Unblessed Story

Unblessed Story
Akhir Misi



Kini mereka sudah sampai ke istana, sebelumnya Helen mengantarkan kedua juniornya ke istananya terlebih dahulu, setelah itu pergi ke surga bersama Xian yang masih tidak sadarkan diri.


Jenar, Arius, dan Juan kini sudah berkumpul di kamarnya, sedangkan Chyou sedang meracik beberapa ramuan yang ia ketahui untuk memulihkan kekuatan pemuda itu saat ia sadar nanti.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Xian."


Helen bertanya tanpa ada yang menjawab pertanyannya, dengan penuh rasa bersalah ia menggenggam tangan Xian dengan erat, seakan takut kehilangan sepupunya yang jahil itu.


"Bisa kau jelaskan apa yang terjadi setelah Xian mengirimku dan Chyou kemari bukan ke dungeon? Mengapa kalian meminta Arius untuk tidak menyusul kalian?"


"Aku tidak tahu tentang hal itu."


Helen menceritakan kejadian saat mereka berpisah tanpa ada yang terlewati. Setelah menerima perintah Xian, ia bergegas pergi ke salah satu gua yang dicurigai jika kedua juniornya berada di sana. Saat diperjalanan, sebuah kartu bermata satu jatuh tepat di atas kepalanya.


Ia mencari orang yang melemparkan kartu itu, namun tidak menemukan adanya makhluk lain selain dirinya. Meski sedikit takut, ia melanjutkan perjalanannya ke dalam gua tersebut. Mulut gua itu lebar, namun semakin ia masuk ke dalam, badan gua itu semakin sempit.


Dinding gua yang berlendir dan pijakan yang licin membuatnya beberapa kali jatuh terperosok hingga terbentur batu-batu tajam. Meski pakaiannya terbuat dari logam lunak yang mampu membelah batu, tapi batu-batu itu runcing dan tajam, membelah helaian benang dan menusuk kulitnya, membuat tubuhnya cukup untuk bermandikan darah meski tidak terlalu parah.


Setelah ia masuk cukup dalam, ia menemukan kedua juniornya yang terluka parah itu terbaring di atas tanah, genangan darah tercipta di bawah tubuh kedua juniornya, memantulkan langit-langit gua. Ia pun segera menyembuhkan juniornya dan menunggu selama beberapa waktu hingga keduanya tersadar.


Setelah itu, ia dan kedua juniornya segera pergi ke pasar hantu untuk bertemu dengan Xian, namun bisikan dari para hantu itu membuat ketiganya terkejut dan bertindak dengan gegabah.


Berita itu tentang seorang pemuda yang dibawa oleh penguasa mereka, pemuda itu berambut hitam dengan aura dewa yang tercampur dengan aura iblis.


Tanpa pikir panjang, Helen dan kedua juniornya menyelinap masuk ke dalam kediaman penguasa iblis tersebut dan menemukan Xian yang sedang makan dan minum teh dengan nyaman.


Tidak lupa juga ia menceritakan tentang hal aneh yang dilakukan Xian saat melihat penguasa itu di dalam kediamannya yang terbakar.


Setelah mendengar cerita itu, Jenar dan Juan merasa tertegun dan tidak bisa menyembunyikan raut kekhawatirannya pada pemuda itu. Juan segera memerintahkan Arius untuk mencari kediaman penguasa iblis itu dibantu oleh Helen.


"Ayah, tidak kah ini sedikit berbahaya?"


Jenar memecah keheningan setelah kamar itu hanya tersisa dirinya dan Juan, juga Xian yang tidak sadarkan diri. Jenar duduk di sisi ranjang dan mengelus rambut Xian dengan penuh kasih sayang, matanya menatap adiknya dengan sendu.


"Aku tidak ingin kehilangan lagi." Lanjutnya.


"Ayah akan melindungi Xian, juga melindungi mu. Kita harus meminimalisir peluang bertemunya Xian dengan penguasa itu, kita bisa mengatakan jika penguasa itu hanyalah mimpinya semata, tutupi semua ini darinya. Aku akan mengurus sisanya."


Setelah mengatakan itu, Juan menepuk kepala Jenar guna menenangkannya, lalu pergi dari kamar itu setelah Chyou datang dengan nampan yang berisi beberapa ramuan obat yang ia buat.


Chyou menaruh nampan itu di meja, menyiapkan beberapa obat yang akan ia beri ke Xian nanti.


"Xian pasti akan sembuh."


Ia memegang sebelah tangan Xian yang kosong, menyalurkan kekuatannya, terlihat tipis namun padat dan juga hangat. Kekuatan yang selama ini ia asah agar ia dapat mengobati orang yang terluka entah itu fisik, jiwa, ataupun kekuatannya.


Awalnya ia tidak ingin mengeluarkan kekuatannya di depan orang, namun sekarang adalah waktu yang tepat, selain itu ia juga merasa sedikit mengkhawatirkan keadaan pemuda yang sudah datang ke hari-harinya yang sepi ini.


Jari-jari tangan Xian bergerak, setelah itu mata yang terpejam itu mulai terbuka perlahan, membuat kedua orang pemuda di sampingnya tersenyum bahagia, bahkan kini Jenar sudah memeluk tubuh adiknya dengan senang.


"Minum ini pelan-pelan."


Chyou menawarkan obat yang sudah ia buat, Xian menerima gelas itu dengan senyum yang tergambar di wajahnya, Jenar dan Chyou yang melihat itu merasa kebahagiannya bertambah, dengan tidak sabar Jenar menghubungi Juan menggunakan telepati.


Dalam sekejap, kamar yang luas itu dipenuhi oleh lima orang lainnya yang kini bersorak bahagia, Juan terlihat lebih heboh dari anak-anak yang lebih muda membuat mereka merasa heran dengan sikap kaisar utama tersebut.


"Haruskah ayah mengadakan pesta karena kau sudah sadar? Atau aku harus mengadakan festival? Tidak-tidak itu masih kurang, baiklah aku akan menga-"


"Ayah, kau sangat ribut."


Protes Jenar dan Xian secara bersamaan, membuat Juan yang awalnya dipenuhi bunga kini memukul-mukul dinding, pukulannya pun terlihat sangat lemah, membuat perapatan imajiner di dahi Helen kembali tercipta.


"Paman, kau sudah tua, jangan bersikap seperti anak kecil."


Helen menepuk pundak Juan, meski kesal namun ia sedikit kasihan melihat pamannya dan berniat menghibur, namun hiburan itu membuat semua orang di kamar tertawa dan mengolok-olok Juan.


"Eh, kalian sangat kejam."


Juan mengatakan itu sambil tertawa, membuat semua orang di sana kembali tertawa dengan. Dalam sekejap drama itu berhenti dan kini kamar Xian menjadi seperti taman kanak-kanak karena dipenuhi oleh suara Juan yang membacakan dongeng untuk Xian.


Untuk merawat Xian, Chyou dan Arius harus menginap dan menemani Xian di kamarnya. Mereka menginap karena Xian yang demam itu sangat manja dan menempel pada mereka. Tidak ingin di tinggal dan ingin di temani.


Jenar dan Juan juga tidak keberatan karena mereka sadar dengan tugas mereka yang kini menumpuk di ruangannya, mereka bertekad untuk menyelesaikannya secepat mungkin agar besok mereka dapat menemani Xian.


Kembali ke dalam kamar Xian, kini Arius sedang berada di pelukan Xian, keduanya sudah tertidur pulas setelah mendengarkan dongeng yang dibacakan Chyou atas permintaan Xian.


"Lalu akhirnya, putra mahkota merasakan hidup yang bahagia meskipun orang tercintanya... sudah menunggunya di nirwana abadi."


Chyou menyelesaikan dongeng yang ia buat dengan tiba-tiba itu, ketika melihat kedua dewa yang lebih tua darinya sudah tertidur, ia merapihkan selimut keduanya dan mematikan lampu, membiarkan lampu tidur tetap menyala.


Dengan hati-hati ia membereskan mainan yang tersebar di kamar karena ulah Xian dan Arius. Setelah ia rasa kamar tersebut sudah rapi, Chyou mendudukkan tubuhnya yang lelah ke atas sofa, mengeluarkan hiasan rambut yang selama ini tidak pernah jauh dari dirinya. Tangannya yang ramping mengelus hiasan rambut itu dengan lembut.


Hiasan itu tidak berubah, bercak darah masih ada di hiasan rambut itu. Dari ujung hingga rumbai-rumbai hiasan rambut tersebut, ia sudah hapal dengan bentuknya di luar kepala karena ia selalu menatap hiasan rambut itu setiap waktu. Saat ingin tidur, saat bangun tidur, maupun saat berlatih, berharap jika sang pemilik segera kembali padanya.


"Sebenarnya dimana kau sekarang? Aku merindukanmu."


Kata-kata itu bagai sebuah doa yang selalu ia panjatkan di pagi, siang, petang dan malam. Tidak kenal selelah apa dirinya, selelah apa batinnya, ia selalu memikirkan tentang nona-nya.


Semakin ia ingin melupakan walau sekejap, semakin susah juga ia melupakannya. Seakan ia hanya di ciptakan untuk jatuh ke dalam pesona nona-nya.


Mata Chyou mulai memberat lalu terpejam dengan air mata yang mengalir keluar dari dalam matanya, tanpa menyadari kehadiran seorang pemuda dibalik pintu yang berniat untuk melihat kondisi adiknya.


Siapa sangka jika ia melihat Chyou tertidur di sofa dengan bekas air mata yang mengalir di wajahnya, dengan hati-hati ia memindahkan Chyou ke dalam kamar tamu yang tersisa, menyelimuti tubuh Chyou dengan selimut lalu mematikan lampu agar tidur Chyou menjadi nyenyak.


"Mereka semua sudah tidur?"


Tanya Juan yang tiba-tiba saja muncul di samping tubuh Jenar, ia baru saja menutup kamar Chyou, namun ayahnya itu sudah berada di sampingnya.


"Sudah ayah, kau tidak tidur? Tidak baik tidur terlalu larut bagi orang tua sepertimu." Ucap Jenar yang hanya di jawab dengan kekehan oleh Juan.


"Ayah masih ada urusan, sebaiknya kau juga tidur dan mengisi energi untuk besok. Adikmu sedang sakit dan ia pasti akan bertingkah seperti anak kecil."


Malam sudah sangat larut, langit biru tua tanpa di temani bulan dan bintang membuat bulu kuduk siapa saja akan berdiri, terlebih angin berhembus lumayan kencang malam ini, mengusik pemuda manis yang terlelap di balik selimut.


Chyou terbangun dari tidurnya karena tubuhnya sedikit menggigil.


Ini aneh. Chyou ingat sekali saat tidur ia tidak mematikan lampu, namun sekarang seluruh lampu di ruangannya padam menjadikan ruangan yang ia gunakan menjadi gelap gulita.


Sedikit menyingkirkan rasa takutnya, Chyou keluar dari kamarnya menuju kamar Xian yang berada tidak jauh dari kamarnya. Penjaga yang biasanya berjaga di tiap-tiap pintu entah kenapa tidak terlihat satu pun.


"Ah mungkin saja mereka sedang tidur."


Ya, itulah yang ia percayai—lebih tepatnya ia ucapkan berulang kali untuk menguatkan hatinya jika semua baik-baik saja. Semakin ia mendekat ke kamar Xian, semakin berat tubuhnya hingga ia merasa sangat terintimidasi.


Tepat selangkah sebelum ia membuka pintu, pintu kamar itu terbuka dengan kasar hingga terdengar suara brak yang sangat kencang. Angin berhembus kencang membuat rambut dan pakaiannya melambai.


Di sana, di dalam kamar itu sosok yang ia kenal sedang berdiri di jendela, memandang bulan dengan kepala yang di naikkan dengan angkuh. Pakaian putih biru yang biasa di pakainya berubah menjadi semerah darah.


"Lian...."


Dengan sedikit tergesa, Chyou mendekati Alin dan menarik ujung pakaiannya. Konsentrasi Alin seketika terpecah, dan menatap Chyou dengan tatapan membunuh saat merasakan jika pakaiannya sedikit tertarik.


"Kau! Siapa kau? Kau salah satu anggota pengadilan?"


Tanyanya dengan nada yang selama ini tidak pernah Chyou dengar, Atmosfir di ruangan itu semakin memberat penuh sesak niat membunuh yang kejam.


Bruk


Kaki yang selama ini dengan susah payah ia tahan, kini melemas hingga ia jatuh berlutut di hadapan Alin. Chyou memandang lantai tidak percaya, sebenarnya apa yang terjadi? Alin tidak mengenalnya?


"Lian.. Ini aku"


Chyou memberanikan diri untuk melihat Alin. Tatapan tajam itu tidak menghilang namun aura membunuhnya semakin kuat.


Chyou merasa sangat sakit hatinya saat nona-nya yang sangat menyayanginya kini terlihat sangat membencinya, ia tidak bisa jika harus dibenci oleh nona-nya. Tangisnya pecah seiring dengan udara yang semakin menipis membuat ia kehilangan kesadarannya dan terbangun dari tidurnya.


Mimpi itu terasa sangat nyata, membuat ia lagi-lagi menangis saat mengingat jika Alin membencinya di mimpi, membuat ia memikirkan apa yang sudah ia lakukan hingga Alin membencinya.