Valencia

Valencia
Tanpa Retta



Iffi berdiam diri di depan kaca, hari ini ia akan ke kampus tanpa Retta. Ia membuang nafas, lalu segera mengandung kan kemeja abu nya.


Ia meraih ransel hitam yang tergeletak di atas meja belajar nya bersama Retta. Iffi membuka pintu kamar nya, dan melihat ruangan itu kosong. Iffi menghembuskan nafas.


"Sialan, Jamal main tinggal-tinggal aja, " Iffi menenggak segelas susu hangat, lalu memungut sepotong roti panggang. Ia juga mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja nakas, membuka gerbang lalu beralih menuju garansi rumah.


Setelah mengunci nya kembali setelah mobil nya keluar, Iffi melajukan mobil nya di atas rata-rata. Sebenar nya bila tidak ada Retta, Iffi leluasa untuk kembali balapan. Tapi lebih sepi nya ia bila tidak ada Retta dari pada harus mengetes kuat nya suara mobil sport nya.


Sementara Vakenzo dan George berjalan menuju sel tahanan narapidana tanpa sepengetahuan Iffi. George yang menutup handphone nya setelah menerima panggilan dari seseorang.


"Tuan, barang pesanan anda sudah tiba, "


"Apa Beno sudah masuk kedalam sel tahanan? " tanya nya dingin.


"Sudah Tuan, dia sudah satu malam berada di sel tahanan, "


Vakenzo menajam kan tatapan mata nya akibat rasa yang sangat menggebu-gebu sangat menyeruak tajam. Di ujung lorong, Vakenzo melihat petugas kepolisian yang berjaga.Mereka semakin berjalan mendekati petugas itu.


"Ada keperluan apa? " tanya petugas itu kepada Vakenzo.


"Saya ingin melihat kerabat saya, Rio, " petugas itu membuka pintu besi nya untuk kedua orang itu.


Rio pun di hadapkan di hadapan kedua nya yang terpisah ruangan hanya kaca transparan yang mempertemukan akses kedua nya.


"Siapa kalian? " tanya Rio terheran. Vakenzo mendesis sembari menggerek kursi untuk nya duduk di hadapan Rio.


"Bukan siapa-siapa, mungkin kita bisa saling sapa sebentar, " Rio menatap Vakenzo dengan tatapan ragu. Vakenzo sedikit melirik kearah pintu tahanan yang di situ ada polisi yang melihat gerak-gerik mereka bertiga.


"Ternyata kau juga bersekutu dengan nya, "


Ucap nya dalam hati, Vakenzo memejam kan mata nya membuang nafas, berusaha menahan amarah nya. "Siapa yang menyuruh mu? " Rio tampak kebingungan, ia juga panik dan gelisah.


"Tidak ada, tidak ada yang menyuruh ku. Aku menabrak mobil itu dalam kondisi mabuk, " berkali-kali mata Rio melirik ke kanan dan kekiri.


"Benarkah? aku takut saat di dalam nanti kau akan bersenggolan dengan tubuh seseorang lalu mati terbunuh, "


Rio berkeringat dingin, sebelah kaki nya bergetar hebat. Ia berusaha menghentikan getaran itu namun gagal.


Vakenzo beranjak dari kursi duduk nya, ia mengepal kan kedua tangan nya merunduk sedalam-dalamnya. Lalu tiba-tiba...


Daagggg


"Pak Rio!!! Terima kasih.. terima kasih. Kami akan membantu bapak untuk menangkap siapa orang yang telah menyuruh mu!!! " Rio tampak kewalahan kenapa tiba-tiba Vakenzo mengatakan itu padahal Rio tidak mengatakan siapa yang menyuruh nya.


"Apa yang kau katakan? " Rio panik dan tiba-tiba polisi yang mengawasi mereka pun masuk keruangan Rio dan menatap nya penuh ketajaman.


"Tidak, aku tidak mengatakan apapun, " panik nya berusaha mengatakan yang sebenarnya. Vakenzo dan George pergi meninggalkan ruangan itu. Sedang kan Rio di bawa paksa oleh petugas memasuki ruang tahanan nya.


Vakenzo berjalan melewati lorong itu dengan langkah lebar hingga George kewalahan menyeimbangkan langkah nya dengan Vakenzo.


***


Seorang pria tua memasuki kelas Iffi yang saat itu sedikit berisik seperti pajak.


"Woeehh.. weh Pak Tira masuk itu, " sahut salah satu mahasiswa agar menenangkan suasana kelas itu.


Seketika kelas itu seyap ketika dosen Tira sudah berdiri di depan podium. "Saya dosen seni rupa di sini, " seru nya mereka menahan tawa, dia adalah dosen yang paling di minati banyak murid.


"Udah tau kali pak, " sahut mereka dengan kompak.


"Eh.. pak kalau boleh tau seni rupa, rupa-rupa warna nya? " suasana kelas itu berkelakar ketika Zein teman yang duduk di sebelah Iffi mulai membuat suasana baru.


"Rupa-rupa sayuran yang akan saya lempar kewajh kamu, "celetuk nya membangkitkan suasana kelas yang tertawa lepas.


" Ada yang mau di tanyakan? "akting dosen Tira berpura-pura menjadi dosen killer.


" Pak.. oh pak, saya mau nanya kan kalau orang tua tuh gak boleh keluar malem-malem takut kena angin duduk. Nah itu duduk nya dimana pak? "Ayesha mahasiswi bar-bar yang menanyakan hal konyol kepada Dosen Tira yang sudah menghela nafas sabar sementara mahasiswa lain sudah tertawa terbahak-bahak.


"Angin duduk, itu hanya istilah kalau kamu tanya angin duduk ****** nya sebelah mana gitu? "


"Buahahahaha!!! " dosen Tira tampak berakting emosi dengan pertanyaan murid di kelas nya.


"Ada lagi pertanyaan yang mengundang anarkik? "


"Hahahaha.. kocak woyyyy!! "


"Pak saya mau nanya, " giliran Iffi yang mengangkat tangan nya keatas. Zein masih tertawa terbahak-bahak hingga menular ke murid yang lain.


"Lu diem anjing!! " tukas nya padahal ia juga masih merasa geli dengan pertanyaan konyol dari mahasiswa lain.


"Pak kalau bakteri jahat di dalam tubuh di nasehati bisa jadi baik gak? " merrka tertawa lagi mendengar pertanyaan Iffi yang super konyol.


Dosen Tira sekuat tenaga menahan emosi, iaembuka kaca mata nya dan menatap Iffi dengan tajam. "Kalau bakteri jahat di nasehati kamu bisa tau gak bakteri nya itu ngangguk apa geleng? " kelas itu menjadi riuh penuh tawa, hingga dosen Tira pun juga ikut terpancing karena lucu.


"Iya Pak.. iya Pak, " jawab Iffi di tengah-trngah tawa geli nya.


"Pakkkkkkkkk!!! " barithon suara Jeno mengalihkan seluruh atensi.


"Kenapa Jeno? "


"Apa benar Pak kalau ada usus buntu makanan nya bisa putar balik? " Dosen Tira terkikik geli, ia memejam kan mata nya karena perut nya terasa menggelitik sama seperti mahasiswa yang mendengarkan pertanyaan Jeno.


" Kenapa tuh pak? "


"Depan nya ada hajatan, "


"Hahahahaha!!! "


Pintu kelas mereka terbuka secara tiba-tiba dan itu adalah Dosen Seno guru killer yang selalu mereka hindarin. Mahasiswa lain terdiam bungkam ketika tatapan tajam dosen Seno menatap sekeliling ruangan.


"Saya dengar ada keributan di kelas ini ada apa? "


"Kita seru-seruan pak sama pak Tira, sama bapak mah gak enak killer mulu. Lumayan pak tenangin fikiran sebelum sidang kelulusan, " sahut Ayesha yang tidak ada takut-takut nya.


"Bener tuh pak!! " sahut mahasiswa yang mendukung.


"Ohh.. seru-seruan ya? " Seno mengangguk-angguk kan kepala nya.


"Pintu-pintu apa yang....


" Buahahaha!!!


***


Ketiga remaja itu berjalan ke arah taman fakultas setelah kelas mereka berakhir. Iffi, Ayesha dan Zein berjalan beriringan sembari tertawa ngik-ngik.


"Anjir.. gue kira Pak Seno bakalan marah karena kita ribut, rupanya ikutan main, " ujar Ayesha terjungkal-jungkal.


"Kalau aja Retta masuk, pasti komplit kelas nya. Eh By the way lu gak papa kan Fi? " Iffi memutar bola mta nya, padahal ia sudah berjam-jam bersama Zein tetapi baru sekarang di tanya mungkin kalau di prediksi ia sudah lumutan.


Iffi mengge plak kepala Zein, "Lu baru tanya sekarang padahal dari tadi gue masuk kelas duduk di samping lu, gak lu tanya kabar gue, "


"Astaghfirullah gue juga lupa Fi, " Ayesha mengge plak jidat nya sendiri.


"Gue lupa kalau lu juga kecelakaan bre, " ujar Zein mengusap-usap kepala nya yang habis kena pukul.


"Jadi Retta gimana Fi? "Iffi mendudukkan diri nya di batu tanaman yang tersusun rapi.


" Belum ada perkembangan, dia yang paling parah di antara kita bertiga, "


"Bertiga? "


"Temen gue satu juga terlibat kecelakaan itu, dia juga koma di ruang ICU tapi kemaren lusa dia baru sadar dari koma nya, " Zein dan Ayesha mengangguk-angguk kan kepala nya.


"Gue denger ada sedikit donasi dari kampus buat Retta, " Iffi mengangguk pelan.


"Iya, tadi pagi gue di panggil keruang konsultasi. Bicarain soal Retta yang kecelakaan, "


"Terus pelaku nya udah di tangkep belom? "


"Udah ada di sel tahanan narapidana, "


Mereka berdua bernafas lega karena pelaku nya tidak hidup dengan nyaman. Tatapan mata Ayesha tiba-tiba terhenti pada dua orang pria yang berdiri jauh dari mereka menatap nya begitu intens, Ayesha jelas mengenal nya.


"Hoiii.. "


"Opo!!! "sahut Ayesha terkikik geli menyahuti panggilan saudara absurd nya dengan bahasa Jawa.


"Sopo jeneng mu!!! "


"Opo!! "


"Sopo jeneng muuu!! "


"Ayes, "


"Opo!! "


"Ayess!! "


Iffi dan Zein hanya menonton pertunjukan lawak antara Abang beradik yang selalu bertengkar di kampus itu sudah menahan tawa.


"Jancok Yess!! "


"Keon sopo!! "


"Ricky!!! "


"Asuu Ricky, " terlihat dari ujung sana Ricky melepas sebelah sepatu nya dan berlari menuju Ayesha dengan tatapan ingin membunuh karena sudah mengatakan nya sebagai hewan padahal ia sedang di fitnah. Ayesha berlari ketar-ketir menghindari Ricky.


"Juancokk Gallaaa!! "


.......


.......


.......


.......