
"Ada ap- UNTUK APA KAU PERGI KE DUNIA IBLIS? KEMBALI SEKARANG JUGA!"
Setelah lama hanya terjebak di keheningan, teriakan Arius yang tiba-tiba itu membuat Xian terjungkal karena suara keras itu menyapa indranya tanpa aba-aba. Jenar bergegas menghampiri Xian saat melihat adiknya terjungkal,
"Ada apa?"
Xian tidak terima karena Arius menuduhnya dengan sengaja memasuki wilayah iblis, ia menjelaskan dengan nada yang sedikit naik.
"Bagaimana mungkin? Aku dan Gege hanya memasuki dungeon di desa Padi. Namun setelah mengalahkan Cymera, portal tidak terbuka dan kami terjebak di dalam dungeon sangat lama."
"Tapi kau! Tunggu aku di sana, sebisa mungkin tahan dungeon itu agar tidak mempercepat lajunya menuju wilayah iblis."
"Bagaimana caraku menahannya sedangkan aku ada di dalamnya? Aku benar-benar!"
Layangan protesnya tidak di dengarkan, Arius meninggalkan ia dengan penuh tanya, segera saja Xian memberitahu Jenar tentang hal ini dan membiarkan kakaknya yang berpikir sendiri.
"Ini masalah besar."
"Kakak benar, ini masalah besar. Aku lapar, lelah, mengantuk tapi sekarang malah di antar ke kandang iblis, sungguh sial. Aku mau tidur dulu."
Xian melemaskan tubuhnya hingga berbaring di lantai gua tersebut, menghiraukan debu yang bisa saja menempel dan membuat tubuhnya gatal. Jenar memindahkan tubuh Xian dengan sedikit kekuatannya ke atas tubuh Cymera tersebut.
"Sekarang sudah empuk." Gumam Xian dan tertidur dengan pulas sambil memeluk tubuh Cymera tersebut.
Kebisingan itu membuat Chyou terbangun, ia memandangi interaksi kedua pemuda di hadapannya dalam diam. Ia memandang wajah Xian dengan sedikit heran, saat pertama bertemu pemuda itu terlihat tidak peduli dan cuek tapi setelah beberapa hari ini sifatnya berubah menjadi manja, seperti nona muda.
Tanpa sadar Chyou kini berada di hadapan Xian sambil tersenyum ke arahnya, tangannya dengan hati-hati mengelus rambut Xian yang tersenyum dan semakin menyamankan posisi tidurnya.
"Kalian terlihat seperti teman lama."
Jenar mengucapkan hal itu bukan asal bicara, hubungan kedua pemuda yang lebih muda darinya itu seperti berhubungan erat bak kawan lama.
Setelah itu ia kembali diam, memikirkan cara menghentikan dungeon. Dungeon ini adalah benda mati, di bangun karena gempa dan tercampur sedikit darah monster.
Sejak masuk ia juga tidak merasakan adanya lingkaran yang lebih kuat daripada lingkaran yang ia lihat, apakah ini dihasilkan dari lingkaran yang paling lemah? Tapi itu mustahil, lingkaran lemah itu hanyalah saluran komunikasi satu arah agar pos penjaga tahu keadaan di dalam dungeon.
"Ya, aku juga merasa jika aku pernah dekat dengannya." Jawab Chyou.
Ketiga pemuda itu tersentak saat merasa dungeon tersebut bergetar dengan sangat kuat hingga bunyi 'Bruk' terdengar sangat memekakkan telinga, kristal-kristal yang tersisa di atas langit-langit gua jatuh menimpa ketiga manusia yang ada di bawahnya.
Mereka berlari ke sembarang arah untuk menghindari semua kristal tajam itu, debu mulai berterbangan menutupi jarak pandangan mereka saat batu-batu kristal itu berhenti terjatuh.
"Aku baru saja tidur, apa kristalnya sudah habis?"
Suara Xian bergema disusul dengan helaan nafas dari kedua pemuda lainnya.
"Kau kira kita sedang bermain?"
Xian menolehkan wajahnya kearah suara Jenar yang berada di samping kirinya.
"Tentu saja sudah habis, kita sudah tidak berada di dalam dungeon."
Sahut Chyou yang berada di samping kanannya, membuat Xian menolehkan wajah kearah sebaliknya. Debu sudah mulai menghilang, siluet kedua pemuda disisinya kini berganti menjadi lebih jernih.
Terdapat Xian dan Jenar yang sedang membersihkan debu di bajunya sedangkan Chyou berjalan mendekat kearahnya, Xian melambaikan tangan ke arah Chyou dengan senyum lebar, Chyou membuang wajahnya dan mendengus dengan keras.
[Wilayah tidak dikenal, tidak dapat menentukan portal]
Xian merasa kecewa dengan penjelasan sistem, ia memojokkan dirinya menghadap dinding batu yang berada di belakangnya dan menggambar pola acak di dinding, merajuk.
"Kau ingin meminjam bajuku?"
Jenar menepuk pundak Xian, merasa kasihan karena Xian lebih berantakan daripada dirinya dan Chyou, Xian terlalu energik, mengalahkan monster sendirian dan terkadang meninggalkannya.
Xian menggeleng namun masih tidak merubah raut wajahnya yang suram, jika ini adalah komik maka disekitarnya akan ada awan mendung dan bagian matanya ditutupi oleh warna hitam yang senada dengan tempat tersebut.
Wilayah iblis ini adalah wilayah yang berada di utara, masih berada di daerah terluar yang sangat jauh dari neraka. Tempat tersebut dipenuhi dengan tanaman berduri yang berwarna hitam, tanahnya yang gersang juga berwarna hitam berbeda dengan dinding yang ada di belakangnya yang berwarna abu-abu.
Mata Xian kembali menyapu tempat tersebut. Jika Xian boleh jujur neraka jauh lebih kaya dan luas neraka daripada surga. pemandangan di neraka masih tergolong indah dengan permata yang menempel di dinding batu putih sebagai alat penerang.
Jika di taksir, kurang lebih harga permata itu delapan giok, dimana satu giok setara dengan seribu koin emas, satu koin emas setara dengan seribu koin perunggu, dan satu koin perunggu sama dengan seribu koin perak.
Mengingat hal itu membuat Xian berniat untuk mengumpulkan seluruh permata yang ada di dunia iblis untuk membayar sedikit hutangnya di dunia para dewa. Namun niat itu tidak jadi ia jalankan saat mengingat jika mata uang di surga bukanlah permata, giok maupun koin melainkan daun emas yang hanya bisa diperoleh saat menyelesaikan misi yang diberikan kaisar besar.
Saat setiap dewa dengan giat mengerjakan misi, Xian hanya bermain ayunan di taman atau mencuri apel dari dunia yang ia buat dan sekarang saat dewa lainnya sedang bersenang-senang dan mampu menanam pohon emasnya sendiri. Sekarang giliran dirinya yang dilanda hutang yang jumlahnya dua kali lipat dari seluruh kekayaan para dewa di surga.
Sungguh, nasib yang malang. Seorang anak kaisar utama menjadi orang termiskin di surga.
"Jangan menangis, aku akan meminjamkan mu beberapa bajuku jika kau mau."
Senyum Xian seketika melebar saat mendengar Chyou menawarkan bajunya untuk Xian, namun suasana hatinya kembali memburuk saat ingat jika dirinya kini harus meminjam barang milik orang lain.
"Jangan seperti nona muda, cepat berdiri dan lindungi dirimu."
Jenar mulai merasa jengah dengan drama sang adik. Kedatangan mereka juga sudah tercium oleh para monster yang menempati tempat tersebut dan kini mereka sudah terkepung, tidak bisa melarikan diri jika hanya mengurusi suasana hati Xian yang mudah sekali berubah tanpa sebab.
Panah cahaya yang Jenar bentuk sudah meluncur membelah lautan monster, membuat jalan kemana saja yang terpenting agar mereka dapat melarikan diri. Chyou menebaskan pedangnya ke arah beberapa monster yang berani mendekati mereka. Sedangkan Xian melemparkan kerikil-kerikil kecil ketengah-tengah kerumunan monster.
Ledakan demi ledakan saling bersusulan saat batu kerikil yang ia lempar menyentuh tanah, raungan monster saling bersahutan dengan ledakan, keadaan segera berbalik dengan cepat. Dalam hitungan jam, ribuan monster itu sudah menghilang digantikan dengan potongan organ dan darah hitam lengket yang bau melapisi tanah.
"Kita mau pergi kemana?"
Tanya Chyou yang dijawab dengan gelengan oleh kedua adik kakak tersebut. Tempat menyeramkan itu menjadi lebih menyeramkan.
"Kanan/kiri."
Ucap Xian dan Jenar bersamaan, Xian menunjuk kiri sedangkan Jenar menunjuk kearah kanan.
"Tapi kalian mengatakan hal yang sebaliknya."
Chyou mengerutkan dahi saat menyadari jika Jenar menunjuk kanan namun mengucapkan kiri, sedangkan Xian sebaliknya.
"Kemana saja kita jalan, kita tetap akan berada di neraka."
Jawaban Xian di setujui oleh Jenar. Chyou menghela nafas dalam. Berusaha mempertahankan sifat tenangnya dan mencoba menghiraukan emosinya. Namun, hal itu sia-sia karena kedua kakak beradik yang bersamanya benar-benar membuat emosinya pecah.
"Terserah kalian saja lah" Kesal Chyou sambil berjalan tanpa tentu arah, menjauhi kedua saudara itu.
Sementara itu, kedua saudara itu hanya tertawa karena berhasil mengerjai yang paling muda. Setelah puas tertawa, mereka berlari menyusul Chyou yang sudah jauh di depan.