Unblessed Story

Unblessed Story
Racun



Pagi sudah kembali. Di tengah awal hari yang cerah itu, kediaman Kaisar Utama sudah di penuhi kehebohan karena anak termuda dari Kaisar berubah bentuknya menjadi seorang anak kecil berusia dua tahun.


Arius yang tertidur bersama Xian merasa terkejut dengan kejadian itu, dirinya merasa sedikit panik karena hanya ia yang ada bersama Xian semalaman, tentu saja kepanikan dirinya tidak dihiraukan oleh yang lain sebab-


"Demi Saturnus dan cincin nya kau sangat manis jika menjadi anak sekecil ini."


"Aku akan membuatmu kehabisan spiritual agar kau kembali mengecil seperti ini Xian."


Kaisar Utama dan pangeran mahkota sudah ribut dengan senyum yang tidak pernah pudar dari bibirnya ketika mendapat kabar jika tubuh Xian mereka berubah menjadi anak kecil. Xian kecil melihat mereka yang ada di ruangan dengan perasaan bingung khas orang yang baru saja tidur.


Saat Xian duduk, Jenar segera saja menggendong tubuh Xian dan mengangkatnya ke udara lalu berputar-putar seperti pesawat terbang. Suara tawa Xian menggelegar di kamar, disambut suara tawa yang lainnya.


Sementara itu Juan sudah menyiapkan baju balita, entah kapan dia mendapatkan baju-baju itu, tiba-tiba saja ada bukit kecil di kamar yang diisi oleh baju baju mungil yang lucu. Baju-baju itu memiliki berbagai macam warna, dari warna merah muda hingga warna kuning yang cerah, warna yang selama ini dihindari oleh Xian besar.


Selain tumpukan baju-baju itu, Juan juga mengeluarkan berbagai mainan yang biasa anak manusia berikan pada anaknya, seperti gendang tangan, sebuah kupu-kupu yang terbuat dari daun kelapa kering, maupun sebuah kincir angin yang memiliki berbagai macam warna.


Xian kecil yang melihat mainan sebanyak itu mulai merasa bahagia, setelah diturunkan oleh Jenar, Xian kecil berlari menggunakan kakinya yang pendek ke arah Juan dan duduk di pangkuan ayahnya.


Ia mulai memainkan mainan yang diberikan Juan, lalu meletakkannya kembali jika ia melihat ada mainan lain yang lebih menarik. Terkadang Xian kecil tertawa dengan keras saat Jenar menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya dan berteriak "Ba" dengan suara yang sengaja dihaluskan.


Juan ikut menggelitik perut buncit anaknya itu, kegiatannya itu membuat Xian semakin mengencangkan tawanya karena merasa geli dan lucu membuat semua orang yang ada di kamarnya ikut tertawa.


Jika ini manga, maka kamar Xian yang di dominasi warna biru tua dan hitam itu sudah dipenuhi bunga dan berganti latar menjadi warna merah muda yang berkilauan. Wajah-wajah mereka akan bersemu merah dengan kedua mata yang berbinar menatap Xian kecil.


"Babababa~"


Ocehan Xian terdengar sekali-kali saat Jenar mencubit hidungnya, saat merasa sakit Xian kecil tidak segan untuk melemparkan mainan yang ia pegang ke arah Jenar, meminta cubitannya untuk segera di lepaskan dari pipinya. Dia bahkan ikut marah pada Juan yang sedang memangkunya, Juan memang tidak melakukan apapun, tapi ia sibuk menguncir rambut anaknya dan menambahkan jepitan kupu-kupu kecil di sekitar kuncirannya.


Jenar dan Juan mungkin sudah tidak ingat dengan kehadiran Arius yang masih mematung di pojok ruangan, tubuhnya sudah berkeringat dingin, merasa dosa sudah menyelimuti tubuhnya seperti permen kapas, namun tidak dihiraukan. Arius tidak tahu harus berbuat apa karena ayah dan anak itu merasa bahagia, meski ia masih tidak tahu harus merasa bersalah atau tidak.


Kegiatan keluarga itu terpaksa harus berhenti saat beberapa pengawal meminta Juan dan Jenar untuk pergi ke pengadilan tinggi, membahas beberapa hal penting yang baru saja di terima dari pejabat lainnya.


"Baiklah, aku akan ke sana nanti malam." jawab Juan dengan suram.


"Ayah, kau itu kaisar utama, cepat ke sana biar aku yang mengurus Xian ke-"


Saat mendengar itu, Arius merasa kembali ke dunia nyata. Wajah yang awalnya penuh rasa bersalah kini berubah seperti seorang guru yang tegas dan galak.


"Kalian pergilah, biar aku dan Chyou yang menjaganya, tidak ada bantahan atau aku akan meminta sistem untuk mengirim kalian menjalankan misi selama dua lunar."


Kedua sosok penting itu pun pergi dari sana dengan langkah berat dan pundak yang merosot, sepertinya mereka lupa dengan jabatan mereka jika tidak segera di tegur oleh pengawal yang ada bersama mereka.


"Uahh wuah wahh."


Pemandangan Xian kecil yang menguap tertangkap oleh pandangan Arius, gadis itu terkekeh merasa lucu karena anak kecil itu mengucek matanya menggunakan tangan kecilnya yang gempal, sangat lucu.


Xian menutup matanya saat merasakan jika tubuhnya berada di pelukan hangat Arius dan dalam hitungan detik ia terlelap dengan nyenyak.


Wajah Arius sedikit memerah hingga menjalar ke telinganya, ia mengelus punggung Xian kecil menggunakan salah satu tangannya yang bebas, kegiatan itu semakin membuat Xian semakin nyenyak, hingga tanpa sadar senyuman terlukis di wajahnya saat ia berada di alam mimpi.


"Arius, aku sudah membuatkan obat untuk mempercepat pengumpulan spiritual untuk Xian dan yang satu ini harus diminum setelah makan agar racun yang tersisa bisa segera keluar."


Chyou menyembulkan wajahnya di celah pintu dengan lucu, membuat Arius kaget sekaligus merasa lucu saat melihat pemuda itu.


"Ah ya, taruh saja di situ.. Emm Chyou.. Bisa kau jaga Xian sebentar? Ada tugas yang harus aku kerjakan."


Warna merah merambat dengan cepat mewarnai wajah Arius. Gadis itu dengan cepat menaruh Xian di atas kasur dan menyelimuti tubuh anak itu, lalu keluar dengan setengah berlari sambil menutup wajahnya, bahkan panggilan Chyou yang khawatir ia abaikan.


"Ada apa dengannya?"


Monolog Chyou. Chyou segera sadar dari keheranannya dan masuk ke dalam kamar. Cangkir obat itu ia taruh di atas meja, ia sedikit mengusap rambut Xian setelahnya ia duduk di sofa yang ada di depan kasur besar itu.


Entah kenapa tubuhnya terasa sangat pegal, padahal ia tidak mengerjakan hal yang melelahkan sejak kemarin—kecuali memikirkan mimpi aneh yang ia alami semalam.


Malam itu, ia mimpi jika Lian kembali ke sisinya. Namun penampilan gadis itu berubah, Atmosfer ringan dan mendebarkan yang biasanya ia rasakan saat bersama gadis itu, berubah menjadi sangat berat dan mencekam.


Rambut Lian yang tergerai setengahnya, saat itu di sanggul rapi dihiasi dengan penjepit kupu-kupu berwarna gelap yang mengeluarkan energi jahat. Pakaian putihnya berubah menjadi pakaian berwarna merah, begitu juga dengan pupil matanya.


"Siapa kau? Punya hak apa kau terhadap rumahku?"


Gadis itu marah, dengan tega memecutnya menggunakan cambuk duri yang entah darimana ia mendapatkannya.


Meski ia merasakan sakit luar biasa ketika dagingnya terkoyak, mengeluarkan darah yang tidak sedikit, ia hanya bisa mngerang kesakitan, hanya bisa meringkuk di sudut, hanya bisa menggigit bibirnya untuk menahan isak tangis.


Tubuhnya seperti bukan miliknya, gadis di depannya seperti bukan gadis yang dikenalnya.


Setiap cambukan membuat dadanya di tusuk seribu duri, setiap ucapan gadis itu terasa seperti mematahkan tulang rusuknya.


"Lian...."


Ia tersedak darahnya sendiri, hanya untuk memanggil nama gadis itu. Penyiksaan tetap berlanjut sampai tulang rusuknya patah dan rasa sakit yang menyerangnya membuatnya kehilangan kesadaran dan terbangun dengan napas yang memburu.


"Tidak, Itu hanya mimpi. Berhenti berpikir, semoga saja aku segera bertemu dengan Lian." gumam Chyou.


Rasanya ia ingin tertawa mengejek takdir yang terlalu kejam padanya, ia merasa jika buku takdir tidak berniat untuk membuatnya bahagia. Jika dulu ia kehilangan kedua orang tuanya dan warga desa maka sekarang mereka akan mengambil penyelamatnya, sekaligus orang yang ia cintai meskipun ia tahu jika


Kebersamaan mereka adalah satu hal yang mustahil.