Unblessed Story

Unblessed Story
Kota Redum (3)



Kejadian mengejutkan tadi, membuat Alin berpikir keras. Setidaknya ia kini menyesal karena mengucapkan tentang hal-hal diluar nalar dan membuatnya harus mengalami hal itu sendiri sampai membuat sakit kepala.


Semenjak ia terbangun di kota Redum, sudah dua tahun ia berada di wilayah iblis. Karena pengangkatan tiba-tiba menjadi Raja Iblis, ia harus mengurus banyak hal agar bisa bebas keluar mencari keturunan Chyou yang mungkin saja sudah menikah dengan orang lain saat ia kembali ke dunianya.


Setelah kembali ke dunianya, ia menyadari jika waktu di dunia ini berjAlan lima ratus kali lebih lambat daripada waktu di bumi, jadi ia bisa membuang banyak waktu tanpa kehilangan banyak. Mengingat itu, Alin tertawa dengan tiba-tiba, membuat Yee yang berada di sisinya merasa kaget.


"Dimana Alan?"


"Bukankah Tuan Besar meminta tuan muda untuk mengejar beberapa penyusup di Rumah Panjang?"


"Dasar anak iblis itu!"


Meski hubungan Alan dan Alin sendiri sudah bersama selama dua tahun ini, hubungan mereka tidak bisa di bilang dekat atau bertentangan, satu waktu mereka saling memperhatikan namun di lain waktu mereka akan saling melemparkan kutukan dan bertengkar sepanjang hari karena hal-hal yang sepele.


Tanpa membuang banyak waktu, Alin memakai jubah luarnya dan melompat dari jendela, pergi menyusul Alan di Rumah Panjang, tak jarang Yee mendengar teriakan Alin yang ada di depannya, ia menggelengkan kepAlanya, merasa takjub dan juga bangga dengan dirinya sendiri yang bertahan selama dua tahun melayani tuannya.


Setelah sampai di depan Rumah Panjang, Alin menerobos masuk begitu saja membuat kericuhan. Namun, tidak ada yang menghentikannya.


"Untuk ganti rugi."


Yee memberi sekantong batu amethyst kepada Along, pemilik Rumah Panjang yang masih membatu di depan pintu, setelah menepuk Along, Yee menyusul Alin yang sudah mencari Alan di lantai dua.


"Dimana kau dasar anak iblis!"


Teriakan Alin membuat pengunjung Rumah Panjang tidak bisa tidak memperhatikan, mengabaikan pekerja yang mereka sewa.


"Kau berisik sekali, nenek tua! Kau membuat temanku ketakutan."


Alan menghampiri Alin, di pelukannya ada seorang wanita yang bergetar.


"Lihat saja, setelah aku menemukan papamu, aku akan memberitahunya tentang hal ini. Dasar anak durhaka!"


Dalam satu detik, sebuah cambuk muncul di tangan Alin yang sudah bersiap mengayun ke arah Alan.


Wajah pemuda itu sudah pucat pasi, ia melepaskan pelukan wanita itu begitu saja dan melompat ke ujung ruangan, menempel di dinding seperti cicak.


Meski begitu, Alin menguatkan kuda-kuda di kakinya dan melompat, ia mengayunkan cambuknya dan berhasil terkena dada. Alan melompat lagi ke lantai tiga, tangannya mencengkram dadanya yang terasa sakit.


Dadanya belum merasa membaik, Alin lagi-lagi mengejarnya dengan cambuk. Alan berlari ke sana kemari, melompat dan berguling untuk menghindari Alin yang sudah mengejarnya seperti babi kesetanan.


"Sebenarnya apa salahku? Yee tolong aku."


Alan berlindung di balik tubuh Yee, Alin menghentikan cambuknya yang sudah terayun ke arah Yee menggunakan tangannya. Suara cambukan itu terdengar lebih kencang dari sebelumnya, membuat semua orang yang menonton bergidik ngeri, apalagi Yee dan Alan yang tadi menjadi sasarannya, mereka merasa jika jantung mereka sudah turun ke dengkul.


"Tuan, sebaiknya hal ini di selesai di kediaman saja."


Perkataan Yee membuat Alin tersadar jika mereka sedang berada di luar. Dengan canggung, ia berdeham, menegakkan kepAlanya dan berjAlan keluar seakan tidak terjadi apa-apa. Alan dan Yee merasa takjub dengan muka Alin yang sangat tebal.


Setelah Alin hilang di balik pintu, Alan yang tersadar dan bersiap kabur, namun Yee sudah menarik kerahnya dan menyeretnya keluar. Alan menutup wajahnya menggunakan kipas yang ia bawa, gambaran keren tentang dirinya yang sudah ia bangun selama dua tahun ini, hancur lebur karena Alin dan Yee. Gambaran singa yang ganas berubah menjadi anak kucing.


"Lihat saja, aku akan mengadu pada Ares."


"Ahahaha anak kucing yang lucu, sekarang waktunya tidur siang."


Tawa penuh ledekan keluar dari bibir Alin, membuat Alan merasa murka sampai mati.


"Terus terang saja, kau membuat beberapa ghoul dari Rumah Panjang menyelinap keluar saat semua perhatian tertuju padamu. Tugasmu sekarang adalah mencari cara agar ghoul-ghoul itu tidak mengganggu manusia."


"Aku tidak membuka pintu ghoul itu!"


Alin mengambil kipas yang dipegang Alan, detik berikutnya ia memukul kepala Alan menggunakan kipas tersebut. Alan mengaduh kencang, rasanya wanita yang bersamanya dua tahun ini sama sekali tidak memiliki hati.


"Kalau bukan kau, lalu siapa lagi? Tidak ada iblis yang lebih nakal dirimu."


"Aku harus memperbaiki dua hal. Pertama, aku bukan iblis, aku ini setengah iblis setengah manusia. Kedua, aku tidak nakal, hanya mencari tahu banyak hal yang tidak bisa kau jawab!"


Setelah mengatakan itu, Alan membuang wajahnya, memilih untuk menatap bulan merah di jendela, mengabaikan Alin yang duduk di depannya.


Mendengar itu, Alin menghela napas kesal. Pemuda yang mengaku sebagai anaknya ini, benar-benar nakal diluar nalar. Ya, Alan mengaku jika ia adalah anaknya dan Chyou meski Alin masih berusaha menganggap jika ucapan Alan hanyalah buAlan dan omong kosong.


Meski begitu, Alin masih mengurus Alan, meski sebagian besar waktu Alan adalah bersama Ares yang ia anggap sebagai Ayah.


Pertama kali ketika Alan memberitahunya, Alin hanya tertawa, namun saat kali ketiga Alan meyakinkan Alin dan mulai dekat dengan Ares, Alin merasa sedikit marah. Alin merasa jika Alan dan Ares terlalu dekat, jadi satu-satunya cara agar ia bisa mengorek informasi dari Alan adalah dengan bertengkar dengannya.


"Baiklah, kau setengah iblis. Pergilah, selesaikan masalah yang kau sebabkan."


"Aku bilang, bukan aku yang membuka pintu itu, kau penyihir tua."


Alan menghentakkan kakinya, ia keluar dari ruangan Alin sambil membanting pintu, membuat Alin menjengit kaget. Alin mengusap dadanya yang berdetak kencang, lalu ia meneruskan pekerjaannya.


Alan–pemuda itu datang ke kedai bakpao, meminta dua belas piring bakpao dan membaginya ke beberapa anak-anak yang mengemis di jAlan. Ia memberi masing-masing satu, sesuai rasa yang mereka mau. Ia menyuruh anak-anak itu duduk melingkar bersamanya, memakan bakpao itu bersama.


Ini kali ketiga ia makan bersama dengan anak-anak, kebanyakan dari mereka adalah anak-anak yang dibuang oleh orang tuanya, ada juga yang di buang oleh saudara mereka sendiri hanya karena iri.


Mereka berbagi cerita bersama-sama, menghibur siapa saja yang terlihat murung, seperti saat ini, Alan yang makan dengan murung berhasil mendapat perhatian dari anak-anak yang lebih muda darinya.


"Kak Alan, kalau ada yang nakal, bilang saja sama kami. Kami pasti bantu kakak!"


Ucapan yang paling muda membuat senyum Alan mengembang, ia mengusak rambut anak itu dengan gemas, apalagi anak itu menggembungkan pipinya yang sudah gembil, menunjukkan bahwa ia marah dengan perlakuan Alan.


"Kakak gapapa, tuh. Cuma lagi sakit gigi. Oh ya, kata mama, kalian bisa tinggal di rumah, nanti kalian ikut kakak Ares, ya?"


Saat berbicara dengan mereka, suara Alan selalu melembut tiba-tiba, tempo berbicaranya sengaja ia lambatkan agar bisa di cerna oleh anak-anak tersebut.


"Baik kakak, kami akan ikut kakak Ares."


Mereka serentak menjawab, membuat Alan merasa jika mereka sangat lucu. Ia bangkit dari duduknya dan berkata, "Yasudah, kakak mau pergi dulu. Mau selesaikan yang diminta mama. Huh, dia nyuruh kakak mulu, sih."


"Hahaha kami ga berani kakak, maaf ya."


Anak-anak itu membalas lambaian tangan Alan, Alan pergi mencari salah satu desa manusia yang menjadi titik serang Ghoul yang ditunjukkan oleh sistem.