Unblessed Story

Unblessed Story
Devilis, Si Lumut Bau



>>> adegan dewasa, penuh darah


Setelah hari dimana Alin pingsan secara tiba-tiba, Alan merasa jika Alin berubah menjadi sangat pendiam, lebih tenang dari biasanya dan terlihat dalam, semakin dalam di perhatikan, semakin ia merasa jika sesuatu terjadi pada Alin.


Seperti saat ini sejak selesai sarapan hingga menuju jam makan siang, Alin mempertahankan tubuhnya dan berdiri di depan jendela penginapan yang dibuka lebar, menatap gunung yang berada di belakang penginapan.


Tangannya menggerakkan kipas tangan dengan lambat, rambutnya berkibar ketika kipas itu mencapai posisi tegak. Sebelah tangannya ia taruh ke belakang, matanya menatap gunung hijau itu seperti melihat ke dalam tanah dan mencari aliran magma yang tersembunyi.


Sangat tenang dan diam, Alan sedikit ragu jika Alin benar-benar baik-baik saja seperti ucapannya.


Tatapan yang terlihat tajam itu, sekilas menampilkan luka yang sengaja di sembunyikan dan tidak sengaja terlihat, membuat dirinya ingin datang dan memberinya keamanan. Tubuhnya yang berdiri dengan tegap dan kokoh itu, sesaat terasa sangat rapuh dan kosong, membuat dirinya ingin merengkuh tubuhnya, agar jiwa yang berantakan itu tidak berserakan dan hilang menjadi serpihan.


Sejak awal, Alan merasa jika ia sudah mengenal gadis itu, mengetahui sampai hal terkecil, mengetahui apa yang gadis itu sukai dan apa yang tidak disukai, mengetahui apa yang membuat gadis itu nyaman dan apa yang membuat gadis itu merasa tidak aman dan terluka.


Sesaat ia merasa lebih tahu, namun melihat gadis itu sekarang, bersama dengan gadis itu dengan waktu yang sangat lama dan melakukan perjalanan bersama, membuat ia menyadari bahwa gadis itu tidaklah sederhana, memahaminya tidaklah mudah. 


Dia tidak tahu dan sekarang mulai mengetahuinya.


Dengan langkah yang berat, ia meninggalkan gadis itu di kamar, berjalan menunduk sambil mengumpulkan sisa kepercayaan dirinya yang sudah jatuh berserakan. 


Setelah kepergian Alan, Alin menutup kipasnya dan melipat kedua tangan di belakang tubuhnya. Kali ini, ia menatap gunung dengan tajam, berharap tatapannya bisa membelah gunung menjadi dua.


Kata-kata gadis itu selalu terngiang-ngiang di kepalanya sejak ia bangun, membuat Alin sedikit frustasi karena tidak tahu harus melakukan apa untuk menghilangkan suara itu dari kepalanya.


Kepalanya sangat penuh dan berat, otaknya terasa pusing hingga rasanya akan meledak sekali lagi. Kupingnya pengang, suhu tubuhnya meninggi. Ia benar-benar merasa marah karena suara itu benar-benar tidak berhenti.


Itu salahmu.


Salahmu.


Karena kamu.


Ia berpikir, apa salahnya? Apa yang aku lakukan hingga gadis itu bilang itu salahmu. Apa yang salah?


Kini muncul lagi satu suara yang berat dan serak, mengutuknya berulang-ulang. Satu suara lagi, menyalahkannya dengan suara lembut yang entah sejak kapan berubah menjadi seribu jarum yang menembus tubuhnya tanpa henti.


Dan gadis itu, orang ketiga yang menyalahkannya, orang ketiga yang mengutuknya, orang ketiga yang membuatnya merasa bersalah dan merasakan apa yang di rasakan gadis itu.


Putus asa.


Alin merasa pening, dengan kesal ia membanting pintu jendela dan melompat keluar, berlari ke arah gunung dengan kemampuannya yang bisa meringankan beban tubuh, dalam sekejap mata ia sudah berdiri di atas salah satu pohon yang berada di puncak.


"Yang Mulia, Area 511."


Entah sejak kapan, Ares sudah ada di hadapannya, pemuda itu mundur beberapa langkah setelah ucapannya selesai.


Mendengar itu, Alin mendengus kesal. Wajahnya mulai di isi dengan kesombongan yang anggun, membuat siapa saja akan melihatnya merasa bertemu peri musim panas yang angkuh.


Suasana berubah menjadi hening, Alin yang selalu dipenuhi kehangatan dan kelembutan kini hilang digantikan oleh dingin dan beku, sosok itu berubah menjadi orang yang tidak bisa di di sentuh, selalu sendirian hingga terlupakan.


Siapa saja yang melihat perubahan pasti merasa heran dan terkejut, merasa tidak percaya sampai harus bertanya kepada dunia apakah dia salah melihat atau tidak, Ares yang sudah sering melihatnya juga masih sering merasa terkejut dan tidak percaya.


Alin mengibaskan kipasnya dan membuka portal, setelah masuk dan keluar, pemandangan pohon yang banyak itu berubah menjadi sebuah gua tanah yang bau, air tanah menetes dari atas ke bawah dan membuat kubangan tepat di depan kakinya, air kotor itu mengeluarkan bau busuk, seperti berada di kandang babi


Meski merasa enggan, Alin memaksakan kakinya untuk maju dan masuk lebih dalam ke gua. Setiap langkahnya membuat hantu-hantu yang melihatnya merasa yakin jika mereka semakin dekat sepuluh langkah menuju Neraka tak berdasar, menjadi kerak dan di timpa timah panas, menjadi keset kaki tanpa bisa mati.


Penyiksaan tanpa akhir.


Mereka bersembunyi di balik batu, menahan napas meskipun sudah tidak bernapas lagi. Ada yang diam membantu, ada yang diam-diam mundur untuk membuka jalan, tiga hantu yang berusaha merebus dua orang pemuda ikut masuk ke dalam panci dan mati. 


Alin terkekeh pelan melihatnya, membuat jantung yang tidak berdetak di sekitarnya turun ke lambung. Padahal dia hanya merasa jika kumpulan sampah ini benar-benar tidak berguna, harus segera di basmi dan di habisi.


Semakin dalam dia masuk, semakin bau tempat itu. Banyak ceceran cairan lengket di lantai gua, bau berahi menguar ke segala tempat membuat perutnya mendesak ingin mengeluarkan isinya. Semakin ia masuk, semakin terdengar jelas juga suara erangan yang awalnya tidak terdengar.


Hanya satu kalimat yang ia gumamkan, "Menjijikkan."


Dia terus berjalan tanpa melirik pintu-pintu gua yang mulai sunyi sampai ia di hadapi dengan tiga buah lorong, ia berdiam diri cukup lama sampai suara ketukan langkah kaki terdengar semakin cepat, menampilkan seorang iblis api hijau yang memegang tiga tali, masing-masing tali terpasang pada seorang pemuda yang bertelanjang.


Ketiga pemuda itu menangis sampai ingusnya keluar kemana-mana, sangat jelek dan menjijikan, membuatnya mulai sampai mau muntah.


Api lumut itu dengan bangga memperlihatkan peliharaan, mencambuk tubuh mereka yang sudah merah sampai mereka ketakutan, air liur keluar dari mulut mereka seperti hewan buas, rela menjilat kaki lumut itu, mendesah dan gemetar ketakutan, kecuali satu orang pemuda lainnya yang merelakan diri untuk di sentuh, mengeluarkan suara manja, suaranya sengaja ia lembutkan dengan centil, bergaya dengan erotis sampai membuat Alin benar-benar ingin muntah.


Alin murka, tidak bisa melihat hal memalukan itu lebih lama lagi.


"Oh, siapa manusia cantik yang menyerahkan dirinya dengan suka rela? Bukankah pesona Yang Mulia ini sudah dilihat dunia."


Lumut itu berbicara dengan sombong, mengangkat pemuda yang merelakan dirinya itu dan menciumnya dengan rakus, bola bola api hijau muncul lebih banyak di belakangnya, membuat gua yang gelap itu jadi berwarna hijau.


Wajahnya yang penyok membuat Alin menaikkan sebelah alisnya, ia meludah dan berbicara, "Yang Mulia? Hahaha, kau bermimpi. Lumut di kubangan tidak pantas memakai besi sedikitpun, apalagi emas. Pesona? pesona pantatmu!"


Alin mengepalkan tangannya sampai buku-buku jarinya memutih melihat adegan itu di depan matanya sampai selesai. 


"Kau juga menginginkannya? Datanglah padaku." 


Dengan percaya diri, Lumut itu melempar pemuda tadi sampai talinya putus dan menabrak sisi gua, Lumut itu melemparkan diri ke atas kedua pemuda yang membeku ketakutan. Dalam satu dorongan tangannya menarik jantung yang berlumuran darah itu dan memakannya sebelum jantung itu berdetak untuk yang terakhir kalinya.


"Karena kau datang menyerahkan nyawamu dengan sadar diri, aku akan menghargainya dengan menikmati tubuh dan darahmu, mengukir rasa jiwamu di tulangku seumur hidup."


Mendengar itu, Alin tersenyum miring. 


"Kau tahu, Devilis. Aku datang hanya untuk menagih uang sewa." 


Alin mengatakannya dengan tenang, namun membuat Lumut yang tidak hidup itu bergetar. Seakan tidak percaya, Lumut itu tertawa dan menunjukkan jarinya ke arah Alin. 


"Para pengikutku, bersenang-senanglah kalian. Yang Mulia ini memberikan sumbangan hidangan terbaik untuk dicicipi."


Dengan ucapan itu, api-api keberanian hantu-hantu kecil pengecut yang hanya bisa bersembunyi mulai menyala, membakar hati mereka dengan semangat palsu. Hantu-hantu kecil itu berlari mendekat, dalam sekejap Alin terkepung tanpa memiliki celah untuk melarikan diri. 


Hal itu tidak membuat Alin gentar sedikitpun, ia membuka kipas putihnya dan mengibaskan dengan kencang, dalam sekejap sebuah tornado kecil yang berputar sangat cepat menyapu hantu-hantu kecil itu dan menembus atap gua, membuat hantu-hantu yang terjebak di angin tornado mati sebelum mencapai tanah. 


"Siapa kau?" 


"Aku? Rajamu, Je Lian."


"Hahaha, kau Raja Lian? Aku tahu kau hanyalah tiruan, akan ku kubur kau disini bersama dewa-dewa keparat yang baru saja memakan umpan." 


Alin melompat sejauh dua langkah ke belakang Devilis, mendarat dengan anggun di atas kursi kebanggaan lumut itu. Alin menggosokkan sepatunya yang terasa licin ke kursi itu dan berhenti setelah sepatunya terasa lebih baik.


Matanya memandang gua itu dengan lebih baik lagi, atap gua itu dilapisi emas meski hanya sedikit, ada beberapa kristal hydra yang menempel di tiap sudut, selera khas orang rendahan.


"Apa yang membuatmu berpikir jika aku adalah tiruan? Apakah kau pernah bertemu denganku sebelumnya?"


"Sudah pasti kau adalah tiruan, hanya hantu rendahan yang ingin dihormati sehingga mengaku-ngaku menjadi raja tak berguna itu untuk membuatku tunduk. Raja iblis tidak punya waktu luang hanya untuk datang ke sarangku yang kecil ini. Tapi jangan takut, selama kau memperbolehkanku untuk merasakanmu, aku akan-"


Belum selesai kalimat yang diucapkan Devilis, Alin menendang mahkota yang ada di meja tepat ke wajah Devilis, membuat wajah hijau itu bercampur dengan warna merah. Ia duduk di kursi dan berpangku tangan, membuat wajahnya tertutup kegelapan, menyisakan bibirnya yang tersenyum bengis. 


Devilis memandang Alin dengan sarat mata yang haus darah, menatap Alin dari bawah membuatnya merasa terhina. Belum sempat ia membuka mulutnya, Alin sudah berbicara duluan.


"Yang Mulia ini tidak pernah melihatmu datang ke pertemuan besar setiap bulan untuk memberikan surat permintaan pengelolaan wilayah, baik Yee dan Ares tidak pernah mengungkit hal ini, bagaimana caranya Yang Mulia ini tahu jika kau sudah memiliki kekuasaan hee. Asal kau tahu jika aku, Yang Mulia ini, paling tidak suka babi gendut yang dungu, Yang Mulia ini paling membenci bau dan kotoran. Sekarang akan lebih baik bagimu untuk menyerahkan kedua dewa yang terkena sial itu, jika kau tidak ingin menjadi keset salah satu toko di kota Redum untuk menebus dosamu. Tentu saja kau boleh menolak tapi Yang Mulia ini takut jika Raja Neraka bahkan tidak bisa membantumu bersembunyi dariku."


"Jika kau bisa mengirimku ke Raja Neraka, maka aku akan mengganti margaku menjadi margamu, menjadi budakmu sampai aku tidak bisa hidup kembali."


"Keparat."


Satu kata umpatan itu membuat wajah hijau yang semulanya di penuhi kesombongan dan kepercayaan diri meluntur menjadi wajah bengkok yang pucat pasi. Devilis merangkak ke depan Alin dan memohon dengan suara yang serak parau, menangis dengan tersedu sampai ingus dan air matanya bercampur, membuat Alin tersenyum semakin lebar.


Dengan kejam, Alin menendang wajah yang mendekat di kakinya, menendang dengan kuat tanpa menyimpan tenaganya sedikitpun, membuat tubuh hijau besar itu menabrak gua sampai terdengar suara yang sangat kencang.


Hantu-hantu kecil yang tersisa, semuanya bergetar ketakutan, membungkukkan badannya berkali-kali untuk meminta belas kasih, meminta kebaikan hati yang entah diberi atau tidak.


"Maaf, maaf. Aku minta maaf, Yang Mulia. Aku, aku akan membebaskannya dan memberikan semua yang kau mau, Yang Mulia, ampunilah aku."


"Hanya mengucap sepatah kata itu saja sampai membuatku membuang kekuatan. Cepat bebaskan semua manusia dan dewa yang kau tangkap."


Alin kembali duduk di singgasana kecil milik Devilis, melihat kekacauan yang dia sebabkan dengan datar.


Hantu-hantu kecil mulai membebaskan tawanannya dan membuat mereka berlutut di depan Alin. Devilis sendiri mengantarkan kedua dewa yang tadi di sebut Alin ke hadapannya.


Kedua dewa itu masih berpakaian rapi, hanya saja baju mereka berubah menjadi baju pernikahan, membuat Alin berdecak secara tidak sadar.


"Apakah ada pernikahan disini? Ares, antar mereka semua untuk kembali ke tempat asalnya. Kita pergi."


Setelah mengatakan hal itu dengan ketus, Alin kembali ke penginapan menggunakan portal, tidak melihat ada dua orang yang melihatnya dengan tatapan berbeda, yang satu menganggapnya sebagai air di tengah gurun dan yang satunya menatapnya sebagai daging yang harus di cabik.


————————————————————


Panggung kecil


Kejadian tiba-tiba.


Tiba-tiba aku tertarik membuat Alin memanggil dirinya Yang Mulia meski aku tahu jika dia sendiri tidak ingin.


Alin : Awas saja, aku menunggumu menjadi babi panggang!


iyan : Oh aku takut sekali (lari)