
Xian melompat keluar dan mendarat di tanah, menyerang sosok yang memakai pedang hitam yang sudah terdapat darahnya. Debu yang berterbangan mulai turun menampilkan sosok bayangan itu menjadi jernih, seorang anak kecil yang berumur sekitar tiga belas tahun memegang pedang panjang hitam.
Rambut anak tersebut memiliki warna yang sama dengan warna kedua bola matanya, hitam pekat. Seperti bibit unggul di dalam cerita-cerita fantasi yang biasanya beredar di pasaran karena banyak di minati karena tokoh pemeran utamanya yang terlalu overpower.
'Tidak, tidak. Aku tidak boleh fokus ke arah sana, sadar lah Xian.'
Batin Xian berteriak saat mengingat situasi yang sedang berlangsung saat ini. Helen sudah pergi mencari juniornya sedangkan Chyou dan Jenar sudah tidak berada di sekitar wilayah tersebut.
Xian melompat beberapa langkah ke belakang saat pedang hitam itu hampir membuat kepalanya terpisah dari tubuhnya, kekuatan anak itu tidak sesuai dengan penampilannya yang masih terlihat polos dan suci.
Xian terus menghidari serangan anak kecil tersebut tanpa sempat membalas, serangan anak itu sangat teratur, Xian hampir tidak bisa mencari cela kelemahan dari serangan itu.
Tanpa terasa, keduanya bertarung sampai di tengah pasar hantu yang jaraknya lumayan jauh dari bibir hutan dalam waktu yang sangat lama, namun anak tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan, sebaliknya Xian sudah bermandi keringat.
"Apa kau menyerah, pak tua?"
Suara kekanakan itu menggema di pasar yang sudah berantakan dan sepi, tidak ada jiwa lain selain dewa dan iblis itu di sana.
'Pa-pak tua? Aku baru menginjak usia seratus tahun!' Teriak Xian dalam hati.
Xian menepuk bajunya untuk membersihkan debu yang menempel. Sambil menetralkan nafasnya, Xian mencibir.
"Hei anak kecil, apa kau kehilangan permen hingga marah seperti ini?"
"Aku bukan anak kecil."
Ucap anak tersebut dengan penuh penekanan.
"Baiklah, baiklah. Berapa umurmu? Mengapa aku merasa sepertinya kau marah karena ditinggal pergi saat tidur siang."
Xian tersenyum ramah, menatap mata hitam anak tersebut dengan penuh perhatian. Ia merasa akrab dengan mata dan wajah anak tersebut, seperti sudah lama tinggal bersama namun tidak ada satupun nama yang terlintas di otaknya.
Anak itu mencibir, "Cih, orang tua tetaplah orang tua, selalu ingin tahu urusan anak muda."
"Apakah ayahmu memperhatikanmu? Apa ibumu tidak mengajarimu etika? Seperti tidak punya orang tua saja."
"Apa gunanya orang tua? Sekumpulan sampah."
Xian merasa jantungnya hampir pindah ke pinggang saat mendengar anak sekecil itu mengutuk orang tua, meski dulu ia juga memiliki pemikiran seperti anak itu, tetapi ia tidak akan mengatakan orang tua adalah sampah. Terlalu shock, ia tidak sadar jika anak itu sudah kembali menyerangnya, menusuk perutnya tanpa ragu.
Tubuhnya menabrak pohon yang berada dibelakangnya setelah menerima serangan yang tiba-tiba itu. Bisa ia rasakan tusukan itu menembus tubuhnya hingga beberapa tulang rusuknya patah. tidak tahan lagi, ia memuntahkan seteguk darah.
"Kau..."
Xian sambil menarik pedang hitam yang tertancap ditubuhnya dengan kasar.
"Kau! Dengar.. ukhuk.. Aku tidak.. Setua itu. Umurku baru-"
"Tua tetap saja tua, close all magic line, rest-."
Sebelum anak tersebut menyelesaikan ucapannya, seorang gadis yang berbalut pakaian serba merah datang dan memukul kepala anak tersebut hingga anak tersebut menangis dengan kencang, meraung kesal dengan wajah yang di basahi air mata.
"Huwaaa....sakit.l."
Tangisan anak itu membuat Xian memuntahkan seteguk darah yang sudah susah ia tahan agar tidak keluar, perlahan ia merasa tubuhnya membaik dan luka-luka yang ia dapat dengan cepat kembali sembuh, menutup dengan sempurna tanpa menyisakan tanda pertempuran sedikitpun.
Cahaya biru muda menyebar dengan cepat di sekeliling mereka, membangun tenda-tenda yang rubuh, mengembalikan makanan dan barang jualan yang berantakan ke tempatnya semula, hingga Xian dengan telat baru menyadari jika dirinya kini sudah berada di pasar hantu.
Sebuah tangan terulur di hadapannya, tangan itu sangat bersih dan halus. Xian menerima uluran tangan itu, seketika itu pula Xian merasa telapak tangannya menjadi dingin namun ia merasa aman dan nyaman dengan tangan dingin tersebut.
"Ah, maafkan perilaku anak nakal itu."
Tentu saja perintah itu tidak dituruti oleh anak kecil itu, membuat gadis tersebut kembali memukul kepala pemuda itu hingga berbunyi dengan keras. Xian meringis kecil saat mendengar suaranya, ia sedikit merasa ngilu karenanya.
"Kenalkan aku Je Lian, kau bisa memanggilku Lian, dan dia.. aku baru saja memungut anak nakal ini."
Gadis itu memperkenalkan dirinya dengan sopan, sedikit menundukkan kepalanya untuk memberi sambutan.
"Aku Je Alan- Ouch"
"Namamu Ren."
"Aku ingin memakai marga- itai yo obachan. Yak! Ibu macam apa yang memukul anaknya dan menolak untuk memakai marganya?" Protes Ren karena lagi-lagi kepalanya dipukul dengan keras, ia merasa pusing sekarang.
"Itu sudah tugasmu untuk mencari marganya, Ah maaf atas kerusuhannya, mari beristirahat di kediamanku, Xian"
Xian terbelalak tidak percaya, rahangnya terbuka lebar karena dengan tidak sopannya gadis itu menggendong tubuhnya seperti menggendong seorang puteri kerajaan ternama. Ia merasa harga dirinya hancur tidak tersisa, jatuh ke tanah dan menghilang bagai debu.
Inginnya ia melepaskan dirinya dari gadis tersebut namun tubuhnya sama sekali tidak bisa di gerakkan dan juga pegangan gadis itu pada pinggang dan tengkuk lehernya terasa nyaman, ia jadi merasa penasaran dengan perasaan yang menyelimutinya tiba-tiba setelah bertemu dengan mereka.
"Darimana kau tahu namaku? Aku belum memberitahumu sebelumnya."
"Kau sudah memberitahukan itu padaku."
"Benarkah?"
"Ya, coba kau tanya Ren. Benarkan, Ren?"
Lian mengalihkan pandangannya ke Ren yang sudah mengambil posisi untuk melarikan diri dari pandangannya, dengan sedikit tidak sabar. Lian menyeret tubuh Ren menggunakan pedang hitam yang dipegang dengan erat oleh Ren, pedang itu mengikuti Lian meskipun Ren sudah memerintahkannya untuk pergi.
"Salam tuan, ada surat keluhan yang dikirim oleh Jouska, katanya-"
Xian tidak bisa lagi mendengarkan percakapan Lian dengan beberapa orang yang baru saja datang ke kamar Lian, karena telinganya berdenging membuat Xian harus berteriak kesakitan karena tidak tahan.
Saat ini dirinya terperangkap di kamar seorang pemimpin iblis, ia baru menyadarinya ketika ia baru terbangun tadi. Ingatan terakhirnya terhenti ketika Lian bertanya pada Ren tentang jalan yang tepat untuk pergi ke kediamannya, setelah itu Xian merasakan pusing yang teramat sakit menyerang kepalanya hingga ia tidak sadarkan diri di pelukan Lian.
Ia sedikit merasa bersyukur karena hidupnya tidak harus berakhir di hutan hitam itu, namun rasa syukur itu tidak bertahan lama karena ia langsung menyadari jika dirinya bagai keluar dari kandang buaya, namun masuk ke kandang singa.
"Xian, Xian kau dengar aku? Tidak apa-apa, tidak akan sakit lagi, aku janji."
Suara panik itu samar-samar masuk ke dalam pendengarannya, matanya memburam hingga hanya bisa melihat siluet Lian yang sekarang mendekat ke arah wajahnya dan bibirnya menyentuh tangan Lian yang lembut dan manis, tangan Lian yang dibaluti obat itu mengelus bibir Xian.
"Kumpulkan seluruh pasukan dan habisi sarang Caeling, kita harus mendapatkan beberapa telurnya untuk dijadikan obat,"
Perintah Lian pada orang-orang miliknya, dengan hati-hati ia meletakkan tubuh Xian yang kembali tidak sadarkan diri di kasur miliknya.
Ia menyelimuti Xian lalu melesat pergi dari kamarnya dengan raut wajah yang sangat gelap sampai-sampai Ren tidak berani menginterupsinya dan memilih untuk menjaga Xian yang kini terbaring pucat di kasur milik Lian.
"Kalian manusia-manusia sangat beruntung, ah aku sedikit iri."
Ren bergumam sambil mengelus rambut Xian, matanya tidak lagi memandang Xian dengan malas, tapi kini memandang Xian dengan bersemangat dan penuh binar.
"Andai saja aku juga memiliki genre hidup seperti kalian."
Gumamnya lagi, ia berjalan ke arah jendela dan menutup tirai, membiarkan Xian tidur dengan nyaman sementara dirinya harus menjaga tidur pemuda itu agar tidak terganggu sedikit pun.
"Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya menambah genre di dalam kehidupan nyata."
Lanjutnya sambil menatap jendela, tirainya kembali berkibar karena tertiup angin yang lumayan besar tanpa niat menghentikan hembusannya, ia juga merasa malas untuk menutup jendela.