Valencia

Valencia
Permainan Bidak Catur



Di sebuah Caffe,tiga orang pria dan satu wanita tengah berduduk santai menikmati segelas kopi panas buatan barista.


"Eh, gue dari kemaren belom ada denger kabar Iffi, lu pada tau gak dia kemana? " tanya Galla pada kedua sahabat nya.


"Bahkan dia gak ngampus hari ini, padahal sidang sebentar lagi loh. Semua dosen kan udah bilang jangan ada yang libur, " sahut Zein meletakkan handphone nya di atas meja.


"Kemaren dia pamit pergi, terus titipin Retta ke kita. Habis itu lu pada balik duluan, gue nungguin dia tapi gak nongol-nongol akhir nya gue titipin ke perawat, " sahut Ricky lagi, hari itu mereka seperti mendapat kabar besar karena hilang nya Iffi tanpa kabar.


"Coba lu pada tanya deh sama om-om ganteng itu, kemaren kan mereka pergi bareng, " sambung Ayesha menyedot cappucino dingin nya.


"Siapa nama nya? Vak... Vak you? "Zein dan Ayesha hampir sama menyemburkan minuman mereka ke wajah Galla.


" Vakenzo Njir bukan Vak You lu kira dia anak Fank?"koreksi Zein dengan kesal.


"Pantes Ayes suka kesel sama lo, nyebelin banget, " gerutu Ricky membuat Galla menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.


"Nama nya juga gue gak tau, "


"Liat Retta yuk, kasian gak ada yang nemenin, " Ayesha beranjak dari duduk nya, dan mereka pun hanya mengikut tanpa membantah.


Sesampai nya di rumah sakit mereka mencari ruang ICU Retta yang belum di pindah kan ke ruang rawat. Mereka melihat Retta hanya terbaring sembari memejam kan kedua mata nya, mereka enggan untuk membangunkan Retta.


"Retta tidur, mana mungkin kita bangunin, " bisik-bisik tetangga Zein hampir masuk ke telinga Galla.


"Hiisss lu apaan sih, geli lah. Sampek mau masuk mulut kau ke dalam kupeng ku, " gerutu Galla berbisik pelan.


"Gue takut lu gak kedengaran, "


"Pala bapak kau lah, "


"Hiissssss kalian berdua bisa diem gak sih, lama-lama Retta bisa bangun beneran, " desis Ayesha sebal melihat kelakuan dua teman nya.


"Iiihhh lu kira dia udah mati gitu? " gertak Ricky menyelis Ayesha.


"Gue udah bangun dari lu pada masuk ke ruangan gue, "


"Tuh kan jadi bangun beneran dia, " celetuk Galla tanpa sadar.


"Bodoh kau bang ah, "


Retta membuka kedua mata nya, ia bermaksud untuk beranjak dari tidur nya, namun ke empat sahabat nya berteriak ...


"Jangann!!! " Retta mengerutkan dahi nya dengan heran.


"Jangan? "


"Jangan ragu-ragu maksud nya, " celetuk Zein cengingisan sembari membantu nya duduk.


"Kalian pada liat Iffi gak? " tanya Retta to the poin. Mereka saling melempar pandangan.


"Justru itu kami kesini mau nanyain lo. Iffi ada kesini gak liatin elu, soal nya dari kemaren dia gak ada kabar. Hari ini dia juga gak ngampus, " jawab Ricky membuat Retta di landa kebingungan.


"Gak ngampus? "


"Iya suwer tak kewer kewer, " seru Galla memasang dua jari agar tidak di anggap bohong.


"Iiisss lu bisa berenti becanda gak sih bang, "


"Iffi gak biasa nya begini, dia kemana yaa? " gumam Retta tampak sedih dan khawatir kemana Iffi.


"Vakenzo tadi pagi jenguk gue cuma sebentar doang, habis itu dia pergi katanya ada urusan, " jawab Retta seadanya.


"Lu jangan banyak fikiran deh Rett fokus kediri lu sendiri aja buat sembuh, pulang dari rumah sakit gue liat rumah lu deh. Mana tau Iffi di sana," ucap Ricky berusaha menenangkan Retta agar tidak mengkhawatirkan Iffi yang menghilang tanpa kabar.


"Tapi nanti coba lu tanyak in Vakenzo nanti waktu dia kesini lagi, " seru Galla mode serius.


"Lu tenang aja, "


***


Di sebuah ruangan CEO, Vakenzo duduk santai di atas soffa sembari menyilangkan kaki nya. Di hadapan nya ada seorang wanita paruh baya tengah tersenyum remeh menatap nya.


"Jadi kau yang bernama Vakenzo? "Vakenzo melirik wanita itu lalu memperbaiki posisi duduk nya dan sedikit mencondongkan tubuh nya lebih dekat ke wanita itu.


" Barren Oktavia, ternyata kau pengikut nya. Kau juga yang membunuh saksi mata yang berada di sel tahanan bukan? "Vakenzo tersenyum geli menatap Barren yang penuh drama.


" Aku pikir begitu, "


"Ciihhh.. membunuh wanita lansia, membunuh keluarga Retta dan Iffi lalu kau mengedarkan obat terlarang di dalam makanan ringan, tidak kah tindakan mu ini berlebihan? " tekan Vakenzo menatap Barren dengan tajam. Barren tertawa renyah mendengar kalimat tekanan dari Vakenzo.


"Sudah di peringatkan jangan ikut campur dalam kasus ini padahal polisi sudah menutup nya, tapi anak di bawah umur itu masih saja nekat, " Vakenzo menaikkan sebelah alis nya.


"Jeff berada dibawah kendali mu juga? "Barren ikut mencondongkan tubuh nya menatap Vakenzo lebih dekat.


" Bahkan dia tangan kanan kami, "Vakenzo mengepalkan tangan nya dengan kuat, ia begitu geram dengan mereka yang berbuat semena-mena. Andai ia berada di tanah Italia mungkin membunuh nya detik ini juga adalah hal wajar bagi warga di sana.


Vakenzo beranjak dari tempat duduk nya meninggalkan ruangan Barren dengan langkah lebar di ikuti George yang berjalan di belakang ny.


" Apa tidak sebaik nya kita bergerak sekarang? "tanya George membuat Vakenzo menghentikan langkah nya.


" Kau tau aku kan? permainan sedang berjalan, aku ingin melihat bagaimana cara bermain mereka di atas papan bidak catur, jika raja melangkah jelas permainan akan segera selesai. Mainkan kuda mu, George, "bisik Vakenzo di telinga George. Jika Iffi menilai George pria polos, kenyataan nya tidak begitu. Sifat nya yang kekanakan hanya untuk memanipulasi, jelas saja raut wajah nya berubah saat Vakenzo menariknya kedalam permainan catur.


" Harus kah ku jaga ratu? "


"Kendalikan Pion mu George maka setelah itu ratu yang kau jaga, "


"Tapi satu yang harus kau ingat, pastikan ratu tidak bergerak karena akses nya begitu bebas saat bermain di atas papan catur, "


"Lantas apa kau berperan sebagai raja di permainan ini? "


"Raja tidak akan bisa bergerak ketika lawan sedang beraksi, seharus nya kau tau aku akan berperan sebagai apa? " Vakenzo tersenyum smirk menatap George dengan tajam.


"Mengapa? "Vakenzo berbisik lagi


"Karena aku hanya ingin diam menyaksikan permainan. Jika sudah saat nya, kau akan melihat kaki ku akan melangkah sejauh mungkin, " Vakenzo melenggang pergi memasuki mobil nya meninggal kan George yang tertegun seorang diri di pinggir jalan.


"Aaarrggghhhh.. mengapa sulit sekali memecahkan permainan bidak catur ini? jika dia bukan raja maka siapa raja dan siapa pion ku? " George menggerang frustasi, permainan bidak catur adalah titik konsentrasi tersulit menurut nya. Karena waktu berfikir untuk menjalan kan bidak tidak lah mudah.


"Jika salah langkah semua akan tamat, "


.......


.......


.......