
Iffi terdiam di sebelah brankar Retta yang masih setia memejam kan kedua mata nya. Ia hanya bisa merunduk sendu memegang tangan sahabat nya yang terbaring lemah.
"Retta, lo belum mau bangun? " tanya nya seolah-olah sedang berbicara kepada Retta.
"Gue lihat tadi Vakenzo juga sama kaya lo, kalian punya rencana kok gk bilang-bilang gue sih... hiks.. hiks, "
"Kan gue jadi sendirian, " Iffi menangis tersedu-sedu, air mata nya mengalir deras melihat sahabat karib nya koma di ranjang rumah sakit.
"Ta, jangan lama-lama dong tidur nya. Bentar lagi kan kita mau wisuda, " seru nya di sela sela air mata ny yang mengalir dengan lancar.
Iffi beranjak dari duduk nya, setelah seorang perawat mengatakan waktu kunjung tidak boleh lebih dari sepuluh menit. Iffi mendorong tiang infus nya, hari keempat tanpa Retta sama seperti hidup tetapi tidak bernafas.Iffi diam terduduk di kursi koridor melamun dengan sangat perih. Bahkan Ibu nya pun tidak melihat nya yang tengah di rawat.
"Gue cuma punya lu, Retta, "
George datang dan duduk di sebelah Iffi yang sedang menangis, Iffi seketika terdiam dengan kehadiran nya.
"Lo siapa? " tanya nya dengan tatapan heran. George menghela nafas lalu mengeluarkan amplop coklat dari dalam tas.
"Ini surat perekrutan anda dan sahabat anda, " Lagi-lagi Iffi memandang George dari atas kebawah.
"Lo siapa sih? " George mendekatkan bibir nya pada telinga Iffi.
"Bayang-bayang mantan, " reflek Iffi meninju lengan George.
"Sialan lu, gue gak punya mantan, " George mendengus geli.
"Ah masak, jadi Talita siapa? "goda nya, Iffi kewalahan untuk membual.
" Haisss... dasar bajingan, "cerutu Iffi dengan kesal, George semakin tertawa lepas.
"Saya orang kepercayaan Pak Vakenzo, " Iffi mendecih sinis.
"Gue gak percaya sama lu, "
"Ya kan anda, beda dong dengan Pak Vakenzo, "Iffi menatap nya dengan intens, mendekatkan wajah nya pada wajah George. Sontak George memundurkan kepala nya.
" Anda gay? "
"Kepala lo gay, " sentak Iffi menarik kepala nya kembali.
"Terus kenapa mau cium-ciun saya? " Iffi langsung menyelis kasar.
"Kepedean lu mau di cium. Najis, Jijiek, " dramatis nya berakting muntah.
"Gue cuma lihat hidung lu kok ada lubang nya? " tanpa sadar George langsung memegang lubang hidung nya. Seketika dia tersadar, lalu mengge plak kepala Iffi dengan tas yang ia pegang.
Dagggg
"Woehh.. anjing lu, "
"Babi anda, " balas George tidak mau kalah. Iffi membuang nafas, ia harus bisa menahan diri.
Iffi menarik tangan George, sang empu pun terheran-heran, "Mau kemana ? "
"Mau masukin lu keruang mayat, kan lu bayang-bayang kemungkinan lu roh yang gak tenang jadi gentayangan, "George langsung menggeleng keras dan menarik tangan nya dari genggaman tangan Iffi.
" Enak aja, anda kali yang mati. Muka pucet yang Mbak Kun, "Iffi berkacak pinggang dan menaikkan dagu nya keatas.
" Lu kelahiran tahun berapa sih,songong amat? "George pun juga melakukan hal yang sama.
" Mamat, saya tahun 70, "sontak Iffi menempeleng kepala George.
" Kepala lo peang tahun 70.Emak gue kelahiran tahun 80 aja gak bangga, kenapa lu bangga, "
"Jelas bangga lah, emak anda berada di bawah saya, " balas nya juga menantang.
"Eh juleha---
" Saya punya batang, "
"Iya maksud gue Udinnn, kalau lu kelahiran tahun 70 seharus nya lu udah jadi manusia pra sejarah, "
George tersentak lalu memandang lengan dan wajah nya, memastikan ia berkeriput tidak.
"Kalau saya pra sejarah berarti Anda sudah menjadi manusia fosil yang hidup di jaman purba, "Iffi membantah.
" Enak aja, gue ganteng begini hidup di jaman purba, jadi monyet dong, "
"Tuh, ngaku kan, "
"Sialan lu, "
George berkacak pinggang lagi lalu menaikkan dagu nya keatas."Anda pintar? "Iffi melakukan hal yang sama seperti George.
" Ya jelas lah, "balasnya menantang.
"Ibu kota india? "
"Medan!!! "
"Merdeka tahun? "
"2045!! "
"Presiden pertama? "
"Sudartono! "
"Ikan termahal di dunia, "
"Iihh bodoh, " celetuk George meninggalkan Iffi yang tercengang dengan kalimat hinaan itu.
"Anjing lu! "
"Anda induk nya! "
***
Saat sudah berada di ruang rawat nya, Iffi membuka amplop coklat itu. Dan melihat pemberitahuan tertulis.
"Pasti Jamal yang ngelakuin ini, " terka nya membenarkan segala nya.
"Belum lulus kuliah udah di rekrut jadi pegawai, ini kerja apa banting tulang, " rada terguncang mungkin di kepala Iffi menyebabkan ia tampak seperti orang...
"Idiot, " gumam George yang berada di ambang pintu ruangan nya, ia mendengar Iffi berbicara sendiri.
"Ngapain lu kesini? "
"Suka-suka saya lah, saya punya kaki saya juga punya otak, " balas nya berjalan mendekati soffa yang tersedia di ruang rawat nya.
"Iya tapi otak dan kaki lu posisi nya kebalik, "
"Memang begini bentukan nya, "
"Pe'ak lu, "
"Saya tadi keluar, terus nemu anak di pinggir jalan, " Iffi mengerutkan dahi nya mendengar George bercerita.
"Terus? "
"Saya tanya.. kamu kenapa ngemis di pinggir jalan?terus si anak kecil ini bilang 'Iya om kalau aku ngemis di bawah jalan aku ke kubur dong, " sontak Iffi tertawa keras.
"Bener juga, " balas Iffi di tengah-tengan tertawaan nya.
"Iya, saya gak enak juga kan, jadi saya keluarin dompet, terus saya kasih kertas yang ada tulisan nya BIG, " Iffi mengerutkan dahi nya.
"Terus? "
"Terus dia nanyak, 'Ini buat apa om?'.Saya jawab dong.. 'Iya supaya kamu pinter nanti kamu akan sadar kalau tulisan BIG itu punya arti yang begitu BESAR, "
"Wooww!! " George takjub, Iffi memiringkan kepala nya.
"Eh bentar, emang BIG arti nya besar.. lu jangan asal waw wow waw wow aja, lu yang pe'ak, " George tertawa lepas melihat ekspresi lucu Iffi.
"Bener kan? "
"Iya itu memang arti nya besar, lu jangan waw wow waw wow juga, "
"Iya arti nya besar buat dia tuh, 'Iya om makasih om makasih' katanya. Tapi yah kan nama nya anak kecil kan yah, pendidikan dari orang tua makanya penting, " Iffi menyimak ucapan George dengan serius.
"Dulu anak kecil misal nya di anggap pinter cuma gara-gara jatoh tapi gak nangis, " Iffi mendengus geli.
"Iya kan? "
"Iya bener, " jawab Iffi menahan tawa.
"Jatoh gak nangis anak pinter, kalau nangis berarti bego dong ini anak nih, " Iffi mendengus tawa geli lagi.
"Misalkan ada anak kecil jatoh dari lantai tujuh, "
"Mati itu, " Jawab Iffi.
Darrrr
Sambar Iffi tertawa lepas, "Gak nangis bapak nya dateng, " sambung George.
"Anak pinter gak nangis, " Iffi memegangi perut nya yang keram akibat tertawa.
"Ternyata anak nya mati, "
"Hahahaha, iya lah, "
"Bapak nya nangis, " lanjut George.
"Hahahahaa!!! "
"Bapak nya juga bego, "
"Bwuhahahaha!! "
"Random banget cerita lu, " sahut Iffi sampai tersungkur-sungkur mendengar cerita George.
"Saya gabut, tuan saya sekarat, "
"Alah, sialan lu.. jujur aja, lu tenang kan karena gak dapet kerjaan dari tuan lu? " George beraksi unjuk gigi karena kedok nya sudah terbongkar.
"Tau aja Anda, "
"Polos banget muka lu, "
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...