
Sepulang dari kampus, Retta, Iffi dan Vakenzo memutuskan untuk pergi keluar, tampak nya mereka sedang berada di rumah Vakenzo yang berada di tengah hutan dan desa.
"Vakenzo, "
"Apa? "
"Kaya nya kita masih punya kunci lagi, " Retta mengerutkan dahi nya.
"Siapa Fi? "
"Pelaku penembakan kemarin kan masih hidup, " seru nya, Retta ternganga setelah mengingat kejadian itu.
"Ohhh... waktu kita pergi ke pesta anggur nya paman Bimo? " Iffi menganggukkan kepala nga, sementara Vakenzo berekspresi santai dan tidak terkejut.Karena Vakenzo menunggu mereka berdua, yang peka atau tidak terhadap situasi yang sudah mereka hadapi sebenar nya bisa menjadi kunci utama. Jika mereka pandai bermain dan membidik tepat sasaran.
"Ada rencana? "tanya Vakenzo menatap kedua nya.
" Apa kita datangi saja ke kantor polisi? terus minta keterangan atau ancam dia sebagai taruhan nyawa, "usul Iffi, Retta menolak nya.
" Cara itu udah cukup kuno Fi, "
"Nah gue se frekuensi dengan nya, " sahut Vakenzo membuat Iffi mencebikkan bibir nya.
"Jadi apa rencana lo? "
"Kalau pembunuhan saat ini dalang nya tertuju pada Jeff, berarti pelaku penculikan itu berada di bawah kendali nya juga, " jelas Retta, Iffi langsung menyambung.
"Bisa jadi juga, Jeff melakukan hal apapun untuk nge bebasin pelaku dari jeratan pasal,atau dengan membayar pengacara mahal, "
"Tumben lo pinter, " sambar Vakenzo, Iffi memutar bola mata nya.
"Gue memang pinter, "
"Tapi lamban!!! " pekik Retta dan Vakenzo bersamaan. Iffi mencebikkan bibir nya lagi.
"Jalan keluar ? " tanya Vakenzo meneruskan pembahasan mereka.Ia menatap Retta sangat dalam.
"Menurut gue sih, kita biarin aja dulu sampai dia lengah, "
"Menurut lo kenapa kita harus diam sementara? " tanya Iffi kepada Retta yang memiliki pemikiran jauh.
"Jelas aja, kejadian itu baru seminggu yang lalu. Mungkin tiga hari yang lalu dia baru bebas dari penjara, mungkin Jeff dan bawahan nya mengincar korban itu untuk di bunuh. Maksud gue itu, kita pura-pura gak tau aja sama rencana dia, pas begitu dia lengah. Baru kita bergerak, "
"Bagaimana lo mau nyari pelaku nya, kan lo gak tau, " sahut Vakenzo sengaja memancing Retta menyampaikan ide nya sendiri.
"Gampang gue bisa meretas, " jawab Iffi, Retta menyentil dahi Iffi.
"Gimana lo mau meretas, kalau lo gak dapet apa-apa dari dia, "
Iffi memberikan smirk nya, seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan, "Bentar, " Iffi membuka tas nya, tetapi di bagian tersembunyi yang orang lain pun tidak menyadari nya.
"Gue dapet pisau lipat nya, " Iffi mengeluarkan sebuah pisau lipat yang tersimpan di dalam plastik transparan. Retta dan Vakenzo takjub dengan rencana tidak terduga nya.
"Uwaaakkkhhhh... Iffi pintar, " celetuk Vakenzo membuat Iffi menggerutu.
"Terus gimana lagi cara selanjut nya? "
"Sorry gue udah nyari duluan sebelum lo tau, gue nyuap seseorang buat ngambil sidik jari nya dari pisau ini, "lagi-lagi Retta dan Vakenzo ternganga di buat nya.
" Anak setan!! kapan lu pergi nya? "pekik Retta sama sekali tidak mengetahui kapan Iffi beraksi.
" Waktu lo minum berdua sama Lucy, gue sempetin buat nyolong waktu gue nyari tuh data pemilik sidik jari nya, "ketus Iffi saat menyebutkan nama Lucy.
" Udah lo selidiki? "tanya Vakenzo lagi.
" Yaa jelassss, "Retta dan Vakenzo berbinar.
" Belom, "
"Sial, " umpat kedua nya memberikan ekspresi kecewa.
***
Di sisi lain, seseorang tengah mengamati hal yang membuat nya gembira dan tertawa senang. Ia duduk di atas kursi rotan menikmati segelas anggur merah, ruang bawah tanah itu tampak pengap, gelap dan menyeram kan.
"Dia belum mati? " tanya seorang pria yang tampak marah yang berapi-api kepada bawahan nya.
"Ma---
Jdaakkkk
Pria itu melemparkan bola basket tepat di kepala bawahan nya. " Sakit? "tanya dia yang sedang duduk bersantai di kursi rotan.
" Bagaimana dia bisa hidup? "
"Seseorang yang saya kirim untuk menembak Iffi ternyata sudah berpindah tangan, " jelas bawahan nya yang kesulitan karena menahan sakit di kepala nya, Ia mengerutkan dahi.
"Berpindah tangan kata mu? kemarikan bola itu, " pinta nya kepada pria itu,lalu ia langsung menangkap nya.
"Berpindah tangan? sedangkan Retta dan Iffi itu hanya manusia lemah, "
Jdakkk
"Aaarrgghhh, "
"Sedangkan yang kau kirim seorang penembak handal, " geram nya melihat bawahan nya yang begitu bodoh.
"Apa? pria lain? "
"Iya bos.. dari yang saya.. selidiki, dia seorang mafia yang berasal dari Italia, " seketika ia langsung terdiam.
"Mafia? " gumam nya, berfikir keras.Ia meninggalkan ruang bawah tanah itu dengan tergesa-gesa.
"Bos, apa aku harus menyingkirkan nya? " tanya pria pemilik bola basket.
"Tidak, biri kesempatan dia bernafas, "
"Baiklah, "
"Satu lagi, bawa Barren kehadapan saya. Sekaranggg!!! "
***
Vakenzo mendapat telepon masuk dari boneka dan tupai yang ia curi, ternyata beberapa kata-kata nya menyampaikan informasi bahwa bos mereka sudah mengetahui Iffi belum meninggal. Vakenzo mengendus geli.
"Kenapa lama sekali kalian sadar nya?hm? " ia berbicara pada diri nya sendiri.
"Saat nya bermain, " gumam nya dengan gembira dan beranjak dari duduk nya.
Ia berjalan menyusul Retta dan Iffi yang sudah duduk di dalam mobil. "Kita mau kemana lagi? " tanya Retta yang siap untuk mengemudikan mobil nya.
Ddrrrtt ddrrrtt
Retta merogoh saku celana nya, panggilan masuk tertulis nama Jeff. Retta menunjukan nya kepada Vakenzo.
"Angkat, " pinta nya, Retta pun langsung menuruti nya.
"Hallo Jeff, "
"Retta, lo masih inget kan pelaku penembakan kemaren? "
Retta melirik kearah Vakenzo, jelas semua bukti akan mengarah kepada nya, sedang kan Iffi akan di bawa sebagai saksi mata penembakan.
"Emang kenapa Jeff? "
"Gue harus bawa Iffi kekantor sebagai saksi mata,"
"Terus gimana dengan pelaku penembakan itu? "
"Kita gak bisa nemuin pelaku kalau Iffi gak di interogasi, "
"Pelaku penculikan nya? "
"*Masih di tahan , Ta. Korban penculikan nya mengalami syok berat, gue gak bisa menginterogasi korban kalau kondisi nya kaya gitu,"
"Lo sekarang di mana Ta*? "
"Gue di luar Jeff, ini mau balik, "
"*Gue tunggu lo di depan rumah, "
"Ok*, "
Retta mematikan panggilan itu, ia menatap Vakenzo dengan tatapan penuh arti.
"Gue kira pelaku nya udah di bebasin, ternyata kita salah. Jeff bermain sangat bersih, jadi gak ada yang nyurigain dia, " seru Retta, Vakenzo memegangi dagu nya.
"Retta, gue gak mau di interogasi. Kalau kesaksian gue gak akurat, kan gue bisa di tahan, " Iffi tampak panik dengan laporan ia harus di bawa ke kantor polisi.
"Fi, kalau lo gak mau di bawa ke kantor polisi bakal di curigain, "seru Retta melihat Iffi di belakang yang tengah panik.
" Terus nanti kalau gue di tanya siapa yang nembak pelaku itu gimana? kan gue gak mungkin bilang kalau Vakenzo yang nembak. Dia juga bisa kena pasal karena menyimpan senjata api, "
"Posisi nya tempat itu gelap, CCTV jalanan pun gak bisa lihat siapa yang nembak itu pelaku. Menurut lo gimana? " tanya Retta pada Vakenzo yang sedari tadi hanya diam.
"Lebih baik lo bilang aja kalau lo lihat gue nembak pelaku itu, " pupus Vakenzo membuat mereka terbelalak.
"Kalau lo di penjara gimana? "
"Gue bukan asli Indonesia, lo berdua tenang aja. Gue mau bermain-main, "
"Jadi kalau misal nya keluar surat penggeledahan di rumah lo gimana? " Iffi tampak ragu untuk mengungkapkan nya.
"Saya ingin bermain-main, " pupus Vakenzo sekali lagi dengan nada Formal dan dingin.
Mereka berdua pasrah dengan keinginan Vakenzo yang entah seperti apa ia membuat strategi permainan yang membuat nya menikmati permainan itu.
***
"Habisi mereka semua!! "
... . ...
.......
... . ...
... . ...