
"Ini file yang lo minta, gue udah salin semua nya di dalam flashdisk, " Jeff memberikan sebuah flashdisk hitam itu kepada Retta.
"Thanks bro, "
"Jeff, lo tau gak orang yang dari tadi sama nyokap lo? " tanya Iffi terus terang.
"Oh, itu client papa gue dari Italia, " Retta dan Iffi saling pandang.
"Dari Italia? " beo mereka kompak.
"Iya, dia dari Italian kerja sama bareng nyokap gue. Dia ada pegang beberapa bisnis perusahaan dan perhotelan di beberapa negara, menurut gue sih dia itu campuran Indo-Itali, " ujar Jeff menyampaikan penilaian nya.
"Lo tau gak nama nya siapa? " tanya Iffi.
"Vakenzo, " jawab Jeff melebarkan kedua mata Iffi.
"Meski pun dari Italia tapi dia bersih gak memiliki kasus apapun, "
"Yakin lo? " tanya Retta memandang ragu.
"Kali ini enggak, gue bakal selidiki dia bareng tim gue. Dia ada hubungan nya gak dengan pelaku penembakan tadi,"
"Kok lo tau? "
"Iffi cerita sama gue, "
"Percaya banget sama Iffi, " Retta melirik Iffi sambil menggoyang-goyangkan gelas anggur nya.
"Kita lihat aja hasil nya, "
***
Kedua pemuda itu sedang fokus menatap layar laptop, dengan segelas kopi favorit yang menemani mereka saat mengerjakan tugas kuliah.
"Ta, kalau memberi amanat itu? " tanya Iffi
"Epilog, " jawab Retta fokus dengan komputer nya.
"Menerangkan sesuatu itu? "
"Prolog, "
"Berbicara sendiri itu? "
"Monolog, "
"Berbicara berdua itu? "
"Dialog, "
"Berjuang sendiri itu? "
"Goblog, "Iffi langsung melihat kearah Retta dengan pandangan tidak percaya.
Beberapa pengunjung Caffe yang dekat dengan meja mereka terkikik geli mendengar jawaban Retta yang random, sebenar nya ia juga sedang menyindir Iffi.
"Ta, lo kok gitu sih? "
"Emang bener, Tania lagi berdua an sama cowok lain lah lu cuma bisa diem nahan rasa sakit, goblog kan? " ujar Retta mengingat masa lalu Iffi yang pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita yang bernama Tania, bukan nya bahagia. Iffi malah melihat Tania sedang bermesraan dengan selingkuhan nya. Sedang ia hanya bisa diam menyaksikan mereka berdua, menahan sakit seorang diri.
"Sialan lo, " gerutu Iffi menyelis Retta dengan tajam. Sekejap ia terdiam mengisap kopi pesanan nya.
"Ta? "
"Hn, "
"Kaya nya kita perlu minta bantuan Vakenzo deh buat nangkep tu pembunuh, " Iffi memegang dagu nya menimang-nimang keputusan nya benar atau tidak. Retta melihat kearah Iffi dengan tarikan nafas.
"Ngaco lo Fi," seru Retta menutup laptop nya dan mengemasi buku-buku yang berserak di atas meja.
"Iihhh serius Ta, " Iffi juga melakukan hal yang sama, mereka keluar Caffe itu dan Iffi terus membahas pria itu.
"Kita butuh orang yang lebih hebat dari kita Ta, kemungkinan dia bisa bantu kita, "Retta menghentikan langkah nya dan beralih menatap sahabat nya itu.
"Dia jago nembak, " Retta menoyor kepala Iffi dan melanjutkan langkah nya.
"Lo cuma liat dia sekali nembak aja udah lo deskripsi kan pria itu jago nembak,kalau yang di tembak lo gimana Fi,"
"Ta, coba deh lu dengerin usul gue, " Retta menghentikan langkah nya tiba-tiba hingga Iffi yang berada di belakang Retta pun tak sempat berhenti lalu menabrak punggung Retta.
"Hiisss... kalau mau berhenti tu pakek kode, " gerutu nya kesal. Retta mendudukkan diri nya di kursi taman yang baru mereka lintasi.
"Gak mudah Fi, kita juga gak tau latar belakang nya, it's okay kita minta bantuan nya buat nemuin pembunuh itu, tapi setelah kasus pembunuhan itu selesai terus dia minta nyawa kita berdua sebagai bayaran nya, lo mau, " Iffi menelan ludah nya dengan susah payah, perkataan Retta barusan membuat Iffi hilang nyali dan tidak mampu berkata-kata.
"Kalau gitu gak jadi deh, " Iffi menggeleng cepat dengan wajah penuh peluh keringat yang membasahi.
Seorang pria tua mengalihkan atensi Retta,"Boleh saya duduk di sebelah mu? "tanya nya pada Retta, dengan murah hati Retta menggeser sedikit tubuh nya memberikan ruang kosong untuk pria tua itu.
" Bapak mau minum? "tawar Iffi memberikan air mineral yang masih tersegel.
" Terima kasih nak,"Pria itu kesulitan membuka tutup botol nya.
"Biar saya buka kan pak, " Retta memberikan bantuan dan membuka penutup botol itu, pria tua itu meminum nya lalu menghembuskan nafas lelah menatap jalanan yang begitu ramai pengendara.
"Coba kalian bayangin, satu persatu pengendara yang lewat dari hadapan kita ini meninggal di bunuh pelaku pembunuhan berantai itu, " Retta dan Iffi refleks melihat jalanan itu dan membayangkan apa yang di katakan pria itu.
"Astaga!!.. saya yakin itu tidak akan terjadi pak," Retta menggeleng cepat dan memejam kan mata nya dengan kuat.
"kamu yakin? " tanya pria tua itu.
"Yakin, saya akan berusaha selidiki kasus pembunuhan itu pak, saya juga sedang berusaha membalaskan dendam orang tua saya kepada pelaku, " seru Retta sangat meyakin kan, pria itu menganggukkan kepala nya.
"Orang tua kamu tidak dendam, yang dendam hanya hati mu, " Pria itu menatap Retta dengan sangat serius.
"Boleh kamu lakukan itu, asal kamu dapat mengontrol nya karena itu dapat membahayakan nyawa mu sendiri,jangan gegabah nak. Jika lelah berhenti saja lah, karena dia bukan tandingan mu, " Retta termagu dengan perkataan pria itu, ia merunduk dalam. Iffi mengelus bahu teman nya itu.
"Dari mana bapak tau, dia bukan tandingan kami? " tanya Iffi lamban. Pria itu mendengus geli.
"Kasus pembunuhan ini bukan permainan, bahkan ini sudah tahun keempat kasus itu belum terpecahkan. Jika di hitung dari tahun pertama dan sampai sekarang, mungkin korban yang meninggal sudah mencapai ratusan, "
"Dari yang saya tau, pembunuh itu berasal dari klan mafia lebih tepat nya Italia, " Retta dan Iffi melebarkan kedua bola mata nya. Mereka begitu terkejut bagaimana pria tua ini bisa tau pembunuh itu berasal dari Italia.
"Bapak tau dari mana? " tanya Retta antusias. Pria tua itu memiringkan tubuh nya menatap Retta dengan penuh.
"Saya mantan ketua gengster di kota ini, dua tahun yang lalu saya berhenti dari perkumpulan itu. Banyak informasi yang saya dapat dari beberapa anak buah yang menjadi mata-mata nya, "
"Pembunuh itu datang ke Indonesia dari enam tahun yang lalu, "
"Berarti dia memulai aksi nya setelah dua tahun tinggal di Indonesia? "Retta ternganga, informasi baru yang ia dapat harus ia simpan dengan rapi.
"Benar, saya yang pernah menghadapi nya. Tapi gagal, seratus anak buah saya berhasil di tumbangkan, " Pria itu menghela nafas lalu merunduk sedih.
"Ta, gue gak mau sama kaya anak buah bapak ini, " seru Iffi bergetar, ia sangat ketakutan karena sudah berusaha ikut mencampuri kasus ini.
"Terlambat, kalian sudah masuk kedalam lubang hitam ini, memang benar. Siapa pun yang berusaha mencampuri kasus ini akan mati satu persatu, " Iffi langsung berkeringat dingin, kaki dan tangan nya sampai mengalami tremor yang berlebihan.
"Kabar nya, dalang dari pembunuhan itu sedang menyandera seseorang yang sampai sekarang belum tau seperti apa kabar nya, " Retta terdiam, ia bingung harus berbuat apa? peringatan itu benar adanya, Retta bukan lah tandingan dalang dari pembunuhan itu.
"Astaga!! " Retta mengeluh dan mengusap wajah nya begitu penat. Pria itu menepuk bahu Retta dengan senyuman tulus nya.
"Kamu baik. Kamu bisa memecahkan kasus ini dengan bantuan seseorang, " seru pria itu memberikan peluang bagi Retta.
"Maksud bapak? "
"Dia berasal dari keluarga Valencia, dia juga berasal dari keluarga mafia, dia sering di juluki Consigliere atau kucing lapar, " pria itu menepuk bahu Retta dan tersenyum kepada mereka berdua. Ia pergi meninggalkan Retta dan Iffi setelah mengatakan hal itu.
"Valencia? Consigliere? "beo Retta berfikir keras.
" Atau kucing lapar, "gumam Iffi dengan pandangan kosong.
.......
.......
.......