Unblessed Story

Unblessed Story
Serangan Ghoul di Desa Padi



Sebuah portal teleportasi muncul di salah satu gang sempit di Desa Padi, Chyou keluar dari portal itu, di susul oleh Jenar yang mengomeli Xian yang menunduk, kepala pemuda itu sepertinya akan jatuh mencium tanah jika Chyou tidak melerai. Sebenarnya masalah mereka tidaklah besar tapi karena Xian selalu menjawab, jadilah Jenar marah sampai mukanya menghitam.


"Gege aku harus kembali, aku harus membicarakan sesuatu bersama Arius tentang dungeon."


Xian menahan langkah kakinya, menatap Jenar dengan serius, seakan tidak ada yang terjadi. Jenar menghela napasnya saat suara Arius juga masuk ke kepalanya, mengomeli Xian karena ia dibuat menunggu selama 2 jam tanpa kabar.


"Jika butuh bantuan, hubungi aku."


Setelah mengatakan itu, ia berjalan keluar menyusul Chyou yang entah sejak kapan menghilang dari pandangannya. Xian yang melihat itu hanya mendengus kesal, merasa diabaikan karena ia belum sempat menjawab, Jenar sudah menghilang.


Tidak ingin membuang waktu, Xian bergegas kembali ke telaga yang menjadi saksi bisu pertempurannya dengan Cymera. Telaga itu masih mempertahankan ketenangan dan keelokannya, tidak ada jejak darah sisa-sisa pertempuran.


"Arius, apakah kau sudah menemukan Cymera itu?"


Xian menatap Arius yang duduk di sebelahnya, gadis itu terlihat asik menggerakkan tangannya di atas panel transparan miliknya, matanya tidak berhenti memindai, menyerahkan penjagaan wilayah itu pada Xian yang menganggur.


"Sabar."


Gadis itu menjawab dengan nada datar seakan tidak peduli dengan kehadiran pemuda yang sudah berulang kali mengganggunya. Entah itu memainkan rambutnya, menumpukkan dagu ke pundaknya, meniup telinganya hingga ia merasa geli, tidak jarang juga, Xian tiba-tiba melontarkan pertanyaan konyol yang membuat kesabaran Arius habis.


Berulang kali, Arius mendorong tubuh Xian dan kini pemuda itu terjungkal dari atas batu, ia duduk dengan wajah yang memelas di bawah tapi tidak lama setelah itu, ia mengeluarkan apel dari kantong ruang dan memakannya setelah menawarkan pada Arius.


"Cymera itu sekarang berada di lantai Bos dungeon Desa Padi, tapi- Oh tidak, Xian cepat kembali ke desa itu, ajak Jenar dan si manis di tengah hutan, cepat! Ada banyak eksistensi aneh di sana, aku akan mencari tahu hal itu sekarang."


Arius tiba-tiba saja melompat turun, menunjukkan layar hologram yang berisi banyak sekali titik merah yang sudah masuk di Desa Padi.


Tanpa banyak bicara, Xian langsung berdiri dan pergi ke desa padi menggunakan teleportasi. Kehadirannya yang tiba-tiba dari ketiadaan, membuat penduduk desa melihatnya dengan beragam. Ada yang melihatnya dengan pandangan heran, ada yang menatapnya takut sampai-sampai menutup mata anaknya.


"Jenar! Chyou!"


Setelah lama berlari, Xian menemukan kedua pemuda itu di kedai makanan, menyantap bubur sambil berbagi cerita dengan akrab, ia jadi merasa lapar sekarang.


Kata-katanya tersangkut di tenggorokan, ia teringat tentang hal yang diberitahu Arius tadi. Saat kakinya ingin melangkah, suara pecahan terdengar sangat kencang dari samping Xian, penjual gerabah itu terlihat ketakutan hingga tidak sengaja melepaskan gerabah yang ia susun.


Mata penjual gerabah itu melihat gang di samping kiosnya dengan mata melotot, tangannya terangkat dan menunjuk ke dalam gang itu dengan gemetar.


Tanpa bertanya lagi, Xian masuk kedalam gang itu, membuat orang-orang merasa kagum dengan keberaniannya. Belum ada lima menit setelah masuk, Xian berjalan tergesa-gesa ke Jenar dan Chyou yang menunggu tak jauh dari gang, tangannya menggosok sekujur tubuhnya, wajahnya menggelap membuat orang-orang bergidik ngeri.


Xian berbicara pelan dengan suaranya yang terdengar serak, "Siapa yang membawa Ghoul itu kesini? Aku bersumpah akan membuatnya menjadi tongkat manusia."


"Tenangkan dirimu, orang-orang itu menjadi lebih takut padamu, bukan Ghoul itu. Kasih mereka sedikit muka."


Jenar berkata sambil menepuk punggung Xian, mencoba menghibur pemuda itu. Ghoul itu keluar dari gang, membuat lingkaran besar mengelilingi mereka. Warga yang panik berlarian kesana kemari, memukul ghoul itu dengan benda yang ada di sekitar lalu pergi bersembunyi di rumah dan kios-kios, meninggalkan ketiga pemuda itu di sana.


Ghoul itu semakin mendekat ke arah mereka, tidak jarang mereka mengeluarkan suara-suara yang erotis, menyentuh tubuh mereka sendiri, ataupun memakai barang-barang di sekitarnya, memasukkan barang itu ke miliknya sambil berteriak.


Salah satu pemuda yang melihat hal itu, mendekat ke ghoul untuk mencicipi, mereka bergumul dengan sangat panas, membuat orang yang melihatnya merasa ikut terbawa. Namun, tak lama setelah itu, tubuh pemuda itu mengering hingga tersisa tulang dan kulit yang menyatu setelah ia melepaskan nafsunya, lalu berubah menjadi abu. Sedangkan Ghoul itu bertambah besar, memakan ghoul lain satu demi satu dan menjadi kuat.


Warga yang tadinya memuaskan nafsu, langsung berlari tanpa arah seperti lalat yang kehilangan kepala. Yang terlanjur bergumul, hanya bisa merangkak dan meminta tolong.


Ghoul yang paling besar, memerintahkan ghoul lainnya untuk mulai menyerang. Dua puluh ghoul maju secara bersamaan, menyerang kelompok Xian dengan brutal. Jenar segera memanggil pedangnya, ia menebaskan pedangnya setelah kekuatannya berkumpul, mengalahkan sepuluh ghoul dalam satu tebasan.


Chyou melemparkan jimat yang ia bawa, memperkuat laju jimat menggunakan tebasan pedangnya. Serangannya berbeda dengan Jenar, ia menambahkan energi suci setelah itu jiwa Ghoul yang terkena memancarkan cahaya putih, berubah menjadi wanita-wanita cantik yang sopan dan lemah lembut, setelah itu pecah menjadi cahaya-cahaya putih lalu menghilang.


Mereka berusaha agar Ghoul yang menyerang tidak mendekat ke arah penduduk yang bersembunyi di belakang mereka. Waktu terus berjalan, sudah banyak Ghoul yang mereka tebas namun Ghoul itu terus berdatangan seperti banjir, jimat yang Chyou miliki hanya tersisa satu buah, serangan selanjutnya tidak bisa membantu jiwa Ghoul di terima, ia merasa sedikit menyesal untuk mereka.


Darah hitam dan lengket sudah melapisi tanah, tidak sedikit juga darah itu menyiprat ke kios dan barang dagangan. Bau yang menguar membuat mereka merasa mual, apalagi Ghoul-ghoul itu selalu mengeluarkan suara yang erotis, tidak patut untuk di dengar saat mereka menebaskan pedang mereka.


Pada detik berikutnya, Jenar dan Chyou merasa bulu kuduk mereka berdiri, aura yang sangat berat berasal dari belakang mereka membuat mereka mematung sejenak. Ketika mereka berbalik, mereka bisa melihat jika Xian sudah dipenuhi oleh nafsu membunuh.


Saat mendengar suara erotis dari Ghoul, wajah Xian menjadi bertambah gelap. Seketika itu pula, Jenar teringat dengan salah satu hal yang dibenci oleh Xian, ia sekarang berdoa semoga saja adiknya itu tidak lepas kendali.


"Menjijikkan."


Mendengar ucapan itu, Jenar dan Chyou merasa tubuhnya seperti di paku di atas tanah, mereka tidak kuasa menggerakkan tubuh mereka sedikitpun, sementara itu para Ghoul yang sudah maju satu persatu tubuhnya meledak, membuat hujan darah hitam yang lengket.


Untung saja dengan cepat Chyou membuat perisai yang melindungi tubuh mereka dari hujan hingga tidak terkena darah yang sangat banyak itu.


Bau busuk itu tercium lebih pekat, membuat penduduk yang bersembunyi memuntahkan isi perut mereka.


Keadaan menjadi sepi, Xian masih menunduk, menekan rasa amarah yang masih bergejolak di dadanya meskipun ghoul itu sudah habis tak tersisa.


"Xian, ini aku. Maaf, seharusnya aku memeriksa lebih teliti tentang energi yang muncul. Maaf."


Meski mengatakan itu adalah salahnya, Xian tau jika Arius tidak berniat seperti itu. Mereka awalnya ingin mencari Cymera yang muncul lalu hilang seperti hantu, namun sebuah portal terbuka dan mengeluarkan monster yang ditandai sebagai titik merah di Desa Padi, tanpa sengaja Arius membuat keputusan yang tergesa-gesa


"Memang, kau harus meminta maaf padaku."


Suara serak itu terdengar tepat di telinganya, saat Arius sadar, tangan Xian sudah melingkar dengan erat di pinggangnya. Xian menguburkan wajahnya ke pundak Arius, menghirup aroma tubuh gadis itu dengan rakus, mencari ketenangan dan mengikat erat amarahnya agar tidak kembali ke permukaan.


Setelah itu, Xian terus mengomeli Arius hingga gadis itu merasa jika telinganya akan keluar darah jika Xian tidak menghentikan omelannya. Meski begitu, Xian terus memegang tangan Arius dengan erat, mengabaikan Jenar dan Chyou yang berbagi roti kukus sambil menyimak kembali drama di depannya.


"Aku kan, sudah meminta maaf. Berhenti mengoceh karena ghoul itu sudah tidak ada."


Dengan jengkel, Arius menyingkir dari hadapan Xian, membiarkan Xian menatap sekitar yang sudah kosong tidak ada Ghoul yang tersisa. Memang tidak ada Ghoul yang tersisa tapi darah hitam yang lengket serta bau busuk itu mulai masuk ke dunianya.


Xian menutup hidungnya dan mencibir, "Mereka bau sekali, apa tidak pernah mandi?"


"Meskipun mereka mandi, darah mereka ada di dalam tubuh. Sudahlah, aku lebih baik kembali daripada menjadi nenek tua karena menanggapimu."


Jika tadi ia berusaha mendekati Xian, kini ia harus berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Xian, genggaman itu semakin mengerat membuat Arius merasa sakit pada pergelangan tangannya.


Dengan tidak tahu diri, Xian mengencangkan genggamannya, "Tidak, kau harus menemaniku sebagai hukumannya."


Arius menghela nafas kasar, merasa lelah dengan tingkah Xian. "Kaisar menungguku."


"Kau ini milikku atau ayah? Kenapa tidak pernah menurut padaku?" Keluh Xian yang tidak rela melepaskan genggaman Arius.


"Milikmu apanya? Aku ini milik diriku sendiri." Omel Arius sambil mengibaskan lengannya dengan kasar, lalu menghilang di detik berikutnya diiringi dengan suara tawa Xian yang melihat wajah memerah temannya itu.


"Jika sudah selesai, kau makan dulu. Habis ini kita akan melanjutkan perjalanan ke dungeon."


Jenar mendekatkan satu mangkok bubur dan memberi tempat duduk untuk adiknya. Xian tentu dengan senang hati mengikuti perintah sang kakak karena ia mulai merasa sangat lapar.


"Tadi, apakah kau mendapat informasi?"


Chyou bertanya setelah Xian menyelesaikan makanannya. Pemuda itu meneguk minumannya dengan cepat dan mulai bercerita.


"Tentu saja ada. Pertama, dungeon yang tiba-tiba muncul itu sepertinya berhubungan dengan kelahiran sang raja iblis. Monster di dungeon itu terbilang sulit untuk ditaklukkan oleh para kultivator jika kultivator itu tidak memiliki salah satu kekuatan murni dan suci karena itulah para kultivator yang tidak berhasil menantang dungeon melarikan diri, mereka hanya meninggalkan penahan yang bisa di hancurkan oleh para monster. Namun yang aneh, para monster itu tidak pernah melarikan diri meskipun mereka memiliki kesempatan besar."


"Terkadang tempat paling bahaya adalah tempat paling aman, lanjutkan."


"Bos dungeon itu adalah Cymera yang aku lawan semalam. Cymera itu adalah bukan Cymera murni, seseorang melakukan eksperimen untuk menyatukan beberapa hewan ke tubuh singa. Namun, karena eksperimen itu gagal. Singa itu mati dengan menyimpan dendam yang besar hingga sampai sekarang ia menjadi monster."


"Sungguh jahat, mengapa ada yang melakukan hal itu."


Chyou mengepalkan tangannya menahan rasa amarah dan iba yang memuncak.


"Jika ingin membantunya, kau harus membunuhnya."


Jenar berkata serius, jika mereka mengobatinya hal itu sangatlah mustahil karena yang mereka lawan nanti adalah roh jahatnya, bukan bentuk fisik.


Jika mereka hanya mengurungnya, Cymera itu bisa saja melepaskan diri. Akan lebih parah jika ada orang yang ingin merebut Cymera itu dari mereka untuk melakukan perbuatan keji.


"Kalau begitu, kita bisa memulai perjalanannya sekarang."


"Tidak mau, aku ingin bersama Arius saja."


Xian menjatuhkan tubuhnya ke atas meja, melemaskan tubuhnya. Perkataannya hanyalah alasan, ia merasa jika akan ada kejadian buruk jika mereka pergi ke dungeon.


"Hentikan rengekanmu. Kita harus segera menyelesaikan tugas kita."


Jenar menjewer telinga Xian, suara rengekan itu kini berubah menjadi suara ringisan, Chyou yang sedari tadi terdiam tanpa sadar mulai tertawa melihat interaksi kedua saudara itu.


Baik Jenar maupun Xian menatap Chyou yang tertawa dengan tatapan yang sulit diartikan, keduanya tersenyum secara bersamaan membuat Chyou menyadari tingkah yang baru saja ia tunjukkan. Dengan malu-malu Chyou membalas senyuman kedua saudara itu dengan senyum terbaiknya.


"Ada apa?"


Chyou menggaruk tengkuknya dengan canggung, sementara itu Jenar dan Xian kembali bertingkah normal seakan tidak ada sesuatu yang terjadi sebelumnya.


"Tidak, ayo ke dungeon sekarang agar cepat selesai."


Xian berjalan mendahului Chyou dan Jenar meski sekali-kali pemuda itu menjengit jijik saat ia tak sengaja menginjak darah ghoul yang baru saja ia kalahkan.


Mereka berjalan begitu saja, tanpa menyadari jika ada seorang pemuda yang melihat semua itu di balik meja paling pojok, tidak bergerak sedikitpun dan tidak melepaskan pandangannya dari mereka.


Tangannya mengepal kencang di atas meja saat mendengar mereka tertawa dan berbincang dengan bahagia.