Valencia

Valencia
Kami berteman



"Lo gak bohong kan? "


"Bagaimana saya bisa bohong sedang kan kamu sudah melihat nya, " Retta termagu, ia memundurkan langkah nya. Iffi melihat sahabat nya yang begitu kecewa tidak tega melihat ekspresi nya yang begitu terkejut.


"Tapi kan Retta udah nemuin titik tiga nya, " ujar Iffi, pria yang berada di sebelah Vakenzo menggelengkan kepalanya.


"Itu hanya duplikat, dia sengaja melakukan itu hanya untuk membuat kalian tertipu. Titik tiga yang di buat nya hanya menggunakan tinta biasa yang hanya bisa bertahan selama tiga hari, sementara tinta yang di gunakan pembunuh asli itu adalah tinta buatan dari Italia. Yang bisa bertahan hingga satu tahun, di Indonesia tidak ada tinta seperti itu, "


"Apa maksud dia melakukan itu? " tanya Retta penuh arti.


"Saya tidak tau, inti nya file yang dia berikan kepada kamu saat pesta anggur itu adalah file palsu yang dia edit dengan tangan nya sendiri. Laporan autopsi yang kamu baca juga tidak asli, " jelas Vakenzo membuat Retta dan Iffi ternganga.


"Tapi saya minta berpura-pura lah untuk tidak tau mengenai dia.Jeff bukan pria baik, menurut saya dia melakukan itu hanya untuk mengadu domba kamu dan juga pembunuh asli nya. Saat kalian berdua mati, dia lah yang berkuasa. Kamu adalah kesulitan nya, " seru Vakenzo menunjuk Retta sebagai korban incaran.


"Dari mana lo tau soal ini? " Vakenzo menghela nafas saat Iffi menanyakan hal dari mana ia tau.


Flashback On


"***Apa yang kamu dapat? "


"Consigliere, saya sudah menemukan apa yang Anda minta. Semua data tentang kejahatan nya sudah saya kirim ke email anda, "


"Siapa yang akan dia bunuh sekarang? "


"Lansia, di dekat gang menuju rumah teman anda, Retta, "


"Ambil bukti nya dan berikan kepada saya, "


"Baik***, "


"Woy, Jamal. Lu bantuin kek, "


"Bantu? saya harus apa? "


Flashback Off


"Saya diam bukan berarti saya tidak tau, jika mau bekerja sama dengan saya. Ikuti lah peraturan saya, jangan gegabah. Ada waktu nya untuk membalas kan semua kekesalan kamu, " seru Vakenzo dengan sangat serius, ia menunjuk dada Retta dan Iffi secara bergantian. Mereka tertohok dengan kalimat teguran yang di berikan Vakenzo.


"Pantau dia terus, sampai kan kepada saya apa yang dia lakukan, " pinta nya kepada pria itu, Vakenzo berjalan memasuki mobil Retta. Mereka berdua pun terburu-buru memasuki mobil itu.


***


"Jadi apa rencana selanjut nya? "tanya Retta sungkan, ia merasa malu terhadap diri nya yang sangat terburu-buru.


" Siapkan tugas kuliah kalian. Saya tidak akan melakukan apapun jika kalian masih berhubungan dengan dunia pendidikan. Rencana ini bukan main-main, "ujar Vakenzo dengan santai nya ia memutar-muta gelas anggur nya.


"Lalu bagaimana dengan Jeff? "


"Biarkan dia berkarya, semua akan mendapat ganjaran nya, "


"Oh ya, setelah lulus kuliah. Pastikan kalian berdua harus sudah masuk ke perusahaan Firma Hukum Wesley, " Iffi melebarkan kedua bola mata nya mendengar permintaan dari Vakenzo.


"Mana bisa begitu, butuh proses yang lama, "


"Itu lah arti nya usaha, saya akan bantu sedikit buat kalian, " seru nya menenggak habis minuman anggur itu.


"Pak, " Vakenzo seketika langsung menatap Retta dengan kerutan di dahi nya, ia heran mengapa Retta memanggil nya dengan sebutan formal.


"Kamu memanggil saya, "


"Udah deh lo jangan sembunyi-sembunyi lagi, " pupus Retta dengan wajah keluh kesah nya, ternyata Retta hanya memancing nya.


"Lah maksud kalian apaan sih? " Iffi tampak bingung, ia melihat keduanya secara bergantian.


"Lo apaan sih Rett, " Iffi melebarkan kedua bola mata nya, ia terkejut saat Vakenzo berujar menggunakan bahasa nonformal.


"Kok bisa? " Iffi menuntup mulut nya yang ternganga.


"Kita---


" Satu circle sekarang, "


"Apaan sih Ta, " Iffi mencebikkan bibir nya, ia tampak cemburu dengan Vakenzo yang sudah mengambil sahabat karib nya.


"Vakenzo lo bisa bantu kita gak? "


"No, " dengan sombong nya Vakenzo langsung menolak nya mentah-mentah.


"Apaan kita? " bantah Retta kepada Iffi.


"Gue kan belum selesai ngomong, "


"Tidak melayani, "jawab nya singkat jelas dan padat. Iffi berusaha dengan keras membujuk Vakenzo.


" Vakenzo, gue butuh bantuan lo, "


"No, "


"Gue traktir lo makan deh, "


"Sudah kenyang, "


"Minum, "


"No,"


"Clubbbb, "


"Tidak bersedia, "


Iffi frustasi bagaimana cara membujuk Vakenzo yang sulit di mintai bantuan jika tidak ada bayaran. Dengan random Iffi mengatakan...


"Gue traktir makan jengkol deh, "


"Yes, " sambar nya cepat, Retta dan Iffi terpelongo mengapa makanan murah ia langsung cepat tanggap dan sigap.


"Mamam Mia lezatos, " celetuk Iffi dengan senang.


"Deliziosa, "


"Apa sih. Kaga ngati gua, "


***


"Lu minta bantuan apa sama Vakenzo? "


"Ha? oh.. gue minjem setelan Jaz mahal sama dia,"


Brakkk


Iffi langsung terjungkal karena Retta spontan menginjak rem setelah mendengar permintaan konyol nya.


"Sialan lu, " umpat Iffi kepada Retta.


"Buat apaan lu minjem stelan Jaz nya, lo kan punya banyak. Nyokap lo sering ngirim lo uang masa gak cukup? "


"Lu tau gak sih barang bagus sama barang biasa, "


"Emang kenapa? "


"Barang-barang nya bermerk semua, lo sih gak perhatikan semua yang dia pakai. Tiga merk teratas yang dia pakai..


" Mulai dari Gucci, Armani dan Versace. Lo bayangin tiga merk dunia, dia punya semua, "


"Lo kok tau? "


"Gue lihat semua nya waktu kita kerumah Vakenzo,"


"Bodo amat deh Fi, gue gak peduli sama merk pakaian nya, "


"Tapi lo suka parfum nya kan? "


"Nah kalau itu modis banget buat gue, bisa di bicarakan, "sambar Retta dengan cepat.


" Cahhh... ngiler juga kan lo, "goda Iffi, Retta langsung mengubah mimik wajah nya menjadi datar.


" Turun, "air liur nya hampir saja menetes kenapa ia tidak sadar kalau sudah sampai di kampus, berarti Retta mengerem mendadak itu karena sudah sampai. Retta menutup pintu mobil nya meninggal Iffi yang masih ternganga di dalam mobil.


" Sial, "


Di sisi lain, Vakenzo dengan fokus nya masih menarik ulur mouse nya melihat berita pagi itu di laptop nya. "La fine è arrivata (akhir nya datang juga) , " Vakenzo tersenyum kecil melihat berita pagi yang tersebar luas di berbagai website.


Ddrrrtt ddrrrtt


Vakenzo mengangkat panggilan dari seseorang, "Seseorang yang Anda tunggu sudah tiba di bandara, " seru dari seberang telepon.


"Yaa, saya sudah melihat nya, " Vakenzo tersenyum senang.


Ia memutuskan panggilan itu, Vakenzo mengganti pakaian nya dan bersiap menemui seseorang yang perlu ia temui.


Di sebuah lapangan baseball terdapat banyak pemain yang sedang berlatih, Vakenzo melihat seorang wanita melihat putra nya yang dengan semangat bermain baseball.


Vakenzo membuka galeri handphone nya dan melihat sebuah foto yang ia dapat kan. Vakenzo tersenyum kecil, ia berjalan mendekati wanita itu yang terduduk di bangku penonton. Dengan semangat nya ia memberi support kepada putra nya.


"Dia anak mu? " tanya Vakenzo to the poin, wanita itu terasa asing dengan kedatangan Vakenzo.


"Ya, dia putra ku, "


"Pemain dengan nomor punggung 13? " wanita itu langsung melihat kearah Vakenzo, ternyata wanita itu adalah Selly wakil direktur perusahaan firma hukum Wesley.


"Dari mana kau tau? "


"Untuk mengetahui hal kecil seperti itu saja muda saya dapat kan, " jawab Vakenzo menghabiskan minuman kotak nya.Selly menatap Vakenzo dari atas sampai kebawah.Vakenzo mendecakkan lidah nya, karena ia tau sedang di perhatikan dengan sangat intens.


"Kabar nya Belvaros sedang berkunjung ke Indonesia, "


"Itu impian putra ku bisa bertemu dengan Belvaros pemain baseball yang terkenal di negara nya, " keluh Barren menatap putra nya yang sedang melempar bola.


"Saya punya permintaan buat kamu, "


"Anda menyuap saya, "


"Seperti nya begitu, " jawab Vakenzo dengan jujur, Selly tidak menyukai kehadiran Vakenzo yang berusaha menyuap nya dengan tangan kotor.


"Saya bisa mengirim anak anda berlatih dengan Belvaros, asal anda Terima tawaran saya, "Selly mendengus geli, karena menurut nya Vakenzo sedang bercanda.


"Saya tidak akan menerima suapan apa pun dari Anda, " ketus nya dengan memegang teguh prinsip nya tidak bermain kotor.


Vakenzo mengeluarkan dia foto pemuda, "Kau lihat ini? " Selly langsung melirik foto pemuda yang di tunjukkan Vakenzo.


"Mereka sebentar lagi akan lulus dari fakultas hukum, rekrut mereka sebagai pegawai tetap, "


"Tidak bisa, " bantah Selly menolak permintaan Vakenzo.


"Saya tidak bisa merekrut pegawai baru dengan sembarangan, " Vakenzo berdiri dari duduk nya, di ujung sana beberapa orang sedang berjalan melintasi lapangan baseball itu.


"Wakkhhhh, " takjub semua orang yang melihat nya.


"Vakenzo!! " spontan Selly langsung menatap asal suara itu. Selly terkejut ternyata itu adalah Belvaros yang sedang menyapa Vakenzo.


"Ciao, come stai (Hai, apa kabar?) " sapa nya balik dengan wajah cerah nya.


"Come vedi (Seperti yang kamu lihat), "


"Numero tredici (nomor tiga belas), "ujar Belvaros, dan ia pun mengangguk, Selly semakin terkejut di buat nya.


"Ah, sì, è un pessimo giocatore (Ah, ya dia pemain yang buruk), " ujar nya negatif, namun kalimat nya tidak di fahami mereka yang mendengar. Vakenzo tertawa ringan, ia mendekatkan tubuh nya pada Selly.


"Kami...berteman, " bisik Vakenzo di telinga Selly, dengan PD Vakenzo mengulurkan tangan nya dan dengan cepat Selly menerima jabatan tangan itu.


"Saya akan merekrut kedua nya, " pupus nya spontan menerima tawaran Vakenzo dengan lapang dada.


Semudah itu!!


Gumam Vakenzo dalam hati dengan tawa ringan nya meninggalkan lapangan itu.


.......


.......


.......


.......