
Keadaan pengadilan yang awalnya tegang karena permasalahan empat bencana, kini berubah menjadi ketegangan yang nyata.
Seseorang menerobos naik, membuat pengadilan bergetar sangat hebat. Getaran itu membuat lonceng jatuh ke tanah, menimpa empat paviliun bersama dan dua paviliun milik dewa angin.
Para dewa mengelilingi selusin orang berjubah hitam yang dipimpin oleh seorang gadis berbaju merah.
Kelompok itu adalah kelompok Alin.
"Dimana Juan?"
Dengan lantang, ia bertanya seperti kedelai bodoh, bertanya keberadaan orang yang dari tadi berada di depannya.
Yee berbisik, "Yang Mulia, dia tepat berada di depanmu."
"Pfttt"
Suara tahan tawa itu terdengar ke telinga Alin, ia menatap bahu Alan yang sedikit bergetar, ternyata tawa itu berasal dari anak yang tingginya tidak lebih dari pinggangnya, dengan kesal ia menendang pantat mungil Alan dengan gemas, tak menghiraukan ringisannya.
"Ternyata kau cukup tampan meskipun sedikit tua."
"Kau-"
Jenar mendarat maju, menghadap ke Veel yang tiba-tiba mendekati Juan. Matanya menatap Veel dengan tajam.
Veel meraih dagu Jenar, mengelus pipinya dengan ibu jari, menyapa dengan riang, "Halo!"
Tidak lama setelah itu, suara cambukan terdengar sangat kencang. Veel merintih kesakitan, menatap orang yang mencambuknya dengan tajam, ia mengumpulkan kekuatannya di tangan, namun saat melihat siapa yang memegang cambuk, ia menunduk, lalu kembali ke tempat awalnya.
"Yee, ajari dia sopan santun."
"Baik Yang Mulia."
"Kalian pergilah, taunya mengacau saja. Pergi pergi, salin kembali yang aku beri kemarin."
Setelah mengusir orang-orang yang datang bersamanya, Alin mengubah raut wajahnya menjadi lebih ramah. Ia maju selangkah, namun dewa-dewa yang ada mulai mengeluarkan lingkaran sihir, bersiap untuk menyerang.
"Boleh kita berbicara berdua sebagai, orangtua?"
Alin melirik Alan saat mengucapkan orangtua, meski ia sendiri menyernyitkan dahi tidak percaya dengan apa yang ia ucapkan.
"Baiklah, Jenar kau antar mereka dulu. Aku akan menyelesaikan beberapa hal."
Setelah mengucapkan itu, Juan pergi bersama dewa yang lainnya, entah menuju kemana.
"Mari."
Alin mengikuti Jenar masuk ke dalam sebuah paviliun yang paling besar diantara paviliun yang lainnya, Alan mengikuti tanpa mengeluh, tapi tidak lama setelah itu terdengar suara orang jatuh.
Jenar yang melihat itu langsung menghampiri Alan, baru saja ia ingin menggendong Alan, Alin langsung menggunakan kekuatannya untuk membuat Alan terbang ke gendongannya.
Ia membenarkan gendongannya, lalu berkata, "Jangan merepotkan diri." Setelah itu tersenyum, membuat Jenar merasa canggung.
"Oh astaga, buntelan ini berat sekali."
Alin bergumam, namun ia tersenyum, menatap Alan dengan dalam, berbeda dengan apa yang ia ucapkan.
Tidak lama setelah itu, mereka sudah duduk di sebuah ruangan. Jenar berhadapan dengan Alin yang memangku Alan. Anak kecil itu masih belum bangun.
"Apa nama paviliun ini?"
"Paviliun Kebenaran."
Alin meminum tehnya dengan santai, ia meniup lalu meminumnya, setelah itu matanya berbinar.
"Rosella! Oh maaf, apakah ada arti khusus untuk semua nama di paviliun?"
"Setiap paviliun, memiliki keunikan yang sama dengan namanya, begitu juga dengan paviliun ini. Karena paviliun ini digunakan untuk sidang dan rapat besar, setiap orang yang masuk akan di paksa berbicara jujur, benar, tidak manipulatif secara lugas. Jika mereka melakukannya, setiap orang di paviliun akan tahu kata hatinya."
"Ah aku paham, hei nama-nama paviliun mu sangat singkat."
Setelah itu, Juan ikut bergabung. Mereka terlalu asik mengobrol hingga tidak sadar dengan Alan yang terganggu dan bangun dari tidurnya.
Dengan setengah sadar, ia duduk di pangkuan Alin lalu memeluk gadis itu, Alin hanya bisa menggaruk pipinya yang tidak gatal, mencoba melepaskan pelukan pemuda.
"Mama...."
Rengekannya membuat Alin bingung, pemuda itu tidak memberitahu kepadanya tentang ibu dari pemuda itu, makanya mereka sepakat bilang jika Alin adalah mama angkatnya agar Alan bisa memanggil Chyou sebagai papa.
Semakin ia mencoba melepaskan, semakin erat juga pelukan anak itu. Tiba-tiba sebuah ide muncul di keningnya.
Ia membisikkan sesuatu di telinga Alan, membuat Alan seketika terbangun dan melotot, mengumpat dengan marah, "Tidak tahu malu!"
Alin tertawa sedangkan Alan membuat gestur ingin muntah. Jenar dan Juan saling memandang tidak mengerti dengan sifat kedua iblis yang mencarinya.
Setelah selesai dengan dramanya, Alan menegakkan tubuhnya dan berkata dnegan singkat.
"Aku minta maaf."
"Minta maaf yang benar, kau tulus atau tidak aku tidak tahu tapi kau tidak boleh melupakan hal dasar seperti itu."
"Aku minta maaf, aku tiba-tiba menyerang anakmu Xian dengan tiba-tiba dan tanpa alasan. Itu salahku, aku bahkan sudah lupa mengapa aku menyerangnya. Aku akan menerima hukuman apapun yang kalian beri."
Jenar dan Juan merasa terkejut, menatap anak yang menunduk di hadapannya.
"Aku juga sudah meracik beberapa obat untuknya, botol berwarna hijau untuk luka biasa, yang kuning untuk demam, dan warna hitam untuk mengeluarkan racun Caeling. Mungkin beberapa hari ini Xian berubah menjadi anak kecil dan kehabisan kekuatan spiritual. Ah ya, ini beberapa pil emas, aku tidak tahu mana yang bekerja untuk dewa jadi aku membawa semua pil emas yang aku tahu. Semoga semua ini berguna untuk kesembuhannya."
Dengan sibuk, Alin mengeluarkan kotak-kotak obat, ada yang berbentuk kotak, botol giok, bahkan ada yang di bungkus dengan tas kantong, membuat Jenar dan Juan menjatuhkan rahangnya.
"Tunggu, tunggu, tunggu. Ini terlalu banyak."
"Anak ini sendiri yang memilihnya, tolong terima permintaan maafnya."
Alin berbisik pada Juan.
Juan menatapnya sekilas, meski selama bertemu dengannya, kedua iblis itu selalu sibuk bertengkar. Namun tatapan mereka sangat hangat dan erat, permintaan Alin bukanlah untuk mengambil muka, itu permintaan seorang ibu yang ingin membantu anaknya, permintaan seorang ibu yang siap melakukan apapun untuk anaknya.
Alan masih menundukkan kepalanya, tidak berani mengangkat wajah. Jenar mendekat ke arahnya, membuat Alin seketika waspada.
Berbeda dengan yang ada di pikirannya, Jenar justru mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi anak itu, menatap wajah Alan.
"Tidak apa-apa, pertikaian itu sering terjadi. Kau sendiri terkena racun kan? Kenapa tidak mengobatinya?"
"Nanti."
Setelah itu, Alan menatap Alin dan mengepalkan tangannya yang ia letakkan di atas kedua pahanya, mendapat sinyal dari Alan, Alin segera pamit mengundurkan diri, pulang bersama Alan.
Setelah mereka turun ke celah dunia, wajah Alan yang tadinya berseri kini pucat pasi seakan tidak ada darah yang mengalir, tubuhnya terasa dingin namun kekuatannya melonjak semakin besar.
Nafas anak itu mulai memberat, ia tersegal seperti habis berlari mengelilingi dunia. Karena itu, mereka memutuskan untuk singgah di gua terlebih dahulu.
Alan duduk bersila, kedua tangannya ia letakkan di atas pangkuan dengan telapak tangan terbuka ke atas, Alin duduk di belakangnya, menyalurkan kekuatannya dan membantu menstabilkan kekuatan Alan.
Untung saja Alin memiliki kekuatan yang lumayan besar dan dalam, ia tidak takut jika kekuatannya berkurang banyak atau bahkan habis.
Sedangkan Alan, tubuh pemuda itu berada di ambang batas. Jika ia tidak sadarkan diri, ia bisa mati. Jika saluran energi yang diberi Alin terlalu besar atau terlalu kecil, pemuda itu bisa mengalami kecacatan di sisa hidupnya.
Meski Alin masih tidak bisa sepenuhnya menerima Alan, namun ia merasa sangat takut ketika anak itu memuntahkan seteguk darah dan memejamkan mata.
Jangan mati, jangan mati dulu.