
Hari sudah malam namun Alin dan Chyou belum kembali. Ya, Chyou memutuskan untuk mencari keberadaan Alin yang tiba-tiba pergi setelah mendengar perkataan Karin.
Alan mendengus kesal, ia mengantuk namun tidak ada Alin maupun Chyou, ingin tidur tapi ia merasa khawatir. Sekali lagi, ia menghela nafas kasar.
"Jika kalian belum pulang, aku bersumpah akan mencari kalian dan membuat kalian makan makananku."
"Hentikan kutukanmu, aku dan papamu ini sudah kembali, dasar anak nakal."
Omelan Alin sampai ke telinganya, pemuda itu bangun dari acara 'mari rebahan bersama di kamar Alin' dan duduk dengan tegap di lantai.
Sesuai judulnya, anak itu terlungkup di atas karpet dengan bungkus kacang kenari dan kulit yang sudah ia kupas bersebaran di samping tubuhnya. Sebuah hologram kecil berbentuk batangan berada di hadapannya, mengeluarkan musik yang mereka dengarkan saat bersama Karin.
Sambil membereskan kekacauan yang di buat Alan, Alin bergidik ngeri saat mengingat sumpahan anaknya itu, Alan dan dapur bagaikan air dan minyak yang di tambahkan api, perpaduan yang bisa meledak dengan dahsyat.
Anak itu buta bumbu, tangannya yang lihai menggunakan alat tajam benar-benar bisa membuat meja terbelah menjadi dua saat menggerakkan pisau untuk memotong daun bawang.
Benar-benar tidak jodoh.
Pernah satu waktu ketika Alin sakit demam, Alan menawarkan diri untuk memasakkannya bubur. Saat ke dapur memang tidak ada masalah, namun ketika pemuda itu keluar dari dapur, tiba-tiba saja panci berisi bubur itu meledak.
Alin meneguk ludahnya dengan kasar, beruntung saat itu ia beralasan pergi ke toilet sebelum anak itu menyajikan bubur, dan nyawanya menjadi selamat. Mengingat hal itu, Alin sekali lagi bersyukur pada perutnya yang mulas tiba-tiba.
"Mengapa kalian pergi lama sekali?"
Alan mendongak ke arah Alin dan Chyou yang duduk di pinggiran kasur menghadap dirinya, meminta jawaban. Sebelum menjawab, mereka bertatap satu sama lain membuat pikiran aneh kembali muncul di keningnya.
"Namanya mencari orang asing, sudah pasti lama."
Setelah lama berpikir, Alin akhirnya memberi jawaban asal yang bisa diterima oleh otak kecil Alan. Anak itu tidak akan peduli dengan benar atau salah, selama alasan itu bisa diterima oleh logikanya, maka ia akan menerima jawaban itu. Hal itulah yang membuat Alin selalu gemas dengan Alan dan berakhir sering menipunya.
"Benarkah?"
Namun kali ini berbeda, setelah bertemu dengan Chyou, anak itu akan meminta validasi. Kepercayaan anak itu sudah berlabuh pada ucapan Chyou, bertindak sesuai ucapan Chyou, menjadikan setiap tindakan pemuda itu menjadi arah, tidak lagi asal percaya pada Alin.
Alin merasa jika ia harus segera bersekongkol dengan Chyou.
"Iya tapi kami kehilangan jejaknya dan memilih untuk pulang."
Sebenarnya setelah berpamitan, Chyou mencari Alin di sekitaran desa, lalu memutuskan untuk masuk ke hutan karena mendengar ucapan para penjaga desa yang berbisik tentang gadis yang berlari ke hutan. Chyou pergi memastikan, dan benar saja jika Alin yang sudah lama ia cari kini berdiri di hadapannya. Alin menundukkan kepalanya, wajahnya yang tertutup rambut membuat Chyou tidak bisa melihat kondisinya dari jauh.
Saat mendekat, cipratan darah terlihat mengelilingi gadis itu, kemanapun matanya menatap, Chyou bisa melihat beberapa bagian tubuh, usus yang bergantungan di ranting membuat darah menetes tanpa henti, tiba-tiba ia merasa mual dan ingin mengeluarkan isi perutnya.
Bau amis yang masuk ke dalam indra penciumannya semakin pekat setelah ia melangkahkan kaki agar lebih dekat dengan Alin, sampai akhirnya ia bisa meraih pundak Alin yang lemas dan memeluk gadis itu dengan erat.
Tangannya sibuk menepuk tubuh yang gemetaran itu, dengan lembut ia mengelus punggung Alin, ia berusaha menenangkan Alin yang menatap sangat jauh, wajah gadis itu pucat pasi dengan guratan marah yang tercetak jelas di matanya.
Chyou tertegun, gadisnya terlihat sangat kacau.
Setelah sadar, Alin membalas pelukan Chyou dan tersenyum tipis, ia menepuk pundak Chyou dan berusaha melepaskan pelukann sampai akhirnya kesadarannya direnggut paksa. Dengan cekatan, Chyou mengeratkan pelukannya pada tubuh Alin, ia menggendongnya ke sebuah pondok tua yang berdiri tidak jauh dari posisi mereka.
Ia mendudukkan tubuh Alin di hadapannya, dengan lembut ia menyentuh nadi gadis itu, kekuatannya tersumbat, dan beberapa pembuluh darahnya pecah. Dengan pucat pasi, ia menyatukan tangannya dengan tangan Alin, menyalurkan kekuatannya untuk menenangkan kekuatan Alin yang bergejolak dan menghentikan pendarahan.
Kegiatan itu memakan waktu sedikit lebih lama dari perkiraannya, membuat rasa panik dan takutnya menjadi lebih besar. Ketika ia hampir putus asa, Alin tersadar dari pingsannya, memegang tangan Chyou, mengehentikan kegiatan pemuda itu.
"Aku sudah tidak apa-apa, kita fokus mengisi kekuatan masing-masing lalu kembali. Jika ketahuan Alan, anak itu akan bertindak seakan dunia akan berakhir."
Meski rasa khawatirnya sangat besar, Chyou tetap merasa tidak berdaya untuk menentang keputusan Alin, yang sudah kenal Alan lebih lama darinya.
Setelah dirasa kekuatan mereka sudah pulih, Chyou dan Alin memutuskan untuk kembali. Chyou memeluk pinggang Alin, memapah sebelah tangan gadis itu untuk membantunya berjalan, meski lukanya sudah sembuh, Chyou tetap memaksa untuk membantunya, Alin merasa sayang jika harus menolak kesempatan ini pun menyetujui. Sampai desa, mereka menjauhkan dirinya masing-masing dan bertingkah seperti biasa.
"Oh ya, dimana Karin?"
Pertanyaan mendadak Chyou mengakhiri kilas balik Alin, dan membuat pipi Alan memerah, anak itu memiringkan tubuhnya menghadap buah plum, lalu mengambilnya. Chyou mengerutkan keningnya, meski begitu ia tetap mengelus rambut Alan. Ia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, Alin yang melihatnya merasa kesal dan melempar kacang kenari ke anaknya.
Total masam wajah Alan yang menangkap niat Alin untuk mengusirnya. Ia bangun dari acara rebahan di pangkuan Chyou sambil berdecak kesal, menghentakkan kakinya ketika berjalan keluar sambil menutup pintu dengan kencang. Alin tersenyum miring penuh kemenangan melihatnya, anaknya itu sering sekali memonopoli kekasihnya.
"Chyou, aku sangat lelah. Tolong tepuk kepalaku sampai aku tidur."
Ia menidurkan kepalanya di pangkuan Chyou, sama persis seperti yang dilakukan oleh Alan tadi. Tak mau kalah, ia mengarah tangan Chyou ke atas kepalanya, meminta elusan lembut.
Chyou hanya bisa tersenyum dan melakukan apa yang diminta oleh Alin. Ia menyisir rambut Alin memakai jari-jari tangannya. Alin memejamkan mata, menikmati perlakuan Chyou yang terasa sangat lembut dan nyaman.
Sebuah senyum terbit dari wajah mereka, kegiatan itu terus berlanjut sampai mereka berdua tidur tanpa mengubah posisi.
Hari sudah malam, Alan masih setia mengelilingi desa yang besar itu untuk mencari keberadaan Karin, gadis itu seperti hilang bak ditelan bumi, tidak ada jejak gadis itu di manapun, berbagai tempat sudah ia kunjungi berkali-kali termasuk tempat mereka bertemu, namun hasilnya nihil.
Alan mengusap rambutnya frustasi, matanya sibuk menelisik tempat yang ia kunjungi untuk yang keenam kalinya. Mengabaikan perutnya yang berbunyi, ia menghentakkan kakinya pelan, mengusir rasa pegal yang kini mulai menjalar.
"Tuan, kau kembali lagi? Kekasihmu itu tidak ada disini."
Pelayan berteriak kesal, pasalnya pemuda itu datang tanpa memesan lalu keluar begitu saja, tidak bergerak maupun menjawab pertanyaan mereka. Hanya merusak pemandangan seperti orang gila meski nyatanya pengunjung wanita berteriak histeris saat Alan bergerak.
Setelah yakin jika Karin tidak ada, Alan keluar dari kedai itu, memilih untuk mendudukkan tubuhnya di pinggir jalan seperti pengemis, ia menumpukkan dagunya ke tangan, memandang jalanan yang sepi dengan malas.
"Sistem-"
"Baiklah, baiklah. Kau sudah menemukanku, aku menghargai kegigihanmu untuk mencariku."
Seorang gadis berbaju biru dengan tombak perak dibelakangnya mendekat ke arah Xian, Xian membuang nafas kasar.
'Apa-apaan? Dia bersembunyi? Sialan!'
Umpatan itu hanya bisa ia keluarkan dalam hati, selain mengingat ajaran Alin, tenggorokannya tidak bisa diajak kompromi, untuk bernafas saja ia merasa kering. Alan mengambil minum yang diberikan oleh gadis itu, menenggaknya dengan rakus. Ia menarik kerah gadis itu dan berjalan ke penginapan, mengabaikan protes yang dilayangkan Karin ketika merasa lehernya tercekik.
Di sepanjang jalan itu juga, mereka saling beradu mulut. Karin berusaha melepaskan tarikan Alan di kerahnya dan Alan berusaha untuk tidak menghiraukan rasa sakit yang ia terima berkat cakaran gadis itu.
Ia berpikir keras, tak mungkin ia keliru untuk waktu yang sangat lama. Desa itu memang besar namun tidak sebesar tempat asalnya, bukanlah sebuah masalah besar baginya untuk mencari seseorang dengan kemampuannya tetapi gadis ini bahkan tidak bisa ia rasakan kehadirannya meskipun ia berada di sampingnya, jika saja rasa sakit tidak ia terima, ia pasti beranggapan jika gadis itu berhasil melarikan diri.
Di penginapan, Alin terbangun dari tidurnya sambil tertawa mengingat kebodohannya. Menatap wajah Chyou yang lelap dengan tidurnya, ia berbisik.
"Aku lupa memberinya undangan."
Mebel Agni adalah salah satu tempat pembuatan furniture terbaik di dunia, setidaknya itu yang diketahui oleh orang-orang awam yang tidak berkecimpung di dunia beladiri. Namun, bagi para pejabat surga, iblis neraka dan manusia yang memiliki kekuatan besar seperti pemimpin sekte, murid terbaik ataupun penatua, mereka pasti meminta Mebel Agni untuk memberi informasi banyak hal, seperti senjata yang akhir-akhir ini dijadikan sebagai perbincangan dan bahan perebutan.
Berbagai informasi di dunia selalu diketahui oleh pasukan khusus Mebel, pasukan itu bernama Mata Hantu meski memiliki ikon burung elang sebagi segelnya, Alin sampai sekarang tidak mengerti apa korelasi Mata Hantu dengan burung elang.
Salah satu hal yang membuat Alin enggan menggunakan jasa Mata Hantu adalah sang pemimpin, orang itu memiliki jutaan rencana licik yang bisa membuatnya jatuh ke dalam kesengsaraan seribu musim, meski ia tidak benar-benar jatuh ke dalam kesengsaraan, namun ia selalu merasa seperti itu jika bertemu dengan Shima, sang pemimpin Mata Hantu.
Pekerjaan mereka sangat cepat dan rapi, tidak pernah meninggalkan jejak, seakan-akan terjadi begitu saja tanpa campur tangan pihak ketiga. Pekerjaan yang baik memiliki bayaran yang besar pula, Shima sangat perhitungan, tidak memandang status jika seseorang melanggar perjanjian saat memakai jasanya.
Suara gebrakan pintu diiringi dengan seorang pemuda yang jatuh di hadapannya membuat Alin tersadar dari pikirannya, Xian mendongak sambil mengusap hidungnya yang berdarah, sambil mengutuk dengan pelan, ia duduk bersandar di dekat kaki Chyou, memandang sang pelaku penendangan dengan tajam.
Karin masuk ke dalam kamar sambil merenggangkan tubuhnya lalu mendekat ke arah meja, menuang teh ke gelas dan meminumnya tanpa permisi. "Dia ini iblis atau dewi, perangai dan wajahnya sangat bertolak belakang. Aku tidak mengerti, mengapa wanita yang aku temui sangat kejam dan tidak punya hati." Alin mendengus kesal mendengar ucapan Alan, diam-diam ia menyetujui ucapan anaknya, kemudian menggeleng tidak setuju.
Lagi-lagi, Alan dan Karin beradu mulut, saling melempar umpatan dan kutukan. Alin hanya mendengus kesal melihatnya lalu tersenyum saat melihat wajah Chyou yang tidak terganggu, dengan hati-hati ia memindahkan posisi Chyou, kini pemuda itu tidur dengan nyaman di kasur bagian dalam, sementara ia duduk di pinggir kasur menatap pertengkaran Alan dan Karin yang tak kunjung usai.
"Sudah, sudah. Sekarang masalahnya adalah dimana barangku berada? Kau ingat orang yang mengambilnya?"
Karin bangkit dari posisinya yang menindih Alan, ia melepaskan cekikannya di leher pemuda itu, lalu duduk dengan rapi di hadapan Alin. Sedangkan Alan berusaha mengatur napasnya dan terbatuk, setelah ia rasa bisa bernapas dengan baik, ia ikut duduk di samping Karin, menatap Alin dengan ribuan pertanyaan di benaknya.
"Pertama, aku bukan Karin. Kedua, pemuda itu terlihat mirip denganmu namun dia memakai pakaian aneh, sebuah celana hitam dengan baju bertudung, ia menutupi wajahnya menggunakan cadar, namun bukan cadar. Kau tau? Aku tidak bisa menjelaskannya tapi aku bisa menggambarnya, sebentar."
"Bukan Karin, berarti kau-"