
Hari itu, Vakenzo langsung saja melancarkan aksi nya. Ayesha merubah penampilan jua menjadi seorang wanita konglo merah, sementara Galla sang abang yang berperan sebagai pendamping Ayesha juga sedang mengenakan Jaz mahal. Bukan tanpa sebab, mereka melakukan itu agar bisa memasuki kantor itu dengan mudah tanpa di curigai.
Sementara George, Vakenzo dan Ricky berperan sebagai bodyguard lalu Zein berperan sebagai sekretaris nya. Sebelum melancarkan rencana itu, jelas saja Vakenzo mencari profile penting dari ketua perusahaan itu. George dengan kelincahan jari nya, dengan cepat menemukan orang terpenting yang sangat berpengaruh untuk nya.
"Kalian berdua ingat, Ayesha berperan sebagai Mr. Andrico dan Mrs. Yonia, " Vakenzo berusaha mengingatkan mereka berdua agar bertingkah selayaknya pasangan Andrico dan Yonia di kehidupan asli nya.
"Jangan sampai salah apalagi ketahuan, "mereka berdua mengangguk dengan tegas, mereka masih berada di dalam mobil yang sudah terparkir di depan gedung perusahaan itu.
" Siap? "tanya Galla menggebu-gebu.
" Siap!! "jawab Ayesha dengan sungguh-sungguh, Galla menaikkan tangan nya di atas siku. Namun Ayesha tidak juga peka.
" Dek, "
"Apa lagi? "
"Kau gandeng dulu aku, kita kan berperan sebagai keluarga glamour, "
"Jangan bodoh lah kau bang, kaya mana mau ku gandeng kita aja belum keluar dari mobil. Sempit kali baju ku ini ahh, " kesal nya grusak-grusu sendiri di dalam mobil, Vakenzo hanya bisa menghela nafas penuh kesabaran menatap kedua abang beradik yang sangat-sangat woww...
"Pak ayo kita keluar, "
"Iyah baiklah, " jawab nya dengan lembut padahal ia sedang menahan rasa geram di dalam hati nya.
"Irritante, " gumam nya yang George sendiri pun mendengar nya,bahkan ia sempat terkekeh geli. Vakenzo langsung mendorong pintu mobil dan membuka pintu belakang agar mereka bisa keluar dengan ciri khas yang sedang mereka peran kan.
Di belakang mereka sudah ada Ricky dan Zein yang sudah siap bermain teater, katanya.
Dari lobi perusahaan terlihat dua penjaga yang berlari kearah mereka, seperti rencana sebelum nya. George sudah mengatur semua nya.
"Dengan Mr. Andrico dan Mrs. Yonia? " tanya salah satu penjaga itu memastikan kebenaran nya.
"Yes, saya ingin bertemu dengan pimpinan anda. Bpk... " Ayesha langsung menyikut perut Galla karena ia salah mengucapkan naskah, akhir nya ia harus tersenyum palsu kepada penjaga itu.
"Oh.. maksud saya, Bapak Tejo Kusumo, " seru Galla sedikit melibetkan nada suara nya agar terkesan kebule-bule an.
"Silahkan lewat sini Mr, "mereka menuntun jalan kedua pasutri itu menuju ruangan pimpinan mereka.
Setelah keluar dari lift,mereka sudah bertatapan langsung dengan pintu besar yang bertuliskan 'CEO'. Salah satu penjaga itu mengetuk pintu dengan beberapa kali ketukan. Tidak lama mereka mendengar suara dari dalam tapi bukan jawaban untuk mereka.
" Ayok lah cerai!! "pekik seorang wanita yang terdengar jelas di telinga mereka.
" Cerai.. cerai.. ayok lah cerai, "jawab sang suami.
" Rumah ada sepulu, lima.. lima kita, mobil ada dua puluh, satu orang sepuluh, "
"Terus apalagi? anak cuma satu, hayo mau kaya mana? "
"Eh, iya ya..
" Buat lagi loh, "pupus sang wanita membuat yang menguping di luar membuang wajah nya dengan kompak.
" Waduhhh!! "
" Maaf Pak, Ceo kami sedang ada masalah krisis ekonomi, "
"Bapak engkau krisis ekonomi, Krisis rumah tangga bego, " gumam Zein dengan geram.
"Sstt.. gimana?" Galla mendesis memberi kode apa rencana selanjut nya.
Vakenzo hanya bisa diam menunggu rencana yang harus ia bangun dalam keadaan mendesak. Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka lebar dan tampak lah sosok pria setengah abad, bertubuh gempal dan perut yang maju kedepan.
"Ehh.. kenapa gak kamu kasih tau kalau tamu saya sudah datang, " ia terkejut sendiri dan menyalahkan bawahan nya.
"Maaf Pak, saya tidak berani karena bapak sedang ada keributan tadi di dalam, "
"Aa.. Mr. Andrico and Mrs. Yonia, " ia langsung merubah ekspresi wajah nya semenarik mungkin.
"Macam babi badan nya, " gumam Galla sangat pelan sembari tersenyum paksa.
"Yes, sir, " jawab Ayesha berlogat kebule-bulean.
"Silahkan masuk? " pria itu membuka pintu dan memberi jalan selebar mungkin untuk kedua pasangan fake itu.
Setelah nya mereka berdua di persilahkan duduk, Tejo memaksa istri nya agar bisa duduk berdampingan dengan nya agar kesan mereka tidak di nilai terlalu buruk.
"Oh iya, begini soal kedatangan saya dengan istri saya. Sebenarnya kami hanya ingin berjalan-jalan di Indonesia. Tetapi saya mengingat tentang perjanjian kita dahulu, apa bapak ingat, " Tejo tampak cengar-cengir kebingungan.
"Ee..kalau boleh tau yang mana yah pak? "
"Emmm.. mengenai penelitian ilegal bapak, " Tejo tampak ketar-ketir begitu pula dengan sang istri yang berada di samping nya.
"Kenapa bapak tiba-tiba membahas itu? " tanya nya masuk kedalam perangkap yang ternyata benar ia melakukan penelitian ilegal tentang produk makanan. Galla dan Ayesha tampak tersenyum menyeringai.
"Kenapa bapak begitu takut? " tanya Ayesha, memanipulasi keadaan nya.
"Ee.. saya,saya gak papa, "
"Bapak punya hutang kepada saya, dan sebagai ganti nya bapak akan membayar nya. Bagaimana jika saya lapor kan bapak ke polisi sebagai bayar hutang nya, " Galla mengucapkan itu sesuai informasi yang ia dapat kan dari George. Tejo semakin tidak karu-karuan.
"Pak, saya mohon jangan laporkan saya ke polisi. Saya akan ganti semua hutang saya, " ia sangat memohon.
"Bahkan seluruh aset milik bapak tidak akan cukup mengganti nya, "sang istri panik.
" Kenapa bisa begitu? "
"Karena struktur hutang memiliki bunga yang cukup besar, "
Karena tidak mampu berfikir lagi untuk mencari jalan keluar nya. Kedua pasutri itu terduduk di atas lantai sembari mengatupkan kedua tangan nya dan terus memohon.
"Pak tolong jangan jemblos kan saya kepenjara, "
"Ok, dengan syarat, "
"Apa syarat nya, saya akan lakukan, " sambar Tejo langsung memutuskan keinginan syarat itu, karena ia sudah membayang kan betapa buruk nya mendekam dalam penjara yang cukup lama.
"Aset, jabatan dan karier mu akan tetap utuh, jika bapak menghentikan penelitian ilegal itu dan tutup pemberhentian ijin produk makanan ringan yang mengandung obat TERLARANG, " tekan Galla di hadapan Tejo yang saat ini sudah berkeringat dingin dalam keadaan tubuh bergetar.
"Tapi pak, saya sudah menandatangi persetujuan itu kepada pabrik pengolahan nya, "
"Tidak ada tapi, atau bapak ingin saya jebloskan kan kepenjara serta aset yang di sita. Istri bapak akan menemani---
" Jangan!!!..saya akan menyuruh suami saya untuk menghentikan pemberian ijin penjualan produk makanan itu, "sahut sang istri, sampai Tejo melihat kearah nya dengan cepat.
" Apa kau sudah gila? "
"Kau lebih gila, aku tidak ingin mati di dalam penjara. Jika aku tidak terseret dari kasus mu mungkin aku akan membiarkan mu begitu saja, " kedua nya saling beradu mulut. Sementara mereka tersenyum sinis. Zein membuka tas nya dan memberikan amplop merah bertuliskan...
"Bukti penelitian ilegal dalam produk makanan berbahan dasar obat terlarang, " beo Ayesha membaca tulisan di amplop itu.Tejo terkejut bukan main lagi dan entah seperti apa sekrang wujud nya.
"Ya.. iya saya akan menghentikan ijin edar makanan itu. Asal bapak jangan menyerahkan bukti itu ke polisi, saya mohon pak, "seru Tejo menjunjung tinggi kedua tangan nya sangat memohon.
" Jika saya mendengar makanan itu masih di edar kan di seluruh pelosok daerah. Bapak tersangka utama yang akan saya cari, "kecam Galla menunjuk Tejo.
" Ba.. ba.. baik Pak, "
Ayesha dan Galla beranjak dari duduk nya dan memutar tubuh dalam ekspresi penuh kemenangan. Sesampai nya di halaman parkir, mereka langsung menancap gas mobil mereka dan menuju tempat tujuan yaitu markas kecil yang sengaja Vakenzo dirikan.
Dari dalam markas itu, seorang pria berjalan mengenakan tongkat menyambut kedatangan dua mobil itu. Mereka tertawa riang karena berhasil memanipulasi CEO perusahaan obat makanan tersebut.
"Ciluk baaaaa!!!! gak ada isi nya, " mereka semakin tertawa geli melihat amplop coklat itu sebenarnya kosong, tulisan itu hanya sebagai pajangan untuk menakut-nakuti Tejo dan istri nya.
"Berhasil? " tanya Retta.
"Sukses dong broo!!! " teriak mereka merangkul Retta yang sebenar nya sebelum rencana itu di jalan kan, Vakenzo berniat menjemput Retta dari rumah sakit dan menyembunyikan nya di dalam markas milik nya, untuk sementara agar ia tidak di cari-cari oleh dalang licik.
"Masih awal mula, permainan ini masih panjang, " seru Vakenzo mengingatkan agar jangan terlalu berbangga hati.
"Siap dong pak, kami akan ikut menikmati permainan ini, "
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...