
Setelah perdebatan selama dua jam hingga menghabiskan waktu makan siang, akhirnya mereka sepakat untuk pergi ke Desa Faktitius terlebih dulu, entah dengan apa Alin membungkam Alan hingga anak itu kini hanya tersenyum sepanjang jalan.
Desa Faktitius berjarak lebih jauh daripada Desa Adiwiya, untuk mencapai desa Faktitius mereka harus melewati sebuah barisan pegunungan. Setelah itu mereka akan menyebrang sebuah sungai besar lalu berjalan beberapa mil baru sampai ke Desa Faktitius.
Desa ini berada di pinggiran benua, dekat dengan empat bencana yang sebelumnya menghilang. Meski masih belum di umumkan oleh Kaisar Utama, namun berita ini telah menyebar di kalangan para pejabat dan manusia di celah dunia.
"Pegang ini, apapun yang terjadi kau tidak boleh kehilangan benda ini."
Chyou mengikatkan pita rambut berwarna merah ke rambut Alin, ia merapihkan rambut gadis itu dengan hati-hati, takut jika tanpa sengaja ia akan menyakiti rambut gadis itu. Alan mendengus pelan, lalu menarik pengekang kuda ketika ia merasa jika ada yang mengikuti kereta mereka.
"Sepertinya ada orang tak diundang."
Alan menjawab pertanyaan yang dilontarkan Alin saat gadis itu merasa jika kereta kudanya berhenti. Gadis itu awalnya ingin mengumpati Alan karena teh yang ingin ia minum sudah tumpah membasahi bajunya.
Dengan sekali kibas, baju basahnya itu sudah menjadi kering dan bersih seperti semula. Hanya saja teh kesukaannya tidak bisa kembali, membuat suasana hatinya sedikit memburuk. Jika saja Chyou tidak menepuk pundaknya, ia mungkin sudah marah seperti kerasukan iblis.
"Bukankah kau sudah mengutus Ares dan Yee untuk membersihkan jalan?"
Alin menaikkan alisnya ketika mendengar pertanyaan Alan. Ia meraih tangan Chyou yang sudah turun terlebih dahulu lalu tersenyum bangga karena pemuda itu kini terlihat sangat berbeda.
"Mereka sudah memeriksa sebanyak lima kali, tidak mungkin mereka melakukan kesalahan sebanyak itu kecuali orang itu baru datang."
Alin memainkan rambutnya, memandang sekitar yang dipenuhi oleh pohon yang besar dan rindang. Mereka baru mulai perjalanan namun sudah mendapat tamu. Alin menghela nafas lelah, ia hanya ingin melakukan perjalanan bersama Chyou dengan damai.
"Siapapun kalian, keluarlah."
Chyou berucap dengan lantang, ia sudah bersiaga dan mengeluarkan pedangnya. Alin tersenyum saat melihat pedang Chyou, itu adalah pedang miliknya dahulu sekali sebelum bertemu dengan pemuda itu, entah bagaimana caranya pedang itu bisa berada di tangan Chyou.
"Pedang itu sudah lama, aku akan membelikan yang baru."
Alin menghentikan senyumnya sebelum menarik perhatian Chyou, Chyou membalasnya dengan gelengan. Ia sudah memperbaiki dan menambahkan kekuatan pada pedang itu, apalagi pedang itu memiliki jiwa jadi tidak bisa di ganti dengan sembarangan.
"Tidak mau, ada namamu di pedang ini."
Jawaban Chyou mampu membuat wajah Alin memerah karenanya, jawaban itu sunggu berada diluar prediksi. Alan menjatuhkan rahangnya dan menatap Chyou aneh, sejak kapan Papanya itu bisa merayu dengan halus seperti itu?
"Sepertinya aku harus belajar pada papa bagaimana cara merayu wanita."
"Kenapa begitu?"
"Hahaha anak nakal itu sudah dicampakkan delapan belas kali oleh wanita karena sangat bodoh."
Alin tersadar dari lamunannya dan tertawa hingga perutnya sakit, Alan mendengus kasar karena hal yang menurutnya adalah aib kini diketahui oleh Chyou, ia ingin merahasiakan kegagalannya itu.
"Sudah sudah, sepertinya orang itu sudah pergi jadi kita bisa melanjutkan perjalanan."
Alin dan Chyou kembali masuk ke dalam kereta, sedangkan Alan mengemudikan kereta kudanya itu. Tadi Chyou menawarkan diri untuk bergantian, namun Alan menolak dengan alasan akan sangat membosankan jika berada di dalam kereta tanpa melihat pemandangan, padahal alasannya utamanya tersenyum adalah ia bisa mengemudi kereta untuk Chyou.
"Sepertinya hutan ini boleh juga. Akan menjadi tempat kencan yang bagus jika aku memiliki teman kencan. The same song on repeat."
Setelah berjalan cukup lama hingga matahari kini berada di sebelah barat, Alan menarik tali kekang kuda untuk berhenti. Tepat di samping kanannya ada sebuah sungai yang lumayan luas, dan di sebelah kirinya tidak dihalangi oleh pohon, mereka bisa melihat matahari tenggelam dari atas sini.
"Tidak bisakah malam ditiadakan?"
Alan bersandar di sebuah batu besar lalu menopang wajahnya, ia memperhatikan Chyou dan Alin yang sedang menggelar tikar dan mengeluarkan makanan yang mereka siapkan.
"Kenapa juga aku tidak boleh membantu? Kan, aku jadi bosan."
Ia kembali mengeluh, entah mengapa sejak bertemu dengan Chyou ia jadi ingin menggerakkan tubuhnya agar Chyou tidak harus menyusahkan dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu.
"Kau sudah mengemudikan kereta kuda sangat lama, beri dirimu istirahat, Alan."
"Aku-"
"Iya, kau sudah membantu kami. Jadi biarkan kami membantumu hm?"
"Sudahlah jangan merajuk seperti nona-nona, sini merapat kita makan bersama."
Sebenarnya Alin merasa bangga dengan pemikiran Alan, pemuda itu tumbuh dengan pengertian dan juga penuh kasih, hanya saja ia terlalu keras dengan dirinya sendiri, selalu berpikir untuk menyenangkan orang lain dan membuat dirinya kesusahan sendiri.
Mata Alan menatap Alin dengan permusuhan yang sangat jelas, tidak terima jika ia dibilang seperti nona-nona, lalu mengadu pada Chyou seperti bayi yang di ledek oleh neneknya.
"Apa tidak ada karpet terbang, aku ingin terbang. Di bawah sini sangat gelap."
Alan mulai berbicara sendiri sambil memakan roti lapisnya, Alin mendengar ucapan itu hanya terkekeh lalu sedetik kemudian mukanya menjadi datar, ia mengambil satu ekor ikan yang entah darimana asalnya jatuh ke dalam mangkoknya.
Sambil tersenyum masam, ia mencuci ikan itu dan menusuknya menggunakan ranting, ia menaburkan sedikit garam dan membakarnya.
"Tidak ada karpet terbang, adanya kuda terbang, mau?"
"Mau. Apapun itu yang penting terbang."
"Ya sudah, sekarang istirahat saja dulu. Besok pagi kita berangkat."
Tidak lama setelah itu, Chyou yang berpamitan sudah kembali sambil membawa sekeranjang apel merah untuk kuda. Tadi kuda itu mengambil apel milik Alan dan mengabaikan rumput segar yang sudah Alan siapkan, membuat pemuda itu merajuk namun tidak jadi.
"Ya, kalian tidur saja dulu. Aku masih membakar ikan. Maaf aku tidak mengabiskan makanan, ikan sialan itu tiba-tiba saja masuk ke dalam mangkuk ketika aku ingin makan, memang sialan, terkutuk kau sana."
Chyou mendekat dan mengelus rambut Alin, berusaha menghibur wanita yang sedang kelaparan itu. Alin mengambil kesempatan dan menarik pemuda itu ke pelukannya, lalu memeluk pemuda itu dengan erat.
Alan menjatuhkan rahangnya dan mendumal, 'Hei, orang tua yang baik itu bermesraan di depan anaknya.'
Karena merasa malu, Chyou melepaskan diri dari pelukan Alin dan mengambil beberapa apel untuk diberi ke kuda, sisanya ia berikan pada Alan yang sudah bersandar di pohon, menatap bulan dengan malas untuk menghindari adegan romantis.
Alin menggaruk lehernya yang tidak gatal lalu menjilat bibirnya, "padahal aku yang lapar."
Malam semakin larut, api unggun yang mereka nyalakan kini sudah padam menyisakan bara api dan arang kayu. Alin duduk dengan kaki bersila diatas batu besar, memeriksa keadaan sekitar yang terasa sangat hening.
Saat mereka tidur tadi, ia merasakan jika ada beberapa orang mendekat, jadi ia bangun dan menjaga kedua pemuda yang tidur dengan lelap di kereta.
Angin menghembus dengan pelan menyapu wajahnya, rambutnya berurai kemana-mana. Dengan mata terpejam, ia melemparkan sebuah pisau kecil ke kanan. Suara 'swing' terdengar sangat pelan namun terdengar jelas di telinganya.
Ia tersenyum tipis, lagi-lagi pisaunya itu mengarah tepat sasaran, tidak sia-sia ia membayar mahal pada pengrajin tua itu karena sudah membuatkannya barang-barang yang berguna.
Kakinya melangkah dengan pasti menuju tempat pisaunya berakhir di pohon ketiga, ia mengorek telinganya yang terasa gatal, menatap bingung pisau yang tertanam di batang pohon. Dua pohon di belakangnya sudah bolong, menyisakan pohon ketiga yang memakan lebih dari setengah pisau, membuat ia harus memutar otak, mencari cara untuk mencabut pisau itu.
Kegiatan mengambil pisau itu memakan waktu lebih dari dua jam, dengan jijik ia mengelap pisaunya dengan sapu tangan dengan bordiran kunang-kunang, bau amis langsung memenuhi indra penciumannya membuat keningnya mengerut dalam, menahan rasa jijik dan mual.
Setelah pisaunya bersih, ia menyatukan pisaunya dengan pita merah yang baru saja dipasangkan oleh Chyou, dengan sekejap mata pisau itu menyatu dengan pita merah.
Meski sudah mencobanya dengan benda lain, Alin masih memandang takjub benda yang di pegangnya itu. Darimana Chyou mendapatkan benda yang unik ini? Tanpa sadar, ia tersenyum miring memikirkan perubahan drastis sikap pemuda itu.
Dadanya berdetak lebih kencang, ia merasa semakin tertarik dengan pemuda itu. pemuda yang lemah namun penuh kejutan, semakin lama pemuda itu tumbuh menjadi pohon yang tinggi dan berbatang kuat, rasanya ia tidak harus menyirami pohon itu lagi sekarang, karena akarnya sudah menembus jauh ke dalam tanah, mencari pondasi dan kekuatannya sendiri.
Alin tertawa lalu bersiul.
Dua ekor Cymera berzirah besi datang ke hadapannya dengan cepat, membungkuk hormat, matanya menatap tanah seakan di depannya adalah dewa kematian. Alin mengibaskan lengan bajunya yang panjang dan pergi dari tempat itu.
"Bersihkan."
Dengan satu kalimat, kedua Cymera itu memanggil kawanannya untuk memakan dua belas mayat berbaju hitam yang terbaring rapi membuat garis lurus.