Unblessed Story

Unblessed Story
Kenangan Siapa?



Kebakaran terjadi dimana-mana, langit yang seharusnya menampilkan bulan dan bintang kini hanya berwarna kelabu, tertutup bara api dan asap tebal sebagai gantinya.


Di bangunan tertinggi, bangunan paling megah dan bangunan paling besar, seorang gadis duduk di atas tahta. Gadis itu menatap dengan congkak, tersenyum miring lalu tertawa dengan kencang saat dewa yang berlumuran darah itu membungkuk berkali-kali padanya, meminta belas kasih dan pengampunan.


Orang yang dulu menginjakkan, menghinanya, membuatnya tersiksa karena harus menanggung dosa yang bukan disebabkan oleh dirinya, membuatnya menghirup udara yang di penuhi duri dan racun, membuat darah tidak pernah berhenti keluar dari tubuhnya.


Selama bertahun-tahun, gadis itu menahan amarahnya, menahan kesakitannya, menahan kebenciannya, bertahan dari lubang putus asa dengan berpegangan pada satu helai benang yang sangat tipis.


Berhari-hari bertahan dengan memegang harapan palsu, berharap seseorang menolongnya—tidak, dia tidak sepolos itu, dia lebih berharap jika seseorang dengan tega memutuskan benang tipis itu dan membuatnya jatuh ke lubang tanpa dasar, mati dihadapan penguasa neraka dan hancur seketika sampai tidak ada satu jiwa pun miliknya tertinggal di dunia ini.


Sekarang, orang itu berada di bawah kakinya, berada di posisi lebih rendah darinya, menjadi seonggok daging busuk yang bahkan tidak mau di hinggapi oleh lalat. Menjadi sampah yang tidak di pedulikan namun kehadirannya membuat seluruh orang terganggu.


Gadis itu merasa senang, dia menang.


"Lepaskan dia."


Namun pemuda itu mengganggu kesenangannya, mendobrak masuk dengan tubuhnya yang sudah berlumuran darah dan napas yang terengah-engah karena berlarian dari bawah sampai ke puncak dengan mengalahkan ribuan prajurit yang sudah dia siapkan untuk menjadi pion di panggung permainan miliknya.


Pemuda itu menatapnya dengan tajam, matanya sudah memerah dan bulu matanya basah, meski begitu ia tetap tidak menunjukkan kelemahannya sama sekali, tidak membiarkan kesan gunung yang tinggi dan kokoh menjadi bukit puding yang lemah.


"Akan aku lepaskan jika kau mau menggantikannya."


Gadis itu menjawab asal, senyum miringnya tercetak tipis namun itu berhasil di tangkap oleh pemuda itu. Keduanya berpandangan sangat lama sebelum akhirnya mengerahkan serangan pertama.


Kedua telapak tangan itu bersentuhan sangat kencang, api beradu dengan air, membuat guncangan terasa sangat dahsyat, setelah itu ledakan kecil dan besar mengelilingi mereka.


Paviliun yang luas dan megah itu dalam sekejap mata berubah menjadi puing-puing tidak berharga, debu berterbangan dimana-mana, membuat pemuda itu mengernyitkan dahi karena merasa terganggu, bangunan itu hampir rata dengan tanah, sedangkan gadis itu sudah mendaratkan dirinya di atas salah satu tiang yang setengah berdiri.


Pemuda itu mendongakkan kepalanya agar bisa melihat pergerakan gadis itu.


"Aku tidak sudi bersama dengan iblis."


Itu hanya sebuah kalimat, kalimat yang di lontarkan dengan penuh kebencian dan kemarahan, kekecewaan yang tak terbendung terselip di sana.


Namun, sebaris kalimat itu membuat tubuh yang berdiri tegak itu sedikit meluruhkan pundaknya, membuat mata yang menyorot tajam memperlihatkan kesedihannya, nyaris membuat gadis itu menjadi setengah gila.


Gadis itu tertawa, seperti orang yang kehilangan kewarasannya, lalu menangis seperti anjing yang kehilangan tuannya.


Bukan dia yang mau menjadi setengah iblis, bukan dia yang mau menjadi manusia setengah-setengah, bukan dia.


Dia pernah berpikir, bagaimana jika pemuda itu mengetahui identitasnya?


Lalu sekarang dia berpikir lagi, pemuda itu benar-benar mengetahui identitasnya.


"Alin! Serahkan dirimu maka aku, Chyou, sebagai pemimpin para dewa akan membantumu untuk mengalami reinkarnasi."


Alin tidak berpikir seperti itu, tidak pernah terlintas di pikirannya jika Chyou akan terang-terangan membantainya, memusuhinya dan tidak setuju dengannya.


"Serahkan Xian padaku."


Jadi, kau lebih memilih dewa sialan itu daripada aku?


Mata yang menatap dengan putus asa itu kembali membara, tatapannya berapi-api untuk segera melenyapkan semua orang yang menantangnya.


Dia ingin pemuda itu berada di bawahnya, menatapnya dengan tatapan memohon, menatap dengan tatapan yang tidak bisa menemukan kepuasan, dia ingin pemuda itu berada sepenuhnya di dalam kendalinya, ia ingin pemuda itu menurutinya.


Dengan sigap, Alin menangkis serangan pedang Chyou menggunakan hiasan rambutnya yang sudah berubah menjadi sebuah pedang tipis yang bisa melengkung.


Setiap tebasan dan tangkisan mengeluarkan suara yang indah, mendesing karena tidak cukup puas karena belum menerima darah. Pedang tipis kebiruan itu, terlihat sangat kecil, sangat bersih dan sangat suci.


Namun, setelah bertukar satu serangan. Chyou bisa merasakan nafsu pembunuhan yang keluar dari pedang itu setelah ia mundur sebanyak sepuluh langkah.


Lantai yang terkena irisan pedang membuat cekungan yang besar dan dalam dengan pedang itu sebagai pusatnya.


Dalam satu hentakan, Chyou menangkis pedang itu dan melompat sangat tinggi, menyerang Alin dari atas dengan sangat tajam, sangat kuat seperti elang yang memburu domba.


Tanpa terasa, Alin dan Chyou sudah bertukar ratusan serangan, saling menyerang dan mengelak, saling merobek kulit dan daging juga rambut.


Alin bisa merasakan jika pakaiannya menyatu dengan kulit, dia berkeringat di sekujur tubuhnya. Rambutnya yang tergerai rapi kini sudah sedikit berantakan, napasnya sudah putus-putus.


Keadaan Chyou juga tidak kalah buruk, tubuhnya menerima banyak serangan Alin yang tidak bisa ia hindari, darah sudah merembes membasahi bajunya yang berwarna putih. Keringat mengalir membasahi alisnya, matanya semakin memerah, membuat Alin tertegun.


Sekilas, ia berpikir jika pemuda itu terlihat sangat, sangat—ia menggelengkan kepalanya lagi, membuang pikirannya jauh-jauh dan fokus untuk bertarung.


Saat ia sadar, Chyou memuntahkan seteguk darah mewarnai bajunya yang sudah rusak, ia bertumpu pada pedangnya, dan melirik ke belakang.


Tepat di belakangnya Xian dengan sengaja menusukkan belati ke dada Chyou, satu inchi di bawah jantungnya, letak yang mendekati titik fatal.


Dengan kejam Xian memutar belatinya, membuat baik Chyou dan Alin membelalakkan mata, menahan sakit di raga dan jiwa. Pemuda itu benar-benar kejam, menusuk tanpa ragu bahkan dengan sengaja memperbesar luka.


Chyou memuntahkan seteguk darah lagi.


Wajahnya yang pucat kini sudah tidak ada aliran darah lagi, sangat putih seperti darahnya tersedot keluar.


Alin melemparkan pedangnya tepat ke dada Xian, membuat pemuda itu jatuh dari duduknya, pedang itu tertancap di lantai hanya menyisakan gagangnya di atas dada Xian, membuat Xian terpaku dan tidak bisa bergerak.


Alin memangku tubuh Chyou, tubuh di pelukannya sudah sangat dingin, hanya tersisa sedikit kehangatan di sana, tepat di matanya yang menatap hangat.


Jantungnya berdetak dua kali lebih kencang, tangannya menggenggam tangan Chyou sudah sedingin es, menggenggam dengan gemetar ketakutan.


"Tidak, bukan ini maksudku. Jangan mati, jangan mati."


Alin mengulang kata-katanya, menggelengkan kepalanya dan berharap dengan begitu ia bisa kembali ke masa lalu, setidaknya sebelum mereka bertukar ratusan serangan.


"Jadilah.... Gadis baik, jaga Alan, dan dirimu."


Kata-kata itu terucap sekata demi kata, sangat pelan, sangat lembut, sama seperti saat ia bertemu dengan pemuda itu, sama seperti saat mereka berkumpul bertiga.


Alin tidak bisa mengingat hal apa lagi yang sudah ia lakukan bersama pemuda di pelukannya, Alin tidak memiliki kenangan lain selain genggaman tangan.


Pemudanya kini sudah memejamkan matanya, menghembuskan napas terakhirnya tepat di pelukannya, meninggalkan dirinya sendiri menyisakan kedinginan di tubuhnya.


Setelah itu, semua menjadi gelap.


Alin terbangun dari tidurnya dan duduk dengan napas yang tersengal-sengal.


Ia menatap ke samping, pemuda yang ada di pelukannya tidur dengan nyaman dengan posisi menghadap dirinya, memeluk tangannya dengan erat dengan mata yang terpejam. Nafasnya teratur dan sangat ringan, tidak seperti di mimpinya yang napasnya sudah tinggal satu satu.


Ia melihat ke bawah, Alan tidur dengan nyenyak sebagian tubuhnya ada di atas kasur di sampingnya sedangkan bagian bawahnya duduk bersila. Alisnya mengerut dalam, bibirnya mengerucut lalu setelah itu ia tersenyum, sepertinya pemuda itu mengalami mimpi yang indah.


Keadaan kamar saat ini sudah gelap, namun tidak terlalu gelap karena cahaya bulan menerobos masuk dari jendela, memberikan cahaya untuk Alin yang tiba-tiba takut akan kegelapan.


Nafas yang memburu itu sudah menjadi tenang, keringat di tubuhnya mulai mengering. Alin bersandar di kepala ranjang, menundukkan kepalanya untuk melihat wajah Chyou yang tertidur.


Saat melihatnya dengan lebih jelas, Alin baru menyadari jika pemuda itu tidur sangat ujung, meringkuk seperti bayi dan tidak memakan banyak tempat, memegang tangan dan jubah lengannya dengan erat, seperti takut kehilangan.


Wajah yang lembut itu terlihat lebih dewasa dari sebelumnya, rahangnya yang tegas membuat pipi yang tembam itu sedikit menghilang, bulu mata yang panjang itu sedikit bergetar dan basah.


Tubuh Chyou tiba-tiba bergetar, Alin dengan cepat menepuk punggung pemuda itu, mengelus punggung tangan di genggamannya menggunakan ibu jarinya.


Alin kemudian berbaring, menarik tubuh bergetar pemuda itu ke pelukannya, membiarkan tangisan pemuda itu terendam olehnya. Ia mengusap punggung Chyou dengan lembut, menepuknya beberapa kali sampai pemuda itu tenang dan kembali tidur dengan nyaman.


Alin memejamkan matanya, ia mulai merasa nyaman dan ikut tertidur. Tidak sadar jika Alan sedikit terusik dan mengintipnya, lalu kembali menjatuhkan tubuhnya dan tidur lagi seperti posisi semula.


Mereka tidur sampai langit menjadi terang dan matahari bersinar di luar.