Unblessed Story

Unblessed Story
Deja Vu



Mata yang tertutup itu kini mengerjap pelan, menyesuaikan retina matanya dengan cahaya yang memasuki retina matanya dengan paksa. Aroma makanan yang lezat mengundang bunyi di perutnya yang tidak terisi dari kemarin. 


"Sudah bangun? makan dulu lalu minum obatmu, kau terkena racun Caeling, tapi tidak apa-apa semua racun itu sudah tidak tersisa lagi di dalam tubuhmu." 


Suara yang terdengar renyah itu memasuki pendengarannya, Xian yang baru saja sadar segera bangun dari tidurnya, membuat pandangannya menggelap-terang-menggelap lagi. Tanpa sadar, ia memegangi kepalanya dan itu terlihat jelas di mata Alin, membuat pemuda itu merasa takut yang luar biasa. 


"Ada apa? Kau merasa pusing? Apa ada bagian tubuhmu yang merasa sakit? Dibagian mana?"


Alin–yang memperkenalkan diri sebagai Lian itu memijat kepala Xian dengan perlahan, menyalurkan energi hangat untuk meringankan kepala Xian, membantu pemuda itu merasa nyaman. 


"Tidak, hanya saja setiap bangun tidur aku akan merasa pusing."


Memang benar yang diucapkan Xian. Ketika ia bergerak, ia merasa jika dunia berputar setelah itu pandangannya menjadi buram, tidak bisa melihat dengan jelas, hal itu membuatnya sedikit mual


Alin meletakkan dua bantal tambahan agar Xian bisa duduk dan bersender dengan nyaman. Setelahnya, ia menaruh sebuah meja kecil di atas kaki Xian dan memindahnkan makanan yang ada diatas nakas ke meja kecil tersebut.


"Tenang saja, aku tidak memasukkan hal-hal yang berbahaya ataupun yang biasanya bangsaku makan."


Alin menjelaskan dengan hati-hati ketika pemuda itu mengerutkan keningnya, takut pemuda itu merasa tersinggung dengan ucapannya.


"Tidak, hanya saja kenapa kau mau merawatku? Aku bukan dari bangsa kalian, bisa dibilang aku ini musuh kalian." 


Alin menggeleng ketika pemuda itu mengucapkan kenyataan, ia menggaruk keningnya yang tidak gatal karena merasa canggung.


'Ya mau bagaimana lagi? Aku tidak mungkin membiarkan penyelamat Chyou mati ditangan Alan.'


Alin mengeluh dalam hati, tidak mengatakannya.


Karena lapar, Xian mulai menyuapkan makanan itu sendiri menggunakan tangannya, Alin menatap pemuda di hadapannya dengan senyum tipis di bibirnya. 


"Bagaimana? kau suka?"


Tanyanya saat Xian menghentikan suapannya. Xian menganggukkan kepalanya dengan semangat, rasa makanan ini pas untuk mulutnya, tidak terlalu pedas dan tidak terlalu manis, rasa jeruk nipisnya terasa segar, setiap pangsit yang ia makan terasa pas di mulutnya saat ia memakannya.


"Makanan ini membuatku deja vu, siapa yang membuatnya? Mungkin aku bisa meminta resep agar bisa memakannya setiap aku mau." 


"Orangnya pemalu. Oh ya, karena racun di tubuhmu tidak semuanya keluar, kemungkinan kau akan berubah menjadi anak kecil selama 2 hari, sejauh ini hanya si manis ditengah teratai yang bisa membuatkan ramuan untuk hal itu, aku tahu karena salah satu orangku pernah meminta tolong padanya." 


Meski sedikit terkejut, Xian kembali melanjutkan acara makannya, berusaha keras untuk menerima apa yang terjadi padanya dan mengingat kembali kejadian yang menimpanya setelah pertempurannya dengan Ren kemarin. Ia hanya mengingat dengan samar jika ia terluka parah, rasa sakit itu masih terasa tetapi tidak ada bekas yang memperkuat dugaannya. 


Semakin ia mengingat, semakin ia merasakan sakit pada kepalanya. Ia ingin mengingatnya dengan jelas, rasa penasarannya sekarang melebihi rasa laparnya. Saat ia sadar dari lamunan, netranya bertabrakan dengan netra berwarna silver itu.


Mata itu menatapnya dengan penuh dominasi, namun tidak memaksanya untuk merasa terintimidasi. Perasaan aneh merayap di dadanya, ia merasa terlindungi meskipun gadis itu hanya menatapnya. 


Tidak, ini tidak benar. 


Ia mengeluh dalam hati, namun detak jantungnya tidak bisa berbohong. Semakin lama ia menatap mata itu, semakin cepat jantungnya berdetak, Xian merasa jika ia masih menatap mata itu, jantungnya akan segera pindah ke perut. 


Suasana kamar itu seakan mendukung perasaan aneh yang menyelimuti Xian, sebuah lilin menyala tepat di antara dirinya dan Alin, beberapa kelopak bunga merah bertaburan di atas meja bagai perhiasan yang mendukung lukisan.


Hei sadar, ada yang lebih penting. 


"Aku ada urusan, aku akan kembali saat jam makan siang. Jaa ne."


Xian mengehembuskan nafasnya dengan kasar, setelah itu ia merasakan seseorang membekap mulutnya menggunakan kain. 


"Shhh ini aku, kedua juniorku sudah kutemukan, lebih baik kita pergi sekarang."


Suara Helen tepat di telinganya membuat sekujur badan Xian merinding, nafas yang hangat itu bertabrakan dengan kulitnya, membuatnya tidak nyaman. 


Perapatan imajiner muncul di dahi Xian, tanpa segan ia melayangkan pukulannya pada Helen yang kini sudah bersembunyi dibalik tubuh kedua juniornya yang terluka, perban melilit di tubuh mereka dihiasi bercak darah. 


"Mereka terluka, obati saja dulu."


Xian melanjutkan acara makannya yang terjeda, rasanya ia ingin membawa makanan itu pulang atau jika perlu ia akan tinggal di sini untuk menikmati makanan ini. 


"Rasanya aku tidak ingin kembali."


Ia menuangkan teh ke gelas dan meminumnya dengan hati-hati, menghiraukan Helen yang protes.


Bagaimana bisa sepupunya itu bersantai saat mereka berada di dalam sarang musuh, lebih tepatnya di kediaman musuh sambil meminum teh. 


Kebisingan itu menjadi hening ketika suara ketukan sepatu terdengar menggema dari arah balik pintu, Helen mendekatkan tubuhnya ke depan, melindungi kedua junior dan sepupunya di balik tubuhnya. 


Satu langkah, dua langkah, suara itu terdengar semakin dekat hingga akhirnya berhenti di depan pintu. Pintu itu akhirnya terbuka, memperlihatkan kegelapan yang ada dibalik pintu.


Helen menyiapkan pedangnya dengan posisi siaga, matanya memandang tajam ke arah sosok yang diselimuti kegelapan di hadapannya. Suara langkah kaki itu kini terdengar sangat banyak dan bergerak dengan tergesa-gesa. 


Keringat di wajah Helen kini menetes ke lantai, sudah lama ia bersikap waspada hingga ia tubuhnya merasa gerah dan lengket. Suara langkah kembali terdengar namun langkah itu berjalan menjauh, dipimpin oleh suara langkah yang terdengar tegas dan santai itu. 


"Huft.. untung saja kita tidak tertangkap, aku akan membuat perlindungan dan kau cepat buka portal ke hutan hitam." 


Lingkaran-lingkaran sihir mulai terbentuk di lantai, bertabrakan dengan cahaya portal yang sudah Xian buka. Namun sebelum mereka masuk, mereka kembali di kepung oleh iblis penjaga. 


"Rasakan pembalasanku ini."


Helen sambil melancarkan sihir api yang sangat besar, api itu berhasil dibelah oleh pengawal yang berjaga di samping Alin, namun membuat kebakaran di kediamannya dengan hebat. Suara aneh mulai menyala diiringi dengan lampu berwarna merah disepanjang lorong. 


"Lupakan tentang portal, kita pergi sekarang." 


Helen mengeluarkan pedangnya, membuat pedangnya itu memiliki ukuran yang lebih besar hingga bisa dinaikkan oleh empat orang. Tanpa banyak persoalan lagi, ia membawa pedangnya terbang tinggi ke atas langit dan membuka portal ke surga. 


"Tunggu- LIAN!" 


Xian mendekat ke ujung pedang, sudah bersiap untuk melompat namun segera ditahan oleh Helen, Xian melihat Alin yang hanya berdiri sambil menatap kepergiannya dari lubang yang di ciptakan oleh Helen, lalu menghilang di balik asap tanpa Xian ketahui bagaimana keadaanya.


Xian berusaha meraih paviliun yang sudah jauh dari jangkauannya hingga ia hampir jatuh dari pedang. Melihat hal itu, dengan sigap Helen memeluk tubuh sepupunya dan memukul leher pemuda itu hingga ia pingsan.


"Kau bertingkah aneh, Xian. Apa kau baik-baik saja?"


Helen bergumam sambil memangku kepala Xian. Saat kediaman penguasa iblis itu terbakar, Xian menangis dan berteriak dengan keras tanpa Helen ketahui alasannya.