
Seiring dengan teriakan Retta, Vakenzo membuka ruang rawat itu dan melihat Retta bersimpuh di lantai dengan seribu ari mata yang ia keluarkan.
Vakenzo bingung dengan suasana saat itu mengapa Retta menangis? ia belum sempat bertanya, Zein sudah menoleh kan kepala nya menatap Vakenzo.
"Lo Vakenzo kan? " pertanyaan Zein tak lantas langsung membuat Retta diam membeku. Dengan perlahan Retta menaikkan dagu nya mendongakkan kepala nya menatap Vakenzo yang tengah berdiri di ambang pintu dengan sangat kebingungan.
Vakenzo tidak menjawab pertanyaan Zein, sorot mata nya tertuju pada Retta yang terlihat kacau.
"Retta? "Retta beranjak dan menghapus air matanya, Galla dan Ricky membantu Retta berjalan kemana ia langkahkan kaki nya.
" Ken.., "panggil Retta begitu lirih, Vakenzo mengerutkan dahi nya ada apa dengan Retta?
" Kenapa? "Retta memegang kerah kemeja Vakenzo mencekram nya perlahan demi perlahan. Vakenzo semakin bingung dengan tindakan Retta yang saat itu ia semakin mengeluarkan air matanya lagi.
" Kasih tau gue, dimana Iffi.. Ken.. hiks.. hiks, KENZOO!!!! DIMANA IFFI!!! "Retta semakin berteriak kencang di hadapan Vakenzo. Ricky dan Galla berusaha menahan nya agar tidak lepas kendali.
" Rett.. Retta lu gak boleh kaya gini, lu harus kendaliin diri lu sendiri , "seru Ricky menahan dada Retta agar ia sedikit menjauh dari Vakenzo yang saat itu setelah mendapat teriakan dari Retta, ia hanya bisa diam memperhatikan.
" Gak gini cara nya, lu bisa ngomong baik-baik sama dia gak perlu teriak kenceng-kenceng. Lu cuma buang-buang tenaga lu, "Galla sedikit membentak Retta agar tersadar dari tindakan nya yang berada di luar kendali.
Retta hanya bisa merunduk menangis tersedu-sedu, ia kalab dengan emosi nya sendiri.
Vakenzo menarik nafas sedalam-dalamnya, apakah kali ini ia harus menyembunyikan kebenaran tentang keberadaan Iffi?
Vakenzo menarik nafas lagi, ia terlihat gelisah keputusan apa yang harus ia ambil. Sebab ia juga menyaksikan bagaimana kacau nya Iffi saat itu dan kejadian dimana ia kecelakaan.
" Memang Iffi terakhir bareng saya, kita keluar cuma pergi ke kantin rumah sakit,saya laper jadi saya panggil Iffi karena saya gak tau tempat nya dimana,"seru Vakenzo akhir nya memutuskan untuk menutupi kebenarannya setelah berdebat panjang dengan fikiran nya.
"Terus setelah kekantin.. lu sama Iffi kemana? bahkan Ricky bilang kalian gak ada muncul lagi setelah pergi, " tanya Zein hati-hati menatap Vakenzo dengan intens.
"Iffi pergi duluan ninggalin saya.Saya pikir mungkin Iffi balik keruangan lu, jadi setelah dari kantin saya pergi karena ada urusan, " Retta memejam kan matanya dengan erat, air mata kembali lagi keluar.
"Lu tau gak kalau Iffi dari kemaren itu gak ada kabar sampai sekarang, handphone nya juga gak aktif. Gak ada yang liat dia kemana, selain lu yang terakhir pergi bareng dia, "seru Galla menatap Vakenzo dengan intens, jangan tanya seperti apa Vakenzo memanipulasi wajah terkejut nya untuk menutupi kebenaran yang ia simpan rapat-rapat.
"Iffi hilang? " Ricky melihat arloji di tangan nya.
"Mungkin, Iffi pergi sekitar jam 3 sore sementara ini udah jam 5. Lebih dari 24 yang lalu Iffi udah bisa di katakan menghilang, " jawab nya.
"Bang, kita lapor polisi aja deh. Kita gak akan tau Iffi dimana, " Ayesha yang sedari tadi terdiam pun membuka suara karena terserang perasaan panik.
"Gue.. gue takut, " seru Retta berujar lirih penuh dengan ketakutan.
"Lu kenapa? " Retta menatap keempat sahabatnya dan Vakenzo yang berada di ruangan itu.
"Gu.. gue takut, " Retta semakin menagis terisak perih. Zein mengusap-usap bahu Retta dengan tenang.
"Lu semua tau kan kalau gue berusaha cari dalang dari kasus pembunuhan ini? karena gue pengen banget bales dendam kematian orang tua gue, " mereka saling melempar pandangan selain Vakenzo yang terus menatap nya dengan sangat serius.
"Gue pernah di teror dua kali karena berusaha ikut campur dengan kasus itu, Iffi selalu nemenin gue setiap gue berusaha cari bukti. Dan waktu itu saat ada mayat perempuan yang meninggal di dekat rumah lama Iffi...
" Gue sama Iffi tau kalau itu sebuah peringatan, Iffi mendapat teror kedua setelah gue, "mereka membeku di tempat, akhir nya otak mereka mencerna kalimat yang sama yang sedang di fikirkan Retta.
Vakenzo terkejut ia memberikan respon terkejut, bukan karena Iffi yang akan menjadi mangsa kedua. Melainkan...
Dia udah dekat...
Gumam nya dalam hati, Vakenzo mengepalkan kedua tangan nya. Begitu geram dengan dalang yang bermain di belakang nya, selama ini ia hanya bisa memantau apa yang terjadi tetapi melihat dua pemuda yang ingin menyelamat kan nyawa setiap orang yang di antara nya panti ingin berumur panjang, tetapi harus meninggal dengan terpaksa di tangan pembunuh tidak berperasaan itu.
Aturan nya kau tidak boleh membunuh orang yang tidak bersalah, tetapi jika kau menuruti nafsu mu. Maka kau yang harus di hukum...
" Tuannnn!!! "teriakan itu membuat Vakenzo mengurungkan niat nya, karena itu George yang berlari mengejar nya dari arah belakang.
" Ngapain kamu di sini? "
"Saya cari anda, tapi gak ketemu, " jawab nya tersengal-sengal.
"Ikut saya, " George mengintil dari belakang meskipun ia sangat lelah karena berlari dari koridor keujung koridor hanya untuk mengejar Vakenzo.
Sesampai nya di basement rumah sakit, Vakenzo dan George duduk bersebelahan di jok mobil.
"Saya udah tau teka teki pion catur yang bapak maksud, " seru George membuka percakapan, dengan sangat serius ia menarik nafas dalam-dalam. Vakenzo menoleh kearah nya dengan guratan wajah datar. Melihat itu tanpa babibu, George membuka tas yang selalu ia bawa dan mengeluarkan sebuah papan catur berserta bidak nya.
"Harus kah kamu membawa itu? " tanya Vakenzo mengerutkan dahi nya. George hanya diam, hanya dia pria satu-satu nya yang mengenal Vakenzo dengan dekat dan pria yang berani melawan apalagi mengabaikan nya. George terus menyusun bidak catur hitam dan putih sesuai urutan nya.
"Putih dan hitam, " George memutar papan catur mengambil bagian bidak putih. Vakenzo memperhatikan itu dengan seksama sembari melipat kedua lengan nya di dada.
"Di dalam permainan, bidak putih di beri kesempatan bermain. Setelah itu bidak hitam jelas lah kesempatan terakhir. Jika dari yang saya lihat.. " George meletakkan pion putih melangkahi dua kotak papan catur.
"Selama ini bidak putih lebih dulu beraksi dan hampir melewati batas pertahanan bidak hitam... " George hanya membiarkan bidak hitam tanpa melangkahkan pion hitam padahal kesempatan untuk bermain telah datang.
George menatap Vakenzo ternyata sedari tadi ia tengah tersenyum miring memperhatikan George. George menghela nafas jengah, karena ia tidak sanggup menatap mata Vakenzo.
"Dari sini saya ngerti, ternyata kita berada di permainan penuh kecurangan, " seru nya mantap, Vakenzo tersenyum senang dan mengangguk-angguk kan kepala nya.
"Lalu? "
"Tuan sedang memberi celah yang luas untuk bidak putih, dan anda mengikuti permainan ini dengan senang hati meskipun sedang di curangi, " Vakenzo tertawa lepas, akhir nya George dapat memecahkan teka-teki nya dalam waktu singkat. Vakenzo memutar papan catur dan mengambil posisi bidak putih, Vakenzo membuka ruang yaitu menjalan kan pion yang di belakang nya terdapat benteng dan mentri.
"Jika kamu sudah tau, di dalam permainan ini penuh tipu daya dan trik licik. Lantas apa peran kita di bidak hitam? " tanya nya sembari memutar papan catur nya dengan sangat intens menatap George yang sedikit gugup dengan aura yang di keluarkan Vakenzo.
"Jika anda bukan lah raja, maka jelas anda bukan lah raja. Jika anda menyuruh saya mengendalikan delapan pion, maka posisi anda berada di bawah saya, "George melangkah kan satu pion, satu kuda, satu benteng, Raja dan Ratu kekotak kosong. Semua yang George ambil sudah tersusun, mereka adalah bagian penting dalam sebuah permainan.
" Jika saya Kuda, maka pion yang harus saya kendalikan adalah Iffi, Jika anda bukan Raja maka Retta berperan sebagai Raja dan Angela sebagai Ratu yang harus di selamatkan...
"Ups.. kamu sangat lalai, " Vakenzo mengambil satu mentri dan mensejajarkan nya dengan Kuda.
"Siapa mantri ini? " tanya Vakenzo membuat George menahan nafas.
"Semua tokoh sudah saya ucapkan selain, keempat sahabat Retta. Zein, Galla, Ayesha dan Ricky mereka akan mengendalikan bidak menteri.Sementara anda----
" Sebagai benteng, sebab jalan anda di papan catur sangat lah jauh. Untuk memperluas jalan anda, semua bidak harus di kalah kan dan saat itu lah anda akan berjalan, "
"Kalah bukan berarti harus mati, SKAK RAJA!! "
...*Satu yang harus kau ingat, jika ini sebuah permainan lawan. Maka tugas mu adalah membuat nya di permainkan dalam permainan nya sendiri... ...
..._VAKENZO*...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...