Valencia

Valencia
Siuman



Tettttttt


Bel tahanan berdering nyaring di telinga, setiap napi berbaris berjalan mengikuti arahan petugas keamanan. Saat mereka berpapasan dengan tahanan lain, di barisan itu ada Rio yang sedang berjalan merunduk. Beno yang melihat nya pun berniat menjalan kan tugas yang sudah di perintahkan Vakenzo.


Tanpa ia sadari seorang napi lain menyenggol bahu Rio tanpa sengaja. "Aa maaf, aku tidak sengaja, " ujar Rio tampak lesu. Ia berniat untuk pergi namun Napi itu menghentikan nya.


"Kau pikir menyenggol bahu ku itu akan baik-baik saja? kau harus membayar nya, " Napi itu mencekram kerah baju Rio dan memukul nya dengan membabi buta, heran nya beberapa napi ikut memukuli Rio penuh nafsu.


Beno bingung, kenapa kejadian ini di luar dugaannya? perkara menyenggol bahu hingga ingin membunuh Rio. Tetapi Beno tetap tenang dan santai melihat pertunjukan itu bersama napi yang juga melihat nya. Hanya ada satu petugas yang melihat itu secara diam-diam, jelas saja Beno pura-pura tidak melihat nya.


Teetttttt


Belum peringatan kembali berbunyi, napi lain segera berlari ketika petugas lain datang menghampiri Rio yang...


"Mati, dia mati, " gumam Beno segera meninggal kan tempat itu setelah melihat Rio tergeletak tak berdaya dengan darah yang mengalir deras dari leher nya. Ternyata napi itu sengaja membunuh Rio dengan memutus urat nadi nya.


Darah mengalir deras dari leher Rio, sedang kan ia masih berusaha menghirup udara agar diri nya selamat, namun takdir berkata lain ia lebih cepat meninggal dari dugaan nya.


***


Iffi dan beberapa teman nya sedang tertawa ria di kantin. Entah hal konyol seperti apa yang mereka bicara kan hingga mengundang tawa yang melengking.


Zein merangkul Iffi yang berada di sebelah nya. "Memandang mu, " ia bernyanyi lagu dangdut. Iffi menyamping kan kepala nya.


"Emmm? "


"Najis, "


"Anjing lu! "kesal Iffi membuang tangan Zein dengan sekali hentakan.


Ayesha, Ricky dan Galla pun tertawa geli melihat kekonyolan itu. Mereka fikir Zein dan Iffi akan berduet ternyata tidak.


"Gak ada akhlak lu Zein, " seru Galla sama bar-bar nya seperti Ayesha.


"Eh, gue mau liatin Retta. Lu ada niatan buat jenguk dia gak Fi?" tanya Ricky.


"Pulang dari kampus gue mau ke RS emang lu pada mau ikut? "


"Boleh deh Fi, udah lama gue gak liat idaman kampus, "sambar Ayesha membuat Galland menatap nya secepat kilat.


"Allahuakbar istigfar dekkk, " seru Galla meraup wajah adik nya dengan kasar.


"Kenceng amat lu, hidung gue mau lepas, "


"Gak sekalian aja muka lu yang lepas, "ketus Galla meraih ransel nya lalu memunggung nya di bahu.


" Hahaa.. lawak lu berdua. Udah ayo, "seru Iffi mengajak keempat sahabat nya menjenguk Retta.


Zein menumpangi mobil Iffi sementara mereka bertiga menaiki mobil Galla. Iffi menuju adrenalin di jalan potongan yang sengaja ia pilih untuk menghindari polisi lalu lintas di persimpangan jalan.Zein seperti sedang di tarik ulur nyawa nya, berpegangan erat pada pengangan yang berada di atas pintu sembari beristighfar.


" Gak mati gak Zein, "ujar Iffi sekena nya tidak melihat keringat sebesar biji jagung di leher Zein sudah menetes.


" Fi.. gue tau lu cinta sama Tuhan lu, tapi please jangan jumpai gue sama dia. Gue belum nikah Fi, nyokap gue pengen gendong cucu, "celetuk Zein mendramatis, Iffi tertawa renyah dengan permohonan Zein.


" Jadi rencana lo lulus kuliah ini lo mau nikah, gitu?"


"Yaa gak secepet itu juga.. turunin gas lo, berasa ngeprank malaikat lu, " kesal nya pada Iffi, Iffi pun mengalah dan akhir nya melajukan mobil nya di atas Rata-rata.


"Beneran mau daftar di firma hukum Wesley lu? " tanya Iffi menoleh kearah Zein yang berada di samping nya.


"Bego lu, semua mahasiswa fakultas hukum jelas ngincer tu perusahaan biar di Terima jadi pegawai magang. Gila lu, inceran gue banget, " Iffi mendengus senyum.


"Ze, lu pernah makan buah jambu gak? "


"Pernah emang kenapa? "


"Kaya mana bentukan nya? "


"Bagus, tapi gue kalau beli jambu di pasar bareng nyokap gue selalu dapet yang berulat, "


"Nah begitu lah perusahaan firma hukum Wesley, "


"Ha? maksud lu apaan? " Zein ternganga tidak mengerti dengan maksud sahabat nya. Iffi enggan menjawab ia berharap sahabat nya itu akan tau sendiri bagaimana kebusukan perusahaan itu. Mereka pun tiba di RS, Iffi memarkir kan mobil nya di area khusus roda empat.


"Anjing lu Fi, gue kewalahan ngejer mobil lu, " umpat Ricky setelah Iffi keluar dari mobil nya.


"Waahhhh... parah lu Ky, gak ngajak-ngajak gue lu pernah nge club di arena balapan, " seru Ayesha si cewek ba-bar yang sedikit nakal.


Pletaakkkk


"Adoohhh, "


"Abang lu lama-lama kaya singa lapar ..hahah, "seru Ricky tertawa geli melihat keganasan Galla.


" Mau nya gue masukin ke kebun binatang kali ya, "


"Iya pulak berani kau be cakap, "


"Sehhhh... keluar orang medan nya, " riuh mereka kompak saat Galla mengeluarkan bahasa khas medan nya.


"Gue tinggal lu pada, " ujar Iffi berjalan duluan, mereka yang masih riuh pun berlari ngibrit mengejar Iffi.


Sesampainya nya di pintu ruang rawat Retta, ternyata di sana sudah ada George dan Vakenzo yang sudah duduk di luar. Iffi heran mengapa mereka tidak masuk keruang rawat Retta?


"Lu ngapain Jamal? "


"Ganteng-ganteng begini lu panggil Jamal, sedeng lu, " sambar Ayes memotong Iffi secara ganas.


"Yes bisa diem gak sih lu? "


"Gak bisa diem gue kalau ada cowok ganteng, " Ayesha mengerlingkan bulu mata nya pada Vakenzo. Sang empu yang sedang di goda pun hanya memberi respon datar, Iffi mendengus senyum.


"Ciihhh... gantengan juga gue, " pede nya menaikkan dagu nya dengan sombong. Ketiga sahabat pria nya pun mengedikkan bahu jijik.


"Diihh... lu sama kain lap aja gue lebih milih kain lap, " gumam Ricky sohib nya Retta yang selalu tidak setuju dengan ketampanan nya yang super pede.


"Lama-lama gue jodohin lu sama Retta, " kesal Iffi.


"Tenang Fi lu ganteng kok, " Zein si pembela yang sedang di butuh kan nya.


"Nah gitu dong baru lu sohib gue, "


"Dari lubang sedotan maksud gue.. Jiaaaaakkkhhh," Zein berhasil menghosting sahabat nya itu, sementara Iffi tidak bisa berkata-kata ia sangat kesal.


"Lu belum jawab pertanyaan gue, "


"Retta udah siuman, masih di periksa dokter makanya gue nunggu di sini, "


"Allahuakbar bang suara nya aduhai kali, " Ayes terpesona mendengar suara Vakenzo yang berat dan sexy.


"Ya Allah dek dek, " Galla frustasi dengan kegilaan sang adik.


"Cantik kok, " puji Vakenzo kepada Ayesha membuat Ayesha meleyot seperti tidak memiliki tulang kering.


"Hiissss.. stress gue liat adek lu, " kesal Iffi mengajak Zein dan Ricky masuk kedalam ruangan.


"Nemu di tong sampah ya? " tanya George dengan polos nya menatap Ayesha yang senyum-senyum seperti orang gila di atas lantai.


"Siapa pula yang kau maksud? " tegas Galla membuat George ciut.


"Adek nya, "celetuk George membuat Galla berang.


" Bahh mau ku potong Jony kau? "


"Saya George bukan Jony, "


Vakenzo mengerutkan dahi nya mengapa nada bicara Galla seperti itu, seperti nya ia baru mendengar nya semenjak tinggal di Indonesia. Karena tidak memahami situasi ia meninggalkan mereka yang masih berdebat.


"Sama-sama gila nya kalian, "


.......


.......


.......


.......