
Iffi dan teman-teman nya, berkumpul menjenguk Retta yang sudah membuka mata. Dihari pertama nya siuman hanya lah gerakan mata yang bisa ia lakukan. Kata dokter, bila hari-hari selanjut nya kondisi Retta mulai membaik, mereka akan melakukan rehabilitasi untuk sendi-sendi tulang nya yang kaku.
Vakenzo dan Iffi dapat bernafas lega sekarang, mereka hanya menunggu perkembangan selanjutnya.
"Fi.. mobil.. gue, " Retta bertanya dengan nada suara terbata-bata dan serak.Iffi menarik nafas lalu mengeluarkan nya dengan perlahan, ia tampak ragu untuk mengatakan yang sejujur nya.
"Mobil lo.. udah gak berbentuk lagi Ta, bahkan orang melihat kejadian itu. Kondisi lo sama Vakenzo mengenaskan, " teman-teman nga meringis pilu membayangkan kecelakaan itu.
Retta memejamkan kedua mata nya, bening kristal itu mengalir di sudut mata nya. Iffi menatap teman nya yang malang itu dengan tatapan sedih,selain rumah. Mobil itu adalah pemberian dari orang tua nya dulu sebagai hadiah dari sang Ayah.
"Ta kalau mobil lo gak ada kan masih ada mobil gue, lo tau gak mobil gue di garansi rumah lo sampe bersawang karena udah lama gak di pake, " Iffi berusaha menghibur teman nya. Retta membuka kedua mata nya dan melirik kearah Iffi.
"Bacod lu, " mereka yang ada di ruangan itu mendengus geli menertawakan Iffi yang selalu membual.
"Tapi lo pantes di acungin jempol kok Ret,lo bisa bertahan padahal Iffi bilang waktu itu tubuh lo yang susah di keluarin, " Zein juga berusaha menghibur Retta dan yang lain nya juga mendukung.
"Ret, harta bisa di cari tapi kesehatan harus nomor satu. Lo bisa kok gue boncengin kekampus naik motor, " Ayesha menyelis dengan kilat menatap Galla.Ia mengge plak kepala sang abang dengan kesal.
"Aduuhhh!! "
"Gue mau lo letak di mana abang bego!! " kesal Ayesha menggebu-gebu.
"Ngalah bentar Yes, kasian orang sakit, "
"Hallah banyak kali cengkunek kau bang, " seketika mereka tertawa renyah mendengar gerutuan Ayesha kepada Galla.
"Abang ngomong loh dek bukan cengkunek lagi, "
"Iyah melawan kau bang, "Melihat Ayesha yang berkacak pinggang lalu menaikkan dagu nya keatas seolah sedang menantang, Galla pun tidak mau kalah karena ia seorang abang.
" Iyah mau durhaka kau sama abang mu ini? "
"Hallo... tolong yah ini rumah sakit bukan arena tinju, " Ricky berusaha menengahi mereka agar tidak mengganggu ketenangan Retta yang masih dalam proses pemulihan.
"Ky, kau tengok lah kawan kau ini, buat aku benci, " adu Ayesha membuang muka.
"Hallah dek jangan gitu lah, masak kau benci abang, padahal abang sayang sama mu adek ku yang cantik, " rayu Galla berusaha mengalah demi sang adik yang merajuk.
"Apa pulak kau sayang sama aku, "
"Dek, abang sayang sama adek itu bagaikan babi mencintai daun keladi, " seketika tawa mereka meledak mendengar rayuan maut Galla yang berusaha membuat sang adik luluh tetapi malah membuat nya geram dan kesal.Retta pun menahan geli di perut nya, apa-apaan dengan dua sejoli satu darah ini.
"Gal.. lu kalau mau ngelawak jangan di sini deh, sakit perut gue anjing!!, "Zein terjungkal-jungkal sembari memegangi perut nya. Vakenzo dan George yang sedari tadi diam juga ikut tertawa tetapi sekedar nya saja tidak seperti mereka yang receh.
" Hadoohh.. baru kali ini ku dengar rayuan maut ples menghinakan, "Iffi menyeka air mata nya yang hampir keluar karena kelelahan tertawa.
" Iihh kan betol aku bilang, "
"Betol lah cakap kau itu, " gerutu Ayesha kesal.
"Thanks ya udah hibur gue, " ujar Retta membuat mereka semua teralihkan.
"Santai aja Ret, kita kan teman, " sahut Ayesha seketika langsung merubah mimik wajah nya jadi lembut.
"Bukan demen!!!! " teriak mereka mengolok Ayesha
"Seleck otak kau dek? " Galla memandang tidak percaya kepada adik nya yang bar-bar ini.
"Chahahahhaha!! "
Di tengah keriuhan suasana, Tiba-tiba handphone Vakenzo bergetar. Ia tidak mengenal siapa pemilik nomor itu yang sama sekali tidak terdaftar di nomor kontak nya. Karena penasaran, Vakenzo berniat keluar dari ruangan itu untuk menjawab telepon asing itu.
"Hallo, " seru nya dengan hati-hati, Vakenzo menunggu lama sahutan dari seberang telepon dan...
***
George mendatangi Iffi yang masih duduk di sebelah brankar Retta, George membisikkan sebuah pesan di telinga Iffi.
"Tuan Vakenzo ingin membahas hal serius dengan anda, " Iffi terdiam sejenak menatap George, ia tau ini pasti masalah yang berhubungan dengan hal yang sedang mereka selidiki.Iffi menatap Keempat sahabat nya yang masih menikmati makanan yang mereka sempat pesan tadi.
"Woii.. gue ada urusan bentar, lu pada tolong jagain Retta yah sampai gue kembali, ok, "
"Emang lu mau kemana? " tanya Ricky di tengah nikmat nya ia mengunyah makanan.
"Ada urusan penting gue, tolong jagain, "
"Ok!! " sahut mereka kompak, Iffi melangkah kan kaki nya dengan lebar, ia sangat was-was hal apa yang ingin di bahas?
Di luar ruangan, sedikit jauh dari ruang rawat Retta. Vakenzo tampak gelisah ia berjalan mondar-mandir di lorong sepi itu.
"Lu kenapa? " tanya Iffi serius. Vakenzo menatap nya dengan penuh keseriusan.
"Gue ada dua kabar buat lo, "
"To the poin aja, kabar pertama, “
" Pelaku yang nabrak kita waktu itu tewas, Beno baru saja keluar dari sel itu. Beno bilang, dia tidak melakukan apapun, "Iffi mengerutkan dahi nya dengan heran.
" Lah terus kenapa dia bisa tewas gitu aja? "
"Ada anggota tahanan yang nyerang dia bahkan dia memotong urat nadi nya, "
"Gue yakin itu di sengaja, pelaku nya pasti di orang yang sama. Berren!! "
"Mungkin aja, "
"Kabar kedua, "Vakenzo melirik Iffi dengan tatapan ragu.
" Bokap lo tewas, "gumam nya.Awal nya Iffi tampak biasa saja ia seperti tidak menyadari sesuatu.
" Bokap gue tewas? "tanya nya sekali lagi, Iffi masih tenang beberapa detik kemudian tubuh nya libung dan terjatuh di atas lantai putih itu. George langsung menolong nya, Iffi shok mendengar kabar kedua itu.
"Gue gak papa, " ujar nya berusaha untuk kembali bangkit dan berdiri di hadapan Vakenzo.
"Pelaku nya sama, " ujar Vakenzo membuat Iffi membelalak kan bola mata nya.
"Sialan!! Anjing lo semuaaaa!! " teriak nya di lorong sepi itu, Vakenzo tetap bersikap biasa saja.
Vakenzo yang masih memperhatikan sekitar nya, tiba-tiba ia menangkap sosok yang sangat mencurigakan.
"Sialan!! " Vakenzo berlari mengejar penguntit itu, Iffi yang kebingungan juga mengikuti kemana arah Vakenzo berlari.