Valencia

Valencia
Jaz Untuk Hari Kematian Atau Kesuksesan?



"Retta.. lu yakin bisa, "


"Bisa kok, lu pada pergi aja kekampus. Terima kasih bantuan lo semua gue tetep bisa ikut sidang meski pun online, " Retta tersenyum getir menatap keempat sahabat nya yang sudah memakai pakaian hitam putih untuk sidang yang bisa menentukan mereka lulus atau tidak.


"Retta.. kalau kita semua lulus, gue janji kok bakal bantuin lu cari Iffi dan bantu tuntasin kasus ini, " seru Ricky bersungguh-sungguh. Retta tersenyum getir, hal yang membuat nya patah tanpa kehadiran Iffi yang selalu menemani nya di sepanjang waktu, kini sosok itu menghilang entah kemana. Retta berkali-kali menghembuskan nafas nya, ia berusaha membendung air mata nya yang hampir memenuhi pelupuk mata.


"Lu pada cepet pergi deh, gue baik-baik aja kok, "Retta menyuruh mereka agar segera pergi.


" Jangan fikirin yang lain dulu Ta, fokus ke sidang lu aja, "seru Galla mengingatkan Retta agar fikiran nya tidak bercabang-cabang.


" Iya gue inget kok, "jawab nya tersenyum penuh kepalsuan. George,ia yang melihat penampakan itu dari sudut ruangan, hari ini ia akan menemani Retta sidang online di ruang rawat nya.


" Kita pergi dulu yah Ta, semoga sukses, "


"Lu pada juga harus sukses sidang nya, " mereka sama-sama melambaikan tangan. Bukan hanya Retta, awan yang mendung yang menyelimuti perasaan mereka terpaksa harus menerbitkan cahaya di tengah gelap nya awan. Karena ketiadaan Iffi dalam sidang itu membuat mereka sedih.


Retta menumpahkan seluruh rasa sesak yang ia tahan sedari tadi, kehilangan pacar bukan masalah bagi nya. Tetapi jika kehilangan seorang sahabat yang sudah lama berteman bersama nya bahkan selalu menghabiskan waktu bersama, jika orang itu tiba-tiba menghilang bagaikan badai yang sulit di hentikan.


"Fi, lu dimana sih. Katanya lu mau lulus bareng gue, kita punya impian sama-sama loh masa lu gak inget sih... hiks.. hiks. Gue kesepian banget gak ada lu, lu hilang selama satu minggu, " ratau nya seorang diri, George hanya bisa diam memperhatikan Retta yang menangis tanpa memperdulikan nya, sesuai perintah Vakenzo ia harus menutup mulut nya rapat-rapat dan jangan sampai membocorkan nya.


Bukan masalah tega atau tidak nya, Retta akan sangat kacau melihat kondisi Iffi yang sebenarnya tengah ia sembunyikan di suatu tempat. Retta bakalan menyalahkan diri nya sendiri ketika mengetahui apa penyebab Iffi menghilang.


"Fi, gue gak pernah kangen selain sama orang tua gue. Tapi kali ini gue kangen banget sama hal random yang sering lu lakuin, "


"Pulang Fi, gue mohon banget, "


George menghela nafas, ia berusaha bersikap tenang seperti tidak terjadi apa-apa. Retta menghapus sisa air mata nya lalu menghidupkan laptop milik nya dan menunggu giliran untuk di panggil.


***


Di sebuah ruangan bernuansa putih, Vakenzo berjalan dengan seorang pria yang memakai Jaz putih. Alat pendeteksi detak jantung berbunyi seiring langkah nya yang hampir mendekat.


Selang dan alat-alat medis menempel di tubuh pria lemah itu, wajah nya yang pucat serta beberapa luka di bagian pipi, hidung dan tangan yang belum mengering sengaja di biarkan begitu saja. Di bagian dahi telah terlilit kain kasa yang mengelilingi kepala nya.


"Masa kritis nya belum berakhir, anda bilang pemuda ini baru saja mengalami kecelakaan dan anda sendiri pun juga terlibat dalam kecelakaan tersebut, "seru sang dokter yang di pinta Vakenzo untuk merawat nya.Vakenzo menghembuskan nafas setelah satu minggu lama nya ia meninggalkan Iffi sendirian di ruangan ini kondisi nya juga belum berubah.


"Saya sudah melakukan tes CPR, ada sedikit keretakan pada tulang tengkorak nya. Kecelakaan yang kedua ini membuat kepala nya membentur sangat keras, saya harap sel saraf nya tidak ada yang rusak, " Vakenzo memalingkan wajah nya setelah melihat wajah Iffi lamat-lamat.


Teringat pada satu hal, Iffi pernah berjanji pada nya untuk meneraktir nya makan di warung bu Imron jika Vakenzo meminjamkan nya Jaz mahal untuk hari wisuda nya nanti. Ternyata waktu sudah menjawab nya, Iffi sekarat dan sidang kelulusan sedang berlangsung tetapi sampai sekarang masa kritis nya belum berakhir.


"Jangan sampai aku memakai Jaz itu untuk hari kematian mu, " gumam Vakenzo was-was. Langkah selanjutnya yang harus ia cari adalah,Pelaku dari pembunuhan orang tua Iffi.


"Berikan yang terbaik untuk nya, jika ada perkembangan langsung hubungi saya, " pupus Vakenzo memberi perintah pada dokter itu.


"Saya akan berusaha sekuat mungkin untuk menyelamatkan pemuda ini, " Vakenzo mengangguk lalu pergi begitu saja dari ruangan rahasia itu.


Vakenzo menelfon George untuk berjumpa dengan nya di sebuah tempat yang ia minta.


Sesampai nya di gedung tua, Vakenzo duduk di atas mobil nya merebahkan tubuh nya di atas kaca sembari termenung memikir kan apa yang harus ia lakukan selanjut nya.Ia terdiam cukup lama dengan fikiran yang sudah melalang buana.


"Tujuan ku datang kesini hanya untuk mengambil harta peninggalan Valencia yang ada di bawah gedung panti asuhan, dan mencari keberadaan Angel lalu membunuh penculik nya. Sial nya, Papa melarang ku pulang ke Italia jika aku tidak membawa dua barang itu, " decih nya mengepalkan sebelah tangan nya.


"Tuan, "


"Harus kah aku meminta bantuan Paolo untuk memecahkan kasus ini,sampai dua pemuda itu memasukkan ku kedalam jebakan serangga yang membuat ku bingung. Bunuh langsung atau tidak?"


"Tuan, "


"Aku sudah mendapat julukan Consigliere, mana mungkin bisa kembali ke Italia tanpa kebanggaan,jika tidak para petinggi dunia mafia akan menghunus ku dengan peluru nya, "


"Tuan, "


George yang sudah tidak bisa menahan kesabaran nya pun meledakkan suara nya di telinga Vakenzo.


"Tuannn!!!!! "


"Oooiii!!! " Vakenzo tersentak kuat saat George berteriak di telinga nya.


"Non sorprendermi (jangan kejutkan aku) , " pekik nya memarahi George.


"Tuan tuli, saya sudah memanggil anda tiga kali tapi anda tidak menghiraukan nya, " balas George tidak tanggung-tanggung ia juga ikut berteriak. Vakenzo menghela nafas kesal dan membuang wajah nya ke sembarang arah.


"Anda tidak bisa meminta bantuan Paolo karena dia sudah di tugas kan tuan besar untuk membunuh keluarga Lordxena, " Vakenzo tersentak lagi karena terkejut.


"Tahu dari mana? "


"Sumedang, "celetuk nya sangat geram.


" George Frederick William Shakespeare, "panggil Vakenzo dengan nada lembut tetapi sangat tajam.


" Tuan nama saya tidak sepanjang itu, "koreksi nya, Vakenzo memukul kap mobil nya dengan kuat.


Daakkk


George menciut takut ketika di gertak Vakenzo, " Tuan tangan nya sakit gak? "sambung nya berceloteh.


"Jawab yang BENAR!!! " teriak Vakenzo sampai membuat burung gagak yang bertengger di rumah tua itu berkoak-koak.


"Paolo yang beritahu saya tuan, dia meminta saya untuk jangan khawatirkan dia, "


"GEORGE!!! "


"Salah lagi, " gumam nya serba salah di mata Vakenzo.


"Hentikan hubungan Gay mu itu, kalau tidak saya akan eksekusi kamu di ruang kematian, " kecam nya kali ini tidak membuat George takut.


"BUKAK!! lebar-lebar mata mu tuan, Paolo itu perempuan tapi wujud nya saja yang seperti laki-laki. Yang Gay itu tuan, ciuman dengan Felix, "Vakenzo sudah geram melihat kelakuan bawahan nya yang mengatakan ia Gay karena pernah berciuman dengan Felix sepupu nya sendiri.


"Gue bukan Gay, itu di lakukan karena saya kepeleset, "


"Yaudah Ssstt.. diem, tuan ada perlu apa dengan saya, " asap kereta api seperti nya sudah keluar dari dua lubang telinga Vakenzo. Di sini ia bos nya tetapi kenapa George berlaku seolah-olah dia bos nya.Namun, dapat di akui hanya George lah yang berani bersikap seperti ini kepada nya.


"Mana tugas yang saya berikan kemarin lusa? "


"Oh.. ada. Saya tau dimana tempat nya, "


"Kita pergi sekarang, " ujar nya turun dari atas mobil.


"Kemana tuan? "


"MENJEMPUT AJAL MU!!, "


.......


.......


.......