Unblessed Story

Unblessed Story
Cerita



Matahari belum memunculkan cahayanya namun keheningan pagi sudah pecah dengan teriakan Alan yang bersahutan dengan suara ayam.


Anak itu berlari mengelilingi rumah entah sudah berapa putaran, membangunkan Alin dari tidurnya.


Alin berdecak kesal karena teriakan itu tidak kunjung usai padahal ia dan Chyou baru saja tidur setelah mengalami malam yang panjang.


Saat tengah malam tiba, mimpinya kembali lagi membuat Alin merasa marah dalam tidurnya, hampir hilang kendali ditelan oleh kekuatan, untungnya saat itu Chyou yang juga terbangun karena bermimpi buruk sedang melewati kamarnya. 


Buku yang Chyou pegang langsung jatuh, ia kemudian membantu Alin untuk mengatur kekuatannya sampai bulan hampir pamit bersama bintang. 


Kembali ke pagi yang berisik itu, Alin menarik selimutnya, menyembunyikan tubuhnya dan pemuda yang berada di pelukannya ketika Alan membuka jendela dengan tiba-tiba.


"Ups, maaf tapi bibi tua, bisakah kau membantuku untuk mengusir ayam sialan ini?"


Alan berteriak seketika ketika Alin menutup jendela dengan paksa, gadis itu bahkan memasang perisai agar Alan tidak bisa membuka ruang tidur itu.


Erangan kecil terdengar dari pemuda di pelukannya, lantas saja Alin menepuk punggung pemuda itu dan menenangkannya, menyuruh pemuda itu kembali untuk tidur.


Chyou yang menerima perlakuan lembut itu tersenyum di alam bawah sadarnya, ia menguburkan wajahnya pada pelukan Lian, kembali tidur dengan tenang tanpa terganggu.


Siang pun tiba, Alin dan Chyou beriringan keluar menuruni tangga, keduanya terpaksa berjalan ke dapur untuk mencari makan karena perut mereka sudah meminta makan meski mereka masih merasa sangat mengantuk.


"Kalian tidur lama sekali, lupa jika anak kalian ini kelaparan."


Alan mengoleskan obat pada tubuhnya, banyak luka bekas patukan ayam yang ia dapat seharian ini karena ayam itu benar-benar tidak melepaskannya meskipun ia sudah berlarian kesana kemari dengan sangat lama.


Saat itu Alan sangat bosan karena ia terbangun pagi-pagi buta, ia mencoba tidur setelah membuat susu, ia berolahraga hingga keringat membasahi bajunya, ia juga berkultivasi dan membaca buku, namun semua kegiatannya itu tidak membuahkan hasil.


Bukannya mengantuk ia malah menjadi semakin segar dan tidak merasa lelah, jadilah ia pergi memutari rumah, ia berjalan kesana kemari hingga ia menyadari jika ia menginjak dua belas butir telur yang tersebar begitu saja.


Alan mengaduh jijik dan menutup hidungnya karena bau amis kian menyebar di sekelilingnya, tiba-tiba seekor ayam betina yang baru datang menyerangnya setelah melihat jika telurnya telah hancur semuanya.


Alan berusaha melarikan diri dengan berlari kesana kemari, ia sudah memasang belasan perangkap dan mengeluarkan kekuatannya agar ayam itu berhenti mengejarnya. Namun, semua perhitungannya salah. Nyatanya ayam itu bisa mengejarnya hingga ia pulang entah bagaimana caranya karena ia tidak merasakan hawa keberadaan ayam itu saat berjalan pulang.


"Papa."


Alan mencibirkan bibirnya, mengadu pada Chyou yang sudah mengambil alih obat yang ia pegang. Ia dengan manja memegang baju Chyou ketika obat itu menyapa lukanya, sedikit meringis untuk mencari iba.


"Tidak usah berpura-pura, itu tidak mempan."


Alin merasa panas karena lagi-lagi Chyou dimonopoli oleh Alan, pemuda itu bahkan melupakan fakta jika mereka kelaparan sekarang. Alin melempar bantal yang ada di dekatnya ke arah Alan.


"Lian, kau ini."


Alan mengembangkan senyum sombongnya ketika Chyou memarahi Alin, tentu dengan diam-diam. Saat Chyou berbalik, ia memasang wajah seperti anak anjing, mengeluh dan merengek bak pecundang yang meminta belas kasihan.


"Awas kau nanti."


Alin berjalan ke dapur untuk mencari makan, lebih tepatnya tidak ingin melihat Alan yang tiba-tiba saja menjadi manja setiap bertemu Chyou. Ia tahu jika Alan hanya berpura-pura mengobati lukanya.


Mengabaikan rasa kesalnya, Alin memilih untuk mempersiapkan bahan-bahan dan perlengkapan yang akan ia gunakan. Hari ini ia ingin memasak sop iga. Ia memasak dengan senyum yang tidak lepas dari wajahnya. Makanan ini adalah makanan pertama yang ia makan bersama Chyou ketika mereka pergi ke desa padi.


Ia jadi merindukan saat-saat itu, bagaimana dengan kabar penjual pakaian itu? Apakah ia masih bisa mendapatkan pakaian gratis disana? Apakah kedai sop iga itu sudah menambah menu baru? Nanti saja ia akan mengajak Chyou pergi ke desa padi.


"Chyou, Alan, kemari! Mari makan bersama."


Setelah teriakan itu terdengar, kedua pemuda tadi kini muncul di ruang makan. Chyou membantu menyiapkan makanan ke masing-masing mangkuk, menghitung sendok dan sumpit lalu menatanya di meja. Alan hanya duduk, menunggu Alin dan Chyou selesai dengan urusannya.


"Papa, Bibi tua ayo cepat makan. Jangan bermesraan dulu."


Alan berdiri dari duduknya ketika Alin dengan tidak tahu malu menarik Chyou ke dalam pelukannya, meski ia tahu jika Chyou terpeleset dan hampir terjatuh.


Dengan tidak rela, Alin melepaskan Chyou. Ia memberikan tatapan tajam saat tersadar jika ia terus-menerus dipanggil bibi tua oleh anak nakal itu.


Alin memilih untuk mengalah dan mengambil tempat duduk karena perutnya kini sudah berteriak minta makan, Chyou hanya bisa menggeleng melihat Alin dan Alan yang tidak bisa damai walau satu hari.


Setelah selesai makan, mereka bertiga berkumpul di depan rumah dengan membentuk lingkaran. Mereka duduk bersila dengan tangan yang saling bertautan untuk melakukan kultivasi bersama.


Malam itu langit hanya dihiasi oleh bintang sedangkan bulan bersembunyi dibalik awan. Angin yang menghembuskan udara dingin tidak bisa mendinginkan kehangatan yang tercipta diantara mereka bertiga.


Setelah bulan keluar dari persembunyiannya, Alan memberi tanda untuk menghentikan kultivasi mereka. Ia meminta kedua orang tuanya untuk bercerita dan mendengarkan cerita.


Alan memberikan sebuah rumor yang beredar sebagi pembuka. Ia mendengar desas-desus tentang kehadiran orang yang sudah lama menghilang kini kembali. Kembalinya orang itu sudah membuat kegaduhan di beberapa tempat.


Orang itu konon seorang walikota dari kota yang jauh di tenggara. Kota orang itu berada di tengah laut, bagaikan berlian raksasa yang mengambang di laut. Setiap jalan kota itu berlapis berlian dan emas, kota itu juga mempunya kapal terbang dan perahu yang berukuran sangat besar.


Mereka lebih kaya dan maju daripada kota lain hingga kota lain merasa iri dan menaruh dendam pada kejayaan kota itu. Beberapa orang membayar sekelompok pembunuh untuk menghancurkan kota tersebut.


Tidak hanya itu, banyak perompak dan perampok yang masuk ke dalam kota, melakukan penjarahan besar-besaran, melakukan pembunuhan massal dan membakar kota hingga hanya tersisa abu yang kemudian tenggelam di lautan.


Kejadian itu terjadi sangat cepat, warga kota itu menjadi buronan hingga setelah di musnahkan semua, hanya walikota yang tidak diketahui keberadaannya. Hal ini membuat dunia bawah manusia menjadikannya sebuah kontes. Bahwa siapapun yang berhasil membawa walikota baik hidup maupun mati, akan diberikan bayaran yang sangat besar.


Berita yang sangat populer seribu tahun yang lalu, banyak yang orang yang membicarakannya hingga kabar ini terdengar sampai telinga kaisar surga dan iblis di neraka. Kaisar memerintahkan beberapa pejabat untuk mencari keberadaan walikota.


Sedangkan para iblis hanya mendengar dan tak mengacuhkan berita itu karena bagi mereka menemukan walikota atau tidak, tidak akan membuat mereka menjadi kuat ataupun menjadi raja iblis kedua. Namun, ada beberapa bangsawan iblis diam-diam mencarinya untuk memberi perlindungan sebagai alibi untuk mengetahui letak dari kota itu, ada juga yang mencarinya hanya untuk bersenang-senang.


"Dan sampai sekarang, keberadaan walikota itu masih menjadi misteri."


Alin bertepuk tangan setelah Alan mengakhiri ceritanya, mengundang pandangan bertanya dari Alan dan Chyou.


"Itu cerita yang bagus. Kau ingin mencari keberadaan walikota itu?"


Alin menaiki salah satu alisnya, tersenyum miring karena Alan menganggukkan kepalanya dengan semangat.


"Bolehkan, papa?"


Sesuai dugaan Alin, Alan akan selalu meminta izin Chyou saat ingin melakukan sesuatu dan Alan juga selalu mengadu tentang apa yang terjadi padanya seharian ini.


"Boleh, kita bertiga akan mencari walikota itu."


Persetujuan itu membuat Alan merasa bahagia, ia memeluk Chyou lalu mengecup pipi orang itu untuk mengucap terimakasih. Dengan semangat, Alan masuk ke dalam rumah dan berteriak 'selamat tidur papa.' membuat Alin menunjuk dirinya sendiri, melihat Chyou dengan pandangan memelas. "Bagaimana denganku?" dan Chyou tertawa karenanya.


Setelah puas bernostalgia, baik Alin maupun Chyou kembali ke kamarnya untuk tidur. 


Namun, sudah lama Alin membolak-balikkan tubuhnya agar tidur, tapi kantuk itu tidak juga datang. 


Dahinya mengerut dalam, pikirannya kembali melayang pada mimpi yang ia alami, seperti masuk ke dalam kisah orang yang saat ini sedang ia tempati posisinya.


Raja iblis yang asli itu, benar-benar kejam, tidak tahu diuntung dan sangat bodoh. 


Hatinya sekeras batu, dia dengan tega menghukum Chyou dan Alan yang saat itu masih sangat kecil untuk berlutut di luar, saat itu sedang musim salju, menjadikan pavilliun sebagai satu-satunya warna selain putih di tempat itu. 


Ia menyuruh Ares untuk memadamkan lilin-lilin di taman, membuat satu-satunya kehangatan yang ada menjadi sirna, membuat satu-satunya cahaya menjadi hilang, menelan mereka dalam kegelapan.


Meskipun Alin sudah berusaha untuk berlari, tubuhnya tidak mengikuti perintahnya. Ia berusaha untuk berteriak menyuruh Chyou dan Alin untuk berdiri dan mendekat ke arahnya, namun teriakan yang keluar hanya perintah untuk mencambuk kedua pemuda itu. 


Wajah mereka sudah pucat, tubuh mereka sudah menggigil. 


Ia tetap tidak bisa berbuat apa-apa, seakan-akan jiwanya hadir hanya untuk melihat penderitaan yang harus mereka alami karenanya. 


"Maaf."


Maaf, Maaf, Maaf.


Ia ingin mengucapkan itu kepada mereka, ia ingin mengucapkan itu berulang kali kepada mereka. Ia merasa sangat menyesal, dadanya terasa seperti dihantam ribuan balok kayu, ia merasa bersalah meski ia tahu jika bukan dirinya yang melakukan hal itu pada mereka.