
Setelah Xian memutuskan ular berbisa dari tubuh Cymera tersebut, pintu gua tersebut tertutup dengan tiba-tiba disusul dengan lingkaran sihir yang amat besar menyegel pintu gua agar tidak bisa dibuka dari dalam maupun luar. Xian terengah-engah setelah dirinya menyadari jika dirinya berlari terlalu jauh.
Bahkan Xian tidak mengetahui anak gua mana saja yang ia masuki saat mengikuti asal suara auman Cymera. Setelah berusaha berpikir dengan keras tanpa mengingat sedikitpun, Xian kembali berlari mengejar Cymera yang sudah melarikan diri.
Setelah lama berlari lagi, akhirnya jalan buntu yang menjadi pilihan Cymera tadi. Sebuah senyum terukir di wajah Xian. Tanpa basa-basi, Xian melompat ke arah Cymera, pedangnya ia angkat tinggi ke arah perut Cymera.
Satu sayat dua sayat terhias di tubuh Cymera, darah kembali melumuri pakaian yang baru saja ia ganti. Sekali-kali Xian berdecak kesal saat darah itu menyiprat ke wajahnya, serangan tanpa henti ia kerahkan pada tubuh Cymera.
Xian mendekat ke arah Cymera dan menendang perutnya dengan kencang, Cymera itu terpental ratusan kaki dari tempatnya, Cymera tersebut lagi-lagi mengaum namun kali ini dengan suara yang amat lemah.
Xian meloncat dari tempatnya ke depan Cymera, pedangnya kembali diangkat sejajar dengan jantung Cymera yang sejak serangan terakhir yang ia terima mengeluarkan cahaya berwarna merah.
Jarak pedang dan leher Cymera tinggal seinchi namun cahaya putih menyilaukan menusuk wajah Xian, cahaya itu muncul dari tubuh Cymera membuat Xian mau tidak mau mundur beberapa langkah menjauhi Cymera.
Tidak lama kemudian, cahaya tersebut menghilang digantikan Cymera yang kini berdiri dengan gagah dihadapannya. aumannya lebih keras dari pada saat mereka sampai di mulut gua. Namun ada yang berubah dengan Cymera tersebut.
Cymera cacat itu sudah berubah menjadi Cymera seutuhnya, luka yang ia terima pulih dengan cepat, ekor ular yang sudah dilepas Xian kini tumbuh kembali. Aura kejahatan keluar dari tubuhnya dengan pekat. Sebelah mata Cymera tersebut terdapat sebuah benda yang berkilauan saat terkena cahaya yang muncul tiba-tiba.
Cymera itu terlihat indah, tidak seperti anjing yang terjatuh di kubangan lumpur seperti tadi.
"Aku tidak tahu jika kau menjadi kuat dalam satu malam."
Xian semakin melebarkan senyumnya, merasa senang dengan monster yang akan ia lawan. Dengan cepat, ia mengalirkan energi ke pedangnya sambil mengokohkan kuda-kuda yang ia pasang.
Ia menebaskan pedangnya ke arah perut bagian kanan, bagian kiri, ekor dan wajah. Cymera itu tidak diam saja, ia melawan balik serangan Xian. Pemuda itu tidak sempat menghindar hingga lengannya terkena cakaran.
Xian mempercepat larinya dan melompat menaiki tubuh Cymera itu, satu tebasan memotong ekor, satu tebasan memotong kaki. Dengan cepat ia menebas, lebih cepat lagi anggota tubuh Cymera itu tumbuh.
Darah dan potongan anggota tubuh Cymera sudah tercecer di lantai, Cymera itu melarikan diri saat Xian tak henti-hentinya menusukkan pedang ke tubuhnya membuat Cymera melarikan diri sekuat tenaga.
Xian berdecak sekali lagi saat Cymera itu lagi-lagi melarikan diri.
"Sialan! Aku benci berlari, kau tahu! Argh."
Teriakan itu terdengar sangat kencang, dadanya naik turun karena menahan marah. Ia memilih untuk menaiki pedangnya dan terbang mengejar Cymera yang melarikan diri itu.
Ia mengeluarkan pedangnya yang lain dan menebas kristal-kristal yang bergantung di atas. Xian menghindari kristal-kristal yang berjatuhan itu dengan lancar, berbeda cerita dengan Cymera yang fokusnya terbagi menjadi dua, tanpa sengaja ia tergelincir saat ingin berbelok dan berakhir tertusuk kristal yang paling besar.
Gua pun berhenti bergetar, Xian dengan leluasa menarik paksa kilauan yang ada di bawah mata Cymera tersebut dengan kasar. Kilauan itu ternyata berasal dari manik-manik yang terpasang di sebuah hiasan rambut.
Xian meloncat ke atas kristal yang menimpa Cymera tersebut dan mulai menyamankan dirinya di atas kristal tersebut sedangkan Cymera itu sudah mati setelah Xian menarik hiasan rambut di bawah matanya.
Xian mulai meneliti hiasan rambut dan merasa sedikit familiar dengan bentuk hiasan rambut tersebut. Ia merasa jika ia pernah melihat hiasan itu pada rambut seseorang. Keningnya mengerut dengan dalam. Saat ia mengingat wajah orang itu, Jenar menepuk punggungnya dengan keras.
"Gege ini sakit." Ucap Xian sambil mengelus punggungnya yang kini merasa nyeri.
"Kita ini datang bersamaan dan kau meninggalkan kami di tengah jalan?" Protes Jenar sambil mendudukkan dirinya di sebelah Xian. "Apa itu?" Lanjutnya setelah melihat hiasan rambut berlumuran darah yang ada di tangan Xian.
"Hiasan rambut." Jawab Xian dengan singkat.
Jenar menghela nafas dengan kasar setelah mendengar jawaban Xian, Jenar bertanya lagi dengan lebih detail. "Maksudku hiasan rambut ini berasal dari mana? Milik siapa?"
"Aku menemukannya di bawah mata Cymera ini."
Xian menepuk-nepuk kristal besar dibawahnya dengan penuh tenaga, membuat kristal tersebut bergetar lumayan kencang.
Chyou mendekat saat ia melihat hiasan rambut yang berada di tangan Xian, dengan ragu ia bertanya, "Xian.. Jenar.. Boleh aku melihat hiasan rambut itu?"
Chyou tampak terdiam membeku setelah hiasan rambut itu berada di tangannya, ia mengamati hiasan rambut itu dengan lam. Bahunya sedikit gemetar dan air mengalir turun ke pipinya. Dengan kasar ia mengusap air matanya, ia menahan tubuhnya yang terasa lemas ke kristal.
"Ada apa? Apa hiasan rambut ini menyakitimu? Kau tidak apa-apa?"
"Ada apa dengannya?"
Xian menatap Jenar penuh tanda tanya, Jenar menggelengkan kepalanya karena ia juga tidak tahu dengan apa yang terjadi pada Chyou.
Hiasan rambut itu adalah pasangan hiasan milik Alin saat mereka pertama kali bertemu. Awalnya ia merasa jika perempuan yang tiba-tiba muncul itu sangat aneh, memakai satu pasang hiasan namun hanya menggunakan salah satunya. Ia baru menyadari jika di baju Alin ada bercak darah.
"Bolehkah aku menyimpannya? Aku mengenal pemilik hiasan rambut ini."
"Ya tentu. Kau boleh menyimpannya."
Setelah mendengar persetujuan Xian, Chyou memeluk hiasan rambut itu dan tersenyum samar. Xian dan Jenar sekali lagi saling berpandangan karena merasa bingung dengan perubahan suasana hati Chyou.
"Jika portal belum terbuka, itu artinya kita belum menang, kan?"
Xian bangkit dari posisinya dan mengangkat kristal besar itu dari atas tubuh Cymera. Lalu ia kembali duduk di atas tubuh Cymera tersebut, bahkan dirinya menyempatkan diri untuk membuat beberapa kepangan kecil di rambut Cymera tersebut dan menghiasnya menggunakan jepit bermotif kupu-kupu kecil yang entah ia dapat darimana.
Jenar dan Chyou hanya melihat Xian yang sudah sibuk dengan dunianya, pemuda itu melupakan eksistensi dua pemuda lainnya yang bisa saja mengolok-oloknya selama satu minggu ke depan.
Chyou mengeluarkan bekal yang ia bawa sebelum pergi ke dungeon dan membaginya dengan Jenar sebuah roti dan air.
Saat Chyou hendak menawari Xian sebagian rotinya, Jenar menghentikannya sambil menggeleng pelan, menatap mata Chyou yang seakan berbicara
"Jika kau mengganggunya, aku khawatir jika aku tidak bisa membantumu."
Waktu terus berlalu, kini mereka bertiga tidak dapat menentukan apakah diluar sudah malam atau masih siang, Xian merenggangkan tubuhnya dan berjalan mengitari tempat di sekelilingnya.
"Gege, apa tidak ada api?"
Setelah puas bermain, Xian mendekat ke arah Jenar yang sedang fokus kultivasi, di samping Jenar ada Chyou yang tertidur sambil memeluk hiasan rambut tersebut, sangat erat, ia yakin jika Chyou memiliki hubungan dengan pemilik hiasan itu.
Jenar menghentikan kultivasinya dan menatap Xian dengan heran, "Untuk apa?" Tanya Jenar.
Jujur saja di tempat itu tidak ada sedikit pun bahan makanan, bekal yang mereka bawa juga tidak harus di hangatkan.
"Aku ingin mencicipi rasa daging Cymera, aku dengar rasanya tidak buruk."
Xian dengan enteng menunjuk ke arah Cymera. Monster buas itu kini terlihat seperti sebuah anjing milik puteri terkemuka di sebuah kerjaan yang kaya raya.
Tubuh besar Cymera itu dibalut dengan gaun berwarna pink bahkan rambutnya di kepang dan dihias, Jenar mengelus keningnya yang tiba-tiba saja merasa pening luar biasa. Tingkah adiknya akhir-akhir ini tidak dapat diprediksi.
Dari memakan biji teratai yang masih memiliki tangkai, ingin membuat dunia yang baru dan sekarang mendandani seekor Cymera dan ingin menyicipi rasanya. Jenar masih mengingat dengan jelas, dia sudah mengajarkan Xian kecil jika hewan buas dari dunia iblis tidak bisa di konsumsi, terlebih lagi jabatan dan kedudukan mereka tidak akan membiarkan mereka bebas jika melakukan hal sekeji itu.
"Kau masih ingat tentang seluruh pelajaran yang aku ajarkan padamu, bukan begitu?"
Jenar sambil memandang Xian dengan tajam. Dirinya tidak tega untuk memarahi adiknya, namun di sisi lain dia harus mendisiplinkan adiknya yang baru bertemu dengannya setelah waktu yang lama.
"Aku ingat" Jawab Xian dengan lesu, dia berjalan meninggalkan Jenar dibelakangnya dan menghadap ke arah pilar, seakan sedang menghukum dirinya sendiri.
"Ah aku sudah bosan, apa kita tidak bisa kembali? Arius." Ucap Xian dengan lantang, tangannya mulai memainkan liontin yang sudah terpasang di celananya.