Unblessed Story

Unblessed Story
Alan



Setelah penyerangan itu, Alin memutuskan jika para pengawal pergi bersama mereka, tidak perlu membersihkan jalan karena hal itu hanya membuat banyak korban yang berjatuhan dari kelompoknya, itu adalah sebuah kerugian yang besar.


Pengawal-pengawal yang sudah ia urus beberapa lama ini, hanya akan mati sia-sia, dan Alin tidak suka dengan hal itu.


"Kau serius?" Alan bertanya untuk yang ke tujuh kali, sedangkan Alin menghembuskan nafasnya sedikit jengkel.


"Kau kira aku bercanda? Dengar, jika kita membuat pasukan Yee untuk membersihkan jalan lagi, akan semakin banyak korban dari pas- dari sekte kita, kita tidak bisa membuat mereka mati begitu saja, mereka punya keluarga atau meski mereka sudah tinggal di sekte dari lahir, tetap saja kehidupan itu sangat penting. Fatal jika kita merenggut kehidupan mereka hanya untuk melindungi kita. Bukankah kau yang bilang padaku seperti itu?"


"Aku-"


"Kalian meributkan apa lagi? Apa aku tertinggal sesuatu?"


Alan menghela napas, kali ini lebih berat dari sebelumnya. Pemuda yang membuat dirinya menjadi waspada dan muak itu dari tadi selalu saja menempel pada Alin, seperti benalu. Alan membuang wajahnya, lalu keluar dari kereta meninggalkan Chyou yang tertidur di pangkuan Alin dan pemuda yang tidak ia ingat namanya.


"Bajingan itu, aku benar-benar akan membunuhnya jika dia membuat papa menangis, kau dengar itu? Aku tidak mau tau, kalian harus menjaga teman kalian itu agar menjauh dari papa."


Alan menekankan kata teman, membuat beberapa pengawal merasa tertekan sampai ingin membantah jika pemuda itu bukanlah teman mereka.


"Apa ada masalah lagi?"


"Ya, jauhi temanmu itu dari jangkauan Alin dan papa. Mengotori pemandangan saja."


Setelah mengatakan itu, Alan tetap berjalan lurus meninggalkan tempat peristirahatan sementara mereka, tidak menengok sedikitpun meskipun Yee dan Ares memanggilnya.


Alan bernapas dengan sangat kasar, semakin ia jalan, semakin ia merasa terancam.


Awalnya ia hanya bertengkar dengan Ren, membuat kondisinya tidak stabil dan berakhir dengan pertengkarannya dengan Alin sampai bertemu dengan Chyou, bahkan setelah bertemu Chyou, ia lagi-lagi tidak merasa aman.


Pemuda yang diselamatkan Alin datang begitu tiba-tiba, pemuda itu mendobrak ruang lingkup keluarga kecil miliknya dengan sangat halus, benar-benar sangat halus sampai Alin dan Chyou tidak menyadari jika pemuda itu sudah menjauhkan dirinya dengan Alin dan Chyou, menggantikan posisi Alan dengan sangat halus.


"Aku benci, aku membencinya. Aku ingin tempat dan posisiku kembali, aku tidak ingin sendiri. Sialan, apa yang harus aku lakukan? Pemuda itu bisa dengan mudah mengambil perhatian dari papa dan Alin. Tidak berguna! Dasar bajingan biadab, aku akan menghancurkanmu sampai ketulang dan memberikan seluruh kutukan padamu, aku-"


'Aku apa? Apa kata selanjutnya yang harus ia katakan? Kata-kata itu sudah tersusun rapih sebelumnya, bukankah aku bisa mengatakannya dengan gamblang, dengan jelas apa yang ingin aku katakan?'


Alan bertanya-tanya, saat ia berhenti melangkah ia merasa jika Alin dan Chyou akan berjalan semakin jauh, berada di luar jangkauannya.


Perlahan-lahan, kedua orang itu hadir di depannya. Membawa beberapa barang yang tersampir di bahu, berjalan dengan riang sambil melambaikan tangan padanya, lalu hilang.


Alan mengejar sisa bayangan itu, berlari sekuat tenaga. Krikil dan ranting yang menancap di kakinya tidak ia hiraukan, airmatanya sudah turun dengan deras.


Semakin ia berlari, semakin cepat juga Alin dan Chyou hilang dari jangkauannya.


Matahari sudah condong ke barat, menyisakan gelap yang menyelimuti tubuh kesepian itu. Alan masih berlari dan berlari, sampai bayangan itu hilang dan tersadar jika ia benar-benar sendirian.


Dinginnya angin menusuk sampai ke tulang, membuat tubuhnya sedikit gemetar. Meski begitu, ia masih tetap berdiri menghadap arah hilangnya bayangan Chyou dan Alin.


Bibirnya sudah membiru dan giginya bergemeletuk. Kakinya bergoyang tanda sudah tidak kuat menopang tubuhnya, ia jatuh bersimpuh dengan kedua tangan terkulai lemas di samping tubuhnya.


Tatapannya kosong, menjadi lebih gelap daripada malam.


"Auuu."


Suara serigala bersahutan, mengelilingi tubuh tak berdaya itu dengan air liur yang menetes, serigala itu menggeram, menatap tubuh Alan sangat lapar.


"Wawu."


Seekor anak harimau putih menggosokkan badannya ke paha Alan, menyadarkan pemuda itu dengan kenyaatan bahwa dirinya sudah terkepung gerombolan serigala yang kelaparan.


Setelah mengatakannya, mata Alan berubah menjadi emas menyala, lingkaran sihir kecil yang terus membesar, ketika lingkaran sihir itu berdiameter 15 meter, muncul sebuah cahaya ungu yang menyelimuti lingkaran, lalu ledakan besar tercipta menyisakan Alan yang masih duduk bersimpuh di tanah sebagai pusatnya.


Gelombang ledakan itu membuat burung-burung terbang menjauh dan langit berubah warna menjadi ungu dihiasi oleh bintang jatuh.


"Alan! Kau tidak apa-apa?"


Suara Chyou terdengar sangat dekat, pemuda itu berlari dengan tergesa-gesa diikuti Alin yang berjalan di belakangnya.


"Gapapa."


Setelah mengatakan itu, Alan membalas pelukan Chyou dan melepasnya begitu saja. Mengendong anak harimau putih dengan pelan-pelan dan kembali ke tempat kemah tanpa menatap Chyou maupun Alin.


"Ada apa dengannya? Apakah aku melakukan hal yang salah?"


'Aku yang salah, papa. Maaf.'


Alan hanya bungkam, menutup bibirnya meskipun ia sangat ingin menjawab pertanyaan Chyou, membuat Chyou berhenti bertanya dan terlalu banyak berpikir.


"Wawu."


Anak harimau itu lagi-lagi menggosokkan kepalanya ke telapak tangan Alan, seakan tau jika pemuda di depannya ini sedang resah.


"System commando, translator. Apakah kau punya nama?"


Dengan lembut, Alan menyentuh telinga anak harimau itu.


Sistem menjawab aungan anak harimau itu dan menjawab, "Xiu."


Mendengar itu, Alan menjadi sedikit tidak semangat, anak harimau itu pasti terpisah dan ingin bertemu dengan orang tuanya. Segera saja ia kembali bertanya, "Oh, nama yang bagus. Dimana orang tuamu?"


"Menjawab tuan, saya menemukan adanya eksistensi yang sama dengan Xiu, namun eksistensi ini sangat lemah, bisa dipastikan jika eksistensi ini sudah berjalan menuju kematian."


"Tunjukkan jalannya, bagaimanapun juga Xiu masih memiliki orang tua." Ucap Alan sedikit lemah di akhir.


"Wawu!"


Xiu menggeram marah, membuat Alan merasa gemas karenanya.


"Tidak mau!" System menjawab dengan nada marah, sama persis dengan nada Xiu saat menggeram tadi.


"Kenapa?"


"Wawu." Anak harimau itu menjawab lemah, sistem langsung menerjemahkannya setelah beberapa saat.


"Mama menyuruhku untuk pergi karena papa tidak menginginkan kami, Mama sekarang sakit dan jika didekati mungkin aku akan tertular."


"Tuan, penyakit harimau tua itu tidak bisa di obati, satu-satunya jalan untuk menghentikan penyebaran adalah dengan pembinasaan." Lanjut sistem.


"Bisa pakai pemurnian? Aku ingin agar induk harimau dan Xiu kembali bersama di kehidupan selanjutnya."


Setelah berkata seperti itu, Alan menatap langit yang sudah kembali seperti semula. Anak harimau di gendongannya sudah tidur dengan lelap, dengkuran halus ya membuat Alan merasa lebih damai.


Tanpa tergesa-gesa, Alan kembali berjalan menuju kemah tanpa menyadari jika Alin dan Chyou berjalan di belakangnya.