Valencia

Valencia
Terungkap



Pagi itu Retta, Iffi dan Vakenzo sedang berada di dalam restoran. Suasana itu sangat tegang dan hening.


"Vakenzo, selama kita belum nemuin dalang asli nya lo gak bisa juga nemuin adik lo, " seru Retta membuka percakapan.


"Ta, emang lo yakin adik nya ada di tangan pembunuh itu? " tanya Iffi setelah meletakkan gelas nya di atas meja.


"Gue sih belum yakin juga, karna kan kita gak megang bukti apapun, " jawab Retta ragu dan berusaha berfikir.


"Lagi pula, saya disini bukan hanya mencari adik saya, "


"Lalu? " tanya mereka berbarengan.


"Saya sedang mengincar panti jompo itu, " tunjuk nya pada gedung yang berada di seberang jalan Retta dan Iffi mengikuti arah tunjuk tangan nya dan melihat famplet yang bertulis.


"Panti Jompo Harapan? " gumam mereka berdua.Iffi tertawa lepas, ia tidak kuasa menahan geli yang menggelitiki perut nya ketika Vakenzo mengincar sebuah panti jompo.


Vakenzo merotasi kan bola mata nya, Iffi mengira diri nya sedang membuat lelucon garing. "Lu mau ngapain? " bisik Retta pada Vakenzo.


"Bunuh orang dosa gak sih? " tanya nya balas membisik.Retta merubah mimik wajah nya, Vakenzo yang melihat nya pun menjadi salah tingkah.


"Elu ngapain ngincar panti jompo bambang, tu isi nya barang antik semua, " ujar Iffi di sela-sela tawa nya. Vakenzo mendecak kan lidah nya dengan geram.


"Kalau nyari tu yang aduhai, masih kenceng dan rapet, noh di sebelah nya ada club malam. Nanti malam buka nya, gue temenin deh, " seru Iffi membuat Retta melebarkan kedua mata nya. Ia baru sadar ternyata ada gedung baru di sebelah panti jompo.


"Anjing.. bisa nge dugem dadakan tuh nenek kakek," celetuk Retta berkomedi.Vakenzo terkikik geli.


"Saya salut dengan pemilik nya, berfikir nya gak nanggung-nanggung,"


"Di sebelah barang antik, di sebelah nya barang branded," sambung Iffi berlinang air mata karena kelelahan tertawa.


"Gila, gue baru sadar ada club malam di sebelah panti jompo, " Retta menggeleng kan kepala nya tidak menyangka.


"Gue juga baru tau kemaren, Gio yang ngasih tau gue, "


"Gio temen lo yang suka mainin cewek itu? " Iffi menganggukkan kepala nya.


"Ada yang mau mencoba nya? " tanya Vakenzo menatap kedua nya.


"Retta suka ngeclub tapi dia gak suka yang nama nya mainin cewek. Gak sembarang cewek bisa nyentuh dia," jelas Iffi, Vakenzo langsung melihat kearah nya.


"Bukan itu lagi sekarang yang gue fikirin, gue masih berusaha nyari siapa dalang di balik pembunuhan dan penyeludupan obat terlarang di makanan ringan, "


"Kalau saya sudah tangkap pelaku nya, apa yang akan kau lakukan? "sambung Vakenzo menatap Retta penuh arti.


" Gue bakal balas kesakitan korban kedia, penjahat gak boleh hidup, "


"Lo berani Ta? "


"Kalau dia berani membunuh dan tega nyebarin obat terlarang ke makanan ringan,bahkan anak balita pun juga bisa memakan nya, Apa dia gak punya hati nurani? dia senang melakukan hal itu, tapi tidak memikirkan perasaan keluarga yang di tinggal kan, "


"Tapi kan Ta, kita ini bukan tandingan nya. Gue masih kepikiran sama mantan ketua gengster itu, semua anak buah nya bisa di tumbang kan, apalagi kita yang hanya serangga kecil, " Iffi beropini.


"Mending percaya pada diri lo sendiri deh Fi," Iffi merasa sulit jika berbicara dengan Retta yang sangat keras kepala, ia melirik kearah Vakenzo yang asik memain kan handphone nya.


"Woy, Jamal. Lu bantuin kek, "


"Bantu? saya harus apa? " tanya nya tanpa dosa.


"Iya lu kan yang bisa ngelawan itu pembunuh, dia juga dari negara yang sama kok kaya lo. Masa gak mau bantu kita sih, lu malah asik main HP, " Vakenzo melihat handphone nya dengan polos lalu ia menyimpan nya lagi.


"Apa yang harus saya dengarkan? "


"Telattt!!! " pekik Iffi dengan geram.


Tidak di sangka tiba-tiba terdengar suara siren, Retta dan Iffi terkejut mengapa ada mobil kepolisian dan juga ambulans yang melintas di depan restoran itu.


"Ta bukan nya itu mobil kepolisian Sekta, tempat Jeff kerja, " ujar Iffi, Retta mengerti dengan keadaan ini. Pasti ada sesuatu terjadi, Vakenzo melihat banyak mobil kepolisian berlalu lalang. Ia tampak tenang dan santai meminum minuman dingin nya.


Retta merogoh saku celana nya, memanggil nomor pribadi Jeff.


"Jeff, "


"Retta, ada pembunuhan lagi di sekitar gang kompleks rumah lo. Mayat nya di temukan sekitar jam 10.30,"Retta memutuskan sambungan nya secara sepihak, tangan nya bergetar menahan gejolak emosi yang semakin membara.


" Kenapa Ta? "


"Ada yang mau ikut? " Vakenzo beranjak dari duduk nya, Retta dan Iffi bergegas menuju lokasi pembunuhan.


***


Suasana TKP penuh dengan warga yang melihat jasad itu. Mereka bertiga berusaha membelah kerumunan itu, garis polisi pun melintang membatasi tempat kejadian itu. Beberapa polisi juga berusaha menjaga kerumunan.


"Maaf Pak, kalian tidak bisa masuk di lokasi ini, " seru seorang polisi menahan mereka untuk melihat lebih dekat. Jeff yang melihat itu pun memberikan intruksi kepada bawahan nya.


"Biarkan mereka masuk, " polisi itu pun menurun kan tangan nya dan mereka bertiga ikut melihat penyelidikan itu.


Retta meraup wajah nya saat melihat jasad itu seorang wanita lansia. "Bener-bener gak pandang bulu, " gumam Iffi ngeri melihat nya.


"Bisa di simpulkan sih, dia memotong tepat di pembuluh darah nya, " sambung Jeff yang berada di dekat mereka.


"Sebelum nya dia pasti memukul nenek ini dengan balik. Belakang leher dan bahu nya terlihat jelas jejak nya, " seru Iffi memperhatikan luka di bagian tubuh nya.


"Gila sih, kaya motong leher ayam cerita nya. Hampir putus, lagi pula siang bolong begini bisa dia beraksi lagi, "


Retta mendekati jasad itu, sebelum nya seorang petugas memberikan Retta sarung tangan plastik agar sidik jari nya tidak tertempel.


Retta membolak balik kaki dan tangan jasad itu. Tidak di temukan apa yang ia cari, bola mata nya terhenti di leher belakang jasad. Banyak darah yang berceceran, Retta mengusap leher belakang korban untuk menyingkirkan darah kental itu.


"Memang benar kau pelaku nya, " gumam Retta, Vakenzo mendekati jasad nya mengambil sedikit darah di jari telunjuk nya. Retta dan yang lain memperhatikan apa yang akan di lakukan Vakenzo.


Vakenzo mencium darah itu dan terdiam sesaat. "Apa yang kau lakukan? " tanya Retta.


"Bukan dia pelaku nya, "Retta mengerutkan dahi nya sementara Iffi di landa kebingungan.


" Sudah jelas tanda itu ada, "Retta mendesak bahwa benar ada nya dia pembunuh yang sama.


" Kau sudah di bodohi, sebernarnya ini trik untuk mendorong mu kejurang kebodohan, "pedas Vakenzo meninggalkan tempat kejadian itu. Retta menggertakkan gigi nya, apa maksud dari umpatan nya tadi. Retta melepas sarung tangan plastik itu dan berlari mengejar Vakenzo, Iffi pun terpaksa mengikuti kemana mereka pergi. Di sisi lain, dia yang melihat ketiga nya pun tersenyum singkat hingga tidak di ketahui ia sedang tersenyum atau diam.


" Maksud lo tadi apaan sih, "bentak Retta kepada Vakenzo saat mereka berjalan menuju mobil yang mereka parkir kan dengan asal.


" Lebih baik kamu masuk, "pinta Vakenzo menyuruh kedua nya untuk masuk, dengan sangat terpaksa Retta mengikuti perintah nya.


Vakenzo memutar balik kan mobil itu dengan sangat brutal, Iffi hanya bisa diam saat suasana begitu tegang dan tidak nyaman saat berada di situasi seperti ini.


Mereka heran saat Vakenzo membelokkan mobil nya masuk kedalam hutan. " Lo mau bawa kita kemana? "tanya Iffi takut.Vakenzo langsung menghentikan mobil nya tepat di depan seorang pria berjubah hitam.


"Consigliere, " sapa pria itu kepada Vakenzo yang baru saja keluar dari mobil nya, ia tersenyum menyambut pria itu, Retta dan Iffi bingung kepada siapa Vakenzo berbicara.


"Apa kau sudah melihat nya? " tanya nya langsung.


"Sudah, tetapi memang bukan dia pelaku nya, " Retta semakin di buat bingung, pelaku siapa yang mereka maksud.


"Vakenzo, ada hal yang harus kau tau. Pembunuh yang kau maksud adalah Ameerka, " Vakenzo mengerutkan dahi nya.


"Siapa dia? "pria itu mendesis ragu untuk memberitahu Vakenzo.


" Ameerka, dia berasal dari italia. Mungkin kau akan terkejut, dia adalah sahabat dekat nya Angela 10 tahun yang lalu. Dari data yang ku selidiki sekitar empat tahun yang lalu, Ameerta mengajukan surat kepindahan nya secara ilegal, "Vakenzo mengepalkan kedua tangan nya.


" Lalu bagaimana? "


"Dia memang berada di sini, kau tau? sebelum pindah ke Indonesia dia melakukan operasi wajah dan mengubah nama depan nya. Mungkin akan sulit untuk mencari keberadaan nya, "


"Beri tahu mereka siapa yang membunuh lansia itu," pinta Vakenzo menatap dua pria yang sedari tadi diam memperhatikan. Pria itu mengambil ponsel nya dan menunjukkan beberapa foto kepada nya.


"Dia Jeff, teman dekat mu, " Retta dan Iffi melebarkan kedua bola mata nya, hingga ingin keluar dari tempat nya. Foto itu menunjukkan beberapa tindakan nya memukul dan bagaimana dia membunuh korban.


"Gak mungkin, sepupu gue gak mungkin begitu,"bantah Retta tidak mempercayai apa yang ia lihat.


"Itu lah yang saya tau, Jeff bukan orang baik, "


.......


.......


.......


.......