
Matahari masih menyelimuti dirinya menggunakan hamparan langit dan awan yang lumayan gelap, semua makhluk hidup masih menjelajahi mimpinya, ditemani suara dari hewan nokturnal yang menyambut malam.
Namun malam yang tentram itu dipecahkan oleh Xian yang berlarian di tengah hutan, sekali-kali Xian menengok ke belakang, menjulurkan lidahnya dengan tatapan meledek ke singa yang mengejarnya.
Singa itu memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dari ukuran normal, ke empat kakinya sangat kekar dengan bulu berwarna keemasan yang tebal, cakar yang tajam sudah keluar dari tempatnya bersembunyi, siap untuk mencakar.
Singa itu mengaum marah dengan kencang, seakan mengerti jika Xian meledeknya, singa itu berlari dengan ganas, langkahnya semakin lebar, mengikis jarak dengan cepat hingga tersisa satu meter dari posisi Xian. Xian juga mempercepat larinya, namun, semua itu terlambat karena cakar singa tersebut sudah mendarat dengan ganas di punggungnya.
Rasa sakit mulai menjalar di punggungnya, ia yakin jika punggungnya robek dan berdarah, ia menengok lagi melihat air liur singa itu mulai keluar sangat banyak, menetes menimpa tetesan darahnya. Singa itu menyerang lagi menggunakan kaki kanannya, Xian melompat dan berguling, menghindari cakaran singa.
Setelah memperlebar jarak, Xian menumpukkan kedua tangannya ke depan, sebuah pedang panjang yang tipis muncul di genggamannya, kepala naga muncul di masing-masing gagang, berwarna putih yang berhias batu giok berwarna Aquamarine, pedang itu berkilau saat cahaya rembulan menimpanya.
Singa itu terlihat gemetar, mengaum sekali. Tubuhnya menjadi lebih besar dua kali lipat, ia mengaum dan terlihat lebih percaya diri. Suara aumannya membuat pohon di sekitarnya bergerak, membangunkan burung-burung yang segera terbang menjauh.
Xian meloncat dari dahan ke dahan, mempermainkan singa yang mengejarnya. Singa itu melompat, menumbangkan satu pohon yang di hinggapi Xian tadi sampai tumbang, beruntung Xian sudah pindah ke pohon apel yang berada di belakang singa itu.
Ia tertawa karena singa itu terlihat kebingungan, setelah merasa puas memakan apel, ia melempar apel itu ke singa, memberi tahu keberadaannya sekaligus menambah bensin ke api.
Singa itu mengaum sekali lagi, matanya membesar hingga hampir keluar karena marah, tubuhnya membesar lagi. Ekornya memanjang, berubah menjadi ular berbisa. Kaki belakangnya menjadi kaki kambing serta kepala kambing yang tumbuh di sebelah kepala singa. Air liur menetes lebih banyak, membuat Xian mundur dua langkah, berusaha menahan muntah karena jijik.
"Benda menjijikkan apa ini? Sistem! Arius!"
Xian menghindar dari singa itu, membuat mereka bermain kejar-kejaran lagi.
"Arius!"
Suaranya semakin membesar karena tidak sengaja ia menebas dahan pohon dan dahan itu jatuh ke kepalanya sendiri. Mukanya sudah merah menahan malu, untung saja tidak ada yang melihat, jika ada, ia tidak tahu harus menaruh mukanya dimana.
Ia berlari memasuki hutan lebih dalam, menebas semak belukar yang menghalanginya, sekali-kali ia menengok ke belakang, lalu memanggil Arius berkali-kali. Pemuda itu harus bertahan dan menyerang.
"Oh Xian? Kau lagi? Kau- kenapa kau selalu muncul saat aku sedang bermain kartu, kau pengacau."
Sebuah hologram biru transparan berbentuk lingkaran muncul di hadapannya, lingkaran itu membesar dan mengecil sesuai nada Arius yang masih mengomelinya. Xian memutarkan mata, merasa lelah dan salah.
"Huh, sekarang ada apa lagi?"
"Tadi kan, aku sudah bertanya. Benda menjijikkan apa yang sedang mengejarku sekarang."
Intonasi Xian melembut, ia mengulang pertanyaan sambil tersenyum, mengayunkan pedangnya ke perut singa membuat sebuah garis besar tercipta, darah hitam terciprat ke segala arah, sebagian besar mengenai tubuh Xian yang lupa menghindar karena fokus dengan Arius.
Suara tawa gadis itu mampu menciptakan senyum lebar di wajahnya, meski wajah itu kembali suram menyadari tubuhnya terguyur darah bau. Setelah puas tertawa, Arius menjawab pertanyaan Xian dengan patah-patah, gadis itu sepertinya belum bisa mengendalikan diri.
"Itu adalah Cymera, atau bisa aku sebut sebagai Cymera cacat? Pertumbuhannya belum sempurna, sepertinya meridian Cymera itu tidak kuat dengan perubahan yang ia alami, jadi seperti manusia yang mengalami penyimpangan."
Setelah menjawab itu, Arius tertawa dan memutuskan komunikasi dengan paksa. Suara tawa itu kini berganti menjadi suara auman. Xian menghentikan langkah kakinya, tiga meter di depannya adalah sebuah telaga yang lumayan luas, terlihat sangat hening sampai-sampai ia harus meningkatkan kewaspadaannya.
Cymera itu semakin mendekat, mau tidak mau Xian harus mundur mendekati telaga. Mereka kembali berhadapan setelah lama bermain kejar-kejaran. Mata merah Cymera itu menatapnya seakan bisa menusuknya melalui tatapan.
Xian memiringkan kepalanya, perubahan Cymera ini terlalu besar, sepertinya bukan Cymera cacat seperti yang biasa ia temui. Seingatnya, mata Cymera tidak berubah, apalagi berganti menjadi batuan merah yang mengkilap.
Xian memasang kuda-kuda, ia melompat maju begitu pula dengan Cymera, pedang dan cakar beradu. Saat keduanya saling bersapa, percikan api keluar. Suara aduannya seperti besi melawan besi, Xian melanjutkan lompatannya hingga ia bertukar posisi dengan Cymera.
Lama berpandangan, Xian menyarungkan pedangnya dan berlari sangat cepat ke dalam hutan sampai Cymera kehilangan jejaknya.
"Jika Cymera itu cacat, tidak mungkin kulitnya sekeras besi. Sepertinya ada yang aneh."
Setelah merasa Cymera itu tidak mengejarnya, Xian menghentikan larinya, mulai berjalan seperti biasa. Dari tempatnya, ia bisa mendengar suara air yang mengalir. Ia bergegas ke arah suara itu sampai tiba ke sungai. Di depannya, seorang pemuda duduk di batu besar, hanya duduk, menatap sungai yang memantulkan langit malam dalam diam.
Bulu mata pemuda itu lebih lentik daripada bulu mata milik gadis, diam-diam ia melompat naik ke dahan pohon yang berada di belakang pemuda itu, gerakannya sangat tenang dan ringan, seperti daun yang terjatuh ke dahan, dahan itu tetap tidak bergerak.
Ia duduk dengan tenang, sekali-kali melihat ke pemuda itu yang masih belum menyadarinya. Ia mengayunkan sebelah kakinya, bersandar di batang pohon sambil bersedekap dada, menatap langit yang terlihat cerah.
"Hah, kapan kau kembali?"
Pemuda itu bergumam sangat pelan, namun karena indra pendengaran Xian sangat tajam, gumaman itu terdengar dengan jelas. Suaranya lembut namun penuh dengan kerinduan dan kesepian. Apakah pemuda itu memiliki kekasih?
"Ini aku, ini aku."
Xian mengusap wajahnya yang sekarang terkena darah akibat serang Chyou, meyakinkan Chyou jika ini adalah benar-benar dirinya.
Begitu mengetahui jika Xian lah yang memperhatikannya, Chyou menurunkan kewaspadaannya walaupun sedikit. Tanpa berkata-kata lagi, Chyou membalikkan tubuhnya dan berjalan menghindari Xian yang sejak kedatangannya selalu menempel padanya.
Xian merasa canggung dan mencoba membuka percakapan. Keningnya berkerut sangat dalam, mencoba untuk mengingat nama pemuda tersebut.
Setelah lama berfikir, akhirnya dia mengingat kebodohannya karena mereka tidak pernah memperkenalkan diri satu sama lain meski ia selalu mengikuti pemuda itu kemanapun ia pergi, jadi dia memutuskan untuk bertanya padanya secara langsung.
"Ah ya! Sampai sekarang aku sama sekali tidak mengetahui namamu, apa kau tidak ingin memperkenalkan dirimu?"
Xian mempercepat langkahnya hingga kini dirinya yang memimpin jalan, matahari mulai terbangun sepenuhnya menyinari hutan yang penuh bunga itu dengan hangat.
Bunga-bunga yang bermekaran di sepanjang jalan mulai membuka kelopaknya seakan menyambut kupu-kupu yang datang untuk mencari madu.
Daun-daun yang jatuh sering kali mengenai tubuh Xian hingga membuatnya merasa risih, ia sering mengubah jalannya hanya untuk menghindari dauh-daun itu.
"Chyou." Sahut pemuda itu setelah Xian menunggu lama.
"Kau juga setuju padaku, kan? Semua ini indah dan bertepatan dengan musim anggur. Omong-omong siapa namamu?"
Ulang Xian dengan perlahan, dia tersenyum.
"Namaku Chyou."
Ulang Chyou sambil melewati Xian dan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Xian yang sedang berusaha keras agar tidak mengubur dirinya sendiri di antara pohon teratai yang banyak ini.
Setelah menebalkan wajahnya, Xian masuk ke dalam rumah, ia mandi dan makan, menjahili Jenar yang sedang membersihkan kamarnya, setelah puas ia turun kembali, menyamankan dirinya di hadapan sebuah meja kecil. Ia mengeluarkan sebuah alat dan membuang liontin yang dari tadi ia genggam ke sembarang arah.
Alat itu berbentuk persegi, saat ia menekan tombol di sisi kanan, ada sebuah gambar yang bergerak dengan cepat, di keempat sisi alat itu ada masing-masing terdapat satu batu giok yang berbeda warna. Kedua tangannya menekan batu giok itu dengan cepat, menggerakkan gambar yang ada di layar agar saling menutupi satu sama lain.
Xian memainkan benda itu sangat serius hingga ia sadar jika Jenar sudah mengendap-endap di belakangnya berniat untuk mengagetkannya.
"Sttt... Jangan berisik, biarkan aku fokus bermain."
Dengan menahan rasa malunya, Jenar menempatkan dirinya di hadapan Xian dan memperhatikan Xian yang masih fokus.
Jenar menghembuskan nafas ketika Xian masih asik memainkan gamenya, padahal ia tahu jika semalam, pemuda itu tidak tidur sama sekali, "Kau sudah mendapat rencana untuk menjalankan misimu?"
"Tidak, untuk apa membuat rencana? Langsung saja pergi ke desa Padi hari ini." Ucap Xian dengan cepat.
"Masih saja sama seperti dahulu, kau-"
"Kalian ingin ke desa Padi? Bolehkah aku ikut?"
Suara lembut itu memotong perkataan Jenar, Xian sontak saja mendongakkan wajah ke arah lantai dua, sepertinya Chyou mencuri dengar percakapan antara dirinya dan Jenar.
Chyou berdiri di lantai atas sambil memandang kedua kakak-adik, sedikit berharap jika permintaannya dikabulkan, Xian menoleh ke arah Jenar, lalu menoleh lagi ke Chyou. Tanpa sadar, ia menganggukkan kepala dan menjawab "Ya," begitu saja.
Setelahnya Chyou kembali masuk ke dalam kamar dan keluar pada menit berikutnya dengan pakaiannya sudah berganti. Sebuah pedang tergantung rapih di punggungnya dan lonceng perak menggantung di pinggang membuat kedua kakak-adik itu menjatuhkan rahangnya.
"Ayo." ucap Chyou sambil menuruni tangga, sementara itu Xian menyimpan alat yang ia mainkan dan mengambil liontinnya yang tergeletak mengenaskan di lantai, Jenar menggelengkan kepalanya saat melihat Xian lagi-lagi tidak menjaga liontin tersebut.
Jenar memimpin jalan diikuti oleh Chyou dan Xian yang mengantukkan pedangnya ke lantai dengan santai hingga berbunyi tuk tuk mengiringi langkah ketiga pemuda itu. Jenar membuka portal teleportasi, membuat Chyou memandang portal tersebut dengan kagum.
"Yahh.. Berhenti mengantukkan pedangmu! Kita pergi ke pasar dulu." Keluh Jenar yang merasa terganggu dengan suara pedang Xian. Xian segera saja menyimpan pedangnya ke ruang penyimpanan.
"Sepertinya kita pergi besok saja, kau belum tidur."
Ucapan Chyou menyadarkan kedua saudara itu, Jenar menepuk dahinya, sedangkan Xian menampilkan senyum bodohnya, lalu lari ke kamar dan menutup pintu tepat di depan Jenar. Aura merah menguar menyelimuti Jenar, ia mengusap hidungnya yang sedikit terantuk pintu, lalu menghilang pada detik berikutnya. Chyou memejamkan mata beberapa kali, mencoba mencerna hal yang terjadi pagi ini