
Iffi dan Retta sedang memeriksa file yang sudah di berikan Jeff kepada mereka. Retta memperhatikan foto korban satu persatu dan melihat tanda yang sama atau tidak. Sedangkan Iffi membaca surat laporan autopsi korban pembunuhan secara mendetail.
"Gimana Fi hasil laporan nya? " tanya Retta pada Iffi yang masih fokus dengan layar laptop nya.
"Dari yang gue lihat sih, 50% korban di bunuh dengan senjata tajam, pelaku sering melakukan nya di area pembuluh darah. 30% dengan benda tumpul dan 20% nya mereka mencekik leher korban hingga gak bisa bernafas, "Retta mengangguk-angguk kan kepala nya, ia berfikir secara logika metode dari pembunuhan ini.
" Kalau lo gimana Ta? "Retta mendesis ia menggeser laptop nya kearah Iffi.
" Dari foto-foto korban yang gue lihat sih gak keseluruhan nya sama, "
"Maksud lo? "
"Kalau kemarin kita nemu titik tiga itu di posisi yang sama. Kali ini enggak Fi, "
"Jadi maksud lo, tanda titik tiga itu bisa di berbagai posisi tubuh korban? "
"Iya, gue nemu tanda yang sama di posisi yang sama tu paling cuma 5% dari banyak nya korban. Selebihnya ada yang menyebar, "
"Terutama? " Iffi memandang Retta sangat dalam, Retta menarik nafas lalu menghembuskan nya.
"Tumit kaki, "jawab nya.
" Lo lebih banyak nemu titik tiga itu di tumit kaki korban? tapi bukan nya posisi korban saat ditemukan di TKP itu beda-beda yah? "Iffi beropini.
" Gak semua nya begitu Fi,dari 100 korban yang gue lihat, 50% gue bisa lihat tanda itu di tumit korban. Pinter-pinter gue ngezoom nya deh, "Iffi mengangguk-anggukkan kepala nya.
" Jadi separuh dari foto korban gimana? "
"Separuh nya ada yang gue temuin di leher dan lengan. Mereka memberi tanda titik tiga itu di area yang tidak di sadari orang lain, "
"Terus apa rencana lo selanjut nya? "
Retta menutup laptop nya lalu menghela nafas, sejujur nya ia juga bingung langkah apa yang harus ia ambil lagi. Tidak mungkin ia hanya berdiam diri menyaksikan pembunuh itu beraksi kembali. Sedang jumlah korban sudah mencapai batas maksimal per tahun nya.
"Gue bingung Fi, " gumam Retta menyandarkan tubuh nya di sandaran soffa.
"Ta, lo gak ada niat buat minta bantuan seperti yang di bilang Bapak-bapak yang tadi siang duduk bareng kita, " Retta mengangkat kepala nya dan duduk tegak ketika mendengar kalimat Iffi.
"Lo mau? " tanya Retta dengan berbinar dan antusias, Iffi mendapatkan peluang ia juga ikut berbinar.
"Mau Ta, "
"Gue enggak, " raut wajah Retta seketika langsung berubah masam dan dingin. Iffi mencebik kan bibir nya.
"Ta, ayolah. Came on!! " rengek Iffi, tipe model Retta ini sangat sulit di ajak berbicara, ia lebih mengeraskan isi kepala nya dari pada melunakkan nya. Retta tidak ingin masalah nya di nganggu orang lain, ia percaya pada diri nya sendiri bahwa ia bisa. Ia selalu menolak tawaran orang lain dengan sifat dingin nya.
"Iya gue harus bilang wow gitu? Apa gue harus pergi ke Italia terus bekerja sama dengan mafia itu untuk bantu gue balas dendam ke pelaku,"
"Gak mudah Fi, dia lagi memiliki gelar mafia, "
"Tapi kan lo harus nyoba dulu Ta, baru tau gimana keadaan selanjutnya. Sekarang apa lagi coba yang harus kita lakuin selain dengerin apa yang bapak itu ucapkan, "
"Pliss deh Retta Alexander kali ini lo jangan keras kepala dulu, "
"Ok fine, gue dengerin apa kata lo, " pasrah Retta sangat melelahkan. Iffi membuang nafas kesal, kasus ini membuat semua keadaan menjadi pecah belah. Iffi memejamkan kedua mata nya ia berusaha untuk tidak larut dalam suasana yang hampir terbakar.
Iffi membuka situs web dari laptop nya, Retta heran apa yang di lakukan Iffi. Hanya bisa memperhatikan dari belakang tubuh Iffi.Beberapa menit kemudian Iffi menghentikan jari nya mengetik papan keyboard, Iffi menunjukkan layar Laptop kepada Retta.
"Lo meretas? " tanya Retta terkejut selama beberapa tahun Iffi tidak pernah melakukan ini lagi, tapi sekarang ia melakukannya kembali.
"Gue terpaksa Ta, lo liat sekarang dia siapa? " mata Retta teralihkan dan menatap layar laptop dengan teliti.
"Bukan nya di Vakenzo? "
"Jeff bilang dia berasal dari Italia bukan? " Retta menganggukkan kepala nya.Iffi memasukkan kode peretasan dan tampak lah semua biodata yang Iffi cari.
"Vakenzo Afno Valencia, kelahiran tahun 89 Italia, tangan kanan keluarga Valencia memiliki julukan Consigliere atau kucing lapar, " gumam Retta melebarkan kedua mata nya setelah membaca keterangan lain.
"Sekarang dia ada di dekat kita bukan?lo gak susah lagi pergi ke Italia, "
"Terus maksud lo apa? "
"Besok kita ketemu dia, " pupus Iffi membuat Retta terbelalak.
"Secepat itu? "
***
"Ada perlu apa? " tanya Vakenzo, Iffi mengalami tremor lagi karena bertatapan dengan mafia. Retta dan Iffi membawa Vakenzo di sebuah restoran cepat saji untuk membicarakan hal yang sudah mereka rencanakan.
"Sebenarnya kami bawa kamu kesini karena kami butuh bantuan, " Retta membuka suara, dari nada nya ia terlihat gengsi dan berkali-kali membuang pandangan.
Vakenzo mendengus senyum, sembari menyeruput kopi hitam nya, "Tidak bisa, " pupus nya membuat mereka berdua terbelalak bahkan mereka belum mengatakan apa bantuan yang mereka ingin kan.
"Aa.. tapi kami belum mengatakan apa pun, " gugup Iffi memandang tidak percaya.
"Kalian ingin menyangkut pautkan saya dalam masalah kalian yang belum menyelesaikan misi kalian mencari pembunuh itu bukan? " seru Vakenzo menatap Iffi dan Retta sangat dalam.
"Aa.. tapi anda belum mengetahui maksud kami melakukan ini, " tambah Iffi, Vakenzo mengancingkan Jaz nya yang sempat terbuka, ia memundurkan kursi nya dan berniat meninggalkan mereka berdua.
Retta dengan cepat menghentikan pergerakan nya, "Bukan kah anda kesini memiliki maksud juga? " Vakenzo terdiam, ia melihat kearah Retta dan Iffi dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Benar, anda pasti memiliki maksud lain kenapa datang ke Indonesia, padahal anda bisa menetap di Italia, " tambah Iffi, Vakenzo menghela nafas ia kembali membuka kancing Jaz nya dan duduk di kursi nya lagi.
"Saya rasa kalian tidak perlu tau, "
"Bagaimana kami tidak boleh mengetahui nya, padahal anda sendiri membutuhkan nya, " sambar Iffi menggebu-gebu.
Vakenzo menghela nafas lagi, ia memejamkan kedua matanya dengan erat. Sementara Retta dan Iffi memandang nya penuh arti.
"Apa yang kalian inginkan dari saya, " kedua pemuda itu tersenyum cerah ketika mendapat secercah harapan.
"Bantu kami untuk mencari pembunuh--
" Dari mana saya tau? "potong Vakenzo cepat, ternyata ia tidak sekeras yang mereka bayangkan.
" Makanya di selidiki dulu baru tau, "tambah Iffi bak sedang memarahi.
" Lalu? apa tujuan mu datang ke Indonesia? "tanya Retta serius menanyakan maksud kedatangan Vakenzo.
" Aku sedang mencari adik ku, dia menghilang selama satu tahun karena penculikan berencana--
"Aku-kamu... Anda-saya, " cibir Iffi membuat Vakenzo di landa serba salah.
"Jadi saya harus manggil gimana? " geram nya.
"Lo gue gitu kek biar akr----
Retta tiba-tiba saja mencubit bibir Iffi agar menyuruh nya untuk diam, Retta mempersilahkan Vakenzo untuk berbicara kembali.
" Jangan ke dengerin kutil badak berkembang biak. Biarin aja, "pinta Retta membuat Vakenzo mendengus geli.
"Dari yang saya ketahui lokasi penculikan itu ada di kota ini, "seru nya, Retta berfikir ia mengingat perkataan kemarin.
" Adik lo perem.. maksud ku, adik mu perempuan? "Vakenzo menganggukkan kepala nya.
" Fi nanti yang di bilang bapak itu? "
"Hah, yang mana? "Retta beralih menatap Vakenzo dengan serius.
"Nama adik kamu siapa? "
"Lo ngapain nanyak nama nya siapa, kita aja gak tau bentuk kan muka nya gimana. Jangan asal prediksi deh Ta, " gerutu Iffi membuat Retta harus menatap nya lebih tajam, Iffi kesulitan menelan air liur nya.
"Angela, "
"Gue rasa adik lo ada di tangan pembunuh itu, " Vakenzo melebarkan kedua mata nya, tanpa di duga api kemarahan menyeruak di segala sisi. Retta dan Iffi dapat melihat itu, mungkin sebentar lagi akan terjadi ledakan.
"Shitt, "
.......
.......
.......
...Bersambung.....