
"Aku Carina."
Mendengar ucapan Carina mengenai nama aslinya, mata Alan membinar, senyum kembali mengembang di wajahnya, suasana muram di sekelilingnya berganti menjadi latar pink muda dengan taburan bunga.
"Aku tahu meski terlihat mirip, kau bukan gadis itu."
Alan tertawa penuh kemenangan, gadis cantik yang ramah dan lemah lembut itu tidak mungkin bisa berubah dalam sekejap, kecuali jika gadis itu kerasukan atau memiliki kepribadian ganda! Ia tidak melihat aura yang sama dari gadis di sebelahnya, setelah itu ia mengabaikan Carina yang mukanya sudah hijau, menahan amarah yang bisa membuatnya muntah darah.
Tanpa memperpanjang masalah sepele, Carina mengerutkan dahi dan menatap Alin sebentar. Ia meletakkan kertas yang sudah susah payah ia gambar ke pangkuan Alin dengan semangat, mengabaikan keluhan Alin yang merasa kakinya langsung mati rasa.
Alin dan Alan mulai melihat kertas itu dan mukanya berubah menjadi sangat aneh, siapapun yang melihat isi kertas itu, wajahnya pasti akan berekspresi aneh, gambar itu aneh dan tidak bisa dipahami, sangat aneh.
Melihat reaksi yang ditunjukkan kliennya, Carina tersenyum masam dan bergumam dalam hati, 'aku sudah berusaha, kalau aneh terima saja nasibmu dan bergantung pada imajinasi!'
Carina mengeluarkan beberapa barang dari kantong penyimpanannya, mukanya bertambah asam karena benda itu sama sekali belum kelihatan wujudnya. Setelah mengeluarkan banyak barang, ia akhirnya menaruh kotak kayu berukuran dua inchi di atas meja, lalu mulai memasukkan barang-barangnya ke dalam kantong penyimpanan.
"Setelah barangmu selesai, kami menerima banyak sekali serangan. Paman guru yang membuat barangmu, sudah mati tidak lama setelah barang itu selesai di buat. Semenjak kepergian paman guru, para penyerang itu semakin berani hingga membuat kami terpojokkan dan harus meminta bantuan Shima untuk mengatasinya. Awalnya guru ingin membuang barang tak berguna itu, tapi tidak jadi karena Karin bersikeras menentangnya dan memilih untuk menjaganya. Sebenarnya barang yang di ambil orang aneh itu adalah barang palsu, Jadi sekarang kami berdua harus muncul secara bergantian untuk mengalihkan perhatian dari pengincar barang itu."
"Kalau begitu, kenapa kau tidak bilang daritadi dan membuatku hampir kehilangan, ke... sudahlah."
Alan menatap Alin yang tidak menyelesaikan kalimatnya, gadis itu lebih memilih untuk membuka kotak kayu, tidak menyadari jika Alan sudah kepalang penasaran dengan sisa ucapannya namun langsung terdistraksi melihat kotak itu terbuka.
Ia menjulurkan lehernya seperti kura-kura, ingin melihat benda yang ia yakini itu adalah sebuah senjata yang dahsyat. Namun, setelah melihat benda itu, Alan merengut kesal. Benda itu bahkan tidak lebih mewah dari pada apa yang dimiliki oleh pelayan di pavilliun.
Benda itu adalah sebuah cincin besi perak yang melingkar, benar-benar besi yang melingkar, sangat tipis dan tidak memiliki keunikan, tanpa hiasan dan permata maupun ukiran yang biasa ia lihat pada cincin.
Jika cincin itu terbuat dari batu roh kualitas tertinggi, mungkin akan masuk akal jika banyak orang yang menginginkannya sampai mempertaruhkan nyawa.
"Apa yang spesial dari cincin itu? Bukankah kau bisa membuatnya sendiri? Atau meminta Ares untuk menempanya?"
Alin memandang cincin itu, tatapannya biasa saja, tidak terlihat kecewa atau bahagia, seperti melihat jika benda itu adalah sesuatu yang wajar, tidak berharga dan murah.
Ia mendengus sambil menatap cincin itu.
Hal yang sebenarnya tidak diharapkan, sudah muncul dihadapannya.
"Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?"
"Kau ini kenapa cerewet seperti anak gadis?"
Carina membuka mulutnya, melayangkan jawaban yang membuat Alan naik pitam dengan cepat. Pemuda itu membuang wajahnya, tidak ingin melihat gadis yang ada di sampingnya.
Suasana berubah menjadi hening, Baik Alin dan Alan, masing-masing hanyut dalam pikirannya. Sedangkan Carina, gadis itu dengan asik makan kue kacang dan minum teh, ia melihat Alin dan Alan secara bergantian, seperti wasit yang sedang mengawasi kontes adu diam.
Keadan tetap tertahan seperti itu dalam beberapa waktu, hingga Chyou terbangun dari tidurnya dan memandang mereka dengan tatapan aneh. Ia duduk diatas kasur, dan bertanya, "Oh banyak orang, kenapa tidak membangunkanku?"
Alan dan Carina menatap tidak percaya, cincin yang awalnya hanya sebuah besi perak yang melingkar, kini hilang setelah cincin itu dipakai oleh Chyou. "Apa yang terjadi? Kemana cincin itu menghilang?"
Alin menatap puas, lalu mengambil kismis yang ada di meja.
"Itu buktinya, cincin itu tidak berguna."
Penjelasan singkat yang ia berikan membuat ketiga orang lainnya mengerutkan dahi, Alan terlihat lebih frustasi daripada dua orang lainnya, Alin sering sekali membuat teka-teki yang tidak bisa di olah otak udangnya.
"Cincin itu sangat indah, aku suka."
Entah sejak kapan, Chyou sudah ada di belakangnya, memegang pundak Alin, senyum manis terlukis di wajahnya. Alin diam mematung, setelah beberapa saat ia membalikkan tubuhnya dan membalas dengan senyum yang khusus ia lukis untuk pemuda itu.
"Ya, aku setuju denganmu."
Alan melihat interaksi kedua orang tuanya, senyuman tipis terlukis di wajahnya, namun ia tetap mencibir sambil memakan kue kacang, "nenek tua itu seperti orang cabul, menatap Papa penuh siasat jahat."
"Sebenarnya apa masalahmu, sih? Selalu saja mencibir dan mengeluh, mengomel seperti gadis yang tidak bisa menutup mulut, kau iri atau dengki? Mengingat gadis yang baru kau temui, seperti kau adalah pasangan hidupnya."
Mata Carina melotot mendengar omelan Alin, bibirnya berkedut menahan marah. "Kau bertemu dengan Karin? Jangan sentuh saudaraku atau aku akan membuatmu bertemu dengan Raja Neraka saat itu juga."
Mendengar ancaman dan omelan dari dua gadis, membuat Alan membuka matanya tak percaya, selama ini ia hanya bertengkar dengan Alin, sekarang ditambah satu gadis lain membuatnya diam tak bisa berkutik.
Carina meminum teh yang sudah ia tuang, lalu menyambung kalimat yang membuat Alan kehilangan wajahnya, "aku juga melihatmu tersenyum saat tuan dan nyonya bersama, ternyata kau pemalu, seperti gadis desa."
Emosi Alin yang sudah memuncak tiba-tiba berganti menjadi rasa gemas, raut emosi yang tercetak kini berganti menjadi senyum aneh, membuat Chyou yang berada di sampingnya bertanya-tanya, emosi kedua ibu dan anak itu membuatnya kebingungan setengah mati, tidak bisa di tebak dan berganti dengan ekstrim, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat Alin yang entah sejak kapan berada di dekat Alan, menjahili pemuda itu dengan ucapan-ucapan yang tidak masuk akal, sedangkan Alan sibuk menghindar dari Alin dan mengutuk Carina karena telah membongkar rahasianya.
Alin menaruh tangannya di pundak Alan, memandang wajah Alan dengan wajah yang aneh, Alan yang di perlakukan seperti itu hanya bisa menjauhkan wajah Alin dari wajahnya.
"Papa, jauhkan belatung ini dariku. Tolong."
Dengan pasrah, ia hanya bisa membiarkan gadis itu mencubit pipinya yang sudah memerah sampai gadis itu merasa puas.
Awalnya Chyou sudah berusaha menengahi, namun pada dasarnya Alin memang keras kepala dengan tingkat kejahilan yang tinggi, ia tidak melepaskan Alan sampai Chyou merasa sia-sia menengahi mereka.
"Baiklah, besok kita akan pergi ke Desa Adiwiya. Kasihan sekali iblis kecil kita sudah menahan keinginannya dengan lama."
Mendengar ucapan Alin, Alan menggebrak meja dan protes, "aku tidak kecil? Aku sudah dewasa."
"Seorang anak tetaplah anak, katanya kau ini anakku dan anak Chyou?"
Alin tertawa melihat reaksi Alan, wajah pemuda itu sudah merah padam karena terus menerus digoda oleh Alin. Ia mendekat ke Chyou dan bersembunyi di balik tubuhnya. Alin tertawa dengan kencang, ia memegang perutnya yang mulai terasa sakit.
Anak itu benar-benar menjadi pemalu.