
Malam itu Retta dan Iffi sedang bersantai di dalam rumah Retta, suasana terdengar ramai karena Vakenzo memilih untuk tinggal di rumah Retta untuk sementara waktu. Bukan nya membantu, Retta semakin di buat pusing dengan adanya dia makhluk jadi-jadian ini.
Di tengah asik nya mereka tertawa ria dengan film yang mereka lihat, tiba-tiba suara bel rumah Retta berbunyi nyaring. Ketiga nya terheran, pukul sembilan malam ada yang bertamu kerumah Retta.
"Malam-malam begini ada tamu, Ta, "
"Gue juga gak tau, " Retta beranjak dari duduk nya ingin membuka kan pintu dan melihat siapa gerangan yang sedang bertamu di malam hari.
"Woy.. Vak, lu tau gak kalau di sini tu ada yang nama nya hantu, "
"Di tempat saya tinggal juga ada, "jawab Vakenzo memakan pop corn jagung yang ia makan seorang diri tanpa membagi nya kepada Iffi.
" Di sini lebih serem, lo gak pernah lihat kan hantu kepala botak, "Iffi berusaha menakut-nakuti Vakenzo namun nyata nya ia yang tengah merinding dalam diam.
" Hantu tanpa kepala juga ada, "jawab Vakenzo santai, Iffi mengumpat dalam hati ia tidak bisa mengontrol diri nya sendiri. Seolah-olah ada sesuatu di belakang nya.
" Sialan lu, kenapa lu jadi nakutin gue, "Vakenzo mengerut kan dahinya.
" Di belakang kamu, "seru Vakenzo dengan santai nya tidak memperdulikan Iffi yang sudah hampir mengompol sementara Vakenzo kembali menikmati film yang mereka tonton.
" Ada apa?"
"Ada teman kamu, "
" Iffi.. gue ada di sini, "bisikan dari Retta membuat Iffi terjengkang dan berteriak ketakutan.
" Rettaaaaa!! "Retta mengge plak kepala Iffi dengan sesuatu yang ia pegang.
" Ciisss... lagian lu sok-sok an nakutin Vakenzo, Padahal lu sendiri yang parno, "desis Retta di kekehin Vakenzo.
" Apa tu yang lu pegang? "tanya Iffi kepo mengintip-intip kotak yang di pegang Retta.
" Gak tau, tiba-tiba ada depan rumah, "Retta memandang kotak itu dari segala sisi ia heran malam-malam begini ada yang mengirim paket ke alamat rumah nya.
" Lu pesen sesuatu kali, "terka Iffi sembari meminum cocacola dingin milik nya.
" Gue gak pernah pesen-pesen barang lagi semenjak mau wisuda ini, "ujar Retta, ia mencoba membuka isi kotak itu.Setelah terbuka sempurna, baru lah terlihat isi di dalam kotak itu.
" Haaaaaa!!! "
"Astaga!!! " pekik Iffi dan Retta sama-sana terkejut melihat isi kotak itu.Iffi yang bergetar ketakutan, sementara Retta menjauhkan kotak itu dari nya. Sementara Vakenzo tetap asik dengan dunia nya.
"Ta, kita di teror lagi. Barusan itu bangkai tikus, terus ada foto kita berdua yang di kasih darah, " seru Iffi terbata-bata, ia sampai berkeringat dingin melihat isi peneroran di dalam kotak tersebut.
"Vakenzo, lo gak liat kita lagu di teror? " tanya Iffi pada Vakenzo yang terlihat tenang dan santai.
"Hm? saya tidak mendengar nya, " jawab Vakenzo sekena nya.Retta mengusap wajah nya dengan kasar, bukan karena Vakenzo yang terlihat bodih namun ia sedang frustasi dengan peneroran di rumah nya. Ini yang kedua kali nya Retta mendapat ancaman.
"Gak mungkin lo gak denger, "Iffi tidak percaya dengan alasan Vakenzo.
" Saya terlalu fokus menonton film ini, jadi saya tidak mendengar kalian, "jawab nya tetap santai mulut nya masih setia mengunyah pop corn yang ada di tangan nya.
" Whatever, "
Retta melirik Vakenzo, Retta bukan lah orang yang mudah di bodohi, ia tau Vakenzo diam-diam sedang merencanakan sesuatu.
Vakenzo melirik sebuah kaca jendela rumah Retta yang kebetulan tirai nya tidak tertutup sempurna, tepat di hadapan jendela itu, berjarak 30m.Ada yang sedang mengawasi rumah mereka.
"Saya lupa nama kamu. Tapi bisa kah kamu pindah tempat duduk, " pinta Vakenzo, Iffi mengerutkan dahi nya. Ada apa dengan Vakenzo yang tiba-tiba menyuruh nya pindah tempat duduk?
"Kenapa lu tiba-tiba----
Dengan geram Retta menarik paksa Iffi agar segera berpindah tempat duduk. Retta yang sedari tadi mengikuti arah lirikan mata Vakenzo pun memahami situasi, sedang kan Iffi sangat lamban.
" Ta sak---
*Jdoorr
Jdoorr*
Dua peluru melesat menembus kaca jendela Retta, sedang Iffi yang baru ingin berkomentar ternganga lebar setelah melihat apa yang terjadi. Jika saja Iffi tidak berpindah tempat duduk, maka nyawa nya mungkin sudah melayang. Retta mengelus dada nya, setidak nya sahabat nya itu tidak tertembak oleh penyusup yang bersembunyi di sekitar rumah nya.
Vakenzo terdiam,tidak tau apa yang ia rencanakan."Kamu punya ruangan yang tidak terpakai? "tanya Vakenzo pada Retta.
" Ada, ruang bawah tanah. Isi nya mungkin cuma barang-barang lama, "seru Retta sebenarnya sedikit bergetar karena ia dapat merasakan aura buruk dari Vakenzo.
Vakenzo menganggukkan kepala nya, ia merogoh saku piyama nya. Iffi dan Retta yang langsung terkejut melihat apa yang di ambil Vakenzo ternyata sebuah pistol.
Tanpa babibu lagi, Vakenzo dapat melihat sasaran empuk nya, ia menarik pelatuk pistol itu dan menembakkan peluru dari kaca jendela yang baru saja di tembak.
Jdaarrr
Asap tipis mengepul di ujung pistol itu, Retta dan Iffi saling berpelukan tanpa sadar, ternyata ini aura dari Mafia yang di takuti.
Vakenzo menatap Iffi dan Retta, ia mendengus geli, " Oh ayolah, saya hanya menembak tupai. Sebelum tupai itu mati, kalian harus mengambil nya, "ujar Vakenzo tertawa geli, percayalah suasana rumah itu berubah sangat mencekam ketika Vakenzo terkekeh geli. Retta menetralkan perasaan nya, mungkin ini pertama kali nya ia melihat hal yang semenakutkan nya itu.
" Lu beneran nembak tupai? "tanya Iffi lamban. Vakenzo mengangguk antusias.
Yang benar saja, Iffi dengan percaya diri nya keluar dari rumah Retta ingin membawa tupai itu di temani Retta yang ikut mengambil seekor tupai.
" Lu ngapain ikut, cuma tupai kok, gue berani ngambil sendirian, "Retta memutar bola mata nya, Iffi benar-benar lamban jika di ajak bekerja sama.
" Tupai nya besar Fi,lo gak bakalan kuat, "
***
Tiba nya di ruangan yang sejak tadi Retta katakan, Vakenzo sudah berada di sana bersama mereka berdua dan satu lagi seekor tupai yang berhasil Vakenzo bidik dengan sempurna.
Iffi? jangan di tanya Iffi seperti apa, ia hanya bisa menyembunyikan tubuh nya di dalam kardus kosong berukuran besar, seperti nya ia mengalami phobia.
"Tuh kan Fi, udah gue bilang tupai nya itu besar, lo gak akan kuat. Capek kan? " Retta terkekeh geli melihat sahabat nya yang lamban dan penakut, Vakenzo pun hanya memiringkan sudut bibir nya melihat kelakuan Iffi yang menurut nya absurd.
"Lu bilang itu tupai Jamall, ternyata tupai berkedok manusia, " pekik Iffi keluar dari dalam kardus nya. Mereka semakin terkekeh geli melihat Iffi yang begitu ketakutan saat pertama kali melihat tupai berkedok manusia sudah tergeletak di halaman rumah nya.
Saat ini,tupai itu sedang dalam keadaan pingsan karena peluru itu menembus bahu kiri nya. Vakenzo dengan senang hati menemani tidur nyenyak nya tupai itu, Vakenzo bersiul sembari mengitari tupai itu.
"Jamal, serem gue lihat lo begitu, " Vakenzo mengatupkan kedua bibir nya, tidak ada cara lain. Ia harus segera membangun kan tupai itu.
Byurrrr
Vakenzo terheran karena belum melakukan apa pun tupai itu sudah basah tersiram air, ternyata pelaku nya adalah Retta.
"Upss gue kecepetan, " pupus nya menutup bibir nya, Vakenzo tersenyum sambil memberikan jempol untuk nya. Tupai itu akhir nya terbangun dengan kejutan yang tiada tara.Kejutan itu adalah kaki dan tangan nya terikat dalam posisi duduk, lalu mulut nya di beri pelembab bibir oleh Retta, yaitu lakban hitam.
"Good morning, "
.... ...
.... ...
.... ...
...Bersambung.. ...