Unblessed Story

Unblessed Story
Dunia Iblis (2)



Kelompok itu sudah berjalan ribuan mil ke arah timur, dinding curam yang ada di samping kanan dan kiri sudah berganti menjadi pemandangan tanah lapang yang dihiasi pohon mati yang hanya menyisakan ranting tanpa daun.


Di tengah tanah lapang itu terdapat sebuah kursi panjang yang biasa ditemukan di taman dunia manusia, hanya saja kursi tersebut terbuat dari tulang belulang, tengkorak dari tulang itu diletakkan di tengah sandaran kursi sebagai hiasan.


Suara kepak sayap gagak hitam terdengar saling bersahutan, satu dua ekor terlihat saat berpindah dari satu dahan ke dahan yang lainnya. Mata gagak itu mengawasi mereka dengan teliti dan waspada agar mereka tidak melakukan sesuatu yang membahayakan koloni gagak tersebut.


Sebenarnya jika kita melihat lebih dekat, pohon-pohon mati itu membentuk sebuah wajah dengan lubang yang mirip dengan mata, hidung dan mulut manusia. Entah apa yang ada di dalam lubang tersebut, mereka tidak berani melihat.


Siapa tahu ada asap beracun saat mereka memasukkan wajah ke dalam lubang tersebut atau ada burung pemakan arwah yang menjadi peliharaan raja iblis? Bisa jadi pohon itu hidup dan memakan mereka.


'Gwuak gwoak'


Suara burung gagak lagi lagi saling bersahutan, membuat Xian merasa sekujur tubuhnya merinding, bahkan dia sempat melompat beberapa langkah saat Jenar mendekat ke arahnya. Biar aku beritahu sebuah rahasia, jika sebenarnya Xian itu takut dengan hantu dan sejenisnya.


Meskipun sudah berkali-kali menghadapi monster, ribuan kali menjelajahi dunia dan dimensi lain, ia tetap saja takut dengan hantu yang bahkan bentuknya saja tidak lebih menyeramkan dari monster dan iblis.


"Sebenarnya dimana jalan keluarnya?"


Keluh Xian yang sudah berjalan sambil menundukkan pundaknya dengan lemas, meskipun gelap tetapi temperatur tempat tersebut sangat panas hingga membuat Xian dan Jenar membuka jubah terluarnya, menyisakan kaos hitam polos di tubuhnya.


"Jika aku menjual ac pasti akan sangat laku."


Racau Xian lagi sambil mengipasi wajahnya dengan jubah terluarnya.


Chyou berhenti dan menatap Xian dengan bingung saat mendengar kata asing yang baru saja ia dengar. "Apa itu ac?" Tanya Chyou sambil memiringkan kepalanya.


Xian membatu sesaat lalu memamerkan senyum konyolnya pada Chyou "A-apa itu ac?" Tanya Xian sambil menatap Chyou dengan tatapan polosnya, pura-pura tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan Chyou.


Ketiga pemuda itu melanjutkan perjalanannya ke arah barat dengan lemas, Jenar yang berjalan di sisi Chyou menghela nafas berkali-kali sedangkan Xian yang dibelakangnya sudah ratusan kali mengumpat kasar tanpa henti.


"Aku tidak tahan lagi, aku ingin menjadi krikil saja."


Xian lagi-lagi berbicara ngawur. Kata-kata itu selalu terdengar setelah dia mengucapkan beberapa kalimat kosong seperti Jenar yang ia bilang rakus, Kaisar Utama yang dia sebut sebagai pemalas, bahkan ia berkata akan memasukkan Arius kedalam akuarium.


Jenar tidak tahu harus tertawa atau menangis saat mendengarnya, dia berada tepat di hadapan Xian namun anak itu tanpa malu mengatakan omong kosong tentangnya, seakan lupa dunia dan asik dengan dunianya sendiri.


Chyou tertawa saat mendengar Xian akan menyapu kamarnya dengan rajin saat kembali, ia jelas tahu jika itu hanya omong kosong lainnya karena saat dirinya tersandung barang yang tergeletak mengenaskan di lantai ia selalu mengatakan akan membersihkan kamarnya esok hari.


Karena saat mereka menginap kemarin, Jenar yang membereskan kamar Xian yang entah bagaimana bisa langsung berantakan. Barang-barang tersebar di penjuru kamar, baju yang tergeletak di lantai dan juga sarung kasur yang entah bagaimana bisa terlepas. Jenar membereskan itu semua tanpa mengeluh, hanya bilang akan menjewer telinga Xian saat ketemu nanti.


Sementara Jenar membersihkan kamarnya, Xian sudah pergi masuk ke dalam hutan dari bangun tidur hingga hampir senja, kadang pulang dengan tersenyum kadang pulang dengan wajah hitam yang suram dengan pakaian yang dilapisi lumpur dan debu


"Hyung"


Xian menghampiri Jenar dengan seekor rusa yang sudah mati ditangannya, di tubuh rusa tersebut masih terdapat anak panah yang tertancap tepat di jantung, darah menetes ke lantai, membuat jejak dari pintu masuk hingga ke dalam rumah, mengotori lantai yang baru saja Jenar dan Chyou bersihkan.


Tidak lama berselang, Xian kembali bersama Jenar yang menarik kerahnya seperti menenteng seekor anak kucing yang membawa rusa. Muka Jenar merah padam karena merasa kesal karena harus mengepel ulang lantai yang terkena darah.


"Aku hanya meminta hyung untuk membuatkan sup daging rusa."


Jawaban itulah yang Xian katakan jika Chyou basa-basi bertanya pada Xian yang duduk menghadap tembok, hukuman karena dia mengotori rumah.


Jika tidak menghadap tembok, Xian akan disuruh untuk mengambil beberapa ikan yang ada di kolam teratai, membersihkan kolam dari gulma lainnya atau memberi makan ikan-ikan di kolam. Pekerjaan yang sangat ia benci karena ia akan merasa jika pekerjaan itu tidak cocok untuk dikerjakan oleh pemuda sepertinya.


"Biarkan aku membuatkannya untukmu jika kau tidak keberatan."


Chyou berjongkok di depan Xian, pemuda itu segera menatap Chyou dengan mata yang berbinar, mata polos seperti mata anak kecil yang dibelikan permen oleh ibunya.


"Tidak membuatmu repot? Terimakasih non- eh maksudku terimakasih Chyou."


Suara tulus Xian membuat Chyou merasakan perasaan yang familiar di hatinya, perasaan seperti mereka sudah lama kenal. tidak mau ketahuan, Chyou menganggukkan kepalanya dan bergegas masuk ke dalam rumah untuk membuatkan sup daging rusa untuk Xian.


Saat di dapur ia dengan telaten memotong bahan-bahan yang ia butuhkan, memotong daging rusa dengan ukuran yang pas dan hanya merebus sedikit tulang yang masih berdaging sebagai kaldu, dengan pelan namun cekatan ia memasukkan daging dan bahan yang ia siapkan ke dalam air mendidih.


Selagi menunggu sup matang, ia mengambil terigu dan mengaduknya dengan air. Membuat pangsit dengan isian daging rusa yang sudah ia rebus di awal. Tangannya dengan lihai mencubit pinggiran kulit pangsit hingga terbentuk sempurna.


Pangsit dan sup daging rusa itu ia taruh kedalam mangkuk dan ia letakkan di atas meja bersama makanan yang Jenar masak bersamanya. Wangi sup daging rusa dan pangsit rebus menguar ke penjuru ruangan, bahkan Xian yang berada di pojok kamarnya bisa mencium wangi makanan yang lezat.


"Xian ayo makan"


Xian yang sudah tidak sabar untuk makan segera berlari ke meja makan, duduk menghadap Chyou dan Jenar yang sudah siap di tempatnya. Tanpa berbicara, Xian memulai makannya, kata 'wah, sangat lezat' keluar dari bibirnya saat satu suapan penuh daging masuk kedalam mulutnya.


Pertanyaan Jenar dibalas dengan anggukan wajah Xian berkali-kali dengan semangat. Membuat Jenar dan Chyou tertawa karena sikap kekanakannya.


Kembali ke kenyataan, nyatanya kini mereka masih tersesat di wilayah iblis. Mereka tidak duduk di kursi itu karena merasa harus waspada dan meminimalisir tindakan yang tidak perlu.


"Kita beristirahat saja dulu, kasihan kakiku."


Xian menjatuhkan tubuhnya dengan pasrah, tidak lagi memikirkan tubuhnya yang sudah sangat kotor menjadi tambah kotor karena tanpa sadar ia duduk di atas lumpur.


"Kemari, jangan duduk di atas lumpur."


Jenar menepuk sisi kirinya yang kosong. Chyou duduk tepat di samping kanannya, memeriksa hiasan rambut yang didapatkan Xian dari bawah mata Cymera.


"Tidak terimakasih, disini lebih dingin." Ucap Xian dengan malas.


"Arius! Kapan kau akan menjemput kami?" Bisik Xian saat melihat Jenar dan Chyou sedang fokus memeriksa batu energi dari monster dungeon yang sudah berhasil dikumpulkan Chyou.


Batu-batu itu memiliki beragam warna yang berbeda. seperti batu energi Hydra yang berwarna hijau neon yang bersifat sama seperti Hydra yang menyala dalam kegelapan. Biasanya batu energi ini akan dijadikan sebagai lampu gantung di sekte-sekte besar. Meskipun batu energinya sangat indah, Hydra tidak pernah sembarangan muncul di dunia manusia, monster ini akan sering ditemukan tumbuh dengan subur di halaman-halaman pavilliun iblis ras tertinggi sebagai hiasan.


Batu yang berwarna merah berasal dari monster Collos, monster api peringkat rendah namun sangat berbahaya bagi warga yang tidak memiliki kekuatan seperti kultivator. Monster ini biasa ditemukan di benua Beast, pelindung pertama benua dari manusia fana yang nekat memburu hewan neraka.


Sedangkan batu berwarna abu-abu adalah batu energi dari monster kulit lembu, meski namanya adalah kulit lembu namun penampilan monster ini bukanlah kulit lembu, melainkan hantu asap yang memakai jubah dan terbang menggunakan sapu. Meski terlihat lemah, monster atau yang bisa kita panggil hantu ini tidak bisa dikalahkan dengan mudah. Kekuatan regenerasinya sangat cepat, titik vital yang sering berubah-ubah membuat kultivator lepas maupun kultivator sekte kesulitan belum lagi hantu ini hidup secara berkelompok.


Entah mengapa monster dari dunia iblis yang bisa dibilang berbahaya ini muncul di dungeon desa padi yang letaknya sangat jauh dari benua Beast.


Xian bergumam, "Entah keberuntungan atau kesialan untuk desa padi karena banyak kultivator yang masuk dan gagal di dalam dungeon membuat lubang untuk melarikan diri disisi dungeon dan menambalnya dengan lingkaran sihir tingkat rendah. Oh tidak, bukankah aku yang lebih sial? Setelah menyelesaikan dungeon sekarang terlantar di dunia iblis."


"Arius kau sudah sampai mana." 


Xian berbisik berkali-kali hingga panel berwarna biru toska tersebut berubah warna menjadi warna merah, perempatan imajiner seakan melayang-layang disisinya.


"Aku bilang sabar, aku harus menyusun ulang portal untuk sampai ke tempat kalian."


Panel itu membentuk garis-garis naik turun seirama dengan tinggi rendah nada yang dilontarkan Arius.


"Ya ya, omong-omong sepertinya aku menyukaimu." 


Xian bergumam saat melihat wajah temannya itu terlihat di panel sistem, setelah itu Arius mematikan komunikasi dengan sengaja, Xian tertawa terbahak-bahak karena pernyataannya tidak di jawab, Jenar dan Chyou menatap Xian dengan heran.


Chyou berdecak sebal saat Jenar membuat dirinya kaget saat sedang serius mendengarkan ceritanya. Alisnya mengerut karena marah namun terlihat lucu dimata Xian, ayolah ia jadi ingin memiliki adik dan menjadi seorang kakak.


Ia melihat kearah Jenar dan benar tebakannya, Kakaknya itu juga menyukai Chyou, tatapan Jenar ke Chyou sama seperti tatapan Jenar ke dirinya, kasih sayang seorang kakak. 


Apalagi Chyou berusaha keras menunjukkan kalau dirinya marah, memukul tubuh Jenar dengan bersungguh-sungguh namun tidak menyakitkan. Ia jadi iri karena tidak bisa berbicara seleluasa itu dengan Jenar maupun Chyou.


"Ck mereka benar-benar terlihat seperti adik kakak."


Xian merasa kesal karena dirinya merasa seperti menjadi patung dupa, ada namun tidak dianggap oleh kedua pemuda yang sekarang bermain-main tanpa mengajaknya. Xian berjalan menjauh, mengganti bajunya tanpa peduli jika dilihat orang lain, toh mereka sama-sama lelaki.


Kedua pemuda yang bermain-main itu kini berdiam diri dan membereskan batu energi yang berserakan ke dalam kantung penyimpanan, lalu menyusul Xian yang sudah mendudukkan dirinya di kursi tengkorak dengan berani.


Jenar memasang wajah bingung "Tumben kau berani? Kapan Arius datang?"


"Dia sedang mengatur ulang portal, sepertinya ada perisai penghalang di tempat ini." 


Di balik awan hitam ini terdapat perisai penghalang yang lumayan kuat, cukup untuk memutuskan array komunikasi, jika saja dirinya tidak cukup kuat mustahil dirinya berhasil menghubungi Arius.


"Dan gagak ini terlihat aneh." 


Lanjutnya saat melihat salah satu burung gagak yang bertengger di pohon yang tidak jauh dari tempatnya duduk. Burung gagak itu tidak jauh berbeda dengan burung gagak di dunia manusia, hanya saja aura yang dikeluarkan sedikit bengis, menatap ketiga manusia itu dengan tatapan haus darah.


Cakarnya mencengkeram ranting pohon dengan kencang, jika burung tersebut hinggap di bahu manusia, bahu manusia itu kemungkinan besar sudah cidera parah dengan tulang belikat yang sudah hancur, daging yang keluar dari kulit dengan darah yang tanpa henti berlomba-lomba keluar dari tubuh. Manusia itu bisa mati karena kehabisan darah, untung saja burung gagak itu bertengger di pohon.


Xian menghela nafas dalam saat dirinya tanpa sadar membiarkan berpikir dengan keras, mengundang khawatir dari Jenar dan Chyou.


"Jadi-"


"Sedang apa para dewa ini berada di wilayahku?"