Unblessed Story

Unblessed Story
Kembalinya Tokoh Utama



Matahari sudah hampir tenggelam dan ia masih ada di tempat yang tidak nyaman. Kemanapun ia pergi, semua mata akan melihatnya dengan bermacam-macam pandangan seperti iri, obsesi dan lainnya.


"Chyou-"


"Arius, boleh aku pulang sekarang?"


Chyou tidak ingin menunggu lebih lama lagi, sudah berapa hari ia meninggalkan kediaman dan membuatnya sangat tidak nyaman. Berada di tengah-tengah orang asing yang selalu berganti setiap waktunya, ia merasa energinya sudah habis.


"Kau di tunggu Kaisar—tunggu, kenapa kau ingin pulang sekarang?"


Arius merasa penasaran dengan alasan pemuda itu hingga ingin cepat pulang, apakah ada yang merudungnya? Apakah pemuda itu merasa tidak nyaman? Jujur saja Arius masih ingin berlama-lama menatap wajah pemuda itu dan berada di dekatnya setiap waktu.


"Iya, aku tidak memiliki urusan apapun disini jadi lebih baik aku kembali, aku tidak ingin merepotkan kalian lebih lama lagi." Ucap Chyou.


"Tapi kau harus menemui Kaisar terlebih dahulu dan meminta izinnya."


Arius masih berusaha membujuk pemuda itu. Sungguh rasanya ia ingin ikut bersama Chyou ke kediamannya, sosok itu sudah menjadi sosok yang ia kagumi sekarang. Parasnya yang tampan dan manis berpadu menjadi satu, kepintaran pemuda itu berada diatasnya membuat Arius ingin menjadi teman Chyou seperti Jenar dan Xian.


"Baiklah, tolong temani aku. Aku tidak bisa menghapal ruangan disini."


Chyou merasa canggung jika harus bersapa dengan Arius, ia merasa jika gadis di sampingnya ini tidak menyukainya karena tiba-tiba masuk ke dalam hari-hari Xian dan Jenar. Bahkan Chyou merasa tidak enak diri saat diminta untuk menginap.


Chyou berjalan menunduk, memandang lantai berkilauan di bawahnya dengan tatapan kosong. Ketakutannya tadi malam kembali masuk ke dalam dirinya, sebesar apapun keinginannya untuk berhenti memikirkan mimpinya, sebesar itu juga ia mengingat mimpi itu.


Katakanlah jika ia sangat bergantung pada Lian, ia tidak peduli karena baginya, Lian adalah penyelamat. Ia bertekad untuk menjadi kuat dan lebih kuat lagi agar bisa melindungi Lian dan mencegah terjadinya kejadian yang dulu.


Jika saja ia lebih kuat, jika saja ia bersungguh-sungguh, Lian masih ada disampingnya sampai saat ini, mungkin saja mereka bisa melakukan perjalanan bersama-sama. Begitu banyak penyesalan dipikirannya hingga membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata. 


"Chyou, kau tidak apa-apa?"


Arius menghentikan langkah kakinya ketika ia tidak sengaja melihat Chyou menangis, ia merasa sedikit khawatir sekarang.  


"Aku tidak apa-apa, maaf sudah membuatmu khawatir."


"Baiklah kalau begitu."


Arius merasa sedikit tidak percaya dengan jawaban pemuda itu, namun apalah daya karena ia tidak sedekat itu dengan Chyou, ia hanya bisa mengurungkan niatnya dan mencegah kata-kata yang ada di ujung lidah agar tidak keluar. Setelahnya Arius meminta penjaga untuk membukakan pintu. 


Arius dan Chyou masuk ke dalam ruangan luas tersebut, di dalamnya sudah ada Juan dan Jenar yang sedang berbincang. Pembicaraannya sangat serius hingga membuat mereka merasa takut untuk mengganggu. Setelah lama, Juan akhirnya menyadari kehadiran mereka.


"Oh Arius, Chyou. Kenapa tidak bilang jika sudah sampai? Kemari lah. Apa kalian tau apa yang terjadi pada Xian hingga ia berubah menjadi anak kecil?"


Juan mengajak mereka untuk bergabung bersamanya. Sebelum bergabung, Chyou dan Arius memberi sebuah salam penghormatan untuk Juan dan duduk di hadapannya.


"Sepertinya Xian terkena racun dari raja Caeling tapi aku tidak tau cerita rincinya, sistem masih dalam perbaikan jadi hanya ada sedikit informasi di basis data hingga sangat sulit bagiku untuk memberi kesimpulan. Maafkan saya yang lama dalam bekerja dan tidak becus, aku akan menerima hukuman apapun untuk menebus kesalahanku Yang Mulia."


Arius memberi penjelasan lalu bersimpuh, meminta hukuman karena ia sangat merasa bersalah. 


"Bangunlah, kau tidak salah." Ucap Juan.


"Tidak Yang Mulia, saya bersalah dan harus dihukum."


Pendirian Arius membuat Juan dan Jenar menghembuskan napas, senyuman juga tercipta di bibir kedua ayah dan anak itu, membuat Chyou merasa sedikit lega karena ia mengira jika Arius akan benar-benar dihukum.


"Baiklah, sebagai hukuman kau harus menjaga Xian mulai sekarang, kemanapun dan kapanpun Xian pergi, kau harus ikut bersamanya." Ucap Juan membuat Arius membelalakkan matanya dengan lucu.


"Tu-tunggu, aku lebih memilih untuk diberi pekerjaan seratus lunar daripada mengikuti pemuda itu."


Arius tidak sadar telah mengucapkan penolakannya, seketika itu pula ia membekap mulutnya dan mengutuk dirinya sendiri. Ruangan itu menjadi penuh dengan gelak tawa.


Juan merasa jika teman anaknya ini sangat istimewa, disaat semua pejabat wanita ingin dekat dengan putranya, temannya ini memiliki seribu satu cara untuk menjauh dari jangkauan Xian meskipun Xian telah mengerahkan ribuan cara untuk mendekatinya.


"Kasihan sekali adikku harus menerima penolakan, apa yang harus aku ucapkan padanya nanti."


Jenar mengucapkan itu disela-sela tawanya, begitu pula dengan Juan yang sudah memegangi perutnya yang terasa sakit karena tertawa. Arius menunduk malu.


"Maaf saya menyela, saya ingin pamit kepada Kaisar dan Putra Mahkota. Untuk obat yang dibutuhkan Xian, sudah saya siapkan sampai besok. Dua hari lagi Xian bisa kembali seperti semula." Pamit Chyou setelah lama keheningan melanda ruangan luas itu.


"Kenapa?"


Jenar mengerutkan keningnya, merasa bingung mengapa Chyou ingin pulang.


'Apakah ada yang membuatnya tidak nyaman? Apakah ada yang mengerjainya di istana ini? Apakah ia merasa lelah karena harus membantu keluargaku?'


Jenar menggelengkan kepalanya saat pertanyaan terakhir terlintas di kepalanya, membuat ketiga pemuda yang lain merasa bingung dengan sikapnya.


"Ada sesuatu yang harus saya urus." Jawab Chyou.


"Aku bisa membantunya."


Jenar menawarkan diri. Juan yang merasa aneh pada anak tertuanya pun hanya menggelengkan kepala.


"Sudahlah jika Chyou ingin pulang, biarkan saja, jangan memaksanya. Terimakasih Chyou sudah membantu kami, kau bisa meminta bantuan kami jika kau butuh. Arius tolong antar Chyou pulang." ucap Juan.


"Saya tidak ingin merepotkan, kalau begitu saya pamit pulang."


Arius membuka portal setelah berpamitan pada Juan dan Jenar, kemudian ia masuk disusul oleh Chyou dibelakangnya. 


Setelah keduanya keluar portal, yang ada dihadapan mereka kini sebuah danau teratai yang terlihat indah dan juga harum. keduanya sudah tiba di kediaman Chyou, tak lama setelahnya Arius kembali ke pengadilan meninggalkan Chyou sendirian duduk diteras rumahnya.


Hiasan rambut yang ia simpan, ia pegang erat hingga tangannya berdarah. Tanpa sadar, seorang gadis keluar dari rumahnya. Gadis itu berjalan mendekat kearah Chyou dan berhenti dibelakangnya, lalu memeluk tubuh Chyou hingga pemuda itu tersentak, tangisan itu jadi semakin kencang kala ia menghirup aroma yang selama ini ia rindukan. 


Tangannya yang berdarah beralih meremas tangan gadis yang memeluknya, membalas pelukan gadis itu dengan kencang. Berharap jika gadis yang memeluknya itu nyata, bukan khayalannya semata.


"Lian.. Lian kau kembali, Lian."


Chyou membalikkan tubuhnya untuk melihat rupa gadis itu. Gadis yang sedang memeluknya adalah Lian-nya, orang yang sudah lama ia tunggu kehadirannya kini sudah kembali memeluknya. 


"Ini aku, Chyou. Aku pulang."


Senyuman tercetak di wajahnya, Chyou pun melemparkan tubuhnya ke pelukan Alin hingga keduanya jatuh di teras rumah. Chyou kembali menangis dan mengusakkan wajahnya ke dada gadis yang berada di bawahnya itu sambil mengeratkan pelukannya. 


Alin membalas pelukan Chyou, ia melingkarkan tangannya di pinggang pemuda itu, merapatkan tubuhnya dengan tubuh Chyou yang berada di atasnya. Sekali dua kali, ia mengusap puncak kepala Chyou untuk menenangkan pemuda itu dari tangisnya. 


Keduanya tetap pada posisinya hingga seorang anak kecil datang mengganggu acara kedua orang dewasa itu. 


"Papa!"


Teriakan khas anak-anak itu terdengar diiringi dengan seorang anak kecil yang melemparkan dirinya ke badan Chyou. Chyou yang dipanggil Papa melepaskan pelukannya pada Alin. 


Setelah itu, ia menghapus air matanya dan menatap Alin juga anak kecil itu dengan terluka. 


"Lian.. kau sudah punya suami?" Tanya Chyou dengan lemah.


"Apa? Tentu saja tidak punya, mengapa kau berasumsi jika aku memiliki suami? Hei dia memanggilmu papa, apakah kau yang mempunya istri? Chyou aku tidak menyangka, tolong katakan ini adalah kebohongan."


Alin berucap dengan main-main, membantah tidak terima dengan tuduhan yang diberikan Chyou. Dalam hati sedikit menggerutu, ayolah ia tidak berasal dari dunia ini, bagaimana bisa ia menikah dan memiliki anak. Apalagi perasaannya sekarang sedang goyah antara Chyou atau Rayyan yang terkadang lewat di pikirannya.


"Tidak, aku tidak memiliki anak. Anak itu datang bersamamu, kan?" Ucap Chyou dengan bingung.


"Hahaha iya iya aku hanya bercanda. Aku menemukannya saat aku berhasil kabur dari orang yang menculikku beberapa tahun lalu, kau ingat? Aku terselamatkan karena Ren kecil saat itu menangis keras, membuatku terganggu dan ingin menyumpal mulutnya. Namun tenang saja aku tidak jadi menyumpalnya karena dia mengingatkanku tentangmu. Jadilah sekarang anak nakal ini mendeklarasikan diri menjadi anakku, aku harap kau juga menyukai anak ini karena jika tidak, aku tidak tau harus membuang anak ini kemana."


Alin menjelaskan dengan panjang, meluruskan kesalahpahaman yang bisa saja terjadi. 


"Tidak, maksudku, aku menyukainya."


Chyou mengelus rambut anak kecil itu, seketika itu juga ia melihat jika kepala anak tersebut memiliki luka. 


"Kau terluka? Bagaimana bisa? Lian, kau tidak menjaganya dengan baik? Apakah ini sakit?"


Tanya Chyou bertubi-tubi, membuat Alin panas dingin sedangkan anak itu tersenyum dengan bangga.


"Papa, Mama selalu memukul Alan, padahal Alan hanya bermain."


Alan mengadu sambil menangis, namun ia tersenyum licik kearah Alin, membuat gadis itu tanpa sadar memukul kepala Alan. 


"Lian! Kenapa kau memukulnya? Eh, jadi namamu Alan?"


Chyou menatap Alin dengan galak namun berkedip beberapa kali karena merasa bingung, hal itu terlihat sangat lucu di mata kedua ibu dan anak dihadapannya. 


Alin tertawa dan menjawab, "Panggil saja dia semaumu."


"Hei, kenapa kau tidak langsung membawaku jika sebenarnya Papa sangat lucu, kau curang sekali."


Protes Alan sambil mengarahkan pandangan penuh permusuhan ke Alin Chyou tersadar jika ia baru saja memarahi Alin dan kini pemuda itu menunduk dengan rasa bersalah. 


"Lian.. maaf, aku tidak bermaksud memarahimu, aku-" 


Alin memandang jauh, setelah perpisahan yang lama dan bertemu kembali, Chyou mengalami beberapa perubahan. Pemuda yang hanya mengikuti ucapannya kini sudah bisa berucap sendiri, yang biasanya takut dan penuh ragu sekarang bertindak dengan tegas.


Pemuda itu sudah semakin berani berbicara, setiap kali ia berbicara, Alin merasa jika ia baru saja mendengar angin musim semi yang berhembus, di depannya terhampar daun kemerahan yang berjatuhan.


Omelan pemuda itu, terasa manis. Ia ingin mendengar pemuda itu mengomel lagi dan lagi.


"Hei, sudahlah. Tidak apa-apa, jangan menangis."


Alin membujuk Chyou, ia menepuk-nepuk pundak Chyou dengan lembut, mengabaikan Alan yang kini merasa bersalah.


"Papa, kami memang sering bercanda seperti itu. Jangan menangis, aku akan menjadi anak baik."


Alan mendekat dan memeluk Chyou, meski ia harus memaksa karena Alin selalu menjauhkan tubuhnya dari Chyou, entah apa maksudnya.


"Apasih, aku mau peluk papa."


Teriak Alan saat Alin menjatuhkan tubuh Chyou ke pelukannya, sebelah tangannya menopang tubuh Chyou dan satunya memegang dahi Alan, membuat barikade agar Alan tidak bisa maju.


"Tidak, kau bau. Sana pergi, jangan sentuh." Usir Alin.


Kedua orang itu terus bertengkar hingga salah satunya menyadari jika Chyou tertidur. Mereka menghentikan pertengkaran dan masuk kedalam rumah untuk membaringkan tubuh Chyou agar pemuda itu tidur dengan nyenyak.


"Kau! Huft, sudahlah kau harus meminta maaf pada Juan karena telah menyerang anaknya. Sekarang."


Perintah Alin dengan paksa, membuat Alan menghembuskan napasnya dengan berat karena setelah ini, ia harus menjalankan hukuman yang akan diberikan Lian karena kesalahannya kemarin.


"Baiklah."


Alan menjawab dengan tidak bersemangat, mereka pun pergi menuju pengadilan setelah Alin memerintahkan Ares untuk menjaga Chyou dan rumahnya.