
Malam itu Vakenzo keluar rumah tanpa sepengetahuan Iffi yang sudah terlelap di alam mimpi nya. Tatapan dan aura nya yang melekat tajam, Vakenzo melangkahkan kaki nya menuju garansi rumah. Hanya mobil Iffi yang terparkir di sana. Vakenzo membuka nya lalu melajukan mobil itu di atas rata-rata, dengan segenap rasa berkoar-koar ia tahan di dalam hati.
Tepat nya ia berhenti di sebuah jalan sepi, garis pun polisi masih melintang di jalan itu. Itu adalah bahu jalan dimana kecelakaan itu sempat terjadi. Vakenzo membuka pintu mobil setelah menatap tempat itu cukup lama. Tatapan nya sangat tajam, tidak seperti Vakenzo yang di kenal Iffi dan Retta sebelum nya, ia menyimpan sifat asli nya cukup rapat.
Vakenzo masuk kedalam lintasan garis polisi, melihat darah Retta masih berbekas di aspal itu namun sudah berubah warna menjadi hitam pekat. Vakenzo berjongkok lalu memungut serpihan kaca mobil yang masih tersisa noda darah, Vakenzo menciun serpihan kaca itu menghirup aroma darah sekuat-kuat nya.
Ia berdiri, menepikan diri nya di pembatas jalan. Vakenzo mengulang cuplikan kejadian kecelakaan itu sesuai dengan intuitif dan imajinasi. Mengandalkan logika dan akal fikir nya yang cukup pintar.
Vakenzo membayang kan bagaimana mobil Retta yang mereka bertiga tumpangi, hari itu masih seperti biasa mereka bercengkrama konyol, Vakenzo memalingkan wajah nya kearah berlawanan tepat saat mobil mereka berhenti.
Dduuaarrrr
Cuplikan itu Vakenzo putar, ia melihat mobil box itu memang sengaja mengarahkan mobil nya kearah mobil mereka. Ini di luar dugaan atau ekspetasi semata. Saat membayang kan bagaimana sulit nya kondisi mereka bertiga yang terjebak di dalam mobil yang hancur lalu terhimpit bagian mobil yang mendesak Retta dan diri nya.
Vakenzo berjalan mengitari jejak darah Retta yang tergenang di aspal. Ia melihat bayangan bagaimana supir box itu mengemudi. Ia melihat supir itu terengah-engah setelah selesai menjalan kan tugas nya menghantam mobil mereka sedang kan ia tidak terluka sama sekali lalu berdiam diri mendekam di penjara menunggu pengacara ternama membebaskan nya.
Vakenzo mendengus senyum, tatapan nya seperti elang yang akan memangsa makan malam nya.
"Berani nya kau menyerangku!!!! "
Gumam nya dengan tatapan penuh amarah dan dendam yang harus ia tuntas kan seorang diri terhadap supir itu. Vakenzo berjalan meninggal kan tempat kecelakaan itu, amarah nya sudah tidak tertahan lagi Vakenzo mengemudikan mobil Iffi begitu cepat hingga hampir melewati batas maksimal.
Begitu cepat nya ia melajukan mobil itu di jalan senggang, Vakenzo berani membuat panggilan terhadap seseorang yang mungkin akan ia perintahkan.
"Kirim kan barang ku sekarang juga, "
Vakenzo mematikan panggilan itu setelah mengucapkan satu kalimat tanpa menunggu jawaban.Sesampai nya di garansi rumah Retta, Vakenzo berniat mengunci pagar rumah Retta. Setelah terkunci bukan nya masuk kedalam rumah, ia malah berjalan memutari rumah itu menuju jalan belakang, Vakenzo memanjat keatas pagar tinggi dan berjalan dengan tenang nya setelah keluar dari area rumah Retta.
Sebelum melompati pagar, tidak lupa pula Vakenzo mengambil hanger besi yang menggantung di jemuran belakang rumah. Dengan santai nya Vakenzo memutar-mutar hanger itu di tangan nya sembari bersiul. Apa yang sedang diri nya lakukan?
"Ajal mu terlalu dekat untuk ku cari, " gumam nya sembari bersiul berjalan satu rumah kosong dan gang sempit yang berhadapan dengan gang rumah Retta.
Seorang pria berbaju hitam sedang mengintip area kawasan rumah Retta, ia berusaha mengawasi nya tanpa sepengetahuan Vakenzo dan Iffi. Tapi salah..
"Dapat, " gumam nya lagi saat ia berada di belakang pria itu. Vakenzo mendekatinya dengan perlahan menyembunyikan hanger besi itu di belakang tubuh nya.
"Kau tau, jika pemilik rumah itu dan kedua teman nya sedang sekarang di rumah sakit? " Pria itu terkejut dengan kehadiran Vakenzo yang berbicara tiba-tiba di dekat nya dan juga ikut mengawasi.
"Siapa kau? "
"Aku di perintahkan bos mu untuk menemani mu di sini, " manipulatif nya mengelabui mangsa.Pria itu merubah pandangan nya menjadi lebih tenang.
"Aaah.. ya, Rio yang menabrak nya sekarang dia di penjara. Bos akan mengirim kan pengacara untuk membebaskan nya dari tuntutan, " Vakenzo masih tersenyum palsu mendengar penjelasan pria itu.
"Rio, "
Gumam nya dalam hati, "Lantas apa yang kau lakukan di sini? " pria itu menyelis kebelakang menatap Vakenzo dengan tatapan bingung.
"Seharus nya bos sudah memberitahu mu, "
"Ah.. yaa aku sedikit pikun soal itu, "pria itu menggeleng geleng kan kepala nya.
" Bos menyuruh kita untuk mengawasi teman Retta yang satu itu. Katanya dia sudah keluar dari rumah sakit, karena luka nya tidak cukup serius jadi lebih baik nya bos memerintahkan ku untuk membunuh nya, "Diam-diam Vakenzo menarik hanger itu agar lebih lebar dan kepala pria itu dengan mudah nya masuk.
"Aku akan membunuh nya dan menyelinap masuk kedalam kamar nya. Tapi barusan aku melihat dia baru saja kembali kerumah, " terka pria itu mengira dia adalah Iffi yang baru saja mengendarai mobil nya.
"Aku akan membantu mu, "
"Memang itu tugas mu, "
"Membantu menyelesaikan hidup mu, " pria itu menyelis kasar dan tertegun.Vakenzo tersenyum dengan sangat menyeramkan .
"Apa maksud mu, "
"Seperti nya pengelihatan mu kurang baik, yang mengendarai mobil itu bukan lah Iffi, "
"Terus? "
"Aku, korban yang berusaha kalian bunuh di tempat, "
Hekkk hekkk hekkk
Vakenzo mencekik pria itu menggunakan hanger dengan sangat kuat, mungkin kepala nya bisa terputus karena saking kuat nya.
Crasssshhh
Darah pria itu terciprat ke wajah nya, lebih mengerikan Vakenzo telah memutus kerongkongan pria itu yang sudah tidak bernyawa.
Dua pria yang menyaksikan pembunuhan itu pun sudah berdiri di sebrang jalan. Mereka adalah tupai milik Vakenzo. Kedua pria itu berlari kearah nya dengan tergesa-gesa.
"Bereskan, " pinta nya meninggalkan mereka yang akan mengurus mayat pria itu.
Vakenzo membuang baju hangat dan kemeja nya di jalan kosong, Vakenzo menyalakan pematik api lalu melemparkan nya ke baju yang ia buang itu. Vakenzo membuka gerbang rumah Retta yang sebenar nya tidak ia kunci hanya menggantungkan gembok nya pada lubang kunci.
"Lo dari mana aja si Jamal, " sambutan hangat dari Iffi berhasil mengejutkan Vakenzo.
"Sialan lu, kaget gue!!, " sentak Vakenzo memegangi dada nya yang naik turun.
"Lu dari mana, mana gak pakek baju cuma celana doang. Mau pamer roti sobek lu, " Vakenzo menatap Iffi dengan jengah, ia mendorong tubuh Iffi agar menyingkir dari daun pintu.
"Baju gue koyak kecantol pagar, lu lupa ngunci pagar tadi jadi gue yang ngunci, " Iffi langsung terdiam sesaat.
"Lupa gue Mal. Mana gue bawa mobil juga kesini, untung ada lo mobil gue gak di maling deh, " seru nya berterima kasih kepada Vakenzo yang membawa handuk lalu memasuki kamar mandi. Jelas saja Iffi menghentikan Vakenzo.
"Lu mau mandi? gila lu, udah jam 12 malem ini, " Vakenzo merotasi kan bola matanya.
"Rutinitas gue mandi malam, "
.......
.......
.......
.......