Unblessed Story

Unblessed Story
Alan



Bau aroma makanan tercium saat Chyou menginjakkan kakinya di anak tangga, membuat ia mempercepat langkah kakinya hingga setengah berlari, membuat anak kecil yang tengah bermain di ruang tengah berteriak memintanya berhenti.


Chyou menampar pipinya dan mengaduh sakit saat melihat Alin dengan celemek yang menempel di tubuhnya, ia meraba wajah Alin dengan mata berkaca-kaca.


"Bukan mimpi, ini nyata." 


Seolah tau apa yang ada dipikiran pemuda itu, Alin menggenggam tangan Chou, mengelus punggung tangannya menggunakan ibu jari. Alin menepuk puncak kepala Chyou dengan lembut saat pemuda itu menjatuhkan diri ke pelukannya. Dengan canggung, ia membalas pelukan Chyou dan berkata, "aku kembali, Chyou."


"Kau.. Benar-benar sudah kembali." Chyou mengeratkan pelukannya. "Kau tidak membenciku? Aku minta maaf jika aku selalu menyusahkanmu tapi jangan membenciku, Jangan benci aku, Lian. Aku mohon." Racau Chyou.


"Chyou, hei dengar. Aku tidak pernah membencimu, tidak pernah terlintas dipikiranku untuk membencimu walau hanya sedikit, tidak pernah dan tidak akan." Lian merasa jika Chyou mengalami hari yang buruk selama ia tidak ada.


"Tapi kemarin kau membenciku, kau menatapku seakan kau tidak mengenalku. Jangan benci aku." Ucap Chyou lagi.


"Kita baru bertemu kemarin. Mungkin kau hanya bermimpi, lupakan saja, ya? Sudah jangan menangis, nanti kau demam. Kita makan saja, kau mau? Tenang saja aku yang memasak meski kemampuanku memasak semakin memburuk, tapi rasanya tidak seburuk itu."


Alin berjalan terlebih dahulu, diikuti Chyou yang menggandengan tangan Alan di sebelahnya, 


"Sudah lama sekali aku tidak memakan masakanmu." Ucap Chyou, "Dan rasanya masih sangat enak, Lian terimakasih sudah kembali." lanjutnya dengan wajah yang memerah malu.


"Tentu saja aku akan kembali, sejauh apapun aku pergi, aku akan kembali."


Entah apa yang dipikirkan Alin saat mengatakannya, ia memandang terlalu jauh.


Alan menyuapi Chyou makanan yang ia sukai, menghiraukan Alin yang masih dia termangu dan Chyou yang menatapnya dengan ragu.


"Hei, kenapa kau sok dekat dengan Chyou?" 


Protes Alin yang langsung memisahkan Chyou dengan Alan, beruntung makanan itu sudah masuk ke mulut Chyou, jika tidak makanan itu akan jatuh dan mengotori pakaiannya.


"Apaan, dia Papaku! Artinya dia milikku juga!" 


Alan membantah tidak terima jika ia tidak boleh dekat dengan Chyou. Hei, Chyou itu papanya, tidak ada sejarahnya jika anak dan papa tidak akur!


"Kata siapa? Chyou bahkan tidak bilang setuju atas pernyataan sepihakmu itu." 


Alin berucap dengan angkuh seakan pernyataannya itu sudah disetujui oleh Chyou. Ketika kedua ibu-anak itu bertengkar, Chyou hanya tersenyum sambil memakan sup iga yang ada dihadapannya, ia juga menambahkan beberapa daging ke masing-masing mangkuk milik Alin dan Alan.


"Hahaha kalian sangat akrab, mari kita makan, jangan bertengkar lagi." 


Chyou berusaha melerai pertengkaran mereka, ia sudah biasa menengahi pertengkaran akhir-akhir ini, jadi ia tetap tenang. Alin dan Alan membelalakkan matanya ketika melihat jika daging di mangkuk mereka lebih banyak daripada mangkuk Chyou.


"Pembagian macam apa ini, Papa kau harus makan yang banyak, kau harus makan ini, ini dan itu, lalu coba ini rasanya sangat enak, salah satu makanan kesukaanku. Kuah ini juga segar, papa cobalah, ayo aaa." 


Alan sibuk sendiri menambahkan banyak makanan ke mangkuk Chyou, ia bahkan menyuapkan beberapa makanan yang ia suka ke Chyou dan meminta tanggapan dari pemuda itu, mengundang senyuman di bibir Alin yang tidak disadari.


"Sudah, ayo makan sendiri." 


Ucapan Alin menghentikan Alan yang terus menyuapkan makanan ke Chyou dan saat ada kesempatan, ia akan mencuri suapan yang Alan siapkan untuk Chyou, membuat anak kecil itu merasa kesal. Meski begitu, ia juga memindahkan daging dimangkuknya ke mangkuk Alan dan menambahkan lauk ke mangkuk anaknya itu tanpa sadar.


"Kenapa jadi suap-suapan, aku mau makan sendiri." 


Alan pertama kali sadar dengan cara makan mereka yang terlihat sangat aneh, ia disuapi oleh Chyou dan tangannya menyuapi Alin, sedangkan Alin menyuapi Chyou. Ketiganya pun tertawa setelah menyadari apa yang telah mereka lakukan.


Setelah selesai makan mereka berpindah ke teras untuk melihat bulan, Chyou duduk menemani Alan bermain, Alin memilih untuk merebahkan dirinya di teras dan menggunakan pangkuan Chyou sebagai bantal. Terkadang Alin mengusik Alan hingga sekali dua kali terdengar suara pekikan kesal.


Bulan malam ini bersinar dengan terang, bintang-bintang juga bertaburan di langit menambah kesan indah. Jika melihatnya dari bawah sini, Alin merasa jika dirinya sangat kecil tak ternilai. Namun semua pikirannya itu terhenti saat ia melihat Chyou yang tertawa bersama Alan, ia merasa jika ia bisa menguasai alam semesta ini dan memberikannya kepada mereka.


"Alan, aku mau bertanya tapi-Tapi jika tidak ingin menjawab, tidak apa-apa." ucap Chyou dengan ragu. Lain halnya dengan Alan yang menatap Chyou dengan berbinar, merasa senang karena Chyou mau bertanya kepadanya.


"Aku akan menjawab, Aku akan menjawabnya! Papa, tanyakan saja padaku, jangan ragu." 


Berbeda dengan pemikiran Chyou, Alan malah bersemangat untuk mendengar pertanyaannya, anak kecil itu bahkan mendekatkan dirinya lebih dekat ke arah Chyou hingga membuat Alin harus menghentikan gerakannya, karena jika tidak, bisa saja pipi Chyou terkena bibirnya.


"Hei jauh-jauh!" Usir Alin.


"Eum.. Kenapa saat itu kau menyerang? Maksudku saat aku membantu Helen untuk menemukan kedua juniornya." Tanya Chyou.


"Ehh.. itu, aku.... sebenarnya aku tidak sengaja, ya benar tidak sengaja. Aku marah kepada nenek tua itu karena dia mengambil pedangku, eh tidak, tidak aku, itu." 


Alan menjawab dengan tidak jelas, anak itu menatap Lian dengan tatapan 'tolong bantu aku.' namun hanya dihiraukan Alin dengan tatapan 'rasakan itu.'


"Bagaimana?" 


Chyou tidak mengerti yang diucapkan Alan. Alin mencubit pipi Chyou dengan gemas dan mulai bercerita.


Pagi harinya sebelum bertemu dengan kelompok Chyou, mereka sempat bertengkar karena Alan membuat pekerjaan Yee gagal, Alan memaksa pergi ke sarang Caering yang akan dibasmi oleh Yee. Baik Alin maupun Alan saling berteriak dan memaki, tidak jarang juga keduanya beradu kekuatan yang pastinya tidak diceritakan ke Chyou.


Setelah lama saling berteriak, Alin menyuruh Ares untuk mengurung Alan di kamarnya dan menahan pedang hitam miliknya selama seminggu. Alan merasa tidak terima dengan keputusan Alin pun akhirnya melarikan diri dari kamarnya dan pergi ke sarang Caering lagi, meminta Yee membujuk Ares untuk mengembalikan pedangnya.


Namun sebelum bertemu Yee, Alan tersesat di sarang tersebut sendirian dengan tangan kosong. Hal itu baru diketahui saat Ares menyadari jika Alan tidak ada di kamarnya. Karena takut melapor pada Alin, Ares memutuskan untuk meminta bantuan ke Yee untuk mencari Alan.


Dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menemukan Alan yang sudah terkepung Caering dan terkena bisa sangat banyak, beruntung Yee dan Ares datang tepat waktu hingga mereka bisa menyelamatkan Alan. Setelah lolos dari kepungan Caering, Alan melarikan diri bersama pedangnya yang berhasil ia rebut dari Ares.


"Hanya aku yang boleh mengambil barang Mama dan merusaknya."


Alan dengan marah menyerang Chyou yang selalu membawa hiasan rambut Alin karena selalu merindukannya. Namun, serangannya dihentikan oleh seseorang dan membuatnya merasa berkali-kali lipat merasa marah.


"Dan sampai sekarang, anak nakal itu tidak mau meminum obat." Sindir Alin.


"Maaf, aku tidak tahu jika itu papa." Sesal Alan sambil menggenggam tangan Chyou dengan lembut.


"Tidak apa-apa, tapi sekarang kau minum obat. Tubuhmu pasti sangat sakit, mengapa tidak mau minum obat? Akan aku buatkan, aku hilangkan rasa pahitnya." 


Kejadian itu sudah beberapa hari yang lalu dan anak kecil ini belum meminum obat, Chyou tidak tahu sekuat apa tubuh anaknya itu. Setahunya, jika tidak segera diobatkan racun itu akan menghancurkanmu dari dalam.


"Tidak, biarkan saja." Ucap Alan, anak itu masih merasa bersalah karena sudah menyebabkan banyak masalah.


"Ya, biarkan saja. Nanti nyawamu merenggang dan hanya aku yang bisa mendapat pelukan Chyou." Sindir Alin yang sebenarnya merasa khawatir.


"Tidak apa-apa."


Alan menundukkan kepalanya, merasa takut melihat kedua orang yang sudah ia anggap seperti orang tua. Tanpa ia sadari jika Chyou kini memeluknya.


"Tidak boleh, kau juga milikku jadi jangan pergi. Lian, bujuk Alan untuk meminum obatnya...." Pinta Chyou pada Alin, pemuda itu menarik Alan dan memeluknya dengan erat, takut jika anak dipelukannya pergi menghilang.


Alin hanya menggaruk tengkuk lehernya tidak gatal, jujur saja jika ia tidak pernah sekalipun bersikap lembut pada Alan. Keduanya bagai langit dan bumi, tidak pernah akur karena sama-sama memiliki ego yang tinggi. Terlebih jika harus bersikap lembut.


"Haish kau menempatkanku di posisi yang sulit." Bisik Alin entah untuk siapa. "Aku akan membuat ramuannya jadi kau harus menghargai itu, jika tidak aku akan membuatmu menjadi pakan babi." Ucap Alin dengan kejam dan berlalu masuk ke dalam rumah, tak menghiraukan teguran sang kekasih.


"Lian, aku memintamu untuk membujuk, bukan mengancam." Tegur Chyou. "Setelah ini kau harus minum obat." Bujuk Chyou sambil menggendong Alan meski anak itu meminta untuk diturunkan, merasa sudah dewasa.


Malam yang indah itu harus berakhir dengan teriakan Alan setelah meminum ramuan yang diberikan Alin. Kedua tangan dan kaki anak itu diikat diujung ranjang hingga membentuk tanda kali.


Mata binar polos itu berubah menjadi putih dengan aura hitam keunguan yang keluar dari tubuhnya, membuat siapa saja yang tidak tahu akan merasa takut dan menyebarkan rumor jika ia adalah monster.


Sebenarnya hal itu tidak akan seburuk ini jika Alan tidak mengacuhkan racun yang bersarang di tubuhnya selama dua hari, namun ia harus merasakan kesakitan berkali-kali lipat karena racun itu enggan keluar dari tubuhnya.


Alan menahan teriakannya dikala ia melihat Chyou yang menangis ingin mendekat tapi tertahan di pelukan Alin, namun rasa sakitnya terasa berkali lipat saat ia menahan teriakannya hingga ia merasa seperti akan mati.


"Lian, lepaskan! Aku mau menemani Alan!" 


Entah Chyou harus berontak seperti apa lagi, namun pelukan Alin ditubuhnya tidak melonggar sama sekali, pelukan itu semakin erat hingga Chyou merasa kalah dan terjatuh karena kehabisan tenaga di pelukan Alin.


Setelah lama, akhirnya racun itu sepenuhnya keluar dari tubuh Alan. Anak itu terbangun dan meminta Yee yang ada di dekatnya untuk melepaskan tali yang mengikatnya. Alin masih duduk di depan pintu dengan Chyou yang tertidur dipangkuannya.


"Sudah merasa mendingan?" Tanya Alin saat pemuda itu duduk dihadapannya, mengusap air mata yang masih membekas di pipi sang papa.


Pemuda? Ya, pemuda. Kini Alan bukanlah anak-anak. Ia bertambah tinggi hampir menyaingi kedua orang tuanya, pipinya yang chubby kini menirus dengan bentuk rahang yang tegas. Hidungnya memancung dan tatapan matanya menjadi lebih tajam, sangat mirip dengan Lian.


"Ya." 


Suara cemprengnya juga berubah menjadi berat, jakun yang awalnya tidak ada kini menonjol. Beruntung, ia selalu memakai pakaian yang bisa berubah sesuai ukuran penggunanya, jadi ia tidak bertelanjang.


"Bagus, sekarang jalankan hukumanmu. Berantas semua Ghoul air dan Caering di hutan ini, waktumu hanya sampai Chyou bangun." Ujar Alin dengan nada datar, membuat Alan merasa sedikit lega karena Alin masih mau memberinya hukuman yang artinya ia masih diberi kesempatan untuk berubah.


"Aku akan menyelesaikannya sebelum papa bangun." 


Alan berlari keluar rumah dengan semangat tanpa membawa senjata. Alin menghembuskan napasnya kesal dan memerintahkan Yee dan Ares untuk membantu Alan.


"Astaga, anakmu itu sangat ceroboh, apa dia bisa menghabiskan seluruh Ghoul dan Caering tanpa senjata? Ya meski hal itu tidak mustahil, sih." Ucapnya pada Chyou yang kini mulai mendusalkan wajahnya perut Alin. "Kau sangat lucu." Pekiknya lagi sambil membawa Chyou ke kamar, setelah yakin jika pemuda itu tidur dengan nyaman, Alin berjalan ke kamarnya untuk tidur.


Matahari kini sudah bersinar terang, menyapa wajah lembut seorang pemuda yang sedang fokus berkultivasi di tengah teras, tidak sepenuhnya fokus karena pemuda itu sejujurnya sedang tidur dengan pulas setelah semalaman membasmi Ghoul dan Caering di sekitar rumah.


"Alan, cepat masuk dan makan." 


Teriakan Alin berhasil membangunkan Alan dari tidurnya, pemuda itu segera bangkit dan merenggangkan tubuhnya, lalu masuk ke dalam rumah sambil mengusak rambutnya hingga berantakan.


Dengan setengah sadar, ia menjatuhkan dirinya ke pelukan sang papa yang sudah duduk disamping Alin. Chyou yang mendapat pelukan dari pria yang tidak dikenal dengan cepat menatap Lian berharap wanita itu tidak marah.


"Tidak apa-apa, aku tidak marah." Ucap Alin menenangkan Chyou. Sebenarnya ia merasa kasihan karena harus menghukum Alan dengan hukuman yang lumayan berat.


"Papa, maafkan aku karena sudah membuatmu khawatir. Aku janji akan menjadi anak baik dan menuruti semua keinginan papa." Ucapnya sambil menciumi wajah Chyou penuh kasih sayang yang mengundang tatapan membunuh dari Alin. Dengan kesal, Alin memukul kepala Alan menggunakan mangkuk dengan kencang.


"Auh! Papa, sakit sekali. Kenapa penyihir tua itu selalu kasar padaku."


Alan mengadu dengan manja. Saat mendengar itu, Alin membelalakkan matanya tak percaya melihat kemanjaan Alan yang baru ia lihat setelah lama bersama.


"Kau! Manja sekali."


Alin menghentikan tangannya di atas karena Chyou memandangnya dengan kesal.


"Sudah, ayo makan. Berhenti bertengkar sebelum aku mengusir kalian berdua." Ancam Chyou agar keduanya berhenti memperebutkannya, meski ia merasa senang namun tetap saja rasanya tidak pantas karena mereka sedang berhadapan dengan makanan.