
Vakenzo terengah-engah mendapati penguntit yang ia lihat tidak ada di area basement. Tak berselang lama Iffi datang menyusul nya.
"Dimana dia? " tanya Iffi terengah-engah.
"Lupain, ikut gue sekarang, "
"Kemana? " Iffi melihat Vakenzo berjalan cepat menuju tempat parkir mobil nya berada.
"TKP bokap lo, " Iffi langsung berlari setelah Vakenzo mengatakan tujuan nya.
Sesampai nya di tempat tujuan, Iffi yang mengira kehidupan Ayah nya mungkin akan sangat berkecukupan. Ternyata ia salah mengira, ia benar-benar terpelongo dan syok saat melihat rumah yang ramai dengan mobil polisi dan mobil ambulans berdatangan ke tempat itu, serta awak media pun tengah meliput kasus pembunuhan keluarga berencana.
Rumah yang dinding nya banyak coretan tanah Merah, atap rumah yang bolong sehingga dapat memberikan akses jalan air hujan untuk membasahi isi rumah itu, pagar rumah yang sudah di makan usia, serta rumput liar yang di biarkan berkembang. Terkesan seperti rumah bekas yang sudah lama tidak terpakai, perasaan nya saat itu antara ingin menangis dan kecewa dengan apa yang ia lihat. Ia marah kepada Ayah nya karena berselingkuh dengan wanita lain lalu pergi meninggalkan diri nya dan ibu nya, Iffi yang menganggap sang Ayah adalah sosok yang harus ia tiru untuk di kemudian hari. Ternyata angan itu hanyalah isapan jempol setelah mengetahui sifat buruk sang Ayah.
Dan sekarang, dengan mata kepala nya sendiri. Iffi melihat jasad Ayah dan Ibu tiri nya serta anak dari hasil perkawinan mereka mati dengan sangat mengenaskan. Iffi terisak sangat dalam, tidak kuasa melihat jasad Ayah nya. Iffi berlari menabrak kerumunan yang masih mengevakuasi korban pembunuhan.
Vakenzo terpaksa mengikuti Iffi yang berlari tidak tentu arah.
"Fi, Iffi!! " panggil Vakenzo berusaha mengejar nya. Iffi menangis sekencang-kencang nya, tidak perduli dengan jati diri nya seorang pria. Semua tidak di pandang seberapa kuat dan seberapa lemah orang tersebut, kenyataan nya Iffi menanggung luka yang begitu dalam yang selama ini ia pendam seorang diri.
Pertahanan yang ia buat selama ini runtuh di hadapan Vakenzo yang memperhatikan nya dari jauh, tangisan yang ia dengan dari mulut Iffi begitu menyakitkan. Vakenzo dapat melihat, sebenar nya Iffi memiliki tekanan di dalam keluarga nya dahulu. Perpisahan kedua orang tua nya semakin menghancurkan hati Iffi perlahan-lahan.Dan saat ibu nya berubah tidak memperdulikan nya separuh dari diri nya hilang menjadi abu, sekarang Ayah yang dulu sangat ia idolakan membuat segala yang ia miliki hancur berkeping-keping.
"Apa lagi alasan guee buat hidupppp!!!!! "
"Woiiiiii... lihat gue, lihat gueeeeee!!! "
"Gue mati, gue udah matiiiiii, "
"Khaaaaaaaaaa!!!!! " Iffi berteriak Sekuat-kuatnya lalu menangis menjerit kesakitan.
"Gue butuh rumahhhh, tapi gue gak punya, "
"Gue butuh perlu cerita bukan derita!! "Iffi memukul-mukul dadanya penuh nafsu, ia melakukan itu karena hati nya tidak kunjung sembuh dari luka yang ia tahan selama ini. Iffi memandang awan mendung itu dengan tatapan kosong.
"Woii.. mau lu berdua apaan sih, kenapa siksa gue seenak nya. Dan lu bokap yang dulu gue idola kan, lu bahkan belum minta maaf ke gue dan main pergi aja ninggalin gue dengan penuh luka sekarat... puas lu sekarang!!! haaa!!! " tidak berselang lama Iffi tertawa keras, menertawakan diri nya yang penuh lawakan canda tawa. Hidup dan takdir yang ia hadapi sangat membuat nya terkesan ingin tertawa.
"Apa ini tuhannn!!! "
"Hahahahahaa, "
Iffi berjalan sempoyongan, lelah sangat lelah ia membutuh kan tempat untuk bersandar sejenak. Ia membutuhkan rumah yang bisa membuat nya pulang dengan nyaman.
"Sedetik aja gue bisa tenang, tanpa beban bisa? " Vakenzo yang mengikuti Iffi dari belakang mendengar gumaman nya.
Menendang apa saja yang menghalangi jalan nya, lalu menangis meratapi takdir yang begitu jahat kepada nya.
"Fi, " panggil Vakenzo dengan nada pelan, Iffi yang merunduk memandangi langkah nya, dengan ragu ia memutar tubuh nya menatap Vakenzo yang berada di belakang nya.
"Apa? "
Sedikit banyak yang Vakenzo kenal dari Iffi dan Retta semenjak mereka bertemu, namun baru kali ini Vakenzo mendengar Iffi menjawab nya dengan intonasi nada yang begitu dingin, mata yang berat dan sayu. Tidak ada tanda keceriaan nya seperti yang ia kenal dahulu.
"Gak perlu, " jawab nya singkat dan kembali berjalan tanpa arah meninggalkan Vakenzo di belakang nya.
"Fi, "
"Fi, "
"Iffi, "
"Iffi, gue bisa jadi rumah buat lo, lo bisa cerita ke gue. Fi, " Vakenzo berusaha lagi memanggil nya namun apa yang ia dapat. Iffi tidak menggubris sedikit pun dari ucapan nya.
"Huufffhhh, "
***
Tiga jam Vakenzo mengikuti Iffi dengan mobil, namun pria itu sama sekali tidak menghentikan langkah nya yang buntu.
Hari sudah mulai petang, Vakenzo tidak punya cara untuk mengajak Iffi kembali pulang dan memikirkan, tidak. Mungkin ia tidak akan mengajak Iffi berfikir untuk rencana yang sudah mereka susun, melihat Iffi yang begitu rapuh. Tidak mungkin bagi nya menambah beban yang amat berat untuk nya.
Vakenzo merogoh saku celana nya dan mengirim pesan kepada George, agar menyusul nya di tempat nya berada. Saat sudah mendapat balasan, Vakenzo berniat mematikan layar ponsel itu, ber selingan dengan suara klanson yang sangat panjang membuat Vakenzo tanpa sadar menatap jalanan yang ramai pengendara.
Bola mata nya melebar melihat Iffi menyebrang tanpa melihat, ia terus merunduk dan tidak menyadari bahwa sebuah mobil akan segera menghantam nya.
"Awasssss!! "
Bruaaakkkk
Vakenzo terburu-buru keluar dari mobil nya dengan penuh keringat yang mengalir begitu deras. Vakenzo menatap Iffi dengan tatapan kosong, ia memangku kepala Iffi yang sudah di aliri darah segar dari kepala nya yang mungkin terbentur keras.
Vakenzo berusaha menetralkan kondisi jantung nya, Ia menepuk-nepuk pipi Iffi dengan perlahan.
"Fi, " panggil nya pelan, dengan sisa kesadaran nya. Iffi membuka kedua matanya dan menatap Vakenzo orang pertama yang ia lihat saat itu.
"Ka.. kalau.. g.. gu.. gue mati, to.. tolong jaga Re.. Retta, " satu kalimat terakhir yang ia ucapkan setelah itu Iffi menutup mata nya dengan rapat.
Tidak bisa berfikir panjang, Vakenzo mengangkat tubuh Iffi menuju mobil nya yang terparkir di bahu jalan, tidak perduli dengan seribu pasang mata yang melihat kecelakaan itu. Inti nya Vakenzo harus menyelamatkan nyawa Iffi terlebih dahulu, tentang pelaku polisi bisa membereskan itu.
Menuju perjalanan yang begitu genting, fikiran nya begitu kalab.Kecepatan di atas rata-rata tidak memikirkan nyawa nya akan seperti apa nanti nya, Iffi harus ia selamat kan. Tatapan mata Vakenzo penuh ketajaman, keseriusan nya dalam mengemudi membuat pengendara lain tidak mampu mengejar keteledoran nya dalam berkendara. Aura jahat Vakenzo semakin berkembang biak secepat ia melajukan mobil nya yang begitu cepat.
Bukan sedih atau panik, Vakenzo memberikan senyuman yang membuat nya tersenyum terbahak-bahak. Ia senang dan puas, jati diri nya kembali lagi setelah lama ia kurung hanya untuk menyembunyikan semua kejahatan nya.
Berharap rumah sakit yang ia tuju, Vakenzo membelokkan stir kemudi nya menuju vila yang orang pun tidak mengetahui jika ada vila di hutan itu. Sesampai nya di Vila yang begitu megah, Vakenzo meminta anak buah nya membawa Iffi keruangan yang sudah ia perintahkan.
"Sebentar lagi, kau akan tamat, "
.... ...
.... ...
.... ...