
Setelah berjalan sedikit lama, mereka akhirnya melihat sebuah bangunan besar berlantai dua puluh lima dan sedikit miring. Bangunan itu adalah Dungeon yang mereka tuju. Di sisi dungeon itu terlihat warna-warni karena ada berbagai lingkaran sihir yang ditinggalkan kultivator yang melarikan diri sebelumnya.
Karena itulah sekarang peraturan untuk masuk Dugeon menjadi sedikit lebih ketat, jika ingin menantang dungeon mereka harus mendaftarkan diri di pos penjaga yang ada di depan pintu masuk.
Penjaga yang berjaga sekarang adalah dua orang wanita, kedua wanita itu memakai pakaian sektenya dengan tanda pengenal berupa batu giok yang terjahit di baju guild tersebut.
Rambut panjang kedua wanita itu tergerai bergelombang, perempuan di sebelah kanan memiliki rambut berwarna biru sedangkan yang perempuan di sebelah kiri memiliki mata yang berwarna ungu muda, terlihat manis dan genit secara bersamaan.
Melihat kedua gadis cantik itu, Xian langsung mendekatkan diri dan tidak lama kemudian, mereka mengobrol dengan akrab seperti bertemu teman lama. Jenar menepuk dahinya, adiknya itu tidak pernah bisa menahan diri untuk menggoda wanita cantik, namun jika di dekatkan wanita cantik, ia akan kabur seperti bertemu hantu.
Setelah lama asik dengan dunianya, Jenar akhirnya memutuskan untuk mengingatkan Xian tentang tujuan mereka datang ke sini.
"Oh baiklah, boleh aku tahu kalian datang dari sekte apa?" Tanya Lexa, perempuan yang berambut biru sambil menggerus tinta, bersiap menulis.
"Kami kultivator lepas, syarat masuk hanya seorang kultivator terserah jika dia kultivator lepas atau anggota sekte, aku benar kan?" Tanya Xian sambil memainkan rambut Shida.
"Kami hanya memastikan jika kalian bukan penjahat yang akan melepaskan para monster itu." Shida menjawab dengan terbata-bata, menahan malu dan takut sekaligus.
Xian masih tersenyum kearah Shida dan Lexa, membuat kedua perempuan itu merasa salah tingkah
"Tenang saja, aku bukanlah penjahat."
"Baiklah, kalian bisa masuk. Jika kalian berhasil mengalahkan BOS, dungeon ini akan runtuh dengan sendirinya dan kalian akan diantarkan ke tengah desa oleh portal yang terpasang di ruangan BOS." Ucap Lexa. Shida dan Lexa segera menyingkir dan membuka pintu dungeon untuk kelompok Xian.
"Maafkan kelancangan kami karena tidak menyadari kehadiranmu, mohon hati-hati saat di dalam, kau bisa memanggil kami kapanpun yang kau mau."
Kedua perempuan itu berlutut dengan satu kaki, kedua tangannya bertaut dan sedikit diangkat keatas, memberi penghormatan saat Chyou berjalan di hadapan mereka.
Chyou tersenyum dan meminta kedua perempuan itu untuk berdiri. Shida dan Lexa menyapa orang yang pernah menolong mereka.
Saat itu mereka berjalan untuk pulang ke sekte setelah menyelesaikan misi, ditengah perjalanan ada sekelompok monster yang menghalangi mereka.
Mereka tidak bisa bertahan lama karena belum sempat memulihkan kekuatannya, beruntung Chyou berada di dekat mereka setelah seharian mencari Alin. Jadi Chyou langsung membantu mereka.
Setelah saling menyapa, Chyou menyusul Jenar dan Xian yang menunggunya di pintu masuk dungeon.
Saat masuk pertama kali mereka disambut oleh ruangan yang gelap dan luas, namun tidak lama setelah pintu tertutup dan di segel dengan lingkaran sihir. Seluruh monster yang lemah keluar dan mengelilingi ketiga pemuda itu.
Chyou mengeluarkan pedangnya, begitu pula dengan Jenar dan Xian yang sudah bersiap dan membuat batas menggunakan salah satu skillnya. Pedang biru dan putih milik Jenar mengelilingi mereka.
Pedang itu menyerang monster yang maju, monster itu memiliki dua meter tingginya, berkepala udang dengan capit kepiting yang berwarna merah. Gerakan monster ini sangat lambat namun memiliki kekebalan yang tebal, butuh dua sampai tiga kali tebasan tubuhnya terbelah.
Monster ini tidak terlalu buruk bentuknya namun jika tubuh mereka retak dan terkelupas mengeluarkan bau besi dan busuk yang sangat menyengat. butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk menghabisi dua belas monster udang itu.
"Tutup mulutmu, jangan bernafas. Bau busuk ini mengandung racun."
Xian memberi tahu Jenar dan Chyou. Meski sedikit terlambat, ketiga pemuda itu segera menutupi hidung dan mulut mereka dengan sehelai kain yang Chyou berikan, setelah itu meminum penawar racun yang Xian berikan.
Setelah merasa pulih, mereka menaiki tangga untuk melanjutkan lantai berikutnya.
Monster di lantai kedua ini hanya ada goblin dan hobgoblin, tidak memerlukan waktu yang lama untuk menyelesaikannya.
Begitu pula dengan lantai ketiga hingga lantai sepuluh setelah mengalahkan Bos Mini. Seperti katanya, bos lantai itu berukurang sangat kecil seperti tikus, kepintaran dan kelincahan Bos itu membuat mereka bertiga kewalahan. Pantas saja banyak yang melarikan diri di lantai ini.
Monster di lantai sepuluh ini berbentuk kelapa yang berlapis api, tanah yang semula mereka injak kini terpecah mengalirkan magma di tiap celahnya. Suhu ruangan melonjak tinggi.
Xian melepas pakaiannya yang sedikit berat karena merasa kepanasan, menyisakan kaos hitam berlengan pendek. Jenar hanya membuka 3 jubah luarnya, mengipasi dirinya dengan kipas tangan yang ia bawa.
"Kau tidak kepanasan?"
Xian menatap Chyou heran, pemuda itu sama sekali tidak bereaksi dengan peningkatan suhu ruangan ini.
"Aku mendapat perlindungan."
Chyou merasa bersyukur karena Alin memberinya pakaian yang ia pasangkan berbagai perlindungan. Salah satu perlindungannya adalah membuat Chyou merasa nyaman, pakaian itu bisa membersihkan dirinya sendiri dan jika terkoyak akan kembali seperti semula. Hingga ia tidak perlu membeli banyak baju yang ia rasa boros, hanya saja baju ini tidak bisa mengobati luka fisik jika terkena serangan.
Chyou melambaikan tangannya mengeluarkan sihir berelemen air kepada beberapa monster yang hendak menyerangnya.
Saat terkena air, api di monster itu padam. namun kembali menyala setelah mereka menceburkan diri ke celah tanah.
Kekuatan mereka bisa melemah dan menguat sesuai dengan api yang ada di tubuh mereka.
"Ternyata begitu cara kerjanya. Gege, kau dan aku akan melawan monster itu. Chyou, kau bantu kami dengan memadamkan magma ini dengan air atau es. Seharusnya itu sedikit bekerja."
Setelah mengatakan rencananya, Xian dan Jenar menyerang monster-monster api menggunakan pedang. Chyou mengeluarkan satu teknik yang belum lama ini ia latih, magma yang panas itu sedikit demi sedikit mulai padam.
Chyou mengeluarkan es menggunakan elemen airnya. Sebelum air keluar, ia harus mendinginkan sihirnya dan menekan energinya menjadi lebih padat hingga mengkristal dan menjadi es.
"Gege tolong, ini panas."
Teriakan Xian yang bersautan dengan tawa Jenar membuat konsentrasi Chyou terganggu. Pemuda itu mengarahkan pandangannya ke sumber suara.
Entah bagaimana bokong Xian terbakar api monster kecil itu, pemuda itu kini berlari kesana-kemari karena kakaknya itu sama sekali tidak mau membantunya dan asik tertawa.
Chyou segera saja memadamkan api di bokong Xian menggunakan sihir airnya, setelah itu ia tertawa karena Xian berteriak dingin.
"Sungguh, aku akan menghabisi monster ini jika aku bertemu dengan mereka di manapun." Dendam Xian.
Setelah itu mereka melanjutkan kegiatan mereka, membasmi monster api yang tersisa selanjutnya naik ke lantai berikutnya.
Setengah hari berlalu, lantai demi lantai dungeon sudah mereka sapu bersih tanpa mengalami kegagalan yang berarti. Beragam warna darah mengotori tubuh dan juga wajah mereka, dari yang bau busuk hingga tingkat bau ekstrim menempel di tubuh mereka.
Ketiga pemuda itu sekarang berada di lantai dua puluh empat yang dihuni oleh Hydra kayu yang beracun. Serangan Hydra sangat cepat dan akurat, ketiganya sempat mengalami kesulitan karena lantai dungeon dipenuhi dengan cairan licin bercahaya yang dikeluarkan oleh Hydra.
Xian dan Jenar bertugas untuk menghabisi Hydra tersebut sedangkan Chyou harus beristirahat karena dua lantai sebelumnya, sudah ia atasi.
Daripada berdiam diri, Chyou memilih untuk mengumpulkan batu energi Hydra ke dalam kantong penyimpanan yang diberikan oleh Xian saat mereka berada di lantai 20. Ketiga pemuda itu berencana untuk mengumpulkan batu energi tersebut sebanyak mungkin dan menjualnya dengan harga tinggi, tidak mau rugi.
Sejauh ini mereka sudah mengumpulkan beberapa batu energi yang berharga seperti batu dari monster api yang jika diberikan sedikit energi bisa menjadi penghangat. Ada batu dari monster serigala yang bisa mereka jadikan pelengkap penempa, batu itu bisa di pasangkan dengan roda kereta kuda atau sepatu prajurit, bisa menambahkan efek kelincahan dan kecepatan bagi penggunanya.
Sedangkan batu energi dari hydra bisa dijadikan sebagai penerang jika mereka beri sedikit kekuatan dan ditempa. Cairan yang dikeluarkan juga bisa menjadi racun berbahaya jika diberi ke suatu senjata, namun mereka tidak ingin mengumpulkannya karena merasa sangat merepotkan dan menjijikkan
Hydra tersebut berbentuk ranting yang tubuhnya dilapisi lendir, tinggi hydra itu tiga setengah meter yang mengeluarkan cahaya merah yang tidak terlalu menyilaukan mata.
Jenar menebaskan pedangnya dan mengalahkan Hydra lawannya, menyisakan Xian dan Hydra lawannya. Tanpa diduga, Xian melompat dan menaiki tubuh Hydra, kemudian ia duduk dengan tenang, goncangan yang dibuat Hydra untuk melepaskan pemuda itu dari tubuhnya bahkan ia hiraukan.
"Gege, bagaimana kita akan naik keatas lantai BOS? Jaraknya sangat jauh, bahkan jika kita menyusun dua Hydra, ini masih tidak cukup.."
Xian menaruh sebelah tangannya di pipi, melihat keatas berusaha mencari jalan menuju lantai dua puluh lima yang berada jauh di atas sana.
"Tidak tahu."
Jenar menjawab sambil berusaha menggunakan pijakan udara, skill yang bisa membuat tubuh melayang di udara. Setelah lama mencoba akhirnya ia menyerah lalu mendudukkan dirinya di atas sebuah Hydra yang sudah mati.
Tubuh Hydra itu berubah menjadi ranting biasa setelah batu energinya dicungkil dengan paksa oleh Xian.
"Chyou duduklah dulu, kita bisa istirahat sementara di sini."
Jenar menepuk tubuh Hydra yang ada di sebelahnya, Chyou menurut dan duduk di sebelah Jenar sambil menghitung kembali batu energi yang ia kumpulkan.
"Arius tidak bisa dihubungi, telepati tidak sampai ke ayah."
Xian berdecak kesal setelah berusaha memanggil Arius, semua usahanya sia-sia dan hanya menghabiskan energinya saja. Karena kesal Xian mulai membuat ukiran di tubuh Hydra tersebut menggunakan liontin yang terpasang di celana hitamnya.
Ukiran tersebut membuat sebuah kalimat 'Xian pernah disini' dengan hiasan yang mirip dengan liontin yang ia gunakan, Hydra itu berusaha melepaskan diri dari Xian dengan cara berlari mengelilingi ruangan tersebut.
"Berhenti berlari, kau menghancurkan karyaku." Ucap Xian sambil menendang tepat di batu energi hydra tersebut hingga meloncat keluar, batu itu mendarat dengan mulus di pangkuan Chyou.
Chyou mengambil batu itu dan memasukkannya ke dalam kantong penyimpanan, sebelum Hydra tersebut jatuh, Xian melompat ke sisi Jenar dan mendarat dengan anggun, tanpa menyipratkan cairan lengket itu ke baju Jenar.
"Ba-"
Ucapan Xian terpaksa berhenti saat ruangan tersebut bergetar dengan sangat kencang, perlahan-lahan patung yang hancur menyusun sebaris anak tangga yang luas namun terlihat sedikit rapuh.
Kini di hadapan ketiga pemuda tersebut ada sebuah tangga yang dihiasi pilar tinggi yang menjulang di kedua sisi tangga. Ketiga pemuda itu dengan serempak berjalan menaiki anak tangga dengan kewaspadaan yang penuh.
Xian dengan bosan mengetuk anak tangga menggunakan ranting Hydra yang baru saja ia akan ia gunakan untuk membuat api unggun. Jika saja semudah ini, ia tidak akan menyisakan satu hydra.
"Berhenti mengetuk."
Jenar menatap Xian dengan senyum mematikan miliknya, Xian langsung saja membuang ranting Hydra tersebut ke bawah, ranting tersebut berguling kebawah hingga bunyi "plung" terdengar menggema di bawah mereka.
Saat menginjakkan kaki di anak tangga terakhir, suara auman terdengar sangat keras menyambut kedatangan kelompok Xian hingga membuat sebuah batu besar jatuh hampir mengenai Jenar. Lantai terakhir itu berbentuk sebuah Gua Kristal yang menyala mengeluarkan warna biru yang amat cantik.
Namun kecantikan gua tersebut tidak bertahan lama karena Cymera yang menjaga lantai terakhir membakar sebagian besar kristal. Menjadi tanda jika mereka sudah sampai dan kini kelompok Xian sudah berada di hadapan lantai terakhir. Seperti kata Arius jika BOS dungeon adalah Cymera yang Xian lawan kemarin.
Suara raungan terdengar sekali lagi membuat Xian lagi lagi mendecak kesal karena telinganya sekarang terasa sangat pengang. Tanpa bertanya lagi Xian berlari memasuki gua menuju arah suara auman Cymera, meninggalkan Jenar dan Chyou yang masih mematung di mulut gua.
Setelah lama berlari, mata Xian akhirnya menangkap helaian bulu Cymera yang menjadi sumber kekesalannya saat ini, tanpa sadar Xian menarik ular berbisa yang menjadi ekor Cymera tersebut hingga terpisah dari tubuhnya.
Sekali lagi suara auman terdengar namun dengan nada kesakitan dan amarah yang disuarakan Cymera tersebut karena serangan di ekornya.