
Kini mereka bertiga menginjakkan kakinya ke pasar di Desa Padi. Pasar itu menjadi semakin besar dan ramai. Para penjual saling berteriak menawarkan dagangan mereka ke pejalan kaki, beberapa saling tawar menawar atas barang dagangan.
Alin berjalan dengan semangat sambil menggandeng tangan Chyou, di depannya ada Alan yang semangat berbelok ke kanan kiri saat menemukan hal yang menarik perhatiannya. Hingga pemuda itu berhenti di salah satu toko baju, melihat baju berwarna biru muda yang terpajang indah di jendela.
"Seleramu bagus juga."
Alin berbisik di telinga Alan lalu tertawa ketika pemuda itu berjengit kaget.
"Kau sudah bisa memiliki kekasih eh."
Alin kembali meledek Alan, membuat telinga pemuda itu memerah. Tanpa memedulikan Alan yang terus berdiri, Alin kembali menggandeng tangan Chyou dan masuk ke toko baju.
Saat pintu dibuka, suara lonceng terdengar membuat dua orang pelayan berjalan ke arah mereka. Kedua orang pelayan itu awalnya hanya menyambut mereka, namun secara tidak sengaja liontin milik Alin terjatuh.
Dengan decakan kesal, Alin mengambil liontin itu dan memasangnya kembali di bajunya, pelayan yang melihat liontin itu seketika terkejut, lalu saling berbisik sebelum meminta mereka untuk menuju ruang tunggu.
Tidak lama kemudian, seorang nenek tua masuk kedalam ruangan dengan diikuti oleh kedua pelayan itu. Mereka membungkukkan tubuhnya, memberi penghormatan secara tiba-tiba.
Chyou bergegas berdiri setelah sadar dari rasa terkejutnya lalu ia membantu nenek tua itu untuk berhenti memberi penghormatan.
"Tuan dan nyonya, terimakasih karena kalian sudah membantu keluarga saya dari kehancuran di masa lalu."
Nenek itu menundukkan tubuhnya lagi, lalu bangkit dan tersenyum kearah mereka.
"Kau nyonya bai?"
Nenek itu mengeleng lalu meminta pelayannya untuk mendekat, diambil salah satu kotak kayu yang dari dibawa oleh kedua pelayannya. Kotak itu dibuka dan ditaruh di atas meja, begitu juga dengan kotak lainnya. Alan mendekatkan dirinya kearah Chyou saat melihat benda yang berada di dalam kotak kayu kedua.
Benda yang berada di kotak itu adalah granat perak yang akan meledak jika terlempar dan sebuah bunga jarum asoka yang bisa megeluarkan jarum dengan skala besar dalam satu waktu. Keduanya adalah senjata pamungkas kelas atas milik dua dari empat sekte terkuat di dunia manusia.
Granat perak berguna untuk mengalahkan musuh dalam skala lima sampai sepuluh orang, sedangkan bunga jarum asoka berguna untuk menjaga seseorang yang tidak sadarkan diri. Kedua benda itu tidak bisa ditemui oleh sembarang orang bahkan oleh anggota sekte itu sendiri, hanya ketua dan dua belas murid pilihan yang bisa menggunakannya.
Sebuah kesempatan langka bisa melihat kedua senjata hebat itu di dalam toko baju yang bahkan tidak terikat oleh dunia bela diri, Alan melihat kedua benda itu dengan bersemangat, ucapan 'wah' tidak henti-hentinya keluar dari mulutnya, membuat Alin merasa jengah.
"Nenek sudah meninggal lima puluh tahun yang lalu dan ibu baru saja meninggal dua bulan yang lalu. Mereka berpesan untuk menyampaikan ucapan terimakasih kepada kalian, sang pemiik rembulan."
Nenek itu meminta pelayan untuk menyajikan teh untuk mereka, lalu mulai bercerita. Tepat setelah Alin dan Chyou pergi dari desa. Sekelompok manusia serigala tiba-tiba menyerang, desa menjadi sangat kacau. Pencabulan terhadap wanita terjadi di setiap sudut desa, para lelaki dibunuh dan anak-anak dipaksa untuk menyaksikan semuanya dengan mata telanjang.
Hari itu, desa padi dipenuhi oleh teriakan putus asa dan tangisan. Nyonya Bai tidak bisa menahan diri lebih lama, hingga malam-malam ia berusaha membantu para wanita yang diikat diluar tanpa sehelai benang, ia meminta para pria di desa untuk membantunya. Anak-anak sudah ia pindahkan keluar desa dengan dijaga oleh beberapa pelayan tokonya.
Ketika sebagian sudah selamat, para manusia serigala itu datang dan mulai memburu para warga desa padi. Para warga yang belum sempat melarikan diri dibakar hidup-hidup, membuat Nyonya Bai hampir di cap sebagai penjilat manusia serigala oleh keluarga yang ditingalkan.
Beruntung saat itu Nyonya Bai belum menaruh semua uang Alin hingga sisa kekuatan gadis itu masih tersisa di koin itu. Saat melihat koin dengan sisa kekuatan itu, para manusia serigala bergetar ketakutan. Nyonya Bai sebelumnya tidak mengetahui hal itu, namun setelah ia mendengar bisik-bisik dari warga yang mengatakan jika manusia serigala itu ketakutan. Nyonya Bai memberanikan diri untuk mendekat.
Semakin ia melangkah maju, semakin manusia serigala itu merasa ketakutan hingga akhirnya mereka membungkuk memohon ampun saat Nyonya Bai mengangkat tangannya yang menggenggam koin.
"Jika kau takut, pergi dari desa ini dan jangan pernah kembali."
Nyonya Bai mengangkat tangannya dengan tinggi, menunjuk manusia serigala itu satu persatu. Setelah mendengar perintah, mereka berlarian tanpa memperdulikan satu sama lain. Para warga desa berteriak penuh kemenangan dan mengucapkan terimakasih kepada Nyonya Bai karena menerima tamu yang sangat hebat hingga petaka tidak terjadi di desa padi.
"Karena itu, kami ingin memberikan beberapa hal kecil ini untuk membalas kebaikan kalian, meski hal ini tidak bisa membalas semua kebaikan kalian, kami akan berusaha untuk membalasnya di masa depan nanti."
Alan tersenyum bangga setelah mendengar cerita nenek itu, ia tau jika Alin memang kuat namun ia tidak menyangka akan sekuat ini. Apalagi Chyou pasti terlihat keren saat itu.
"Itu berarti kesialan kami karena kami diserang oleh serigala asli. Bagus, sangat bagus jika warga desa ini selamat karenaku."
Alin sedikit mendumal tentang kejadian lalu yang membuatnya berpisah dengan Chyou sangat lama. Ia bersumpah akan menghancurkan setiap sarang serigala yang ada di hadapannya.
"Jadi kau adalah cucu dari Nyonya Bai? Siapa namamu?"
Alan bertanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari kedua senjata itu, Ia bahkan meminta perhatian Chyou agar Chyou tetap bersamanya untuk mengamati kedua senjata itu.
"Saya Bai Yu Rim, tuan muda bisa panggil saya Bai kedua."
"Bukan ketiga eh?"
"Ibu tidak bisa mengurus toko karena penyakitnya, jadi aku yang meneruskan dan mendapat panggilan seperti itu, tuan muda."
"Baiklah, lalu darimana kalian bisa mendapatkan kedua senjata sehebat ini?"
"Saya mendapatkan senjata itu dari kultivator langganan toko, mereka mendengar cerita ini dan meminta untuk mengabari mereka jika kalian sudah kembali. Tak aku sangka jika kedua tuan dan nyonya hebat ini adalah dewa yang abadi."
"Dewa? Jika wanita ini adalah dewa, maka aku benar-benar leluhurnya."
Alan mencibir saat Nyonya Bai kedua memuji Alin dengan berlebih, jika Nyonya Bai kedua hanya memuji Chyou, ia bisa menambahkan pujian itu sampai seratus tahun lamanya.
"Dasar anak sialan! Sudahlah, jadi kedua benda ini boleh kami miliki?"
"Tentu boleh nyonya, jika kami memiliki barang bagus lainnya akan aku kabari."
Nyonya Bai kedua mengangguk, lalu meminta kedua pelayan dibelakangnya untuk mengambilkan beberapa barang yang selama ini sudah mereka siapkan untuk Alin dan Chyou.
Setelah menunggu sedikit lama, para pelayan kembali sambil membawa berbagai jenis ukuran kotak kayu, ada yang besar, ada yang kecil, ada yang kayu dan ada yang emas. Beberapa pelayan datang membawa baju-baju yang terlihat elegan namun tetap memberi kesan sedarhana.
Sepasang baju pertama dikeluarkan, satu baju berwarna merah dan satu baju lainnya berwarna biru. Kedua baju itu memiliki bordiran yang berbeda satu sama lain, baju merah khusus wanita terlihat sedikit terbuka, memberi kesan sedikit nakal. Sedangkan baju biru khusus pria, terlihat gagah dan terkesan kuat.
Chyou dan Alan menolak baju merah, mereka tidak setuju jika Alin memperlihatkan tubuhnya. Kebalikan dari kedua pria itu, Alin malah menyukai baju merah tersebut dan memaksa untuk memilikinya hingga berakhirlah ia duduk di tengah-tengah Chyou dan Alan dengan tangan yang terikat ulah Alan.
Nyonya Bai kedua mengeluarkan baju kedua, kali ini baju itu berwarna senada satu sama lain, berwarna hijau muda. Mereka bertiga menyukai model baju itu namun saat melihat bordiran naga di masing-masing jubah luar baju itu, mereka kembali menolak karena Alan dan Alin merasa model itu terlalu norak, sedangkan Chyou menolak karena merasa terlalu berlebihan.
Baju ketiga kembali ditolak dengan alasan terlalu berat untuk dipakai Chyou, baju keempat ditolak dengan alasan terlalu kasar untuk Chyou, baju kelima memiliki warna yang terlalu mencolok, baju keenam memiliki energi negatif karena berwarna hitam, baju ketujuh terlalu tipis.
Semua baju itu ditolak oleh Alin meski Chyou atau Alan menyukainya, hal ini membuat kedua pemuda itu menggembungkan pipi dan memalingkan wajah, merajuk. Sepertinya penyihir tua itu sedang membalas dendam, begitu pikir Alan.
"Aku suka yang itu, kenapa kau tidak langsung mengeluarkannya."
Alin menunjuk tiga baju dengan warna yang saling mengikuti, terlihat berpasangan namun bisa menjelaskan posisi masing-masing dari pemilik pakaian itu. Satu buah baju wanita dan dua buah baju pria.
Baju wanita berwarna biru dengan bordiran berwarna merah, setiap jubah memiliki bordirannya sendiri seakan membentuk satu kesatuan yang indah, pakaiannya tidak terlalu terbuka namun mengeluarkan sifat berani dan kuat.
Baju pria pertama memiliki warna merah dengan bordiran berwarna biru dan emas pudar, jubah terluarnya berlambang phoenix di dada kirinya jika kau melihatnya dengan sangat teliti. Baju itu bisa terlihat sempurna meski tidak menggunakan jubah terluar, terlihat sempurna untuk Alan di mata gadis itu.
Sedangkan baju terakhir, baju yang sangat istimewa. Baju berwarna emas pudar dengan manik dan bordiran berwarna merah dan biru, kain baju itu terasa sangat lembut namun tidak tipis, sangat ringan saat ia angkat, sebuah kenyamanan bisa ia rasakan bahkan hanya dengan melihat baju itu.
Tidak puas hanya melihat baju, ia mulai memadukan baju itu dengan hiasan rambut yang ada di kotak lainnya. Ia memadukan hiasan ini dan itu serta warna yang mencangkup warna ketiga dasar baju yang ia pilih.
Alan merasa sedikit puas dengan hasil karya Alin, ia juga ikut menghias baju emas pudar itu dengan beberapa hiasan baju berwarna emas, ia memasang sedikit mantra pelindung pada masing-masing hiasan baju.
Keduanya kini merasa puas dengan apa yang sudah mereka lakukan, baju itu terlihat seperti model baru, terlihat lebih mewah dari sebelumnya dan lebih nyaman untuk digunakan. Nyonya Bai kedua terkesima dengan selera kedua orang dihadapannya itu.
"Ini.. Ini adalah mahakarya, hal yang bisa memuaskan perasaanku setelah bertahun-tahun merancang baju ini untukmu. Aku tidak menyangka jika hal itu benar-benar bisa diwujudkan. Semoga kalian berbahagia selalu dan dilindungi dari segala marabahaya."
"Ya, aku juga merasa puas. Kau menyukainya?"
Alin menepuk pundak Chyou, ia menatap mata pemuda itu dengan hangat. Chyou mengangguk dengan ragu.
"Iya tetapi ini terlalu berlebihan"
Chyou menjawab dengan ragu, ia menyukai baju itu namun ia bukan anak raja hingga ia harus memakai baju yang mewah bagaikan pakaian putra mahkota. Alan terkekeh mendengar jawab dari Chyou.
"Kau tidak tahu saja siapa nenek tua itu, Papa pantas mengenakannya. Tidak ada yang bisa mengenakannya selain Papa karena pakaian ini dibuat oleh kami hanya untuk papa."
Alan mendekat kearah Chyou, ikut melihat baju yang ada di hadapannya bersama Chyou dan Alin.
"Setelah ini, mari kita pergi ke desa Adiwiya untuk mencari pelukis."
"Tidak, sebelum itu kita harus pergi ke desa Faktitius."
Terjadi lagi, pertengkaran itu kini terjadi lagi. Chyou menepuk dahinya, berusaha bersabar dan menahan malu karena kedua orang itu kini terlihat tidak menghargai Nyonya Bai kedua dan para pelayannya