Valencia

Valencia
Permainan Api Kecil



Demi apapun, hari itu hati Retta begitu hancur untuk yang kesekian kali nya saat Vakenzo memutuskan untuk mempertemukan kedua sahabat sejati itu. Bahkan Galland, Ayesha, Ricky dan Zein juga tidak kuasa melihat kondisi Iffi yang di penuhi alat medis. Selang panjang yang menembus rongga mulut nya, serta ada selang oksigen yang masih menempel. Bagian atas tubuh Iffi terbuka tanpa mengenakan pakaian, berbagai alat menempel di atas dada nya.


Retta melihat dari atas kepala hingga ke ujung kaki, mulut nya ternganga dengan air mata yang terus mengalir tanpa di minta. Tangan nya juga bergetar, tidak mempercayai jika itu sahabat kecil nya sedang sekarat.


"Ken.. Ken.. kasih tau gue, Iffi kenapa bisa begini? " tanya nya dengan air mata yang tidak ada henti nya keluar. Vakenzo sulit menjelaskan saat kondisi Retta begitu kacau.


"Dia.. dia kecelakaan setelah melihat jasad bokap nya, " tangis Retta semakin pecah dan tidak terkendali.


"Retta lu yang sabar ya, kita juga sedih kok lihat Iffi seperti ini, " Ricky menepuk-nepuk bahu Retta.


"Hiks.. Fi maafin gue, gue gak berguna jadi temen. Gue gak ada waktu lu terluka, sorry Fi gue sia-sia in elu dan gak pernah tau masalah yang menekan hidup lu.. hiks.. Fi bangun Fi, lu jangan tinggalin gue, " Retta menggenggam tangan Iffi dengan sangat memohon.


"Iffi juga faham kok kenapa lu gak ada saat dia sedang hancur, lagi pula kita sebagai temen juga merasa bersalah, " ujar Galla juga sangat menyesali perbuatan nya sebagai sahabat yang tidak pernah mengetahui isi hati Iffi.


"Ta, Iffi pasti baik-baik aja kok, dia pasti lagi denger suara lu tapi raga nya aja yang sedang tertidur. Jangan khawatir Ta, " sahut Ayesha sudah meneteskan air mata nya.


"Fi, nanti kita temenin lu ngulang kuliah lagi kok, kita-kita gak akan ninggalin lu janji.. asal lu bangun jangan tidur terus, mimpi apaan sih kok gue gak di ajak.. hiks.. hiks, " Zein mengusap air mata nya yang menetes.


"Fi.. gue gak mau kehilangan lu, jadi gue mohon jangan pergi, " gumam Retta sangat tidak ingin kehilangan sahabat yang sangat ia sayangi.


Mata nya yang tertutup rapat serta detak jantung yang terukur dengan normal, ada setetes air mata yang mengalir dari sudut mata Iffi. Hal itu di ketahui Ricky yang tanpa mengajar melihat air mata Iffi mengalir.


"Fi kok lu nangis sih? " Retta langsung melihat sudut mata Iffi sampai dua kali mengeluarkan air mata nya.


"Tuh lu denger kita ngomong kan, pasti ada sesuatu yang mau lu bercandain.. makanya cepet bangun biar kita bisa asik-asik an lagi, " canda Galla tersenyum getir, Iffi,Galla dan Zein lah yang selalu membuat pertemanan mereka selalu hidup dan damai. Tapi salah satu di antara mereka ada yang tertidur lama, sehingga mereka harus menunggu mimpi yang Iffi lihat itu selesai.


"Maaf mas, waktu nya sudah habis, " seru seorang suster mengatakan waktu kunjung mereka sudah habis, dengan terpaksa Retta dan yang lain nya melepas pakaian medis yang masih melekat di tubuh.


Vakenzo membuka pakaian medis nya dan segera keluar dari ruangan medis yang ia bangun dengan uang nya sendiri.


Sebelum yang lain nya keluar, George berlari terburu-buru menghampiri Vakenzo di depan pintu kaca itu.


"Ada kabar buruk, "


"Kenapa? " George membisikkan beberapa kalimat yang berhasil membuat Vakenzo melebarkan kedua bola mata nya.


Dengan cepat ia merogoh handphone nya dan menelpon nomor yang harus segera ia hubungi.


"Tutup semua akses pintu masuk, jangan ada yang lalai, cepatt!! " dengan dada yang naik turun, Vakenzo melangkahkan kaki nya selebar mungkin.


"Ken!! lu mau kemana? " tidak sempat melangkah lebih jauh, Retta berhasil menangkap pergerakan Vakenzo yang lupa memberitahukan keadaan yang akan kacau ini.


"Lu kenapa? "


Vakenzo terpaksa memutar balik arah nya dan menghampiri mereka yang masih bertanya-tanya, "Mereka mengetahui markas ini, sebaik nya kalian bersembunyi, " seru Vakenzo membuat mereka panik dan kalang kabut.


"Bagaimana kita mau sembunyi kalau lu sendiri ngadepin mereka, gak akan berhasil, " Vakenzo memijat pangkal hidung nya, masalah nya bukan itu kemungkinan akan terjadi pertumpahan darah.


"Tunggu-tunggu, bukan sebaik nya kita biarkan saja mereka masuk. Bukan kah ini maksud lu yang sebenarnya memancing dalang itu agar menunjukkan diri nya sendiri, " Retta menatap Vakenzo dengan intens, apa yang sebenarnya di sembunyikan orang ini? kenapa gelagat nya sangat mencurigakan.


"Tuan, " seorang pria berpakaian serba hitam dTang menghampiri Vakenzo dengan membawa kotak hitam yang penuh dengan bercak darah.


"Teror!! " pekik mereka bersamaan.


"Kaya nya itu ancaman besar buat lu yang berhasil mem porandakan bisnis ilegal mereka, " seru Ricky mewaspadai Vakenzo yang akan membuka kotak itu.


"Ken, mereka belum tau siapa lu dan seperti apa wujud lu. Teror itu sebenernya untuk gue dan temen-temen gue, " sambung Retta lagi, Vakenzo membuang kotak itu kedalam tong sampah.


"Kok lu buang, kan kita belum lihat apa isi nya, " sahut Galla keberatan.


"George, apa kau sudah menyiapkan nya? "


"Sudah tuan, "mereka bingung apa yang di persiapkan Vakenzo.


"Gue tau apa yang lu rencanakan, gue ikut, " Retta langsung membuat tongkat nya dan berdiri layak nya tidak ada cidera kaki yang ia rasakan.


"Bah, sudah sembuh nya kau ternyata, " celetuk Ayesha ternganga.


"Mau kemana kita rupanya? " tanya Zein masih kebingungan.


"Sat set sat set, ikut saja, " seru George mengajak mereka kedalam ruangan tertutup.


***


Di sebuah pabrik, para pekerja sedang mengecek stok barang dan beberapa barang berharga yang akan mereka campurkan kedalam makanan, semua aman dan tidak ada yang kurang. Mesin dan alat pabrik sudah di matikan.


Tidak lama setelah itu ada seorang petugas berpakaian putih melapor kepada mereka bahwa ada petugas penyemprotan disinfektan yang mereka lakukan rutin di setiap malam nya.


Dan mereka langsung memberi ijin, dua mobil putih terparkir di depan pabrik makanan itu dan tujuh orang berpakaian putih memasuki pabrik itu dengan membara alat penyemprot khusus.


Satu jam lama nya mereka melakukan penyemprotan dengan sangat mendetail, akhir nya mereka selesai juga melakukan tugas itu. Di luar pabrik tidak ada siapapun, para pekerja pabrik sedang berada di tempat lain. Petugas itu masuk kedalam mobil dan segeran berniat meninggalkan pabrik tersebut.


Namun siapa sangka, Ketiga pria bertopi hitam dengan pakaian serba hitam nya membuat masker mulut nya dan itu adalah Vakenzo dan petugas lain nya adalah, Retta, Zein, Ayesha, Galla, Ricky dan George. Vakenzo membuka kaca mobil dengan satu pematik api di tangan nya, dari raut wajah nya yang sangat geram dengan ulah di dalang yang selalu menjadi manusia tidak berdosa sebagai pemuas nafsu nya tanpa ada rasa kasihan.


Dengan hati yang begitu marah dan dalam fikiran yang berkecamuk, Vakenzo menjatuhkan pematik api itu dalam genangan air yang sesungguhnya nya itu bukan disinfektan, tetapi bensin yang sengaja mereka sebar secara merata.


Tidak melalaikan satu kesalahan, Vakenzo meminta mereka semua memastikan agar air pemadam tidak keluar saat api menyala. Dan seketika api berkobar merambat dari sudut dinding ke dinding yang lain membakar semua yang ada. Bahkan satu yang Vakenzo ingin kan, melenyapkan semua barang obat-obatan narkotika tanpa berfikir panjang.


Dua mobil itu meninggalkan lokasi pabrik tanpa ada yang mengetahui bahwa mereka lah penyebab terjadi nya kebakaran itu. Semua para pekerja panik dan berbondong-bondong meminta pertolongan, namun bahan peledak yang mereka siapkan sudah membara dan di dalam sana.


Doaaarrr


Ledakan pertama mereka dengan dengan sangat kuat, sebuah mobil biru melaju dengan sangat cepat. Dan tampak lah seseorang yang sangat misterius keluar dari mobil itu.


Sudut hati nya begitu membara menyaksikan gedung pabrik yang ia bangun dengan uang nya sendiri langsung hancur dalam hitungan detik.


Duaaarrr


Ledakan kedua sampai menggemparkan tanah dan menjatuhkan korban jiwa. Tangan nya bergetar hebat, kemarahan nya sudah berada di puncak ubun-ubun.


"Kauuu!!! "


"Aku akan membalas perbuatan mu, dan kau akan menyesal!! "


Sedang kan di atas jalanan yang menanjak, mereka menyaksikan ledakan itu dengan guratan senyum uang tiada habis nya.


"Kalian tau kan apa yang akan mereka lakukan setelah ini? "


"Dalang itu akan mencari-caru keberadaan mu, "


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...