
Tanpa di duga, alih-alih lari melarikan diri dari kedua pihak yang ingin menculiknya, kini Alin terjebak bersama mereka di satu meja yang sama. Dua jendral yang mengepungnya, memandang pemuda tadi penuh kewaspadaan yang tidak di tanggapi oleh pemuda itu, pemuda itu malah asik memandang bulan merah yang terlihat di jendela.
Alin menggaruk dahinya yang tiba-tiba terasa gatal, terlalu malas berpikir apakah ia harus memecahkan keheningan atau tidak. Jadi ia mengambil cangkir teh yang masih mengebul, meniupnya sekali dua kali lalu meminumnya saat ia rasa jika sudah tidak terlalu panas.
Terlalu lama diam, matanya melihat pemuda dan kedua jendral itu secara gantian.
"Sebenarnya kalian siapa?"
Perempatan imajiner muncul di kepalanya, ditaruhnya cangkir teh itu ke atas meja dengan kencang, tak peduli jika lawan bicara terkejut.
"Yang Mulia, maaf kami lancang membawa anda kemari. Saya Yee, wakil tangan yang memerintahkan Yeas untuk menjaga Yang Mulia sejak kami menemukan Yang Mulia."
Salah satu jendral itu berdiri lalu berlutut di hadapan Alin, kepalanya menunduk dan kedua tangannya menyatu di depan kepala.
"Saya memberi hormat kepada Yang Mulia, saya Ares."
Jendral satunya memperkenalkan diri, masih asik menuang teh dan meminumnya. Alin tersenyum kikuk, sepertinya Ares sedikit kurang ajar daripada Yee.
"Lalu tujuan kalian membawaku kemari? Bagaimana kabar pria yang bersamaku terakhir kali?"
"Lima puluh tahun yang lalu, kami menemukan kabar jika Yang Mulia sudah bereinkarnasi kembali ke dunia ini. Kami mengerahkan seluruh pasukan untuk mencari yang mulia. Saat kami berhasil menemukan Yang Mulia, kami melihat jika Yang Mulia berada bersama pemuda itu dalam keadaan tidak sadarkan diri. Kami harus memerintahkan pasukan elit untuk menangkap pemuda itu. Kami tidak tahu apa yang dilakukan pemuda itu hingga anda mengalami penghentian kehidupan selama empat puluh sembilan tahun. Karena itulah, kami memburu pemuda itu hingga membuat dunia atas dan manusia menganggap jika empat bencana akan melahirkan raja iblis kedua, banyak pasukan dewa yabg menyerang beberapa wilayah iblis, seharusnya ada dua ribu pengungsi yang datang ke Redum."
Mendengar itu, mata Alin terbelalak, bibirnya terbuka dan mengatup, dengan suara yang sedikit gemetar, ia kembali bertanya.
"Lima puluh tahun? Kau serius? Bukankan itu sangat lama? Dimana.... Maksudku-aku...."
"Lima puluh tahun yang lalu kau muncul di hutan bunga bersama seorang pemuda. Setelah kau diculik pemuda itu sampai mati, aku menyuruh anak buahku untuk mengikuti pemuda itu. Apalah daya karena memiliki anak buah yang lemah, pemuda itu masih di gua sedangkan anak buahku sudah tertanam di tanah."
Yee berdecih setelah menyelesaikan ucapannya, ia terlihat kesal tapi tidak kesal. Alin menelan ludahnya dengan kasar.
"Aku mati? Kau gila! Jika aku mati, tidak mungkin aku ada di sini. Lalu kau, apa niatmu menemui ku?"
Kini tatapannya beralih kepada pemuda yang masih asik melihat bulan. Pemuda itu sedikit tersentak setelah itu ia memasang muka datarnya kembali.
"Niatku sangat banyak, yang utama adalah menemukan papaku."
"Hei! Aku bahkan tidak tahu kau ini iblis atau siluman kodok, bagaimana aku tahu siapa orang tuamu!"
Suara gebrakan meja terdengar sangat kencang membuat ketiga pemuda lainnya tersentak kaget dan Yee tersedak teh yang ia minum. Alin benar-benar tidak bisa menahan amarahnya lagi, ia merasa jika orang-orang di ruangan ini mempermainkan karena ia bukan berasal dari dunia ini, meski hanya dia dan sistem yang tahu.
"Siluman kodok? Aku? Kau tidak berkaca?"
"Lalu siapa kau?"
"Aku Je Alan, owner sistem. Aku hanya ingin bertemu papaku agar dia tidak membuat keputusan yang salah."
Ketika mengucapkan itu, mata Alan memandang bulan dengan lebih tajam, matanya memerah. Alin tertegun melihatnya, pemuda itu sepertinya sangat membenci papanya.
Saat ia ingin membuka mulut lagi, suara kericuhan kota terdengar lebih ramai dari sebelumnya. Mereka berdiri seketika, menatap jendela yang mengarah langsung ke sumber suara.
Suara teriakan terdengar sekali lagi saat babi oranye itu menusukkan belati yang sudah berlumuran darah ke salah satu babi pink, babi oranye itu dengan ganas mencabut belati itu dan menusuk lagi beberapa kali membuat babi pink itu mati dengan tubuhnya yang bermandikan darah.
Alin menatap keributan itu dengan diam, meski ia sedikit menahan mual karena tiba-tiba teringat dengan dirinya di dunia nyata bersama Seka yang penuh darah.
"Siapa yang memanah ku?"
"Tidak tahu."
"Pemuda itu."
Alan menghentakkan kakinya kesal, merasa dituduh.
"Sudah aku bilang bukan aku, dasar tua! Aku yang menyelamatkannya dari anjing tua yang ingin posisi siluman kodok itu! Kan, aku sudah mengatakan itu berkali-kali, dasar tuli!"
Setelah menjelaskan dengan penuh kata kasar itu, Alan membalikkan tubuhnya menghadap jendela, tangannya bersedekap dada dan menatap perkelahian babi itu dengan datar. Sepertinya pemuda itu benar-benar marah.
"Sudah, Alan antar aku ke tempat babi itu, mereka sangat berisik."
Alin menyadari jika kedua pihak itu tidak bisa bersatu dalam waktu dekat, ia memilih untuk memisahkan mereka. Alan melompat keluar, diikut oleh Alin yang sebelumnya meminta Yee dan Ares untuk tetap di tempat sampai ia kembali.
Mereka berjalan membelah lautan monster yang masih melakukan aktivitasnya tanpa terganggu dengan keributan kecil itu.
Sambil berjalan, Alin menyadari jika kota ini sebenarnya benar-benar sama dengan kota manusia, beberapa pengemis terlihat di gang yang kumuh, ada yang memberanikan meminta makanan kepada penjual meski hanya mendapat makian dan pukulan.
Para penjual pembeli saling tawar-menawar, mencari kesepakatan yang tidak merugikan. Ada juga beberapa iblis yang memakai zirah, berperawakan seperti manusia biasa yang berpatroli, Alin melihatnya hanya bisa menjatuhkan rahang, jika pengawal kota ada seharusnya tidak ada perkelahian seperti babi-babi itu sangat lama.
"Menurutmu, kenapa mereka berkelahi?"
Kerumunan sudah semakin dekat, Alin berusaha memecahkan keheningan antara dirinya dan Alan, meski jawaban pemuda itu membuat Alin harus mengelus dada.
"Aku tidak tahu, bukan cenayang."
"Berterus terang saja, apa kita berasal dari waktu yang sama? Aku lebih tua darimu? Atau sebenarnya, kau adalah leluhurku?"
Tawa yang Alin tahan kini sudah pecah, ia merasa konyol dengan ucapan yang ia lontarkan sendiri, pemuda itu jelas-jelas seumuran dengannya, tidak mungkin menjadi leluhur.
Jika dunia ini adalah komik, perempatan imajiner muncul di kepala Alan dan sekelilingnya berubah menjadi aura hitam, merasa kesal dengan ucapan Alin yang terlalu sembarangan.
"Aku leluhurmu."
Jawaban ketus Alan membuat tawa Alin yang sudah reda, kini muncul kembali. Suara tawanya membuat warga kota Redum menyadari keberadaannya, mereka mengelilingi Alin dan Alan meski Alin sibuk memegang perutnya yang terasa sakit karena tertawa.
Setelah lama tertawa, Alin menghentikan tawanya dan ia berdiri membatu. Warga kota itu mengelilingi mereka dan bersujud memberi hormat.
"Kami memberi hormat kepada Yang Mulia Raja."
"A-Aku.. Raja? Bukankah seharusnya Ratu?"
Alin berbisik, Alan hanya memutarkan matanya dengan malas. Wanita ini sangat konyol.