Unblessed Story

Unblessed Story
Desa Faktitius



Setelah mengalami pagi yang penuh keributan-lagi, kini mereka telah sampai di sebuah penginapan di Desa Faktitius. Mereka berdiri di satu-satunya penginapan yang masih memiliki dua kamar kosong, setelah bertengkar lama, akhirnya mereka memutuskan jika Alin satu kamar dengan Chyou dan satunya lagi untuk Alan.


 Meski Alan tidak menerimanya begitu saja, dengan beberapa kata dari Chyou, ia hanya menelan kata-katanya dan masuk ke dalam kamar sambil melengkungkan bibirnya ke atas. 


"Papa, aku lupa mengambil baju."


Kepala Alan menyembul dari celah pintu yang terbuka, pemuda itu lalu masuk dan duduk di sebelah Chyou yang sedang meminum teh. Alin sedang duduk sambil menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang, kacamata bulat yang bertengger di hidungnya hampir merosot, namun ia tidak membenarkannya dan masih asik membaca isi buku di tangannya.


"Tumben nenek tua itu membaca buku, mana terbalik pula." 


Alan berbisik pada Chyou lalu keduanya tertawa, Alin mendengus kesal, meski mereka berbisik, tetap saja ia bisa mendengar. 


"Memang sampulnya yang terbalik, penginapan ini buruk sekali."


Sebenarnya, penginapan ini tidaklah seburuk yang Alin ucapkan. Penginapan ini memiliki sebuah kolam permandian air panas, yang setiap dindingnya dipasang batu spiritual tingkat atas, jika berendam selama satu jam kekuatannya bisa melonjak drastis. 


Namun, hal menakjubkan itu tidak pernah gratis tanpa bayaran, bahkan jika kau bermimpi untuk memakan bubur, kau harus membayarnya terlebih dahulu. 


Sesuai namanya, permandian air panas itu benar-benar menggunakan air panas. Air di kolam itu benar-benar mendidih. Asap tebal menutupi pandangan siapa saja yang mandi di sana. Karena hal ini lah, hanya sedikit yang bisa bertahan selama satu jam sebelum mereka menjadi sup daging!


Selain permandian air panas, ada juga permandian air panas biasa namun tidak memiliki keunggulan untuk meningkatkan kekuatan seperti permandian air panas, hanya saja sebagai penggantinya, ada sebuah air terjun di permandian air panas biasa, di balik air terjun itu ada tempat lagi meski tidak terlalu besar, untuk orang-orang pemalu.


Hanya saja, setengah dari buku-buku yang ada di penginapan ini sampulnya terbalik! 


Hal itu membuat penilaian Alin berkurang sebanyak 50 poin terhadap penginapan, namun ia bisa berbuat apa, nama penginapan ini saja namanya sampul terbalik!


Karena itulah ia hanya bisa tertawa bersama Chyou saat menyadarinya.


"Yayaya, papa baju." 


"Tangkap."


Alin melemparkan baju milik Alan yang ada di sebelahnya, hingga baju itu jatuh tepat di atas kepala Alan. Kedua tangan yang sudah siap itu menurun, lalu mengambil baju di kepalanya dengan kesal. Alan kembali ke kamarnya dengan wajah yang tertekuk, berbeda dengan Alin yang tertawa dengan puas. 


"Chyou, aku harus pergi mengurus satu dua hal, kau ingin ikut atau tetap tinggal?" 


Alin menutup buku yang sudah ia selesai di baca lalu menaruhnya ke atas nakas di samping kasur, ia berjalan mendekati Chyou lalu mengambil satu tegukan teh dari cangkir yang berada di tangan pemuda itu, mengundang cebikan kesal namun malu.


"Ikut."


"Baiklah, kalau begitu kita tunggu Alan. Oh ya, aku memiliki sesuatu untukmu."


Secepat kilat Alin berpindah ke belakang pemuda itu, lalu memasangkan sebuah hiasan rambut giok berwarna perak dengan bandul bulan yang terlihat sangat indah, Ia tersenyum puas dengan keputusannya untuk membeli hiasan itu. 


"Cocok sekali, aku menyukainya." 


Alin mulai melontarkan pujian-pujian pada Chyou tanpa henti, pemuda itu memandang Alin yang berada di belakangnya lewat cermin. Ia masih tidak percaya jika Alin sudah kembali di sampingnya. Ia merasa jika ini adalah mimpi terindah. 


Karena takut ketahuan jika ia akan menangis, Chyou membalikkan tubuhnya dan memeluk pinggang Alin seraya mengucapkan terimakasih. 


Di balik pintu, Alan yang awalnya ingin masuk membalikkan dirinya, menuruni tangga dan membalas godaan beberapa wanita yang mengajaknya untuk minum bersama. 


Ia mengambil kesempatan itu untuk bergabung, sudah lama rasanya ia tidak dikelilingi oleh wanita karena belakangan ini sibuk mengekori Chyou atau diberi tugas oleh Alin untuk melakukan beberapa hal.


"Mari bersulang untuk tuan muda."


"Bersulang." 


Mereka menyatukan cangkirnya ke tengah meja dan meminumnya dalam satu tegukan, mereka melakuka itu berulang-ulang sambil saling berbagi cerita. Hal itu hanya membuat Alan merasa bosan sebelum seorang gadis datang ke meja sebelahnya dan membawa berita dengan senyuman yang terlukis di wajahnya.


Alan terpana melihat senyuman itu, dengan semangat, gadis itu berbagi cerita dengan saudaranya, menjelaskan sambil membuat gerakan yang terlihat lucu di mata Alan, binar mata gadis itu menunjukkan jika ia adalah anak muda yang penuh semangat. 


Satu hal yang Alan tahu saat ini, ia ingin memiliki gadis itu. Ia ingin tenggelam dalam pesona gadis yang bersemangat itu, ia ingin memasukkan gadis itu ke dalam hari-harinya yang terasa monoton. 


Senyuman gadis itu, ia ingin melihatnya lagi dan lagi. Suara tawa gadis itu bergema di telinganya, membuat dirinya tak sadarkan diri, mabuk dalam ilusi hingga tidak sadar jika gadis-gadis di sekelilingnya sudah pergi meninggalkannya.


Ia masih melihat gadis itu hingga gadis itu keluar bersama keluarganya, dan saat sadar sudah ada Alin yang duduk di seberangnya sambil menumpukkan dagu di kedua tangannya, melihat Alan dengan senyuman aneh, Chyou juga tersenyum namun tidak aneh seperti Alin.


"A-Apa?" 


Alan tiba-tiba merasa gugup, tubuhnya mulai di penuhi keringat dingin. Ia merasa seperti ingin menjelaskan sesuatu tapi ia sendiri tidak tahu apa yang harus ia jelaskan. Tatapan mata kedua orang tuanya membuat wajahnya memerah, ia memalingkan wajahnya namun sia-sia, Alin sudah melihatnya lebih dulu sebelum pemuda itu sadar.


"Eii lihat pemuda yang suka mengadu ini sepertinya sedang jatuh cinta pandangan pertama."


"Aku? Aku tidak-"


"Mengaku saja, jatuh cinta itu bukan sebuah tindak kejahatan. Hanya saja kau akan terperangkap bersamanya, melewati berbagai musim yang selalu terasa seperti musim semi dengan bunga yang berguguran dengan indah, musik tak akan berhenti jika kau berada di dekatnya, bersulang dan berdansa."


Alin berbicara dengan heboh, ia menarik Chyou dan meletakkan tangannya untuk di tautkan ke leher pemuda itu, berdansa. 


Meski membantah, nyatanya respon tubuhnya tidak bisa di ajak bekerja sama. Semakin ia mengelak, semakin dadanya berdebar. Ketika Alin menirukan adegan tadi bersama Chyou, telinganya semakin merah.


"Sungguh pemandangan yang indah untuk dilihat, begitu lembut dan baik hati. Jutaan bintang bersinar di langit. Malaikat menlonjak menyanyikan lagu-lagu manis di dekatnya. Dunia terlihat lebih lambat saat netra bertabrakan dengan keberadaannya."


"Hei, kau cocok membuat puisi."


Alin bertepuk tangan sesaat setelah Chyou membacakan sebuah puisi, yang di puji hanya bisa menundukkan wajahnya yang memerah karena tersipu malu saat mengingat jika ia mengatakan salah satu puisi yang pernah ia buat untuk gadis di depannya.


"Berhenti, tolong berhenti. Jangan ganggu aku lagi."


Wajah Alan total merah padam, setelah menenggak teh terakhir, ia beranjak menjauh dari kedua orang tuanya. 


"Hei tuan muda, kau harus biarkan takdir bekerja untuk mempertemukanmu dengannya. Atau kau bisa berinisiatif sendiri, jadilah pemberani!" 


"Berisik."


Suara tawa kembali menggelegar, Alin terlihat puas bisa meledek anaknya yang sedang jatuh cinta itu. Chyou disebelahnya masih menunduk malu, memandang tangannya yang masih setia di genggam oleh Alin tanpa dilepaskan sedetikpun sejak mereka keluar dari kamar. 


"Astaga perutku sakit sekali, Chyou ayo kita susul Alan, aku ingin mengambil barang." 


Alin bangkit dari duduknya, ia meminta bos penginapan untung menghitung pesanan meja tadi untuk disatukan dengan dua kamar yang ia pesan, setelah itu ia berjalan ke arah Chyou yang sudah ia pinta untuk menunggu di depan. 


Baru keluar dan berjalan sepuluh langkah, mereka sudah melihat perkelahian satu lawan sepuluh. Mau tidak mau, Alin membalikkan tubuhnya dan mencari jalan lain, namun ia mengurungkan niatnya saat menyadari jika seorang pemuda yang terkepung itu adalah Alan. 


Alin menepuk dahinya dengan pelan, baru berapa menit Alan lepas dari pengawasannya, kini anak itu sudah terkena masalah. Sepertinya anak itu memang magnet bagi semua masalah, ia harus lebih memperhatikan Alan mulai sekarang.


"Butuh bantuan tidak?"


Langkah kaki Chyou dan Alin terpaksa harus berhenti ketika seorang gadis melompat dan mendarat tepat di samping Alan. Alan mengeluarkan sebuah kipas tangan lipat, dengan sekali lemparan, kipas itu kembali ke tangannya dan melumpuhkan sepuluh pemuda yang mengepungnya. 


"Nona manis tidak cocok dengan darah."


Alan membuka kipasnya dan mengipasi wajahnya yang terasa panas, ia baru menyadari jika gadis itu adalah gadis yang ia lihat di kedai penginapan. Dengan terburu-buru, ia menjauh dari gadis itu dan berdiri di samping Alin. Masih dengan senyum manisnya, ia mengucapkan terimakasih pada gadis itu.


Perempatan imajiner terlukis di dahi Alin, ia merebut kipas dari tangan Alan dan memukul kepala anaknya itu dengan penuh cinta hingga bunyi 'buk' terdengar hingga ke tempat gadis itu.


"Beginikah caramu memperlakukan seorang wanita?" 


Alin bertanya dengan tegas, lalu melirik gadis itu. Memberi kode agar Alan mendekat dan meminta maaf juga terimakasihnya atas niat gadis itu yang ingin membantunya. 


Alan lupa jika Alin hanya terlihat tidak beraturan dan tidak memiliki etika, namun gadis itu sebenarnya sangat memikirkan etika dan kesopanan. Dengan berat hati, Alan mendekat ke gadis itu dan melakukan perintah Alin. 


"Tidak masalah, aku hanya ingin membantu." 


Gadis itu tersenyum, Alan membantu karena senyum gadis itu benar-benar mematikan. Bukan racun, tapi senyuman itu membuatnya seketika tidak memiliki kuasa atas tubuhnya. 


Chyou mendekat dan mengucapkan rasa bersalahnya, begitu juga dengan Alin. Alin bahkan tak segan untuk mentraktir gadis itu hingga berakhirlah mereka disini, di sebuah toko manisan dan duduk mengelilingi meja yang sudah penuh dengan berbagai roti, permen dan teh. 


"Ah iya, bukankah kau ingin mengambil barang?"


Chyou seketika teringat dengan tujuan mereka kemari, Alin menganggukkan kepalanya sambil menyuapkan Chyou roti yang baru saja ia beri selai. 


"Woah manis, Lian kau juga harus mencobanya." 


Suara helaan nafas kasar keluar dari bibir Alan yang menyaksikan kegiatan di depannya. Ayolah ia sedang berada di situasi yang canggung bersama gadis di sebelahnya tetapi Alin dan Chyou masih asik dengan dunianya. 


"Oh ya, kau Karin dari Mebel Agni, kan? Nomor seratus dua satu."


Gadis itu, Karin namanya. Alan memandang tidak percaya karena ternyata Alin sudah mengenal gadis itu lebih dahulu, jadi ia dipermainkan eh?


"Seratus dua satu? Bukankah kau mengutus seseorang untuk mengambilnya?" 


Pertanyaan Karin membuat bakpao yang dipegang Alin jatuh ke atas meja, Ia tidak mengutus seorang pun untuk mengambil barang itu, bisa dibilang tidak ada yang mengetahui jika ia memesan barang di toko Agni.


"Sial."


Tanpa basa basi lagi, Alin bergegas pergi keluar dari kedai entah kemana, meninggalkan ketiga orang yang masih memproses apa yang baru saja terjadi. Chyou pertama kali sadar dari rasa terkejutnya dan memanggil pelayan untuk membayar makanan yang ada di meja. 


"Apa barang itu sangat penting untuk Lian?" 


Alan mengangkat bahu tanda tidak tahu, kedua pemuda itu kini menatap Karin yang memainkan teh di cangkirnya. Gadis itu mendongak dan terkekeh, kedua pemuda di depannya ini terlihat seperti anak anjing yang lucu.


"Aku hanya bisa bilang, barang itu sangat penting namun bisa jadi tidak berguna. Terkadang ketidaktahuan adalah sebuah berkah. Sepertinya aku terlalu banyak berbicara, aku akan kembali sekarang."


Setelah membuat banyak pertanyaan bertengger di kepala Chyou dan Alan, Karin pergi dengan dua buah bakpau berisi coklat di kedua tangannya.