Unblessed Story

Unblessed Story
Rindu Dendam



Pagi hari yang cerah ini sudah dihiasi oleh suara pertengkaran Helen dan Xian. Awalnya Helen bangun terlalu pagi dan memutuskan untuk berlatih beberapa jam.


Namun saat ia keluar rumah, ia mendapati Xian dan Arius yang tengah berbincang, saling menatap dengan posisi seperti sepasang kekasih. Membuat jiwanya sedikit terguncang karena perubahan sikap sepupunya itu sangat signifikan, Xian yang seperti kaum bar-bar berubah menjadi Xian si pencinta sejati.


Helen lebih kaget lagi karena perlakuan Xian ke Arius sangat berbeda, pemuda itu lebih memilih untuk mengalah jika mereka berbeda pendapat, sekali-kali Xian akan menjahili Arius, mengundang pekikan kesal dari gadis itu, beberapa kali juga Helen mendengar gombalan yang dilontarkan Xian untuk Arius, membuatnya sedikit jijik dengan kelakuan adik sepupunya–ah sudah lah, hingga kini Xian dan Arius memilih untuk pergi, meninggalkan Helen sendiri.


Dari arah teras terdengar langkah kaki yang mendekat dengan tergesa-gesa dan suara khawatir Chyou terdengar dengan jelas dari balik pintu. 


"Ada apa? Apakah ada ghoul air yang berhasil masuk kedalam?"


"Tidak, perisai rumah ini sudah sangat kuat. Rasanya bahkan ghoul kelas penghancur tidak akan bisa masuk ke dalam rumah ini. Apa kau ingin mengajariku cara untuk membuat perisai seperti ini? Hiasan di tengah perisai sangat indah, aku ingin mencoba untuk membuatnya satu."


Helen berkata jujur. Setelah Xian dan Arius pergi, ia memilih untuk mengagumi perisai yang melindungi rumah dan danau teratai ini.


Emosi yang membuncahnya perlahan tergantikan dengan perasaan penuh kekaguman. Emosi gadis ini sangat mengerikan perubahannya, seperti danau tengkorak.


"Tentu saja, kapanpun kau senggang kau boleh kesini, aku akan mengajarkan beberapa cara yang paling mudah."


Tidak lama kemudian, pemuda manis itu pamit untuk keluar hingga malam hari. Meninggalkan ketiga bersaudara itu beradu mulut, lebih tepatnya anak termuda dan anak tengah yang beradu mulut, sedangkan yang tertua hanya membaca buku dan mengerjakan pekerjaan yang sengaja ia bawa untuk mengisi waktu senggang.


Malam ini bulan separuh menyembunyikan wajahnya, ditemani bintang-bintang yang hanya terhitung jari. Meski begitu, tidak menghalangi langkah seorang pemuda yang berjalan dengan tegas masuk ke hutan. 


Pemuda itu berjalan dengan cepat namun tidak tergesa-gesa, sekali-kali ia bersenandung, sekali-kali ia tersenyum sambil menatap hiasan rambut yang terikat kuat di giok perak yang menggantung di pakaiannya. 


Ya, pemuda itu adalah Chyou. Setelah beberapa langkah berjalan lagi, ia menengok ke belakang untuk memastikan jika tidak ada iblis yang mengikutinya dan masuk ke dalam mulut gua yang tidak jauh dari sungai. 


Setelah masuk sedikit lebih dalam, ia mendudukkan dirinya di atas sebuah bangku rotan yang ia letakkan di gua tersebut lama sekali, ia menidurkan bagian atas tubuhnya ke batu yang berada di samping bangkunya. 


Ia mengelus batu tersebut dengan lembut, lalu mengelus kepalanya sendiri dengan lembut, seakan-akan ada orang lain di sana yang mengelus kepalanya, memilin rambutnya, lalu mencium rambutnya dengan penuh hormat. 


Seperti dulu, meski rasanya sangat beda namun ia selalu mengulangi adegan itu untuk menghilangkan rasa rindunya, mengisi kekosongan hatinya, mengalahkan rasa kesepiannya. Hari-harinya tidak lagi sepi seperti dulu karena kini ada beberapa orang yang masuk ke dalam hidupnya, namun tidak ada satupun dari orang-orang tersebut yang dapat menghilangkan kekosongan di hatinya. 


Ia masih merindukan gadisnya, membutuhkan nonanya, yang terpenting adalah ia belum mengatakan kebenarannya pada nona-nya. Kebenaran tentang jawaban akan pertanyaan yang seharusnya ia jawab jujur sebelum ia kehilangan nona-nya. 


Katakanlah jika ia cengeng, katakanlah jika ia manja, ia tidak akan membantah bahkan akan langsung menyetujuinya.


Dulu, gadisnya itu mengatakan jika ingin menangis, bilang padanya. Gadis itu  mengatakan jika kesal, marah padanya. Gadis itu juga mengatakan jika ada yang mengganggunya, bilang padanya. 


"Lian... kapan kau kembali?"


Satu waktu, dua waktu, suara serangga memenuhi pendengarannya. Lima, enam, tujuh, angin menggerakkan ranting pohon hingga membuat irama yang menyenangkan untuk di dengar. 


Delapan, sembilan, sepuluh, tidak ada lagi yang terjadi. Semua itu hanya suara yang biasa terjadi saat malam hari, tidak ada suara yang menyuruhnya untuk berjalan tegak, melangkah cepat, menatap kearah depan, tidak menunduk.


Tidak ada suara sapaan yang menyuruhnya berkultivasi dari matahari terbit hingga tengah hari, menghentikan kultivasi untuk makan siang dan menyuruhnya berkultivasi lagi hingga malam hari. 


Tidak ada lagi yang mengikat rambutnya, membeli baju yang ia sukai untuk dipakai olehnya. Gadis itu sering kali membeli suatu barang untuk ia pakai, mengajaknya ke pasar, menggoda beberapa pria pembuat onar lalu mengalahkannya untuk menambah pengalamannya.


Chyou merasa berhutang pada gadis itu, karena gadis itu, ia bisa merasakan kembali kasih sayang seorang ayah, ia bisa merasakan kembali kasih sayang seorang ibu, ia merasakan kehadiran saudara-saudaranya yang bahkan tidak pernah ia temui. Karena gadis itu, ia bisa lebih santai saat bertemu seorang manusia. Karena gadis itu juga, ia bisa merasakan perasaan aneh yang muncul tiba-tiba di hatinya. 


Perasaan itu tumbuh semakin besar tiap harinya, semakin mengembang hingga rusuknya merasa tidak cukup kuat untuk menahan debaran kencang di jantungnya, perutnya dipenuhi kupu-kupu jika membayangkan senyum gadis itu, namun ia juga sering merasa sakit di hatinya saat mengingat jika gadisnya itu tidak lagi bersama nya. 


Malam semakin larut, tanpa terasa Chyou tertidur di kursinya dengan posisi yang akan membuatnya merasa pegal saat bangun nanti. Ia tidur dengan sangat pulas, tak menyadari jika air matanya belum kering yang tersorot oleh sebuah cahaya kecil yang mendarat di hadapannya.


Seekor kunang-kunang perak hinggap di hidungnya, tidak lama setelah itu, kumpulan kunang-kunang terbang menyinari gua itu dengan cahayanya, mereka hinggap di dinding gua hingga tidak ada lagi kegelapan di gua itu. Udara yang sudah dingin menjadi lebih dingin, membuat Chyou bersin dalam tidurnya.


Dari dalam gua, seseorang berjubah lusuh mendekat ke arahnya. Ia berjalan dengan hati-hati, menghindari ranting dan batu yang bisa menjadi sumber suara, ia sekejap kemudian, ia sudah ada di samping tubuh Chyou. Ia berlutut dengan setengah kaki, tangannya yang pucat menghapus air mata yang masih ada di pipi pemuda itu.


Ia mengelus rambut Chyou, memilin rambut yang tergerai itu dengan lembut, memegang rambut itu lalu menghirup aroma rambut pemuda itu dengan rakus. Seakan dipenuhi oleh kerinduan yang mendalam.


"Tunggu aku, setelah aku membunuh orang itu, aku akan kembali bersamamu karena kau adalah milikku. Milik Yang Mulia ini tidak boleh di sentuh. Tunggu aku menghancurkan mereka, setelah itu kau akan kembali padaku, kembali menjadi rumahku, menjadi orang yang selalu menuruti ku. Jangan membangkang, hapus rasamu pada orang itu. Kau milikku, kali ini aku tidak akan kalah dari mereka."


Orang itu berdiri, membuka tudungnya, menampilkan mata merahnya yang menatap dengan menawan, hidung mancungnya yang indah dan bibirnya yang merah. Gadis itu menatap bulan dengan senyum. Seketika itu pula, kunang-kunang perak berubah menjadi bara yang terbakar, gua yang bersinar putih berganti memancarkan cahaya merah.


Ia membungkuk dan mencium puncak kepala Chyou, setelah itu ia melepaskan jubahnya, menyelimuti tubuh Chyou yang meringkuk kedinginan. Setelah itu ia menghilang, menjadi bara-bara api yang berterbangan menghias langit malam bersama dengan hilangnya cahaya di gua itu.