
"Ini gara-gara Jamal tadi malam buat gue down, "
"Lebay lu, emang lu nya aja yang gitu, "
Iffi mendongakkan kepala nya keatas menatap awan putih yang tampak redup.Sedang Retta sedang menyalin sebuah tugas yang sudah ia cari jawaban nya di laptop.
"Adooohh.. udah ku makan nasi, udah ku makan snack, udah juga ku makan cake .. kurasa kalau musang lewat pun ku telan, tak kenyang juga perut ku, " Retta tertawa lepas mendengar seruan Iffi yang tidak kenyang dengan perut nya yang sudah terisi penuh.
"Cacingan lu, "
"Enak aja, badan gue sehat begini cacingan lu bilang, " Iffi melihat suasana di taman itu, banyak mahasiswa yang menghabiskan waktu mereka di sana.
"Oyyy... jono joni, " celetuk Iffi melambaikan tangan kepada kembar-kembir yang kalau Iffi bilang mereka berdua culun dan berpenampilan kuno, tapi jangan di sepelekan dengan nilai.
Kedua pria kembar itu menoleh kearah Iffi dengan wajah masam, karena nama mereka di rubah-rubah seenak jidat Iffi.
"Bokap nyokap nya susah nyari nama, lu malah dengan gampang nya ganti nama orang, " gerutu Retta, Iffi memang seperti itu hobi mengganti nama orang sesuka hati nya, termasuk Vakenzo.
"Apa lontong? "
"Waeehhh.. tuh tempat bi minah banyak, "
"Nama kami itu Rakka Rakky, bukan jono joni bangsad, " ketus Rakka membenahi kaca mata bulat nya.
"Iyahhhh, lu besarin aja tuh lensa kaca mata lo berdua, "Rakka dan Rakky pun melengos pergi meninggalkan Iffi tanpa mengatakan apapun lagi.
Iffi melirik Retta yang menatap layar laptop nya, " Hemhh.. sok-sok an sibuk ngerjain tugas padahal lagi nyimpen bukti peneroran tadi malam, "sini Iffi menyindir Retta.
"By the way, Vakenzo udah balik kerumah nya? " tanya Iffi pada Retta. Retta menutup laptop nya dan memasukkan nya kedalam tas.
"Dia ada urusan, " jawab nya singkat dan pergi meninggalkan Iffi begitu saja.
"Terus kita mau kemana? " tanya Iffi sambil mengejar nya.
"Ke caffe, gue kan tadi pagi nyuruh Lucy nunggu gue di caffe biasa, " seru Retta langsung merubah raut wajah Iffi menjadi masam.
***
"Udah lama lo nunggu gue? " tanya Retta langsung duduk di hadapan Lucy saat pertama masuk kedalam Caffe menemukan Lucy duduk di sudut Caffe.
"Gue baru aja dateng, "
"Jangan sok kecantikan deh lu, " sinis Iffi melirik Lucy yang diam-diam tersenyum menatap Retta.
"Emm.. gue gak sok kecantikan kok, " jawab nya gugup karena sudah tercyduk Iffi.
"Jangan curi-curi pandang deh sama temen gue, " seru nya lagi memicingkan matanya menatap Lucy yang langsung merunduk.Retta menyikut lengan Iffi.
"Lo apa-apaan sih Fi, kasar banget lu sama cewek, "
"Enggak, gue bisa lembut kok kesemua cewek, tapi entah kenapa dia gak bisa gue lembutin, " jawab Iffi menatap tajam kearah Lucy, entah apa dendam yang Iffi punya kepada Lucy padahal mereka bertemu karena tidak sengaja tertabrak sepeda Lucy hari itu. Selebihnya nya mereka tidak pernah mengenal satu sama lain.
"Serah lu deh Ta, gue nunggu di mobil, " Iffi meninggalkan Retta dan Lucy di meja itu tanpa mengatakan apapun lagi, ekspresi Iffi benar-benar tidak menyukai Lucy, ia tidak pernah nyaman berada di dekat Lucy.
"Gue ganggu kalian yah? " tanya Lucy dengan raut wajah tidak enak hati.
"Enggak, Iffi memang gitu kebetulan kami hari ini banyak tugas kuliah yang numpuk, jadi mungkin dia kepikiran terus ngelampiasin kesal nya ke lo. Biarin aja nanti juga sembuh sendiri, xLucy mengangguk-angguk tersenyum mendengar penjelasan Lucy. Entahlah Retta pun tidak tau kenapa Iffi begitu kepada Lucy, ia juga tau Iffi selalu lembut kepada wanita melalui pertemanan mereka selama sembilan tahun. Jelas saja dari situ Retta dan Iffi dapat mengenal satu sama lain, Retta juga tau seperti apa Iffi yang sebenar nya. Tapi kali ini Iffi berada di luar kendali.
Setelah beberapa menit mengobrol ringan bersama Lucy, mereka berdua pun memutuskan untuk mengakhiri pertemuan itu.
" Lucy, lo hati-hati di jalan yah sekarang lagi banyak pembunuhan. Gue saranin jangan lewat dari tempat sepi atau lo keluar malam, ok, "pinta Retta sebelum meninggalkan Lucy.
" Lo perhatian ke gue? "tanya Lucy dengan wajah polos nya, Retta menggaruk tengkuk belakang nya.
" Lo kan cewek, bukan ke lo aja kok ke semua cewek gue juga begitu, thanks yah buat hari ini. Gue duluan, "jawab nya langsung meninggalkan Lucy yang masih duduk di tempat.
" Lama banget lo ngobrol nya, "seru Iffi yang berada di dalam mobil saat mendengar Retta membuka mobil itu.
" Gak perlu banyak nanya deh, kita ketemu sama Vakenzo sekarang, "Iffi langsung duduk tegak yang sebelum nya ia bersandar santai.
" Ada hal serius? "
"Enggak sih, tapi gue dapet pesan dari dia kaya nunjukin lokasi gitu, " Retta membuka map di mobil nya menggunakan petunjuk arah yang di berikan Vakenzo. Setelah memperhatikan petunjuk jalan yang di berikan Vakenzo, Fifi mengerutkan dahi nya.
"Gue gak pernah tau loh lokasi ini,"
"Maksud lo, "
"Gue gak kenal lokasi yang di kirim Vakenzo, mana jarak nya satu jam perjalanan, "
"O iya.. gue kok gak nyadar yah, "Retta bingung karena letak lokasi Vakenzo sangat jauh dari tempat nya berada." Jadi gimana dong Fi,soal nya ini udah jam lima sore, bisa pulang malam kita, "tanya Retta pada Iffi.
" Yaudah deh, mungkin ada hal penting yang mau di sampein Vakenzo, "Retta mengikuti saran Iffi, mereka memulai perjalanan itu dengan santai.
Satu jam lama nya di perjalanan akhir nya mereka di menemukan dimana letak lokasi Vakenzo, hutan yang mereka lewati dan beberapa pemukiman desa yang jauh dari kota.
" Kita gak nyasar kan Ta? "
"Semoga aja enggak, petunjuk arah nya bener kok,"
Di depan rumah minimalis dan tampak asri dengan pemandangan sore hari. Suasana itu sangat nyaman dan menenangkan, Retta dan Iffi terpelongo saat mereka berhenti di lokasi di tunjukkan.
"Waahh.., "
"Ada air terjun alami Rett, nyaman banget gue tinggal di sini, " ujar Iffi takjub melihat keindahan desa itu.
"Nama kalian siapa sih, saya gak tau, " seru Vakenzo tiba-tiba dari samping rumah itu yang juga terdapat taman mini. Perhatian mereka teralihkan menatap Vakenzo yang mengenakan stelan Jaz.
"Yaelah Jamal, nama gue Iffi, nama dia Retta, " ujar Iffi mengibaskan tangan nya ke udara.
"Tapi kenapa kamu bawa kami kesini, "
"Ada yang ingin saya katakan, "
.... ...
.... ...
.... ...