
Setelah Alin kembali, bulan sudah berada di atas kepala, burung yang bernyanyi sudah berganti menjadi suara hewan-hewan nokturnal. Begitu pintu kamar terbuka, Alin dapat melihat dengan jelas jika dua pemuda yang menjadi orang terdekatnya sudah tertidur bertumpu di meja dengan makanan dingin yang masih tersusun rapi.
Sepertinya mereka menunggu dia untuk makan bersama.
Alin merasa kehangatan menyelimutinya dengan cepat, membuat pipinya memerah dengan detak jantung yang tidak beraturan. Sambil berjalan mendekat, ia merasa jika ia sudah melakukan hal yang bodoh, membuat kedua pemuda itu merasa khawatir.
Ia mengambil makanan yang sudah dingin itu dan membawanya ke dapur, mengembalikan kehangatan yang sudah hilang karena hembusan angin dingin. Setelah semua makanan mengepul kembali, Alin menjadi merasa ragu untuk membangunkan Chyou dan Alan yang tidur dengan nyenyak.
"Chyou, Alan."
Ia menekan rasa ragu dan berhasil memanggil mereka, dengan gemas Alin mengelus rambut kedua pemuda itu dan berhasil membangunkan mereka. Rambut mereka benar-benar halus, membuat Alin tidak mau melepaskan tangannya dari kepala mereka.
Keadaan menjadi canggung ketika mereka bertiga sadar dengan posisi yang kata Alan menyebalkan.
"Hehe."
"Hehe hehe lepas! Kau ingin mencuri rambutku, ya?"
Perempatan imajiner muncul di dahi Alan, ia berusaha melepaskan diri dari Alin yang tiba-tiba memeluknya, setelah berhasil lepas, Alan berlari dan Alin sibuk mengejar, mereka berlari memutari meja, membuat Chyou memijat keningnya yang mulai terasa pusing. Saat melihat meja, ia tersenyum tipis, matanya juga berbinar tidak seperti saat ia memeriksa kamar dan tidak menemukan Alin di dalamnya.
"Sudah, sudah. Ayo kita makan dulu."
Alin mendekat sedikit ragu, namun melihat senyuman pemuda itu membuat keraguannya hilang begitu saja. Alin kira, Chyou akan marah karena ia tidak pamit saat keluar. Alin kira, Chyou akan menatapnya kecewa. Sekarang ia mengerti jika pemuda itu sudah dewasa, meski terkadang masih sering menangis tetapi Chyou tidak akan bertindak gegabah hanya karena kehilangannya.
Namun entah mengapa, saat ia memikirkan jika Chyou baik-baik saja meski tanpa dirinya, Alin merasa jika hatinya seperti di remas oleh Golem batu, jantungnya berpacu cepat dan terasa seperti dicabik-cabik, diambil daging dan darahnya meski tidak ada yang menyentuhnya saat ini.
Sekali lagi, Alin mengubur apa yang dia rasakan, menelan semua kata-kata yang ingin dia utarakan bersama dengan makanan yang dia makan, melupakan semua pikirannya seperti saat dia melupakan kalkulus dan ilmu filsafat yang dia pelajari di sekolah.
Biarkan saja, toh itu hanya perasaan.
Hanya perasaan.
Hanya perasaan yang tidak ia ketahui bagaimana hal itu bisa masuk, apa motifnya dan jenisnya. Ia benar-benar tidak tahu.
Kesadaran Alin kembali saat ia memakan sendok yang tidak mengambil apapun, saat melihat mangkoknya, ia tertegun. Apakah ia terlalu lama melamun sampai makanannya habis tidak tersisa?
"Hahaha, kau makan angin. Ambil dulu makanannya."
Alin menghela nafasnya terasa berat lalu mengambil makanannya sendiri, Chyou yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya, dengan hati-hati ia menuangkan sup ke dalam mangkok dan mengambil nasi ke piring, memberinya ke Alin yang menatapnya dengan melas menghiraukan Alan yang sudah bersiap melayangkan piring ke mukanya namun terhalang tatapan Chyou.
"Astaga, astaga, rasanya aku bisa mati karena amarah."
Alan berbisik ke Alin saat Chyou sibuk menyiapkan makanan, "Bukankah kau sudah pernah mati?"
Alin balas berbisik, "anggap saja belum."
Kedua orang itu lalu tertawa dengan kencang, menghiraukan Chyou yang menatap mereka dengan tatapan penuh tanya.
Di sela-sela makannya, Alin berhenti sejenak dan berpikir, ia menatap Alan dan berkata, "Setelah ini, kita akan memulai pembelajaranmu."
"Apa? Aku tidak perlu belajar, kekuatanku sama seperti Kaisar utama, tidak–aku lebih kuat daripada Kaisar Utama. Tidak perlu belajar."
"Aku tidak bilang belajar? Hanya memulai pembelajaranmu, mengenai hal-hal yang harus kau urus nanti."
"Aku tidak suka belajar."
"Kau harus."
"Aku tidak."
Adu mulut itu tidak berhenti sampai Chyou datang dengan nampan yang berisi cemilan, pemuda yang baru saja datang menatap kedua ibu anak itu dengan tatapan penuh tanya, lagi.
Chyou benar-benar tidak tahu apa yang menyebabkan Alin dan Alan selalu berdebat dengan atau tanpa dirinya di sekitar mereka.
Sambil meletakkan nampan di atas meja, Chyou bertanya dengan pelan, "sekarang kalian bertengkar karena hal apa lagi?"
"Aku hanya menyuruh Alan untuk mulai menghafal, dan dia menolak."
Alan membelalakkan matanya tidak percaya, Alin benar-benar seorang pengadu!
"Apa yang harus di hafalkan? Biar aku membantumu."
Tinta merah di atas kertas itu terlihat sangat rapi dan indah, memantulkan cahaya lilin karena masih belum kering, namun gadis itu menatapnya seakan-akan dia sudah menghafal selama dua belas purnama.
Alan merasa jika tubuhnya di siram oleh air panas dan darahnya membeku, keringat mulai membasahi punggungnya, secara tidak sadar, ia menggenggam kertas itu terlalu erat sampai kertas itu sedikit robek.
Waktu terus berjalan, dan tanpa dirasa bulan sudah setengah condong ke barat. Alin dengan tidak sabar mengambil kertas di tangan Alan lalu bertanya pada Alan.
"Danau yang biru membentang, memantulkan wujud langit. Ilalang bergoyang dan angin berhembus. Setelah itu?"
Alan memelototi kertas basah yang ada di tangan Alin, berharap jika kertas itu memiliki mulut dan memberikan sedikit petunjuk agar ia bisa melanjutkan kalimatnya. Alan merasa tertekan karena tatapan Alin yang ia rasa bisa menusuk ke dalam jantungnya dan menariknya keluar. Dengan ragu-ragu Alan menjawab, "Setelah itu, itu, bangau?"
Kali ini Alin yang membelalakkan matanya, menatap pemuda yang sudah menatap kertas selama tiga jam lebih dengan tidak percaya, pemuda itu menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan! Alin tidak mempercayai telinganya sekarang.
"Bodoh! Kau sangat bodoh!"
Alin memukul kening Alan menggunakan kipas yang ada di meja, rasa kesal dan jenuh yang sudah ia tahan kini meledak, wajahnya merah padam dan berganti-ganti dengan hijau biru, setelah itu berbicara dengan nada sedikit naik.
"Bangau? Kau kira mantra ini adalah nyanyian bangau oh bangau kenapa engkau kurus? Kau sudah menatap mantra itu selama tiga jam lebih empat puluh menit enam puluh detik! Mengapa tidak ada kata lain yang menyangkut di otakmu yang kecil itu? Kau, kau bahkan sudah mengulangnya sebanyak empat belas kali dan kau masih belum mengingatnya? Kenapa kau tidak memberi babi pakan saja, tolol!"
Perisai kesabaran terakhir yang sangat tipis itu sudah retak dan hancur berkeping-keping.
Alan yang di pukul hanya mengaduh kesakitan. Dia meletakkan kepalanya ke atas meja dan tergulai lemah, menatap Alin dan Chyou dengan tatapan memelas.
"Aku kan, sudah bilang. Kalau aku ini bodoh, tidak ada obat. Andai aku sepintar papa dan seajaib dirimu."
"Mustahil." Muka Alin merah padam dan berkata tegas, "teruslah bermimpi."
"Sudah, Alan belajar terlalu lama, kita sudahi dan tidur dulu. Sudah mau pagi."
Chyou menengahi acara belajar itu, ia mengelus kepala Alan yang memerah karena di pukul Alin. Dengan cekatan, ia membereskan berbagai alat menulis di meja dan menyimpannya dengan rapi di atas nakas.
Alan yang mendengar itu bersorak bahagia. Bagaimanapun, Chyou adalah penyelamatnya dari siksaan Alin yang di namakan sebagai pembelajaran atau apalah itu, persetan dengan semuanya.
Dengan semangat, Alan membaringkan tubuhnya di lantai, yang langsung di hentikan oleh Alin.
"Apa-apaan, kau tidur di kamarmu."
Rahang Alan terjatuh mendengarnya.
Bagaimana mungkin dia tidur di kamarnya sedangkan mereka hanya menyewa satu kamar? Dan penginapan ini sudah penuh!
"Kita sudah keluar dari penginapan, dan kau pingsan. Kami hanya mendapat satu kamar karena kamar lainnya sudah ditempati oleh orang lain. Kau ingin aku tidur di atap atau membuat kerusuhan dengan orang yang menepati kamarku?"
Alin terperangah melihat pemuda yang selalu membantahnya dan selalu memulai peperangan padanya.
Sekarang ia yakin jika pemuda itu benar-benar bodoh.
Tidak, atau mungkin yang bodoh sebenarnya adalah dia dan Alan, mereka sama-sama bodoh karena memilih untuk menderita di sini hanya untuk sepenggal kalimat tanya.
'Sebenarnya apa aku ini?'
Dan
Satu pertanyaan yang sampai sekarang belum ia ketahui, tersimpan rapat-rapat di dalam hati pemuda itu, terukir indah dan tertutup debu, menunggu seseorang menghapus debu, membacanya lalu memberikan menjawab kepadanya.
————————————————————
Panggung kecil
Iyan : Apakah kalian akan memberitahu seseorang tentang perasaanmu?
Alin : Iya (nyatanya tidak, dia pengecut)
Chyou : Tidak berani, aku terlalu banyak kekurangan.
Alan : Tentu saja! Hanya pengecut yang tidak berani! (memandang rendah Alin lalu ditolak oleh orang yang ia sukai)
Seka : .... (berbeda dimensi)
Xian : Apa yang kurang dariku? mengapa Arius selalu menolakku? (Jenar menepuk pundaknya sementara Arius masih asik dengan mesin-mesin miliknya)