Unblessed Story

Unblessed Story
Hutan Bunga



Setelah mengalami debat panjang, kedua pemuda itu sampai di celah dunia, tepatnya berada di bibir hutan bunga, seperti namanya hutan ini menumbuhkan berbagai jenis bunga dengan warna yang berbeda, bunga-bunga yang berjatuhan menghiasi tanah dengan warna-warnanya, sebagian lagi terbawa angin, menciptakan pemandangan yang sangat indah didukung oleh cuaca yang cerah. Ketika angin berhembus, suara daun yang bergesekan membuat lagu sangat indah, serangga-serangga kecil bernyanyi dengan merdu, Xian memejamkan matanya, menikmati suasana yang tidak pernah ia rasakan.


Xian dan Jenar berjalan mengikuti jalan setapak yang sepertinya sering dilewati, jalanan itu sangat rapi, hampir tidak ada batu besar di tengahnya tapi terkadang ada semak-semak buah berry yang menghalangi, sekali-kali Xian melompati semak itu, atau menebasnya menggunakan pedang untuk membuka jalan.


"Terakhir kali aku kemari, hutan ini hanya berwarna hijau mengapa sekarang jadi banyak bunga? Tidak mungkin jika mereka berevolusi, kan?"


Terdengar suara air yang berjatuhan dengan volume yang sepertinya berjumlah banyak, Xian berjalan mengikuti suara itu, Jenar mengikuti di belakangnya tanpa berbicara sepatah kata. Ada sebuah sungai yang menyambung dengan air terjun, air yang jernih dan dingin itu mengalir lumayan deras, sekumpulan ikan yang berenang di dalamnya bisa dilihat dengan mata telanjang, seakan ikan itu melayang di udara. Batu besar berdiri di samping sungai itu, permukaannya datar jadi Jenar langsung naik, melihat-lihat ke sekeliling.


"Tempat ini sangat bagus, energinya sangat murni."


Jenar menghirup udara, mencoba menyerap energi alam yang ada di sekitarnya. Setelah itu, ia duduk menyilakan kaki, kedua tangannya ia taruh di atas lutut dengan terbuka, matanya terpejam, tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya. Satu detik kemudian, energi alam mengelilingi tubuhnya seperti batu yang dibakar mengeluarkan asap putih.


Xian menyenderkan tubuhnya di batang pohon, berdiri dengan kaki kiri yang menyilang dengan tangan yang bersedekap di dada, memandang jauh sungai, seakan pikirannya tidak ada di sana.


Ia memejamkan mata, menikmati suara alam yang terdengar sangat candu. Namun, tiba-tiba saja ia merasa sangat kosong, seperti kehilangan sesuatu yang berharga, seperti ada berlian yang tiba-tiba saja raib dari genggamannya, seperti semut yang kehilangan sarangnya, seakan tersadar, ia menggelengkan kepala, menghapus pikirannya yang tiba-tiba berkelana dan mulai memikirkan hal yang sedikit mendesak.


"Sekarang dimana kita akan tinggal?" 


Sebuah pertanyaan tiba-tiba saja terlintas.


Seekor kupu-kupu dengan berani mencelupkan sedikit tubuhnya ke sungai, saat kupu-kupu itu akan terbang kembali, seekor ikan melompat dan menangkap kupu-kupu itu dengan mulutnya dan melahap kupu-kupu tersebut sebelum tubuhnya kembali ke jatuh sungai.


"Kenapa tidak menumpang di rumah si manis di tengah teratai? Sekalian kau menjalankan misi, menembak dua burung dengan sebuah batu." 


Jenar memberi saran sambil memejamkan matanya, seakan enggan mendengarkan protes yang akan dikeluarkan oleh Xian.


"Hah, dulu aku kaya tidak perlu membayar hutang, tidak perlu menumpang dan yang jelas tidak perlu menjalankan misi untuk bertahan hidup." 


Xian dengan malas berjalan berlawanan arah dengan arus sungai, meninggalkan Jenar yang sudah fokus berkultivasi.


"Dunia berputar, Didi." 


Jenar berbisik pelan pada angin, menatap punggung Xian yang semakin mengecil karena ia semakin jauh. Kepakan suara burung pipit menyapa indra pendengarnya, seakan menjawab perkataannya tadi.


"Arius! Arius!" 


Sepanjang jalan Xian sudah memanggil Arius sebanyak sepuluh kali, namun tidak pernah mendapatkan jawaban. Kakinya melangkah dengan santai dengan kedua tangan yang ia taruh dibelakang kepala, setangkai rumput liar menyelip di bibirnya.


"Arius, aku bersumpah jika kau tidak segera menjawab, aku akan membakar ruanganmu lagi."


Begitu ancaman selesai, sebuah hologram muncul di samping kiri tubuhnya menampilkan wajah seorang gadis yang menatap tajam seperti mereka bertatapan langsung. Gadis itu menaikkan sebelah alisnya, menunggu pemuda itu berbicara.


"Bukankah aku sudah bilang jika pengadilan memanggilmu? Karena kau tidak datang-datang terpaksa aku yang menghadiri rapat dan jangan berani menyentuh ruanganku sedikit pun, sialan! Aku marah padamu." Umpat Arius. 


Xian hanya terkekeh merasa lucu saat mendengar omelan Arius, seharusnya bukankah tadi dirinya yang merasa kesal, mengapa jadi dirinya yang dimarahi?


"Jangan tertawa, aku sedang marah! Kau tau? Marah!" Ucap Arius lagi dengan nada sedikit tenang.


"Baiklah baiklah, aku salah aku meminta maaf padamu. Pertemuan tadi membahas apa saja?"


Setelah terdiam cukup lama, Xian melompat ke arah pohon apel, mengambil apel yang terlihat lebih merah dari yang lain, ia menginjak batang pohon di sebelahnya lalu mendarat di dahan yang paling tinggi, ia duduk di sana sambil menyender dan mengayunkan kakinya, menatap ke arah seberang sungai, satu-satunya pemandangan yang menarik perhatiannya.


"Tidak banyak, hanya saja kemungkinan besar dalam beberapa tahun ini akan lahir seorang raja iblis di Gunung Kraken, beberapa monster akan menyerang daerah perbatasan untuk pergi ke gunung."


Jika para dewa memiliki kaisar, begitu juga dengan iblis yang memiliki raja. Kaisar utama akan bekerja dengan dewa-dewa lainnya, membagi wilayah kekuasaan untuk membantu manusia fana yang tidak memiliki kekuatan mencapai keinginannya, dewa yang ada di pengadilan dulunya juga seorang manusia, namun mereka selalu mengasah bakat dan kekuatannya hingga mencapai tingkat immortal.


Berbeda dengan dewa, iblis yang ingin menjadi raja akan diseleksi oleh alam, peristiwa ini sering disebut sebagai parade iblis, mereka harus kuat hingga bisa mengalahkan iblis lainnya. Namun sebelum itu, mereka harus menemukan empat gunung yang menjadi tempat seleksi


Gunung itu sering disebut dengan empat bencana, dimulai dari gunung yang paling awal yaitu gunung kehancuran, Je'lan. Yang bertahan akan dikirim langsung oleh penjaga ke gunung wabah, Anchor. Jika mereka berhasil meningkatkan fisik mereka, mereka bisa mencari gunung putus asa, Grewk. Setelah tersisa dua atau tiga iblis yang bertahan, mereka akan masuk ke gunung kematian, Kraken. Di gunung itu, mereka bisa saling membunuh hingga tersisa satu orang, hingga mereka bisa keluar dari kawah gunung itu.


Sejauh ini baru ada satu raja iblis yang terlahir di dunia, namun raja iblis itu bertindak dalam diam dan menghancurkan surga setelah dirinya terlahir di dunia dalam hitungan hari.


Penjelasan Arius membuat kening Xian berdenyut, kepalanya terasa pening seketika. Ia berkata, "itu buruk."


"Sangat buruk, kekacauan akan terjadi dimana-mana." Timpal Arius lebih serius, Arius mungkin saja sudah memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi jika raja iblis terlahir dari gunung Kraken.


"Ini buruk karena aku akan dilimpahkan pekerjaan yang sangat banyak dari pengadilan. sekarang saja aku sudah diberi tugas lebih dari 3 oleh ayah." Gerutu Xian yang dibalas pekikan kesal oleh Arius.


"Bagaimana bisa kau memikirkan diri sendiri daripada kehancuran dunia ini? kau ini dewa atau apa, sih."


"Hei kau lupa jika aku ini sudah pernah menjadi berbagai ras selama kehidupan ini." Jawab Xian.


"Apanya yang bisa dibanggakan, huh." Ucap Arius dengan kesal.


"Tentu saja aku bangga, bisa saja aku akan berubah menjadi malaikat dan mencabut nyawamu terlebih dahulu."


Setelah mengatakan itu, Arius melemparkan kutukan dan umpatan penuh kasih sayang untuk Xian. Yang di kutuk hanya tertawa terpingkal-pingkal, memegang perutnya yang mulai terasa sakit.


Setelah meredakan tawanya, Xian kembali melanjutkan pencarian tempat tinggal si manis di tengah teratai dengan ditemani Arius yang mulai berbicara mengenai beberapa pejabat yang berbuat onar selama beberapa tahun ini.