Unblessed Story

Unblessed Story
Kekosongan



Setelah bersiap-siap, Alin menemani Alan yang masih berdiri di depan toko perhiasan selama dua jam hanya untuk melihat Karin yang asik berjalan kesana kemari bersama dengan teman-temannya, tidak menyadari jika ada seseorang yang berharap jika keberadaan disadari.


"Mau sampai kapan kau diam seperti patung? Aku sudah lelah."


Alin mulai melancarkan protesnya.


"Tunggu dulu sebentar, aku sedang mengumpulkan keberanian."


Setelah menunggu lagi, Alan tiba-tiba berbalik keluar dari toko dan berjalan dengan menunduk, meninggalkan Alin yang mengerjapkan matanya bingung.


"Kau tidak jadi? Hei!"


Alin berlari mengejar Alan yang sudah jauh darinya. Wajah pemuda itu total merah padam, matanya sedikit basah jadi ia berjalan sambil menundukkan kepalanya lebih dalam, berjalan sambil menatap tanah tanpa menghiraukan Alin yang sudah mengejarnya dan bertanya padanya.


Melihat itu, Alin hanya bisa pura-pura tidak tahu.


Cinta itu selalu datang dengan tiba-tiba tapi pada waktu yang salah, tanpa mendapatkan solusi hanya bisa membiarkan semuanya mengalir begitu saja. 


Biarkan semuanya mengalir, ya?


Ia sudah mulai merasakannya akhir-akhir ini.


Perasaan yang aneh selalu muncul saat ia berhadapan dengan Chyou, namun ketika memikirkannya, ia selalu menggelengkan kepala dan kembali mengingat Rayyan. 


Kedua pemuda itu sama-sama lembut dan penuh perhatian, kehangatan yang terpancar dari mata kedua pemuda itu membuatnya seperti tenggelam di lautan bunga saat musim semi datang. 


Suara lembut mereka, membuatnya merasa seperti bisa menginjak bumi dan terbang ke awan. Segalanya tentang mereka, membuatnya merasa seperti menjadi budak, rela memberi semua yang ia punya hanya demi membuat mereka tetap disisinya. 


Lalu ia tersadar, jika kehadirannya tidak tercipta untuk dunia. Yang ia jalani saat ini hanya untuk mengisi wujud tanpa jiwa ini, takdirnya sudah tertulis rapi, hal yang harus ia lakukan sudah diputuskan dengan pasti. 


Ia, harus menyelesaikan masalah yang ada meskipun bukan ia penyebabnya. 


Ia menatap pemuda di sebelahnya, pemuda itu bernasib sama sepertinya. Datang untuk melakukan sesuatu, melupakannya dan menjalani hari menjadi bagain dari dunia ini, sampai tersadar jika dia tidak tercipta untuk dunia ini. 


Mereka berdua, datang dari tempat yang berbeda untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang sama. 


Lagi-lagi seperti ini, Alin tahu betul jika tidak ada tempat baginya di dunia yang luas ini, ia selalu terperangkap sendirian, selalu ada batas tak terlihat yang membuatnya tidak bisa menjadi nyata. Ia hanya bisa terus tumbuh dan tumbuh, semakin besar dan semakin kuat untuk melindungi sesuatu. 


Bertahan di kesendirian, melindungi yang lebih lemah di bawahnya, ia tahu betul jika yang dia lindungi hanya menganggapnya sebagai tempat untuk berteduh dari panasnya matahari pun dari derasnya hujan. 


Mereka hanya tahu, jika mereka berteduh di bawah yang kokoh dan kuat. Tidak mau merepotkan diri untuk menengok ke atas dan bilang 'oh, jadi kau yang menyelamatkanku, terimakasi!' 


Ada namun tidak terlihat.


Sampai kedatangan Seka, membuatnya merasa nyata. Pemuda itu menemaninya tumbuh, mengganggunya dengan omelan dan kebisingan. 


Ia bertemu dengan pemuda itu saat mereka masih kecil, ketika keluarganya masih utuh dipenuhi kebahagiaan. Ia bertemu dengan Seka beberapa kali sampai akhirnya, keluarganya runtuh. Hanya pemuda itu yang masih berada di sampingnya, teman-temannya menghilang karena sikapnya berubah menjadi pemurung, hanya Seka yang masih bertahan dan memberikan warna di hidupnya. 


Sekarang, ia terperangkap di dunia antah berantah ini. Menjadi Raja iblis, memimpin sebuah kota, memerintahkan ribuan orang dan memikul nyawa mereka di tangannya sendiri. 


Ia tersesat dan bertemu dengan pemuda ini, orang yang mengirimnya ke dunia ini hanya untuk memencari sosok yang ia panggil papa. Dalam sekejap, mereka menjadi akrab dan melakukan perjalanan yang berbahaya di celah dunia ini.


Alin tertegun, seketika itu ia teringat, Alan tidak pernah berbagi cerita kepadanya, tidak pernah membagi kesusahan padanya, tidak membagi apapun tapi selalu bisa membuatnya merasa jika ia memiliki ikatan yang kuat dengan pemuda itu. 


Alan tahu terlalu banyak, sangat banyak hingga ke detailnya seperti sudah mengalami kejadian ini sendiri. Kejadian saat ia bangun setelah tidur selama empat puluh sembilan tahun lalu dan berkelana bersamanya. 


Terkadang, ia tidak sengaja mencuri dengar percakapan Alan dengan sosok yang ia panggil Paman menggunakan sistem sebagai perantara, mengadukan beberapa hal dan membuat sosok paman itu berteriak 'tidak mungkin' setelah itu, sistem kembali berjalan dan Alin tidak sadarkan diri.


Pemuda itu selalu berjalan sendiri, tidak pernah membagi.


Paling banyak, Alan hanya bercerita tentang Chyou ini, Chyou itu, mama yang begini dan begitu, sampai sekarang sosok mama itu masih menjadi tanda tanya besar bagi Alin. Mereka sepakat untuk menjadi sosok ibu dan anak agar Alan bisa memanggil Chyou dengan sebutan Papa.


Napas Alin tercekat, ada banyak sekat disini, ruang luas ini hanya nyisakan sedikit celah kecil untuknya berpijak, semua sudah menjadi kotak-kotak dan teridentifikasi. 


Hanya ada dirinya, berjalan dalam lumpur sendirian.


Lagi-lagi semua yang terjadi, bukanlah ceritanya. Tiap udara yang ia hirup berasal dari belas kasih yang berduri, menusuk paru-parunya sampai ia merasa sesak dan sakit. 


Hanya dia yang merasa seperti itu, selalu dan selalu dia. 


Tanpa sadar, ia jatuh dalam kegelapan.


Tidak lama setelah itu, seorang perempuan yang mirip dengannya muncul di hadapannya. Mata hitam phoenix itu sangat kelam, menyimpan kekejaman yang tidak terbatas. Bibirnya menyeringai saat melihat Alin hanya menatapnya kosong. 


Suara langkah kakinya bergema menggetarkan udara, menarik paksa kesadaran Alin yang hampir mengambang.


"Aku hanya bisa memberitahu kenanganku sedikit demi sedikit." 


Suara gadis itu terdengar tegas, namun ada nada kesedihan mendalam yang terselip, membuat Alin termangu. 


"Aku hanya ingin berharap sedikit, jika kau bisa membantuku menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi antara aku dan dia."


Air mata terbendung di matanya, Alin yakin jika gadis itu berkedip, air mata akan cepat jatuh meluruh membasahi pipinya. 


"Bukan kemauanku untuk menjadi seperti itu."


Suara gadis itu bergetar, penuh keputusasaan di depan jalan buntu, tidak ada jalan keluar lain selain kembali, namun jalan masuk sudah tertutup batu-batu yang roboh.


"Bukan kemauanku untuk mengorbankan kehidupan Alan."


Sepotong kepingan kaca jatuh ke hadapannya, di kaca itu ia bisa melihat dengan jelas, Alan yang masih berusia lima tahun, dengan tega di gantung di atas tiang bambu, di sekelilingnya tersebar banyak bara api. 


Kepingan itu pecah saat tubuh mungil anak itu jatuh ke atas bara api yang menyala itu, menyisakan teriakan Chyou yang mengulurkan tangannya, berharap bisa menggapai tubuh mungil yang jatuh bebas di depannya.


"Bukan keinginanku untuk membuat Chyou menderita."


Kepingan lainnya jatuh, memutar kenangan saat Chyou berdarah-darah karena dicambuk oleh gadis yang sialnya mirip sekali dengan dirinya.


Pemuda itu sudah tidak bisa menggerakkan tubuhnya, hanya bisa mengerang kesakitan setiap kulitnya terkena cambuk, bukan kulit lagi namun sudah terbelah membuat cambuk memecut dagingnya dengan kejam.


"Itu salahmu."


Gadis itu menghilang, menyisakan Alin seorang diri di hujani oleh kepingan-kepingan kaca yang memperlihatkan seorang gadis menunjuknya, menatapnya kejam dan berbicara, "itu salahmu." 


Suara-suara itu terus bergema, sekencang apapun Alin menutup telinganya, suara itu tetap terdengar. Tubuhnya yang lemah kini jatuh merosot ke lantai, kedua tangannya dengan setia menutup telinganya dengan erat. 


Ia mengabaikan tubuhnya yang terkena pecahan kaca, ia mengabaikan tubuhnya yang sudah mulai mandi darah, ia mengabaikan darah yang keluar membuat tubuhnya diliputi kehangatan lalu ia kedinginan, ia mengabaikan kesakitannya hanya untuk menutupi telinganya. 


Ia mengabaikan semuanya. 


"Mama!"


Suara serak itu meninggi, membuat telinga Alin berdenging hebat. 


Matanya mulai terbuka, lalu menyipit karena cahaya masuk dengan tiba-tiba menambah rasa sakit yang ia rasakan. Tubuhnya yang dingin kini mulai terasa hangat, ia merasa tubuhnya tidak sendirian lagi, ia merasa jika ia tidak tenggelam dalam kegelapan lagi.


"Bangun...." 


Alin langsung duduk dari tidurnya, membuat Alan yang hampir menangis di sampingnya terjatuh karena kaget dan berseru kesal. Melihat itu, Alin memamerkan senyumnya tanpa dosa. 


"Panggil aku mama lagi."


"Kau! Dasar iblis tua!"


Melihat Alan lari bersembunyi di belakang tubuh Chyou, Alin tertawa dengan kencang. Ia merentangkan kedua tangannya, menyambut Chyou untuk datang ke pelukannya.


"Apa kau merasa baik-baik saja? Apa kau merasa mual atau pusing? Aku sudah membuat obat, cepat di minum agar kau cepat sembuh."


"Aku baik-baik saja."


Mendengar itu, Alan melemparkan bantal sampai membuat Alin jatuh ke kasur. Dengan menggebu-gebu ia berbicara, "Kau bahkan pingsan di tengah jalan, apanya yang baik-baik saja? Untung papa sudah kembali dan bisa memeriksamu dengan tepat waktu, jika tidak, jika tidak, jika-"


Ucapan Alan terpotong, ia pergi keluar sambil membanting pintu, membuat Alin terlonjak kaget. 


"Ada apa dengan anak itu?"


Pertanyaannya dibiarkan menggantung, Alin tidak tahu jawabannya sedangkan Chyou menggeleng tidak tahu, semoga saja mereka bisa membujuk anak itu agar tidak terlalu lama marah. 


Semoga saja.