Valencia

Valencia
Titik Tiga



Kamar Jenazah, Iffi dan Retta sedang memasuki kamar jenazah untuk melihat jasad korban pembunuhan malam tadi. Retta membuka penutup kain putih di kepala korban, ia memperhatikan dengan teliti dari kepala hingga ujung jari kaki.


"Ta, mayat nya kok biru? " tanya Iffi mengusap-usap lengan nya yang merinding karena berada di kamar mayat, perlu di ketahui Iffi adalah pria penakut.


"Huuufffhhh... itu karena mereka gak pakai senjata tajam, " jawab Retta menghela nafas.


"Maksud lo, mereka ngebunuh dengan cara alami gitu?"


"Bisa jadi ngeracunin organ dalam atau mencekik leher korban hingga gak bisa nafas, "


"Serem amat, "


Retta menutup kembali wajah korban, dan beralih membuka penutup kaki. Retta mengulum bibir nya, tak ada hal yang bisa di temukan di tubuh korban. Ini bukan sekedar pembunuhan biasa, lebih tepat nya ini adalah ancaman untuk nya. Pembunuh itu tidak akan sebodoh yang di bayang kan, mereka akan selalu meninggalkan jejak setelah korban dinyatakan tewas.


"Ta, pulang yuk, gue takut nih, " ringis Iffi menarik-narik jaket Retta.


Retta kembali menutup kaki korban dan berniat untuk menyudahi penyelidikan nya. Saat ingin melangkah tiba-tiba hal tak terduga mengejutkan mereka.


"Haaaa!!! "


"Astaga, kenapa lagi sih Fi? " kesal Retta karena ia juga terkejut dengan teriakan Iffi.


"Taaa, kaya ada yang nyentuh pinggang gue tadi Ta, " ujar Iffi bergetar ketakutan. Retta melihat kebelakang, ia melihat tangan jasad yang baru ia lihat menggantung di atas brankar. Ia berniat memasukkan tangan itu kedalam kain putih, tetapi sesuatu hal menghentikan niat nya.


Retta melebarkan bola mata nya, ia merogoh saku jaket nya mengambil ponsel dan membuka menu galeri. Ia menyamakan tanda di tangan Jasad itu dengan foto yang ada di handphone nya.


"Kenapa sih Ta? "


"Lo liat gak, tanda di tangan korban hampir mirip dengan yang ada di foto ini, Fi, "


"Lo dapet foto itu dari mana? " tanya Iffi bingung.


"Dari Jeff, dia ngirimin gue foto ini saat masih di TKP, "


"Jeff, sepupu lo yang jadi letnan di kantor polisi Sekta kan? "tanya Iffi memastikan kebenaran nya lagi.


" Iya, gue minta bantuan dia buat selidiki kasus ini, "Retta membuka kamera untuk memfoto tanda di tangan korban.


" Titik tiga? "gumam Iffi pelan saat melihat tanda itu bewarna hitam.


" Fi, kaya nya kita harus ketemu langsung dengan Jeff,"


"Sekarang? "


"Nunggu lo lahiran, " geram Retta meninggalkan Iffi di belakang nya, jelas saja Iffi langsung berlari kocar-kacir karena Retta berjalan lebih dulu tanpa menunggu nya.


Di sebuah caffe yang tidak jauh dari kantor polisi Sekta, tiga orang pemuda sedang berbincang serius di teman kan secangkir kopi hangat.


"Kami masih menyelidiki kasus ini, gue gak yakin kalau ini pembunuh yang sama. Soal nya korban minggu lalu gue temuin di TKP kondisi nya mengenaskan Ta, " jelas Jeff semakin tidak meyakinkan Retta.


"Jeff, lo tau gak dia punya banyak metode untuk melenyapkan korban,bisa aja kan kemaren dia gak ngebunuh dengan senjata dia bisa ngelakuin dengan ngeracunin organ dalam atau mencekik nya. Lagi pula korban berada di lingkungan warga," elak Retta tidak menyetujui ucapan Jeff.


"Retta, lagi pula ini gak bisa lo selesaikan sendiri. Ini bukan tugas lo Ta, " Jeff memalingkan wajah nya. Retta langsung membuka menu galeri dan menunjukkan dua foto yang berbeda.


"Coba lo perhatikan dua foto ini Jeff, korban minggu lalu yang lo dan tim lo temuin di rawa-rawa. Sebentar, bakal gue zoom mana yang mau gue tunjukin, " Retta membesarkan foto itu tepat di tangan kiri korban. Jeff memperhatikan dengan seksama.


"Lo liat tanda ini, di korban minggu lalu, " Retta memperlihatkan foto kedua, yang sudah jelas tanda itu benar-benar mirip di kedua tangan korban. Jeff menghela nafas memijat pangkal hidung nya.


"Rekan kerja lo pasti punya file foto korban di tahun-tahun sebelum nya, coba lo salin file itu dan lo mintak keterangan hasil autopsi korban-korban pembunuhan,gue yakin pihak kepolisian gak akan ngapus file itu meski pun kasus nya di tutup, " pinta Retta kepada Jeff, Jeff menimang-nimang permintaan Retta, karena menyelidiki kasus ini secara diam-diam jelas ia akan menanggung resiko nya, terlebih lagi ia hanya seorang polisi magang, kapan pun bisa di berhentikan.


"Ok, bakal gue cari file itu dan laporan hasil autopsi korban pembunuhan. Tapi gue punya permintaan buat lo, " Jeff menatap Retta dengan tajam dan serius. Sedang Iffi yang sudah menahan kantuk sedari tadi hanya bisa diam di tempat memperhatikan dua pemuda itu berbincang.


"Apa permintaan lo? " Retta memajukan tubuh nya.


"Lusa papa gue ngadain pesta minum anggur bersama kolega besar nya. Lo harus dateng meramaikan , " Retta menjatuhkan bahu nya di sandaran sofa lalu menjentikkan tangan nya.


"Gampang, gue bakalan dateng kebetulan gue udah lama gak ketemu Om Bimo, "


"Yes off course, setelah pesta gue bakal kasih file nya ke lo, "Retta menenggak habis minuman nya dan beranjak dari duduk nya, Jeff pun melakukan hal yang sama.


" Thanks brother, See you next time, "


"Ok, bye bye, "


"Eh kutil, " celetuk Iffi pada Retta saat mereka akn memasuki mobil.


"Apa kurap? "


"Gue ikut kepesta, "Retta memandang ragu tapi percayalah itu hanya permainan.


" Lo yang nyetir yah, "


"Gampang palingan bakalan ada turnamen dadakan di jalan lintas, " Iffi mengendikkan bahu nya, Retta melempar kepala Iffi dengan kunci mobil. Bila mobil sudah di kendalikan Iffi, bakalan ada spot jantung dadakan karena ia mantan pemain turnamen mobil balap.


"Sakit jiwa kali lo, " Iffi tertawa gila mendengar umpatan teman nya yang bisa pingsan jika ia yang membawa nya.


"Calm down prince, "


***


"Retta, "


"Oh.. Lucy, " seru nya setelah menoleh kebelakang melihat seseorang yang memanggil nya. Mereka berdua saling melambaikan tangan ke udara, sementara Iffi sudah menekuk wajah nya tampak ia sangat tidak suka dengan kehadiran Lucy.


"Lo gak ke kampus? "tanya nya setelah menghampiri mereka berdua.


" Baru aja pulang, nih lagi mau ngerjain tugas skripsi di caffe, "Lucy tersenyum canggung.


" Lo sendiri? "tanya Retta, Lucy menjawab dengan gugup.


" Aa.. gue baru pulang kerja, emm.. gue boleh gabung gak? "


"Lo bolos kerja kan? " terka Iffi sinis. Retta memutar bola mata nya, teman nya yang satu ini selalu saja begitu.


"Biarin aja kutil badak memang gitu, ayo lo boleh ikut gabung kok, " Retta merangkul Lucy sementara Iffi ia tinggal kan begitu saja.


"Eh benalu, lo ambil temen gue!! " pekik nya, Lucy ingin melihat kebelakang namun Retta melarang nya.


"Kutil badak perlu di garuk mulut nya, jadi biarin aja, " Lucy terkekeh geli mendengar celetukan Retta. Mereka berjalan beriringan menuju Caffe langganan Retta dan Iffi saat pulang dari kampus.


"Lucy, "


"Em? " Lucy menyahut ketika ia sedang menyedot minuman dingin nya.


"Lo beneran gak punya keluarga? " tanya Retta hati-hati, ia takut melukai perasaan Lucy saat ia bertanya tentang keluarga. Lucy terdiam sejenak ia meletakkan gelas minuman nya di atas meja.


"Lo penasaran? " Retta menjadi salah tingkah dengan pertanyaan Lucy yang menurut nya sedikit menyindir, tapi itu memang benar.


"Keluarga nya pada meninggal mungkin, " sambar Iffi sembari memakan snack kentang.Retta langsung melempar tas nya tepat di wajah Iffi.


Lucy mengerutkan dahi nya, "Mungkin? "


"Hah? " beo Retta tidak mengerti maksud dari ucapan Lucy.


"Nanti lo bakal tau sendiri latar belakang gue kaya gimana. Gue liat lo orang nya gak pandang bulu kalau mau berteman, " Retta menghela nafas, apa yang di katakan Lucy benar ada nya.


"Lo yang nawarin diri buat jadi teman gue, jadi apapun latar belakang lo gue harus tau karena kita teman. So, kalau lo butuh apa-apa bilang ke gue, gak usah perduliin kutil badak berkembang biak dengan mulut nya, "ujar Retta dengan gamblang nya.Iffi meremas bungkus snack nya dengan geram.


"Rettaaaaa!! "


Lucy lagi-lagi tertawa geli mendengar kalimat itu kembali terucap untuk Iffi, "Gue juga bakal bantu lo jika lo butuh bantuan gue, " seru Lucy mulai akrab dengan Retta.


"Sepakat!! "Retta menjentikkan tangan nya dengan senang.


"Sok bisa, "


.......


.......


.......


...Bersambung.....