Valencia

Valencia
Pistol dan Tragedi



"Apa benar anda yang menembak korban? " tanya seorang Opsir kepada Vakenzo setelah kesaksian Iffi melihat Vakenzo saat kejadian itu.


Vakenzo tampak mengerutkan dahi nya, "Saya datang ke Indonesia untuk berlibur bukan berburu," Opsir itu tampak kebingungan.


"Bukan kah anda melihat pelaku penembakan pada pelaku penculikan? " Vakenzo memiringkan kepala nya.


"Melihat? bahkan kondisi lampu jalanan saat itu sedang gelap, saya tidak tau. Saya hanya menunggu kedua teman saya bermain kejar-kejaran, " jawab nya dengan santai.


"Bukan kah teman anda melihat anda sedang berada di belakang nya saat korban terjatuh karena paha nya tertembak, "


"Tidak, teman saya mabuk perjalanan saat itu makanya yang di ingat nya hanya wajah saya saja, "


Retta menyemburkan tawa nya tepat berada di samping Iffi yang saat itu mendengar rekaman percakapan Vakenzo dengan seorang opsir.


"Kok gue sih yang di bilang mabuk? " ia tampak tidak Terima dengan alasan konyol Vakenzo.


***


Setelah di tanyai berbagai macam pertanyaan, Vakenzo mengaku telah menembak pelaku dengan pistol nya. Karena korban adalah pelaku penculikan, mereka memutuskan untuk menyita senjata api milik Vakenzo dan ia harus membayar denda sebanyak yang sudah tertera di surat keterangan.


Vakenzo segera menyelesaikan nya, ia tidak ingin membuang waktu di tempat itu dan langsung pergi begitu saja.


"Lu tenang-tenang aja gitu setelah bayar denda semahal itu? " Iffi bertanya dengan heran, lantas Vakenzo langsung menyelis kearah nya.


"Gue lebih kehilangan pistol gue dari pada uang, " jawab nya melebarkan mulut Iffi.


"Mafia memang berbeda, " gumam nya.


"Lagi pula lebih mahalan pistol gue dari pada uang denda nya, " Retta dan Iffi spontan menyelis Vakenzo.


"Emang berapa? "


"300, "


"Ribu? "


"Juta, "


Spontan Retta menginjak rem mobil, hingga Iffi pun terjerembab ke kursi kemudi."Hhhssss... sialan, "umpat nya memegangi kepala nya, untung masih ada.


" Kenapa sih? "


"Emang jadi Mafia gaji nya besar ya? " pertanyaan random Retta berhasil keluar dari mulut nya.


"Besar, sekali bergerak mati, " jawab Vakenzo dengan santai nya. Padahal dua orang itu sedang spot jantung.


Mereka terdiam membeku. Suasana itu tampak canggung dan hening, Iffi berusaha menetralkan suasana itu namun gagal.


Retta menjalan kan mobil nya kembali, namun yang seharus nya mobil itu dapat berjalan dan bisa sampai kerumah dengan cepat, sesuatu terjadi tanpa mereka duga.


Braaaakkkkk


Tabrakan besar terjadi pada kedua mobil yang saling berlawanan arah, ini tanpa dugaan yang mereka fikirkan sebelum nya. Mobil Retta hancur dan rusak parah, Retta dan Vakenzo yang berada di kursi paling depan tidak sadar kan diri banyak darah bercucuran dari kepala mereka. Sedang kan Iffi yang berada di kursi belakang juga mengalami hal yang sama namun tidak terlalu parah dengan mereka berdua.


"Tolonggggg!!!! "


"Toloonggggg, di sini ada kecelakaan, "


"Panggilkan ambulans, ada tiga orang pemuda di dalam mobil itu, "


Seruan panik pengguna jalan yang melihat dan menyaksikan kecelakaan itu. Banyak orang berkerumun dan berusaha mengeluarkan Retta dan Vakenzo yang sulit untuk di keluarkan, karena terhimpit puing-puing mobil yang menjepit tubuh kedua nya.


Mobil Retta hancur tidak berbentuk, ketiga nya di bawa kerumah sakit terdekat. Sementara polisi sibuk mencari mengapa kecelakaan itu sempat terjadi. Sang supir mobil box yang tidak mengalami apa-apa pun langsung di aman kan aparat kepolisian. Serta beberapa saksi di bawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan mengenai seperti apa kejadian yang sebenar nya, sementara Retta mengemudikan mobil nya di jalan yang benar. Kedua mobil itu di bawa untuk di aman kan, Darah Vakenzo dan Retta sampai tercecer di aspal hitam bercampur dengan berbagai jenis kotoran dan debu yang saling berbaur.


Seketika keadaan rumah sakit sedikit tegang karena Retta dan Vakenzo yang nyawa nya berada di ujung tanduk. Seluruh dokter dan perawat di kerah kan untuk menolong nyawa mereka.


"Dokter detak jantung kedua nya melemah, "


"Cepat ambil pasokan darah golongan AB, untuk pasien ini... cepatttt!! " pekik seorang dokter yang menangani Vakenzo yang terbaring lemah di atas brankar UGD.


"Pasang masker oksigen untuk nya, xpinta dokter lain yang menangani Retta.


Iffi yang hanya mengalami syok berat dan beberapa luka di bagian kepala dan tubuh nya akibat serpihan kaca mobil menghujam nya. Ia selamat dan tidak mengalami luka serius, hanya saja mata nya tidak ingin terbuka lebih cepat. Meski pun tidak memiliki luka serius, Iffi tampak lebih pucat dan tidak berdaya. Bagaimana reaksi nya jika sudah terbangun dari tidur nya melihat Retta sahabat karib nya yang di nyatakan koma setelah kecelakaan itu.


Vakenzo dan Retta di rawat di ruang ICU, suasana rumah sakit itu akhir nya bisa bernafas lebih tenang karena nyawa mereka yang bisa di selamat kan walaupun ICU tempat mereka berdiam diri, bersama alat-alat rumah sakit yang banyak tertempel di bagian tubuh tertentu.


Tidak ada yang mengetahui hal ini,kecuali George sebagai tangan kanan Vakenzo. Ia melihat bos nya yang terbaring lemah tanpa adanya tanda kesadaran.


Sementara di sisi lain, beberapa orang sedang tertawa senang mengetahui ketiga pemuda yang mereka incar telah menjadi pasien yang kemungkinan besar mereka akan mati.


"Bagus.. bagus.. aku senang dengan hasil kerja kalian, " seru seorang yang wajah dan suara nya masih tampak misterius karena masih di sembunyikan.


"Lalu bagaimana kondisi nya? "


"Retta dan Vakenzo koma di ruang ICU bos, sedang kan teman nya yang bernama Iffi baik-baik saja. Dia selamat karena tidak memiliki luka serius, dan sekarang masih menjalani masa perawatan, " sosok misterius itu mengepal kan kedua tangan nya, rahang yang mengeras dan dengan emosi iblis ia membanting vas bunga yang berada di samping nya.


"Kenapa tidak kau suruh dia untuk mengemudikan nya lebih kencang, biar mereka bertiga mati di tempat, "


"Bos, dia sudah mengemudikan mobil itu dengan kecepatan rata-rata hingga mobil Retta hancur tidak berbentuk. Namun----


" Haakkkhhh!!! "kesal nya tidak puas dengan hasil kerja anak buah nya.


" Mereka bertiga adalah bencana besar bagi ku, tidak seharus nya mereka hidup hanya untuk menghalangi jalan ku, "


"Bos, Erick sedang di tahan di kantor polisi dan di nyatakan sebagai tersangka, "


"Beri dia kompensasi dan hadir kan pengacara kuat untuk membebaskan nya. Ini sesuai perjanjian yang sudah tertulis, " pupus nya memerintahkan orang kepercayaan nya untuk menjalankan kan perintah ini.


Barren dan Roy juga melihat keganasan bos mereka yang tidak puas dengan hasil yang ia perintahkan. Mereka berdua hanya bisa diam, Roy sebagai pria penyuka bola basket namun tidak pernah memainkan nya di lapangan melainkan nya ia menggunakan bola basket itu untuk menyiksa.


Barren pula seorang wanita sekaligus orang utusan si misterius untuk menjalankan perusahaan Firma Hukum. Mereka adalah kelompok kejahatan yang ingin mengusai dunia.


Deru mesin pengukur jantung itu saling bertautan di ruang ICU, diam dan hening. Kedua nya seperti mayat namun masih tersisa pula nyawa yang melekat di tubuh mereka.


Sudah dua hari berlalu, Retta dan Vakenzo tidak menunjukkan kesadaran nya. Sementara Iffi yang sudah terbangun dari satu hari yang lalu hanya bisa memandang kosong langit-langit rumah sakit.


Diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun, bening air mata nya memenuhi pelupuk mata, syok ia alami dan kejutan yang ia Terima harus ia tahan seorang diri. Iffi bingung harus berbuat apa ketika kedua teman nya yang sangat lemah dan tidak ingin membuka mata pun menghancurkan mental yang ia bangun dengan kuat.


"Gue takuttt!! " Iffi menangis tersedu-sedu di dalam ruang rawat nya.


"Padahal baru kemarin lusa kita bahas harga pistol di dalam mobil, tapi kok cepet banget kecelakaan nya. Temen gue sekarat... hiks.. hiks, "


Iffi meringkuk kedinginan menarik selimut nya dan menutupi seluruh tubuh nya, lemah dan tidak bisa berbuat apapun tanpa mereka. Sedang kan ia sudah masuk kedalam lubang hitam karena memiliki tekerkaitan dengan kasus pembunuhan.


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...